Langit masih membiru, suasana komplek masih sepi. Namun, Alia tampak sibuk. Ia beranjak ke luar mengambil selang untuk menyiram tanaman. Setelah itu, Alia membersihkan dedaunan gugur yang berserakan. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Mentari mulai menapaki peraduan, beriringan dengan cakrawala semakin terang.
"Sayur, Bu. Sayur!" teriak tukang sayur langganan di sekitar komplek.
Alia menghampiri tukang sayur itu. Di sana, ada beberapa wanita sedang memilih-milih sayuran. Alia mendadak gugup, sebab ia jarang berbelanja sendiri.
"Lho, kok tumben Mbak Alia belanja. Apa si Leni libur?" tanya ibu-ibu berdaster kuning.
"Iya, Bu. Kemarin Mbak Leni lupa tidak belanja untuk persediaan hari ini," jawabku sambil memilih wortel.
"Oh, gitu," ucapnya sambil manggut-manggut, sedangkan Alia hanya tersenyum.
"Berapa totalnya, Bang?"
"25 ribu, Mbak Al." Abang sayur itu menjawab sambil memasukkan belanjaan Alia ke dalam kantung kresek. "Ndak ada kembaliannya, Mbak," sambungnya setelah menerima uang pecahan lima puluh ribu.
"Ambil saja, Bang. Terima kasih, ya." Alia tersenyum seraya berpamitan kepada semua orang.
Alia masuk, lalu bergegas memasak sayuran yang tadi dibeli. Rencananya, ia akan memasak capcay kesukaan Arya. Hal itu dilakukan sebagai permintaan maaf atas sikapnya semalam. Ia sadar, tidak seharusnya bersikap kasar tadi malam. Bagaimanapun, Alia adalah istri penurut dan sabar.
Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Capcay yang dimasak oleh Alia sudah matang.
Tuk! Tuk! Tuk!
Terdengar langkah kaki tergesa-gesa menuruni anak tangga. Hal itu membuat Alia menoleh ke arah sumber suara. Tampak sosok lelaki jangkung berpakaian rapi.
"Lho, mau ke mana, Mas?" tanya Alia sambil membalik posisi ayam yang digoreng.
"Ada meeting mendadak, Sayang."
Lelaki itu mendekat, lalu mengecup kening Alia pelan. Napasnya terdengar menderu karena tergesa-gesa. Sedetik kemudian, ia berbalik badan dan hendak pergi.
"Makan dulu, Mas! Aku sudah masak capcay kesukaanmu. Please!" pinta Alia memelas setelah mematikan kompor. Ia mengikuti suaminya ke ruang tamu.
"Aduh ... tidak bisa, Sayang. Nanti aku telat. Please, ini urgent!"
"Mas, ini kan hari Minggu. Sebelumnya, kamu tidak pernah meeting hari Minggu, Mas. Kalaupun ada, kamu pasti menolak," ujar Alia dengan ekspresi kecewa. "Ya sudah, aku akan menyiapkan bekal untukmu."
"Eh ... tidak usah, Sayang! Aku berangkat dulu, ya. Assalamualaikum," ujarnya sambil mengecup kening Alia lagi.
"Walaikumsalam."
Rasa kecewa menyelimuti hati Alia. Meski begitu, ia mencoba berlapang d**a dan mengukir lengkung bulan sabit di sudut bibir. Entah, mengapa perasaannya tidak enak seolah harus melarang suaminya pergi.
Alia menatap sendu kepergian lelaki itu. Punggung lelaki itu makin menjauh, tidak ada niatan untuk menoleh ke arah Alia, meski hanya memberi seulas senyum manis.
"Mas ...," lirihnya, tetapi tidak dihiraukan oleh sang suami.
Sedetik kemudian, Alia pergi ke kamar dan mengambil gawainya. Ia teringat dengan Deni, teman kantor Arya. Mungkin, menelepon Deni adalah jawabannya.
Tuutt ... tuutt ... tuutt ....
“Nomor yang Anda tuju, tidak menjawab.” Begitu jawaban dari seberang telepon. Namun, Alia tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba menelepon Deni beberapa kali.
"Ishh! Kok tidak ada jawaban, sih?" gerutu Alia, "coba telepon w******p saja, deh."
Jemari Alia cekatan membuka aplikasi perpesanan hijau—w******p, lalu mencari nama Deni di sana. Setelah menemukan yang dicari, Alia langsung menelepon Deni via w******p. Namun, terpampang tulisan “memanggil” di layar telepon, tanda si empunya tidak aktif. Sedetik kemudian, ia mengetik pesan untuk mencari tahu di mana keberadaan suaminya saat ini. Bukan bermaksud tidak percaya, melainkan perasaan buruk mulai menyelimuti hati wanita itu.
[Assalamualaikum, Den. Maaf mengganggumu terlalu pagi. Sudah kucoba meneleponmu dari tadi, tetapi tidak ada jawaban. Aku mau tanya, apakah ada meeting dadakan hari ini?] Begitu isi pesan yang dikirim oleh Alia.
Satu jam telah berlalu. Namun, tidak ada tanda-tanda pesan balasan dari Deni. Alia menatap layar gawainya, berulang kali mengusap bar notifikasi yang terletak di atas layar. Namun, tetap tidak ada respons dari lelaki itu.
? 'Ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya ....
Satu panggilan telepon dari Deni. Wajah Alia semringah. Jemarinya cekatan mengusap tombol hijau, tanda menjawab telepon. Tak lupa, ia menekan opsi “loudspeaker” agar informasi yang disampaikan terdengar jelas.
"Hallo, Assalamualaikum!" sapa Alia.
"Walaikumsalam. Maaf, aku baru pindah kontrakan, Al. Jadi, tidak menyalakan paket data."
"Iya, tidak apa-apa. Jadi, bagaimana perihal yang aku tanyakan tadi, Den?"
"Tidak pernah ada rapat di akhir pekan."
Deg!
Alia terdiam beberapa saat, bak tersambar petir di siang bolong. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka bahwa Arya membohonginya seperti ini.
"Baiklah, Den. Assalamualaikum." Alia memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban salam dari seberang. Hatinya hancur berkeping-keping saat ini.
Perasaan wanita itu makin cemas. Ia mengambil gawai, lalu menelepon sang suami. Nihil, tak ada jawaban meski terdengar nada tersambung. Tak kehilangan akal, Alia beralih ke aplikasi w******p. Ia mencoba menelepon Arya melalui w******p. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Kemudian, ia menekan tombol video call. Masih sama, tidak ada tanda-tanda Arya memberi respons meski tertulis kata “berdering”.
"Angkat dong, Mas!" kesal Alia. Namun, tetap tidak ada jawaban.
[Kamu di mana, Mas? Aku khawatir denganmu. Perasaanku tidak enak dari tadi. Aku tahu kalau kamu berbohong. Jika kamu masih menghargai aku sebagai istri, tolong beri tahu posisimu sekarang.] Isi pesan yang Alia tulis melalui w******p.
Dua jam telah berlalu. Tanpa sadar, pesan yang Alia kirim hanya bercentang biru sejak satu jam lalu. Perempuan itu makin cemas, takut terjadi apa-apa terhadap sang suami. Alia masih berpikir positif. Jemarinya menekan ikon telepon di w******p. Namun, belum juga tersambung.
Sementara itu, Arya masih bergelut dengan kemacetan jalan raya. Mobilnya melaju ke arah alun-alun kota Sidoarjo. Sepertinya, ia hendak menyambangi suatu tempat.
Jalanan beraspal mulai berganti jalan bebatuan. Pabrik-pabrik yang berada di kanan kiri jalan sudah tak terlihat. Area persawahan dengan padi menguning mulai tampak di ruas jalan.
Perlahan, tetapi pasti. Mobil lelaki itu mulai memasuki gapura desa. Kerumunan sudah memadati sebuah rumah yang dihiasi janur kuning melengkung.
Arya segera memarkir mobil. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang. Rasa bersalah mulai berkecamuk. Ia melangkah ke arah rumah itu, tetapi langkahnya terasa berat seolah-olah ada yang menahan kakinya.
"Cepatlah, penghulu sudah menunggu!" kata lelaki berbaju batik.
Arya mengikuti lelaki itu. Ia membawa Arya ke sebuah rumah yang sudah dipadati beberapa orang. Sedetik kemudian, Arya duduk di sebelah wanita yang memakai kebaya putih dibalut rias ala pengantin.
Sejenak, Arya memandang wanita itu. Di dalam lubuk hatinya, ia menolak menikahi wanita itu. Namun, lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaan yang membawanya dalam situasi seperti ini.
"Sudah siap?" Ucapan penghulu membuyarkan lamunan Arya. Ia mengangguk pelan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan engkau, Arya Pahlevi dengan Anita Singaraja binti Mahmud dengan maskawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Anita Singaraja binti Mahmud dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
Ucapan syukur menggema di penjuru ruangan. Sebaris doa mereka sematkan di antara kebahagiaan ini. Ya, kebahagiaan semu lebih tepatnya.
Anita menoleh ke arah Arya, lalu mencium punggung tangannya. Sejenak, lelaki itu menatap istri mudanya, lalu mengecup kening sebagai syarat. Ada rasa tak biasa yang menyelimuti hati lelaki itu. Rasa bersalah telah membohongi sang bidadari surga.
"Ayo, Mas!" Wanita itu mengajak Arya menemui kerabat yang sudah menunggu di depan.
Satu per satu orang menghampiri mereka, bersalaman dan mengucap doa turut berbahagia. Pernikahan seharusnya menjadi pemersatu dua insan yang saling mencinta. Namun, kali ini berbeda. Arya menikahi Anita karena terpaksa. Wanita itu merengek, meminta pertanggungjawaban atas perbuatan Arya padanya. Dengan kata lain, ia menunjukkan sebuah test pack bergaris dua.
Penyesalan selalu datang di belakang. Ya, begitulah yang dirasakan Arya saat ini. Mahligai cinta yang ia bangun bersama sang bidadari surga, kini ternoda karena hadirnya orang ketiga. Tidak ada asap, jika tidak ada api. Seandainya ia mampu menahan nafsu, semua ini tidak akan terjadi. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu menolak takdir.
"Mas ... Mas!" Anita menyenggol lengan kiri Arya, membuatnya tersadar dari lamunan. Sejenak, Arya menatap wanita itu. Raut geram terpampang di wajahnya.
"I-iya? Ada apa, Nit?" tanya Arya.
"Jangan bikin malu aku, dong! Ini kan hari bahagia kita. Tuh, orang-orang kecewa karena kamu gak balas uluran tangan mereka, malah bengong terus," jelasnya seraya mengerucutkan bibir.
"Eh ... i-iya, maafkan aku, ya. Aku sedang kurang sehat," kilahnya.
Anita melengos, lalu menyunggingkan senyum kepada tamu yang hadir. Arya tersenyum kecut. Seharusnya, hari ini Arya bahagia. Namun, hal itu tidak dirasakan sama sekali. Ia tidak bisa membayangkan jika Alia terluka.
"Aku ke kamar dulu, ya. Kepalaku pusing, sepertinya butuh istirahat." Tangan kanan Arya memijat pelipis beberapa kali. Belum sempat Anita menjawab, lelaki itu turun dari pelaminan dan masuk ke rumah.
Arya masuk ke kamar bernuansa pink. Di situ, ada sebuah ranjang berhias taburan mawar merah yang berbentuk hati. Seolah-olah tidak melihat itu, Arya malah mendudukinya.
Beberapa jam telah berlalu. Ia teringat dengan pesan Alia yang belum dibalas. Secepat kilat, Arya merogoh gawai dari saku celana, lalu membaca pesan itu kembali. Namun, tidak ada niat untuk membalas pesan itu.
"Maafkan aku, Sayang. Hari ini, aku memberimu sebuah kejutan. Namun, bukan kejutan seperti yang kau harapkan. Maafkan aku, suamimu terlalu bodoh, Alia. Bodoh!" Arya merutuki dirinya sendiri.