"Ardha?" Maya terkejut melihat kedatangan bocah itu malam-malam ke kamarnya.
"Ini buat Bibik. Bibik jangan nangis." Ternyata bocah itu melihat wanita itu dengan pipi yang basah.
Segera Maya menghapus air matanya. Apalagi melihat ada Raka yang melihat dari kejauhan. "Tidak usah, Dek. Bibik tidak apa-apa," tolaknya dengan lembut tapi Ardha tetap memaksa.
"Ini buat Bibik!" ujar bocah itu merajuk.
"Terima saja," sahut pria itu dingin dari samping.
Maya mengambilnya dan secepat itu pula Raka mengendong Ardha.
"Ayo, sudah malam," ucap dokter itu pada anaknya. Saat itu juga sang pria membawa anaknya pergi tanpa menoleh.
Alika melihat apa yang terjadi tapi ketika suaminya mendekat, tiba-tiba bocah itu bicara. "Papa, tadi Mama cubit Ardha di sekolah."
"Apa?" Raka menyorot istrinya yang langsung bergegas ke arah tangga. Wanita itu mencoba kabur. "Alika!"
Maya tak peduli dengan apa yang terjadi. Ia begitu senang mendapat jus botol dingin dari Ardha. Setidaknya itu telah membu nuh rasa ketidakadilan yang dirasakannya hari ini.
****
Pagi itu seperti biasa, Maya mengiringi bocah kecil itu menuruni tangga. Ardha menuruni anak tangga dengan gagahnya, memamerkan baju TK-nya seperti kemarin.
Ada pandangan lelaki bernama Raka yang melihat anaknya, juga sekilas melihat Maya. Ada sedikit rasa bersalah yang ingin dibuangnya saat itu juga, tapi secepat itu pula ia mengalihkan pandangan pada Ardha, anaknya kembali. "Ganteng anak Papa."
Dengan tersenyum lebar, bocah itu mendatangi kursi yang kemudian ditarik pembantu barunya itu untuknya. Ardha duduk dibantu Maya. Setelah membantu membuatkan sarapan, pembantu itu dipanggil Alika mendekat. Nyonya itu memberikan sebuah kartu pada Maya. "Ini untuk belanja hari ini. Belanja saja di supermarket nanti di temani Pak Bardan."
"Badrun, Nyonya." Pembantu itu membetulkan nama sang sopir sambil menerima kartu itu.
"Ya, siapalah! Aku susah mengingat namanya." Alika sangat sebal kalau harus menyebutkan nama sopir yang sangat rumit menurutnya itu.
"Nomornya, Nyonya."
"Tanggal lahirmu."
Maya melongo mendengarnya, begitu pula Raka yang melihat sekilas ke arah keduanya. Hubungan keduanya sangat aneh. Raka merasakan itu ketika pertama kali bertemu dengan Maya di rumah orang tua Alika. Alika seperti tak pernah mau melepaskan anak pembantunya itu ke mana pun. Ia seperti berusaha mengendalikannya.
Hingga suatu saat ia mendengar Maya dilamar oleh seorang pria. Alika seperti kehilangan semangat hidupnya. Padahal mereka berteman juga tidak. Hubungan mereka seperti majikan dan pembantu, ya seperti sekarang ini. Apalagi Maya kemudian menikah cepat dan pergi bersama sang suami.
Tiba-tiba saja Alika minta segera dilamar dan menikah. Padahal waktu itu wanita itu sempat berkeinginan untuk kuliah. Ibunya juga berniat membiayai kuliah Maya juga, tapi apalah daya, anak pembantu itu terlanjur keburu menikah dan pergi.
Raka pernah mencoba membujuk Alika untuk kuliah dulu tapi wanita itu berkeras untuk segera menikah. Karena itulah kemudian mereka menikah menyusul Maya, tapi ... menggunakan pin kartu ATM-nya dengan nomor tanggal lahir pembantunya itu suatu yang hal luar biasa. Hubungan mereka memang susah diterangkan dengan kata-kata, karena pria itu juga bingung seperti apa posisi pembantu itu di hati sang istri.
"Tanggal ... lahirku, Nyonya?" Terbata pembantu itu mengucap.
"Jangan ge er. Aku hanya tidak mau ada orang yang mencuri dompetku, bisa ngambil uang hanya modal lihat KTP-ku. Kamu ngerti 'kan maksudnya? Satu-satunya nomor yang aku ingat adalah tanggal lahirmu," ucap Alika yang langsung mengalihkan pandangan pada makanan di piringnya. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan meneruskan makannya.
"Eh, iya, Nyonya." Walau bingung, Maya segera mengantongi kartu itu.
Setelah kedua tuan rumahnya berangkat, Maya menyempatkan diri ke kamar mandi. Beberapa hari ini ia sering pusing dan muntah di pagi hari.
"Kamu belum sarapan, May?" tanya Odah yang tiba-tiba berdiri di samping pintu kamar mandi.
"Sudah, tapi gak tau kenapa, tiap pagi gak enak badan." Wanita berjilbab itu mengguyur bekas muntah dan membersihkan mulutnya.
"Apa kamu hamil?"
"Mana mungkin. Orang dia mandul."
Jawaban cepat Badrun membuat netra Odah membulat sempurna, tapi kemudian pukulan keras mendarat di bahu pria itu. "Aduh!" Pria muda itu terkejut tetapi maklum.
"Sopan ya?" ledek wanita kurus berpipi tembam itu. Ia melirik pada Maya yang berdiri di hadapan. "Emang bener ya?" bisiknya sedikit takut-takut. Ia hanya takut wanita berjilbab itu tak mau cerita karena ada Badrun di sana.
Maya melirik Badrun sekilas dan mengangguk. Pria itu bergerak sedikit menjauh agar tak terkesan menguping pembicaraan mereka. Ia memang ke dapur ingin mengambil kopinya yang dibuat Odah barusan.
"Masa sih? Tapi potongan badanmu itu lho! Perutmu sedikit gemuk."
"Mungkin sakit maag," sahut Maya menanggapi.
"Masa? Memangnya kamu sakit perut?" Odah makin penasaran.
"Enggak."
"Lah, trus gimana? Ke puskesmas, gih!" Wanita yang rambutnya di kuncir ke belakang itu memperhatikan tubuh temannya itu. "Aku sih pengennya kamu hamil, bukan sakit."
"Ya ngak mung—" Badrun langsung bungkam ketika Odah meliriknya dengan sorot mata tajam. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa bersalah. Pria itu keluar dapur dengan membawa cangkir kopinya.
"Aku gak papa. Gak sakit kok! Cuma mual aja." Maya berusaha menenangkan temannya itu. "Itu juga cuma pagi-pagi aja."
Tiba-tiba Odah menepuk tangannya. "Atau kamu beli alat tes kehamilan, coba."
Wanita berjilbab itu menatapnya penuh tanda tanya.
"Gak papa, 'kan jaga-jaga."
Maya mengangguk dengan senyum dikulum. "Iya, iya."
Sejam kemudian ia berangkat dengan Badrun ke sebuah mal dan belanja di supermarket. Ketika selesai, ia melewati sebuah toko obat. Ia teringat kata-kata Odah. "Run, aku beli obat dulu ya?"
"Oh, kalau gitu aku bawa belanjaannya ke mobil aja." Badrun yang membawa troli belanja, mendorongnya pergi. "Masih ingat tempat parkirnya 'kan?"
"Oh, iya."
****
Sudah beberapa hari ini Raka pulang larut malam. Tidak seperti sebelumnya yang bisa diprediksi, pria itu memang sedang sibuk-sibuknya sehingga ia selalu kelelahan pulang dan berangkat kerja sedikit telat.
Terdengar suara ketukan di pintu. Wanita itu terpaksa bangun dengan meraih jilbab instannya lalu membuka pintu. "Oh, Nyonya. Ada apa ya?" Maya mengucek-ngucek kedua matanya.
Alika berdiri di pintu dengan masih memakai piyama. "Kamu bisa pijit 'kan? Tolong pijitin dong!"
"Mmh? Nyonya kenapa? Keseleo?" Pembantu itu memperhatikan wanita di hadapan.
"Eh, bukan aku. Suamiku ...."
"Eh?" Maya membulatkan matanya. Ia segera ditarik Alika ke dapur.
"Ayo cepetan, ini udah malem. Suamiku kasihan, tadi badannya pegel-pegel. Cepat, bikin minyaknya!"
Walau segan, dengan cepat pembantu itu mengiris bawang merah dan mengambil minyak angin di kamar. Ia kemudian mengikuti Alika ke kamarnya.
Pria itu tak terkejut melihat kedatangan Maya hanya sedikit tak nyaman. "Alika, aku rasa tak perlu. Aku bisa langsung tidur saja. Besok aku bisa pergi ke tukang pijat di mal, bisa kok," ucapnya menghindar.
Istrinya kini cemberut. "Gitu, 'kan? Tadi yang minta dipijit siapa? Aku memang tak bisa mijit sama pakai minyak angin lengket gitu. Rasanya tangan tuh seperti menjijikkan." Ia mengerut dahi membayangkan sambil memandangi jari jemari sendiri.
"Ya tapi, tak perlu sampai membangunkan Maya, nanti dia gak bisa bangun pagi bagaimana?" Raka kembali mencari-cari alasan.
"Ya sudah, kita sarapan di luar saja. Susah amat sih? 'Kan biasanya juga begitu, 'kan?" Nyonya muda itu melipat tangannya di d**a. Tiba-tiba wajah Alika berubah senang. "Eh, tau gak? Maya pinter ngurut lho! Pijitannya enak. Pasti kamu ketagihan." Promo sang istri.
Wajah Raka berubah seketika, tapi ia tak mau berkomentar karena ia takut istrinya salah mengartikan. Maya yang bingung tak tahu harus bagaimana, ditarik Alika masuk ke dalam kamar.