"Iya, dong! Siapa dulu yang pakai? 'Kan anak Papa." Raka mengusap kepala anaknya yang telah bertopi. "Ayo cepat sarapan!"
Maya datang membawa tas bocah itu. Ia menarikan kursi untuk Ardha. Bocah itu, walau kurang tinggi untuk duduk dekat meja, tapi sudah dibiasakan oleh ayahnya untuk makan di meja makan. Maya mengambilkan roti dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaan Ardha. Seusai sarapan, Raka pergi lebih dulu, setelah itu Ardha dengan ditemani Alika pergi ke sekolah.
"Jangan lupa itu masak steak ayam ya? Resepnya sudah aku kirim ke HP-mu," sahut Alika sebelum keluar membawa anaknya.
"Iya, Nyonya." Setelah merapikan meja makan, Maya kemudian duduk di sebuah kursi di dapur, untuk memeriksa resep yang dikirim Alika padanya.
"Maya, kamu masak apa hari ini?" Ternyata Odah datang dengan membawa peralatan pelnya.
"Steak ayam. Katanya Tuan suka steak ayam," ucap wanita berjilbab instan itu, masih fokus menatap layar ponselnya.
"Masa? Perasaan Tuan suka apa aja sih, gak pernah komentar. Yang penting ada sambelnya."
"Masa?" Maya mengalihkan pandangan pada Odah yang kini mengikat rambutnya.
"Setahuku dia lebih suka masakan Indonesia sih, terutama sambel terasi!" Sambil berucap, Odah mendekatkan wajahnya pada pembantu baru itu. Ia lalu meninggalkan Maya dan pergi ke kamar mandi.
Tinggal Maya yang mengerut kening mendengarnya. Lalu kenapa pria itu bilang suka masakan Eropa? Apa dia malu mengaku suka pada masakannya? Pikiran ini membuat Maya tersenyum seharian, hingga Ardha pulang dari sekolah.
Maya sedang memasak di kompor ketika terdengar langkah kecil berlari-lari ke arahnya. Ia merasakan pelukan erat di salah satu kakinya dari belakang. Suara tangisan keluar, begitu kaki sang wanita dipeluk bocah itu.
"Ardha, kenapa?" Maya melihat ke arah salah satu kakinya yang dipeluk bocah bertubuh kurus itu.
"Mama ...." Butir-butir air mata berjatuhan di pipi mulus bocah itu.
Wanita itu segera mematikan kompor dan menarik Ardha ke arah meja. Ia menghapus pipi bocah itu yang basah dengan kedua ibu jarinya. "Sini, ada apa, Dek." Maya pun heran, bocah itu dengan mudahnya mempercayakan dirinya sebagai tempatnya mengadu, padahal mereka belum lama kenal. Ia memangku bocah itu di pangkuan.
"Ardha didorong Akbar sampai jatuh. Jadi Ardha jambak rambut Akbar, tapi Akbarnya ngadu sama bu guru. Ardha dimarahin. Bu guru bilang ke Mama, terus Mama langsung cubit Ardha ...." Kembali terdengar tangisannya yang menyayat hati, karena sang ibu tak mau bertanya dan langsung mencubitnya.
"Oh, iya. Mama salah ya? Mmh ... sudah ya, cup, cup, cup." Maya memeluk menenangkannya.
"Maya! Jangan dengerin omongannya. Pasti dia bohong! Lah, gurunya sendiri yang ngomong, masa gurunya salah?" Alika datang-datang sudah sewot.
Maya heran pada nyonya rumah satu ini, selalu saja egois padahal anaknya sendiri, kenapa ia tidak bisa mencoba membelanya? "Nyonya, sekali-sekali mengalah saja kenapa? Namanya juga anak kecil. Dia 'kan anak Nyonya."
Wanita cantik itu langsung bertelak pinggang, dengan wajah galak. "Apa katamu? Enak saja. Nanti setelah itu dia ngikutin aku ke mana-mana. Ah, capek! Ngurusin anak kecil itu repot!" Dengusnya kesal.
'Ya ampun, di mana-mana mengurusi anak kecil memang repot, tapi 'kan pasti ada sayangnya juga karena anak sendiri. Apa Alika tidak punya perasaan itu?'
"Sudah, urusi dia dulu. Aku mau ke atas." Alika tak peduli, dan pergi meninggalkan dapur.
Maya kemudian membawa Ardha ke kamar sambil digendong. Di sana bocah itu diturunkan dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Setelah berganti pakaian, ia meninggalkan Ardha di kamarnya.
Wanita itu kembali ke dapur dan meneruskan masaknya. Saat ia sedang sibuk memasak, ia tak menyadari anak kecil itu telah kembali ke dapur mencarinya. Ia tengah menggoreng dan tidak tahu ada Ardha di sampingnya. Tiba-tiba anak itu kembali menangis. Di saat itulah ia sadar ada bocah itu di dapur. "Eh, Ardha ... kamu kenapa, Dek?" tanyanya terkejut.
Ternyata, bocah itu wajahnya terkena cipratan minyak panas. Maya sudah menduganya hingga ia membawa bocah itu menjauh. "Mana yang sakit, Dek!"
Ardha menunjuk pipinya. Seketika Maya melihat kilatan minyak di pipi bocah itu. Segera ia mematikan kompor sambil membawa bocah itu ke kamar mandi. Ia mengoles odol di pipi Ardha yang mulai memerah. "Maaf ya, Dek. Bibik gak lihat ...," ucap Maya lembut. Ia merasa bersalah.
Tiba-tiba saja Alika sudah berada di depan pintu kamar mandi. "Mmh! Makanya ... Anak kecil tuh begitu. Sekalinya dibaikin aja, ngikut ke mana-mana! Repot, 'kan?"
"Maaf, Nyonya. Aku gak sengaja," sesal Maya.
"Ayo, sini! Kamu minum s**u saja, terus kamu tidur siang!" ucap nyonya rumah itu pada Ardha yang sudah berhenti menangis. Ia menggandeng anaknya mendatangi lemari es.
"Padahal tadi aku mau tanya apa kamu sudah selesai masak atau belum, karena aku sudah lapar," sahutnya lagi.
"Oh, sebentar lagi selesai. Iya. Saya baru mau goreng kentangnya." Maya bergegas kembali ke kompor. "Nanti Saya taruh di meja, Nyonya."
Setelah mengambil s**u kotak, ibu dan anak itu keluar dari dapur.
****
"Apa ini?" Raka menunjuk pada bekas merah di pipi mulus Ardha yang berada dalam gendongannya. Ia bertanya pada Maya dengan wajah murka. "Apa kamu gak bisa ngurus anak dengan benar, hah? Masa kamu ngurus anak kecil sambil masak di dapur, yang benar saja!" ucap pria itu lantang.
Maya tertunduk ketakutan sedang Alika berdiri di belakang suaminya dengan senyum liciknya. Sebelum Ardha mengadu telah dicubit olehnya di sekolah, ia mengadu bahwa Maya telah membuat anak itu terkena minyak goreng di pipi. Raka langsung tersulut amarahnya karena pembantu barunya tak fokus bekerja.
Maya mengangkat sedikit wajahnya. "Tapi, Tuan, tadi Ardha sudah Saya kasih odol pipinya biar gak bengkak."
"Odol? Kamu pikir odol obat apa, hah? Astaga ... Alika!"
Nyonya rumah itu segera menghampiri ketika sang suami memanggilnya dengan nada kesal.
"Apa kau tak bisa mengajari pembantumu dengan benar, hah! Masa hal seperti ini saja harus diajari? Suruh dia kerjakan satu-satu pekerjaan di rumah, jangan sekaligus agar tidak ada yang celaka seperti ini lagi!" teriak pria itu dengan berapi-api. Ia sudah berusaha menurunkan nada bicaranya pada sang istri tapi tetap saja, nada suaranya terdengar menggelegar ke seantero sudut ruangan rumah itu. Maya hanya bisa tertunduk lesu.
"Iya, Mas."
"Papa ...."
Belum selesai Ardha bicara, Raka sudah memotong. "Masih sakit ya, Sayang? Ayo kita jalan-jalan ke supermarket di depan, ya? Di sana Ardha mau beli apa? Es krim? Jus? s**u?" Pria itu membawa anaknya pergi.
"Tapi, Pa ...."
"Sudah, tak usah dipikirkan. Besok juga hilang sakitnya," bujuk Raka lembut pada sang anak.
Ardha hanya bisa melihat ke arah pembantu baru yang menatap sedih ke arahnya. Ia berusaha berulang kali menerangkan pada sang ayah, tapi pria itu tak mau dengarkan. Sedang nyonya rumah tersenyum mengejek pada Maya. "Syukur!" ucapnya setengah berbisik.
"Alika!" panggil Raka.
"Iya, Mas!" Alika kemudian menyusul suaminya ke minimarket.
Ada minimarket kecil tak jauh dari rumah mereka. Hanya butuh jalan kaki sekitar 5 menit. Mereka memang tinggal di daerah padat penduduk bukan perumahan, sehingga akses ke mana-mana dekat.
Ardha memilih 2 buah botol kemasan jus jeruk sedang Alika belanja yang lain. Setelah melihat bocah itu senang, mereka kembali ke rumah. Baru saja mereka sampai ke dalam rumah, bocah itu minta turun dari gendongan. Raka membiarkan anaknya turun dan berlari-lari ke arah kamar pembantu. Pria itu mengerut dahi dan mengikutinya dari belakang.
Ternyata Ardha mendatangi kamar Maya. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar pembantu itu. Tak lama pintu itu dibuka.