Salwa benar-benar merasakan remuk redam dalam hatinya, dirinya yang berada dalam pelukan Rangga, dirinya yang memberikan sebuah kenikmatan untuk suaminya itu, tetapi nama wanita lain yang suaminya sebut kala berada dipuncak pelepasannya. Seketika semua keindahan yang tengah Salwa rasa berubah menjadi nestapa, air matanya mengalir begitu saja, saat tubuh perkasa sang suami yang berbalut peluh ambruk di sisinya, dengan napas yang masih sedikit tersengal sekali lagi Rangga menyebut nama perempuan itu, lirih dalam bisikan tetapi terdengar bagai sambaran petir yang bersahutan membakar segumpal hati seorang istri. Wanita itu beringsut untuk turun dari ranjangnya tetapi tangan kekar Rangga menahannya, memasukkan lebih dalam tubuh polosnya dalam pelukan, tidak ada yang bisa Salwa lakukan selai

