6. Sekretaris

1151 Kata
Nyonya cantik itu menutup pintu. "Ayo, kok diam saja?" Kembali ia menarik pembantu itu mendekati ranjang tempat Raka yang sedang duduk dengan tubuhnya masih setengah berselimut. Pria itu membuka selimut dan mulai membuka kancing baju piyamanya. Alika duduk terpisah di sofa dan bersandar. Raka mengikuti instruksi pembantu itu dengan berbaring telungkup di ranjang. "Badannya pegel-pegel ya, Tuan?" tanya Maya yang duduk di tepian. Ia mencolek minyak di piring kecil yang sudah di campur bawang dan meratakannya di punggung pria itu. Sebenarnya ia ragu melakukannya melihat tubuh atletis pria itu yang membuat jantungnya berdetak cepat. Bagaimana tidak, pria pujaannya membuka pakaian di hadapannya! Walaupun hanya bertelan jang d**a tapi jantung ini sulit untuk diajak kompromi. "Eh, iya ...." Di luar dugaan, pijatan wanita itu sangat nyaman untuk dokter itu. Lembut dan mengenai titik-titik lelah tubuhnya. "Ah ... terima kasih." Maya memijit tubuh pria itu dengan telaten di mulai dari bahu, kemudian bagian punggung. Ia mengulanginya lagi hingga terasa cukup. Beberapa kali ia mencolek minyak angin dan mulai memijat. Setelah selesai, ia mulai mengurut tangan. Setelah berapa lama, Raka mulai merasakan perubahan. Tubuhnya relaks dan menghangat kena minyak angin. Pijatannya begitu mengena pada bagian otot yang kaku. Pria itu seperti menyerahkan tubuhnya pada Maya untuk diurut tanpa perlawanan. Istrinya benar. Wanita itu sangat pintar mengurut. Raka bisa merasakan otot tubuhnya yang keras kembali normal. Ia melirik istrinya yang ternyata sudah tidur di sofa. Kembali ia menatap Maya yang tengah memijit tangannya. Pria itu berdehem sebentar. Pembantu itu tahu Tuannya pasti hendak bicara. Ia terlihat tersipu-sipu menunggu. Sebenarnya sudah sejak tadi ia mengurut tubuh pria itu sambil terkadang tersipu-sipu. Hawa parfum mahal yang lembut langsung menyeruak ketika pria itu membuka pakaiannya. Apalagi saat mengurut, bau tubuh pria itu terkadang mengganggu pikirannya yang mengembara entah ke mana. Beberapa kali pikiran nakal itu lewat dan ia hanya bisa tersipu. Ia hanyalah seorang pembantu yang sedang mengada-ada. "Eh, kamu ... belajar dari mana bisa mengurut begini?" Raka berusaha menampilkan wajah datar mengingat istrinya bisa bangun sewaktu-waktu. Namun saat ia melirik istrinya, wanita itu masih lelap tertidur. "Oh, nenekku tukang urut di kampung, Tuan. Dia sempat mengajari aku sebelum meninggal." "Oh, maaf. Eh ... bagus juga." Terlihat sangat kaku pria itu menjawab ucapan Maya, tapi ia harus lakukan. Di saat malam dan hanya mereka berdua yang masih bangun di kamar yang sama, rasanya tidak sopan tidak mengajaknya bicara. "Eh, sudah selesai, Tuan." Maya mengakhiri. "Apa Tuan mau dibalur di depan juga?" Raka bangun dan memutar tubuhnya menghadap wanita itu. "Apa harus?" Wanita itu seperti malu melihat pria itu bertelan jang d**a menghadapnya. Pipinya merah merona melihat pemandangan tubuh atletis itu berbaring di hadapan. "Eh, iya, Tuan. Sepertinya Tuan masuk angin sedikit. Apa Tuan mau dikerokin?" "Apa? Eh, tidak usah. Dikerok itu tidak baik buat kesehatan," jawab pria itu cepat. Ia memang sangat canggung dengan hanya mengobrol berdua saja dengan pembantunya itu. "Hah?" "Eh, maksudku, tidak usah." Pria itu baru sadar, pengetahuan Maya terbatas karena pendidikannya yang cuma tamat SMA. Seperti juga istrinya sehingga ia tidak mau membahas hal-hal yang terlalu rumit agar ia tak perlu menerangkannya lagi. "Oh, ya sudah." Namun kemudian Maya ingat sesuatu. "Oh atau ... Tuan mau minum jamu tolak angin. Biar sebentar Saya buatkan." Baru saja ia hendak berdiri, tangan pria itu menahannya. "Eh, tidak usah." Raka cepat menarik tangannya kembali karena wanita itu melirik ke arah cengkraman tangannya. "A-aku sudah ngantuk dan ingin tidur. Sudah malam juga. Sebaiknya kau beristirahat saja. Tidak enak 'kan, kamu bolak-balik ke kamarku walaupun ada istriku juga di sini." Ia melirik sang istri. Terlihat sekali ia gugup dan berusaha untuk tidak menyulitkan pembantunya itu di tengah malam. "Oh, iya, Tuan." Maya memaklumi. Mungkin pria ini tak mau terlihat berduaan dengannya, walaupun ada sang istri di situ yang sebenarnya sudah tidur. "Tidak apa-apa, Tuan. Aku bisa buatkan besok pagi kalau Tuan masih belum sehat." "Eh ya, terima kasih." Maya pamit, tapi sebelum pergi pria itu turun dari ranjang. "Tunggu sebentar." Raka mengambil sesuatu dari dompetnya. Dua lembar uang merah dan disodorkan pada wanita itu dengan beberapa kali lipatan. "Ini untuk jajan kamu. Terima kasih." Maya menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih, Tuan." Ia mendekapnya dan keluar menutup pintu. Sesampainya di kamar, ia memandangi uang pemberian pria itu. Pria tampan bertubuh wangi itu. Maya meluruskan lipatan uang baru yang didapat dari Raka dan menyimpannya di dompet dengan rapi. Rencananya ia takkan menggunakan uang itu kecuali terdesak. Uang itu adalah pemberian pertama sang pria untuknya. Maya menyembunyikannya di bawah bantal. Ia kemudian tidur dengan senyum terukir di wajah. Berharap ada mimpi yang indah untuknya malam ini. **** Raka terkejut saat keluar kamar, istrinya masih ada di rumah. Padahal dia sendiri sudah telat bangun pagi karena setelah sholat subuh, ia tidur kembali. "Alika, kamu ngak ngantar Ardha sekolah?" tanyanya saat menuruni anak tangga. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. "Oh, aku ingin memastikan saja," sahut sang istri dari meja makan. Wanita itu tengah meminum teh hangat dari cangkirnya. "Memastikan apa?" Pria itu mendekat. Ia berdiri di samping Alika yang ternyata tengah menemani anak mereka makan. "Pastikan kamu bawa Maya ke kantor." "Apa?" Raka terkejut. 'Ada apa lagi ini?' "Maya!" Pembantu itu datang dengan pakaian kerja kantoran ke meja makan. Wajahnya yang manis didandani jadi terlihat lumayan cantik, dengan rok panjang dan sepatu hak tinggi yang tidak biasa ia pakai. Pria itu melongo melihat penampilan Maya yang didandani sang istri sedemikian rupa. "Untuk apa aku harus membawa dia ke kantor, Alika?" Raka tak habis pikir kenapa Maya harus didandani seperti orang kantoran. "Untuk jadi sekretaris kamulah!" terang istrinya menjelaskan. "Apa?" Kini pria itu menatap ke arah Alika. Kenapa tiba-tiba wanita itu ingin mengatur pekerjaannya juga? "Alika, apa maksudnya ini?" Maya yang berada di tengah-tengah perselisihan, tentu saja tak nyaman. Sebab setiap pasangan itu bertengkar di depannya, namanya selalu saja disebut dalam pertengkaran mereka. "Sekarang aku yang memilih sekretaris untukmu!" tegas nyonya rumah itu. "Alika!" "Aku tahu yang terbaik untukmu, jadi biarkan dia jadi sekretarismu sekarang," ucap Alika final. "Alika, tempat kerjaku bukan tempat main-main. Jadi hentikan semua bercandaan yang kamu buat, saat ini juga!" Raka begitu kesal hingga nada suaranya meninggi dengan sendirinya. "Aku tidak bercanda. Aku sungguh-sungguh! Kalau Mas gak mau aku curigai, biarkan Maya bekerja jadi sekretarismu di kantor. Kalau dia jadi sekretarismu, aku takkan curiga," terang sang istri memastikan. Kini pria itu mencoba membujuk. Tak ada gunanya berkeras pada istrinya saat ini, hingga ia merendahkan suaranya. "Tapi Alika ...." "Mas, kenapa Mas Raka pusing sih? Tinggal bawa saja Maya ke kantor, beres 'kan?" "Tidak bisa, Alika. Aku butuh seorang sekretaris yang profesional. Apa Maya bisa melakukan tugas-tugasnya sebagai sekretaris? Karena seorang sekretaris itu kerjanya memperingan pekerjaanku, bukan memperburuk. Apa dia sanggup meng-handle pekerjaan berat di kantor dan menyelesaikannya dengan cepat? Sekretarisku itu, dia lulus di bidangnya dan sudah punya pengalaman, karena itu aku mengangkatnya jadi sekretaris. Bukan lulusan SMA, yang hanya punya pengalaman di dapur. Itu sulit, Alika!" Pria itu terpaksa menjabarkan bagaimana pekerjaan sekretaris itu agar istrinya mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN