Tak terasa, sudah dua jam Arya meninggalkan pelaminan. Perasaannya makin tidak karuan. Ia terus memikirkan istri pertamanya di rumah. Arya tidak bisa menjamin jika Alia bisa menerima Anita sebagai madunya.
Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan Arya tidak dapat mengembalikan apa pun, bahkan hati Alia yang hancur sekalipun. Sekarang, ia harus mencari cara untuk keluar dari rumah Anita.
"Bagaimana kondisimu, Mas? Sudah enakan?" Anita tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Seketika, Arya hendak marah. Namun, ia mengurungkan niat karena sadar jika ini kamar wanita itu.
"E-emm ... sudah baikan. Alhamdulillah," jawab Arya pelan. Sedetik kemudian, ia menyambar jas yang tergeletak di ranjang dan beranjak pergi.
"Mau ke mana? Ini kan rumahmu, Mas," kata Anita seraya menarik lengan Arya.
"Aku harus pergi sekarang. Alia pasti khawatir dengan keadaanku."
"Gak boleh! Aku istrimu, Mas! Kemana pun kau pergi, aku ikut!"
"Jangan! Alia belum siap menerima hubungan kita. Aku akan memberi tahu pelan-pelan kepadanya," kilah Arya.
"Bodo amat! Pokoknya aku ikut! Ayo, kita berangkat!" Wanita itu makin erat mencengkeram lengan Arya. Bahkan, ia menyandarkan kepala di bahu kanan lelaki yang baru saja menikahinya.
Arya hanya bergeming. Ia sadar, membawa Anita pulang akan memperkeruh suasana. Namun, ini sudah risiko yang harus diterima. Karma instan dari Allah atas perbuatan masa lalu.
Setelah berpamitan, Arya menyuruh Anita masuk mobil. Wanita itu tersenyum girang. Namun, tidak dengan lelaki tiga puluhan itu. Wajahnya lesu dengan menyungging senyum kecut kepada sanak saudara dan mertua.
"Saya berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum." Arya berpamitan seraya mencium tangan Bu Minah, ibu mertuanya.
"Walaikumsalam. Jaga anak ibu baik-baik, ya. Cubit saja kalau dia nakal!" ujar Bu Minah sambil terkekeh kecil. Mendengar itu, Arya hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.
Perlahan, mobil mereka mulai meninggalkan gapura desa. Area persawahan mulai terlihat. Di ruas jalan, padi-padi bergoyang ke kanan dan kiri seolah-olah turut bahagia atas pernikahan mereka. Melihat itu, Anita mengeluarkan gawai, lalu memvideokan pemandangan indah itu.
Netra Arya terus fokus ke jalanan. Di dalam mobil, tidak ada obrolan sedikit pun. Sebelumnya, beberapa kali Anita mengajak suaminya mengobrol. Namun, lelaki itu acuh, tidak menanggapinya sedikit pun.
Tak terasa, satu jam telah berlalu. Mobil yang mereka tumpangi masuk ke gapura komplek perumahan. Arya mulai mengurangi kecepatan laju mobilnya. Entah, ia mematuhi peraturan komplek atau takut bertemu Alia terlalu cepat.
Ssttt!
Mobil yang dikemudikan oleh Arya berhenti tiba-tiba. Anita panik dan melihat ke depan, tetapi tidak menemukan penghalang apa pun. Ia menoleh ke arah suaminya, lalu menatapnya intens.
"Ada apa, Mas? Kenapa kau mengerem mendadak?"
"Aku tidak bisa membawamu ke rumah. Hatiku belum siap, Anita. Aku akan mengantarmu ke hotel. Kau bisa menginap di hotel mana saja. Tinggal pilih!" jawab Arya tanpa basa-basi. Namun, matanya terus menatap lurus.
"Apa kau bilang? Apa kau tega meninggalkan aku sendirian di hotel? Aku juga istrimu, Mas!" bentak Anita.
"Aku tahu, tapi kau harus memahami posisiku sekarang. Apa kau mau melihat hubunganku dengan Alia hancur, hah?" Suara Arya meninggi. Kali ini, ia menatap Anita tanpa berkedip.
"Bukankah itu yang kau inginkan, Mas? Kau bosan dengan wanita mandul itu. Jika kau benar-benar mencintainya, tidak mungkin ada aku sebagai wanita kedua."
Jleb!
Mendengar penuturan Anita, hati Arya bak tertancap belati. Tajam! Namun, ucapan Anita ada benarnya. Anita tidak mungkin mengusik rumah tangga mereka jika lelaki itu tidak memberi celah. Lelaki itu tersadar, rasa bersalah kepada istri pertamanya makin menjadi-jadi.
"Diamlah! Aku bingung harus bagaimana," ujar Arya sembari menjambak rambutnya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu mobil mengagetkan Arya. Mereka terlibat perdebatan panjang hingga tidak sadar bahwa Alia memperhatikan dari tadi. Arya terperangah ketika mendapati istri pertamanya itu.
"Buka!" Sayup-sayup terdengar suara Alia dengan nada marah sambil menggedor kaca mobil.
Arya tidak punya pilihan lain. Perbuatannya sudah kepalang tanggung. Akhirnya, ia membuka kaca mobil. Terlihat jelas bahwa netra Alia memerah. Ada gumpalan bening di sudut matanya.
"Kamu jahat, Mas!" Alia berlari setelah melihat suaminya berada dalam satu mobil bersama wanita yang masih mengenakan gaun pengantin.
Lelaki itu bergegas membuka pintu mobil, lalu menyusul langkah Alia. Setelah beberapa saat, ia mampu menghentikan istrinya. Tanpa pikir panjang, tangan kekar Arya meraih tubuh wanita itu. Alia masih terisak dalam dekapan sang suami.
Ibarat berada dalam jeruji cinta, Alia terkungkung; tak sanggup pergi. Kesetiaan yang selama ini dipegang teguh, ternoda begitu saja. Sejujurnya, ia sangat mencintai sang suami, meski perasaannya telah hancur berkeping-keping.
"Aku bisa menjelaskan semuanya, Sayang. Tolong de--"
"Cukup, Mas! Aku memang mencintaimu, tetapi bukan begini caramu memperlakukanku. Aku juga memiliki perasaan. Agama memang tidak melarang laki-laki untuk berpoligami. Namun, bukan begini poligami yang sebenarnya. Aku tidak terima!" Suara Alia meninggi. Air matanya mengucur deras. Kali ini, ia menumpahkan segala sesak yang memenuhi rongga d**a.
"Sayang ... dengarkan aku! Aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong!" Arya mendongakkan wajah istrinya.
Wanita itu bergeming. Tangisannya makin menjadi-jadi. Perih, itu yang Alia rasa saat ini. Mata mereka beradu pandang, tetapi tidak ada seorang pun yang membuka pembicaraan.
"Menangislah dulu, Sayang. Tumpahkan rasa kecewamu itu," ujar Arya seraya memeluk tubuh istrinya.
"Jika aku memberimu satu pilihan, siapa yang akan kau pilih? Aku atau dia?" tanya Alia seraya menunjuk Anita yang masih santai menyaksikan perdebatan mereka di dalam mobil.
"Aku pasti memilihmu, Sayang. Ak--"
"Kalau begitu, ceraikan dia sekarang!" pinta Alia.
"Tidak bisa, Sayang. Anita sedang hamil."
Alia tertegun mendengar penuturan Arya. Rasanya seperti dihunjam ribuan jarum. Ia tidak menyangka bahwa suaminya akan berkata seperti itu. Wanita itu membalikkan badan, lalu berjalan menjauhi Arya. Ia tidak menghiraukan panggilan suaminya.
Braakk!
Arya membanting pintu mobil setelah melihat Alia pergi. Sedetik kemudian, kedua tangannya menjambak rambut. Ia sangat menyayangkan kejadian ini. Menyesal pun percuma, semua sudah terlambat. Arya tidak bisa mengembalikan waktu.
"Seandainya aku bisa bersabar waktu itu. Mungkin, kejadian ini tidak pernah ada," sesal Arya. Matanya menatap lurus.
"Jadi, maksudmu kau menyesal menikahimu, Mas? Jawab!" bentak Anita setelah mendengar penuturan suaminya.
"Iya! Aku tergoda oleh kecantikamu hingga lupa bahwa ada bidadari surga yang setia mencintaiku. Bodoh!" Arya merutuki dirinya.
"Kamu tega banget ngomong seperti itu kepadaku, Mas! Apa kau lupa dengan perbuatan malam itu, hah? Kau sangat menikmatinya, Mas!" Anita menangis kencang. Ia tidak peduli lagi ketika bulir bening mulai membasahi wajah dan merusak riasan pengantin itu.
"Aku tidak peduli!" bentak Arya.
Setelah melewati perdebatan cukup panjang, Arya memutuskan membawa Anita pulang. Ia memarkir mobil dengan perasaan tidak karuan. Nyalinya menciut, mengetahui bahwa tidak ada sambutan dari Alia seperti biasanya.
Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari sosok bidadari surga tak bersayap. Sayangnya, ia tidak menemukan Alia di ruang tamu. Sedetik kemudian, ia mulai menaiki anak tangga.
Perlahan, tetapi pasti. Lelaki itu mulai mendekati kamar. Sedetik kemudian, membuka pintunya pelan. Dari kejauhan, tampak seorang wanita di sudut ranjang. Ia membenamkan wajah di antara dua lutut. Isak tangisnya terdengar jelas. Arya memberanikan diri untuk mendekati wanita itu, lalu mengusap puncak kepalanya yang terbalut jilbab.
"Alia ...," lirihnya.
Wanita itu mendongak. Keadaannya sangat memprihatinkan. Bulir bening meluruh deras, memenuhi wajah Alia.
"Pergi! Aku muak dengan laki-laki sepertimu, Mas!" teriak wanita itu dengan suara parau.
Lelaki itu tidak peduli. Secepat kilat, ia menyambar tubuh wanita di hadapan, lalu memeluknya erat. Alia bergeming, tetapi masih sesenggukan.
"Maafkan aku, Alia. Aku gagal menjadi suami terbaik untukmu. A-aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Sayang," terang Arya.
Alia mendorong mundur tubuh suaminya. Matanya menatap lurus, memperlihatkan warna merah yang sangat jelas.
"Melakukan apa, hah? Poligami tidak seperti itu, Mas. Yang kau lakukan adalah menuruti bisikan setan! Kau sudah tersesat!" Suara parau wanita itu meninggi.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar mendapat maaf darimu?" tanya Arya memelas.
"Ceraikan dia sekarang! Sungguh, tidak pernah sedikit pun terbesit di dalam pikiranku kalau kau membawa madu ke rumah ini," lirih Alia.
Arya hanya bergeming, menatap wanita itu dengan tatapan sendu. Rasa bersalah makin menguat seiring cairan bening yang terus menggenangi pipi istrinya. Sedetik kemudian, ia meraih tangan kanan Alia, lalu mengecupnya perlahan. Wanita itu hanya bergeming, menatap tanpa berkata sepatah kata.
"Aku minta maaf," ujar Arya pelan.
Wanita itu tetap bergeming, tetapi matanya menatap lurus. Sedetik kemudian, ia melepas jas yang masih dipakai oleh Arya. Tidak luput dengan dasi dan kancing kemeja. Alia tetap melaksanakan bakti istri terhadap suami.
"Jika kau lapar, makanlah! Aku sudah menyiapkan makan malam kesukaanmu," ujarnya datar.
"Kita makan sama-sama, ya, Sayang." Arya meraih tangan istrinya.
Alia menolak halus. "Tidak, Mas. Ajak saja istri mudamu. Aku ingin tidur cepat hari ini, ngantuk!"
Wanita itu menarik selimut bermotif bunga, lalu membelakangi suaminya. Hatinya seperti tersayat-sayat. Air matanya terus menganak sungai, membasahi pipi yang semula kering.
Bukan salah Alia jika berkata seperti itu. Ia hanya meluapkan amarah kepada sang suami. Alia yakin, wanita lain pasti melakukan hal yang sama jika mendapati suaminya menikah lagi.
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua jam Alia mencoba tidur. Nihil, ia hanya tidur-tidur ayam. Rasa penasaran mulai bergelayut seiring pemikiran buruk yang terlintas.
Sejenak, Alia menoleh ke belakang. Ah, ternyata lelaki itu masih ada. Hatinya sedikit tenang. Tak dapat dimungkiri, Alia khawatir kalau Arya menghabiskan malam pertama bersama madunya.
Tidak lama berselang, ranjangnya sedikit bergetar. Sedetik kemudian, diikuti langkah kaki yang perlahan menjauh. Alia menoleh dan mendapati sang suami mengendap-endap keluar.
"Kalau mau pindah kamar, silakan! Tidak perlu mengendap-endap seperti itu," sindir Alia sehingga membuat lelaki itu berjingkat.
Lelaki itu menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan, ia bisa melihat netra Alia memerah dan sembap. Sedetik kemudian, ia mendekati sang istri, lalu membelai rambutnya beberapa kali.
"Aku tidak pindah ke kamar Anita. Aku mau makan, Sayang." Jemarinya mengusap bekas air mata Alia, lalu mengecup keningnya pelan.
Tanpa sadar, Alia terbuai oleh perlakuan manis sang suami. Momen manis ini yang Alia tunggu. Perlahan, ia memejamkan mata dan tertidur di pelukan sang suami.
***
Mentari mulai menapaki peraduan. Sinar yang menyilaukan mulai memasuki celah jendela kamar. Alia mengerjap dan mengusap matanya beberapa kali. Tangan kanannya memegang kedua kelopak mata, terasa sakit dan membesar. Ia rasa, itu akibat terlalu banyak menangis.
Setelah itu, tangannya meraba sisi kanan ranjang. Kosong! Arya tidak ada di sampingnya. Alia terperanjat, secepat kilat mencari tahu keberadaan sang suami. Ia melangkah keluar, menyusuri penjuru rumah.
Kreekk! Ceklek!
Tanpa sengaja, Alia berpapasan dengan Arya yang baru keluar dari kamar tamu. Alia mengembuskan napas pelan. Hatinya sedikit lega mengetahui sang suami berada di rumah. Namun, ada rasa kecewa yang timbul, sebab ia harus membiasakan diri berbagi suami dengan madunya.
"Tumben sudah bangun, Sayang," tanya Arya sambil mengusap matanya. "Kamu mencariku, ya?"
"Tidak." Alia menggeleng pelan, lalu memilih kembali ke kamar.