11. Gara-Gara Tamu

1141 Kata
"Aku gak tahu, tapi dia lagi bicara sama Mas Raka." "Mmh?" Maya mengerut dahi. 'Adikah?' Seharusnya bukan, karena pria itu sudah tak lagi menggodanya belakangan ini, karena ia tak merespon. Lalu siapa? Saat mendatangi ruang tamu, barulah ia mengerti. Pria itu adalah dokter Tio, pria yang ditemuinya semalam. Pria itu ada di antara para dokter yang datang di acara simposium itu dan sempat bicara padanya tentang rumah sakit milik Raka. Maya hanya menjawab seputar rumah sakit dengan ramah dan pria itu hanya menunjukkan respon yang biasa. Kenapa tiba-tiba pria itu datang dan mencarinya? "Maaf, Pak dokter mencari Saya?" Maya dengan cepat ingin memastikan. Pria muda itu merapikan kacamatanya dan tersenyum. Kulitnya yang putih bersih seperti Raka dengan lesung pipit di sebelah kiri membuat semua orang gampang mengingatnya. Memang tidak setampan suami Alika tapi cukup menarik. "Oh, iya. Aku dengar kamu ipar Pak Raka jadi sekalian saja aku datang ke rumah. Tidak mengganggu 'kan?" Ia melihat Maya yang sedang memakai daster yang sudah mulai pudar, sedikit tersenyum simpul. Maya tersadar dan malu melihat dirinya masih berpakaian lusuh. "Eh, sebentar. Saya ganti baju dulu." Ia melangkah ke tangga. "Eh, bagaimana kalau kita bicara di luar saja?" "Eh, apa?" Wanita itu menghentikan langkahnya dan memutar wajahnya ke arah pria itu. "Apa ini masalah rumah sakit?" Ia melirik Raka yang duduk menghadap dokter Tio. Suami Alika itu berdehem sebentar. "Eh, dokter Tio ingin pergi denganmu saja." 'Apa?' Maya melirik lagi ke arah dokter Tio. 'Maksudnya apa ini?' "Eh, boleh aku mengajakmu keluar?" Dokter itu memberanikan diri untuk menyatakan maksudnya. Ia memberi senyum yang sedikit kaku karena menunggu jawaban dari Maya. "Apa kamu tahu kalau dia janda?" Alika yang sudah menuruni tangga, ikut bicara. Raka mulai tersenyum masam. Ia tahu, akan ada masalah besar kalau istrinya ikut-ikutan bicara. Ini sudah sering terjadi dan kepalanya mulai pening. "Eh, i-iya," jawab dokter spesialis itu sedikit gugup melihat pembawaan Alika yang berani. "Janda yang tak bisa memberikan keturunan?" Wajah Maya seketika memerah. Ia melirik kedua dokter itu. "Alika!" Raka mengingatkan. Ia sangat geram karena istrinya terlalu ikut campur urusan orang lain. "Lho, kenapa? Dia 'kan harus tahu sebelum nanti kecewa," ucap istrinya tegas. "Sudah, Alika. Kita tak perlu mengurusi persoalan seperti ini." Ternyata Raka tahu dan tidak mengatakannya pada dokter Tio. "Lho, nanti kalo mereka bermasalah, apa namamu tidak dibawa-bawa?" "Ya sudah, terserah kamu saja." Pemilik rumah sakit itu tidak ingin mencari masalah dengan sang istri, walau ia merasa Alika terlampau berlebihan. Saat pergi berdua, bisa saja Maya mengatakannya pada dokter Tio tanpa harus mempermalukannya, seperti sekarang ini. Dokter Tio yang mendengar kenyataan ini, terlihat bingung. Apalagi karena kehadirannya, Raka dan istrinya bertengkar. Ia jadi merasa bersalah berada di sana. "Eh, maaf. Aku sepertinya mengganggu hari libur kalian. Mungkin lain kali saja aku datang." Pria itu bergegas berdiri dan pamit. Maya ingin sekali berteriak bahwa apa yang dikatakan Alika tidak benar, tapi untuk apa? Apa ia ingin berkenalan dengan dokter Tio? Tidak. Ia hanya muak direndahkan. Ia ingin memberi tahu dunia ia mampu punya anak, tidak seperti yang dikatakan orang-orang tentang dirinya yang selain anak seorang pembantu, juga mandul. Yang terakhir itu tidak benar, tapi mulutnya keluh. Memberi tahu mereka juga hanya akan memberi masalah baru, karena itu ia berusaha diam. Ia akan memberitahukannya pada saat yang tepat. "Alika, sudah cukup kamu mempermalukanku di depan tamu-tamuku! Apa kamu senang mempertontonkan pada semua orang bahwa suamimu itu di bawah kendalimu? Apa kamu senang merendahkanku seperti itu?" Kini Raka protes setelah tamunya pulang. "Lho, Mas? Aku bantuin kamu lho Mas, agar nama baikmu tidak ikut rusak gara-gara Maya!" Alika bicara lantang sambil melipat tangan di d**a. Ia kesal dituduh merendahkan suami. Padahal ia berusaha agar tamu itu tak menyia-nyiakan waktunya pada Maya, karena pasti kecewa. "Iya, tapi caranya ... Kamu itu istri pemilik rumah sakit lho, Alika. Bersikaplah seperti itu, bukan bersikap seperti anak remaja yang bisa teriak di mana saja memberi tahu kebenaran kepada orang lain. Aku tidak mengkritik apa yang kamu katakan, tapi caranya. Duduklah yang sopan dan bicara lebih pelan. Apa kamu mau seisi rumah ini tahu apa yang sedang kamu ucapkan? 'Behave', Alika, bersikaplah seperti nyonya rumah yang seharusnya," ucap sang suami berusaha bicara lebih lembut. Maya membenarkan dalam hati. Ia kemudian melangkah meniti anak tangga menuju kamarnya. Pasti setelah ini akan ada rumor baru tentang dirinya yang mandul. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Masih terdengar sepasang suami istri itu dengan pertengkaran mereka, tapi Maya tak peduli. Selama namanya tak disebut, ia tak perlu khawatir. "Kenapa sih kamu terlalu mengatur hidupku?" Raka terkejut dengan kalimat sang istri barusan. Bukankah dia yang selama ini mengatur hidupnya? Bagaimana dengan sekretaris-sekretaris di kantornya yang dipecat, apa itu bukan ulah istrinya? "Apa tidak terbalik?" Pria itu mengangkat satu alisnya dengan dahi berkerut. Kalimat itu malah menyulut masalah baru. Alika berang dengan bertelak pinggang menatap suaminya. "Apa? Apa Mas masih belum mengerti maksudku? Bagaimana kalau Mas berada di posisi dokter tadi, apa Mas mau menikahi Maya?" Maya tersentak kaget. Baru saja ia akan masuk ke dalam kamar, namanya kembali disebut-sebut. Benar-benar keterlaluan kedua majikannya! Tidak bisakah mereka saling bertengkar tanpa menyebut namanya? Tanpa harus merendahkan dirinya? Apakah serendah itukah pandangan mereka tentang seseorang anak pembantu? Objek yang mudah jadi bahan ejekan? Benar-benar tak punya hati! Pelupuk mata Maya mulai berembun. Ia mencengkram pagar tangga kuat-kuat dengan tangan bergetar. Raka tidak mengerti kenapa istrinya kembali sewot. "Aku 'kan sudah bilang tadi ...." "Mas denger gak pertanyaan aku tadi? Kalau Mas jadi dia, Mas mau menikahi Maya, seorang wanita yang pastinya mandul, mmh?" Pria itu berusaha bicara tapi tak satupun kata keluar dari mulutnya. "Ah, Alika. Kamu gak ngerti juga ...." Istrinya mendekat dengan mata menyipit ke arah Raka. "Kalau Mas sendiri bagaimana? Mau menikah dengan Maya?" Ditanya begitu, pria itu berusaha menghindar. Apalagi ia melihat Maya masih berdiri di tangga atas. Ia seperti tersadar telah menyakiti orang lain karena terpancing emosi sang istri. "Alika, mana mungkin aku menikah dengan orang lain. Aku hanya mencintaimu, Sayang." "Bohong. Kalau kau punya kesempatan, pasti kau ingin menikah dengan wanita lain." Bibir istri dokter itu makin menggulung. "Tidak, Sayang aku hanya mencintaimu." Maya yang berada di lantai atas segera menghapus air matanya yang hampir jatuh. Drama pertengkaran sepasang suami-istri itu sebentar lagi tampaknya akan berakhir. Tidak ada gunanya lagi ia ada di sana. Raka berusaha mendekati sang istri ingin memeluknya tapi Alika malah menepisnya kasar. "Kalau begitu, kenapa tidak kau nikahi saja Maya kalau kau benar-benar sayang padaku!" "Apa? Apa maksudmu?" Pria itu kembali bingung mendengar pernyataan istrinya. Maya pun juga sama terkejutnya hingga kembali mendekati pagar tangga. 'Menikah denganku? Apa aku tidak salah dengar?' "Kau dengar 'kan, aku bilang apa. Kalau kau benar mencintaiku, nikahi Maya sekarang juga." Alika melipat tangannya dengan santai di depan d**a. Ia tahu, suaminya takkan punya keberanian itu. Raka tak percaya akan pendengarnya. "Alika, apa kau gila? Pernikahan bukan hal main-main, Sayang. Kamu bercanda 'kan?" Ia ingin memastikan dengan mata terbelalak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN