10. Berutang

1172 Kata
"Sepertinya batuk pilek, Pak," sahut Maya yang kemudian mengambil dua lembar tisu di atas dasbor. Ia meminta bocah itu menghembuskan lendir itu dari hidungnya. Ardha merengek sambil melakukannya. Setelah sampai di sebuah klinik, Ardha di periksa sebentar, dan diberi resep obat. Mereka pun menunggu di depan apotek di sebuah kursi panjang. "Bener, 'kan, Pak. Cuma batuk pilek aja." Raka melirik Maya dengan pandangan kesal. "Aku bukan dokter anak. Jadi, walaupun aku tahu penyakitnya, tapi obatnya tidak sama dengan orang dewasa. Salah-salah, anakku bisa masuk rumah sakit gara-gara salah obat." "Oh, begitu?" Kedua netra Maya membulat sempurna. Pandangan pria itu yang terlihat sebal membuat sang wanita salah tingkah. "Eh, mungkin Ardha minum s**u dingin saat malam," ucap Maya setengah menyesal. "Apa? Kenapa dia minum s**u dingin saat malam? Biasanya 'kan, dia minum s**u dingin siang saja." "Maaf, Pak. Biasanya Saya buatkan dia s**u hangat malam supaya cepat tidur, tapi mungkin karena gak ada yang buatkan, Ardha mengambil sendiri s**u kotak yang ada di lemari es." Maya menunduk ketika Raka memandanginya dengan geram. "Kenapa kamu tidak ...." Ia memukul sandaran kursi di sampingnya karena kesal. "Harusnya 'kan Alika bisa mengawasi ... Ah!" Kembali ia memukul sandaran kursi itu dan segera bangkit. Ia gelisah dan berjalan mondar-mandir. "Alika harus ...." "Sudah, jangan bertengkar lagi, Pak. Ini memang salah Saya," sahut Maya memohon. "Harusnya Saya mengingatkan pembantu yang baru itu untuk membuatkan Ardha s**u hangat ketika mau tidur. Aku lupa." "Tapi Alika berkewajiban ...." Baru saja Raka menggerak-gerakkan tangannya karena emosi, wanita itu langsung meraih tangan sang pria. "Sudah, Pak, jangan bertengkar. Ini memang salah Saya." Maya kembali mengingatkan. Ia tidak mau gara-gara dirinya mereka kembali bertengkar. Pria itu melirik tangannya yang telah lancang disentuh oleh mantan pembantunya itu. Maya terkejut dan buru-buru melepaskan. Ia tidak sengaja menyentuh tangan bosnya itu. "Beraninya kamu ...!" "Eh, maaf, Pak." Maya makin menunduk, ketakutan. Baru saja pria itu hendak mengomel, Ardha merengek karena berisik. Bocah itu makin mengeratkan pelukan pada wanita berjilbab itu. "Tante ...." "Iya, iya. Maaf ya? Berisik ya?" sahut Maya lembut. Ia merapikan gendongannya lembut pada bocah itu. Saat itu juga, kekesalan Raka beralih. Kenapa Ardha sangat dekat dengan Maya, bukan dengan ibu kandungnya sendiri, Alika? Alika memang banyak mengacuhkan anak itu tapi tidak seharusnya anaknya dekat dengan mantan pembantunya itu, 'kan? Apa yang Maya punya hingga Ardha begitu menyukainya? Maya belum lama ada di rumahnya dan sebelumnya ia hanya seorang pembantu. Ini pertama kalinya bocah itu dekat dengan seseorang, karena sebelumnya sudah seringkali berganti pembantu dan Ardha tetap mandiri. Sang istri bahkan mempercayakan Maya untuk jadi sekretaris dirinya, padahal sejauh ini ia tak melihat keistimewaan apa pun yang dimiliki wanita ini. Itu yang sungguh mencengangkannya. Raka meraih lengan Maya sehingga wanita itu terkejut dan mendongak. "Berarti kau berhutang padaku ya?" "Eh, hutang apa?" "Hutang satu permintaan karena bikin Ardha sakit." Maya menatap pria itu dengan nanar. "Lalu, aku harus bagaimana?" "Ardha Syailendra!" Keduanya melirik pada meja kasir apotek. "Aku masih belum tahu, tapi nanti kalau sudah tahu, akan kuberi tahu." Pria itu bergerak cepat ke kasir dan mengambil obat. Dalam perjalanan pulang mereka hanya diam saja. Selain sudah lelah bekerja seharian, mereka tidak mau membuat keributan yang menyebabkan Ardha terbangun. Hingga ketika Maya hendak meletakkan bocah itu di ranjang, Ardha terbangun dan menangis. "Mau sama Tante, boboknya ...," rengek bocah itu. "Ardha!" teriak Raka kesal. "Sudah, Pak. Tidak apa-apa. Biar Saya temani saja dia tidur, Pak." Sang wanita berusaha menenangkan pria itu. "Tapi nanti kamu ketularan pilek." "Tidak apa-apa, Pak. Besok 'kan libur. Saya bisa sekalian minum obat sambil istirahat." Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokan pria itu. Kenapa Alika tidak bisa berkorban pada anaknya sendiri seperti yang lainnya? Sementara ia sendiri menyangsikan ketulusan Maya. "Terserah kamu saja." Raka kemudian keluar dari kamar itu. Setelah membujuk bocah itu minum obat, Maya kemudian naik ke atas ranjang setelah melepas sepatu. Ia kemudian berbaring dan Ardha tidur dengan berbantalkan lengannya. Bocah itu begitu senang sambil memeluk tubuh Maya. Hidung Ardha sedikit memerah tapi wajahnya tak sepucat tadi. Ia begitu damai tertidur di samping Maya. Di kamar sebelah terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang bertengkar. Pria dan wanita dan Maya tak bisa mencegah karena mereka adalah majikannya. Ia hanya bisa mengusap dahi bocah itu yang tertidur dengan keringat yang mulai membasahi wajah. Untung bocah itu tak terganggu karena sudah terlelap tidur karena minum obat. **** Entah sudah berapa lama Maya tertidur, ia terbangun dengan tubuh yang lumayan ringan. Pagi tadi ia terbangun dengan hidung tersumbat. Setelah sholat Subuh dan melihat wajah Ardha nampak kemerahan, ia mempercayakan bocah itu pada pembantu baru yang tampak gesit bekerja. Ia sendiri minum obat dan tidur kembali. Hah ... hari ini tak ada yang perlu ia lakukan. Raka pasti mengerti, kalau ia tak muncul berarti ia tengah istirahat karena terkena pilek dan batuk dari Ardha. Di perhatikan lagi ruangan itu. Ruangan kamarnya cukup besar dan mewah. Bahkan kamarnya yang dulu bersama sang mantan suami, tidak sebagus kamar ini. Kamar ini adalah kamar yang diperuntukan untuk tamu. Tiba-tiba Maya terbatuk sedikit dan sesuatu terjadi. Ada sesuatu bergerak di dalam perutnya! Aneh, ia yakin seperti ada yang bergerak tadi hingga ia terduduk di atas tempat tidur karena terkejut. Ia sangat yakin, karena merasakannya. 'Apa tadi itu ... ah tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi.' Maya mengusap perutnya dengan pelan. 'Apa aku hamil? Tapi apa itu mungkin? Itu tidak mungkin. Aku 'kan tidak bisa punya anak!' Ia bimbang, dan teringat lagi pernah membeli alat tes kehamilan tapi ia belum pernah memakainya. Segera Maya mengambil dari laci meja yang ada di seberang ranjang. Wanita itu melihat lagi kotak yang pernah dibelinya dulu, kemudian ia pergi ke kamar mandi. Setelah mencelupkan lembarannya, Maya menunggu di kloset duduk. Tak butuh waktu lama garis yang ditunggu keluar, tapi garis itu tak sendirian. Dua garis itu mengejutkannya. 'Tidak mungkin ... Aku hamil? Tapi bagaimana bisa?' Maya teringat, sebelum sang suami mengucapkan kata cerai, malamnya mereka sempat bercinta setelah lama absen. Ia pikir suaminya telah kembali padanya tapi ternyata itu adalah permainan terakhir mereka bersama. Karena itu Maya sangat terguncang ketika sang suami menjatuhkan talak, sebab pria itu sudah punya calon istri yang ingin dinikahinya. Maya benar-benar terpukul. Kini pun ia syok! Wanita itu tak percaya ia telah hamil, hingga tak tahu harus berbuat apa. Ia panik hingga tangannya gemetar. 'Ya Allah, bagaimana ini?' Namun pelan-pelan wanita itu tersadar. 'Astaghfirullah alazim, kenapa aku jadi begini?' Ia mengusap wajahnya pelan. 'Harusnya aku bersyukur. Biar bagaimanapun ini karunia. Orang berpikir aku takkan bisa punya anak tapi Tuhan berkehendak lain. Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu khilaf. Mulai sekarang Ibu akan menjagamu. Walaupun ayahmu tak mengakuimu, tapi kau takkan kekurangan kasih sayang dari Ibu. Percayalah. Cepatlah kamu keluar agar Ibu tidak sendirian di sini, Nak.' Kembali Maya mengusap perut yang memang kelihatan sedikit buncit itu. Air matanya mulai jatuh. 'Ibu akan membesarkanmu dengan baik.' Terdengar ketukan di pintu. "Maya ... Kamu masih lama gak? Ada tamu mencarimu." Itu suara Alika, sang majikan. "Oh, iya sebentar." Cukup kebingungan karena Maya merasa tak mengundang siapa pun ke rumah. Setelah menghapus air mata, ia kemudian bergegas keluar. "Siapa, Kak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN