Mendengar itu, mata Maya berkaca-kaca. Ia makin rendah diri. "Eh, Nyonya ...." Ia berusaha meraih tangan majikannya itu, tapi Alika menepisnya kasar dan makin panas mendengar omongan suaminya.
"Lho, aku juga lulusan SMA. Apa lulusan SMA sebodoh itu?" Kini sang istri sewot, tak terima mendengar omongan sang suami.
'Kenapa jadi begini?' Ia tak sengaja menyinggung perasaan sang istri dan juga pasti pembantunya, padahal bukan itu maksudnya, tapi memang Alika keras kepala. Ia terpaksa menekan emosinya dan akhirnya mengalah.
"Ah ...." Raka menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Lalu bagaimana dengan sekretarisku yang ada di kantor?" ucapnya lemas.
"Pecat saja dia, atau pindahkan ke bagian lain. Gak susah 'kan?" Atur Alika cepat. Ia melipat tangan di d**a.
Kepala pria itu sudah dibuat pusing pagi-pagi oleh permintaan sang istri. Ini permintaan yang tak masuk akal walau jika diselami, maksudnya masih bisa dimengerti. Ia memijit keningnya sambil memejamkan mata. Pria itu juga tak bisa meremehkan Maya karena pembantunya itu berhasil membuat tubuhnya pulih kembali dalam semalam.
"Baiklah." Ia membuka matanya. "Aku akan pikirkan bagaimana caranya nanti." Pria itu menatap ke arah sang istri dan Ardha yang duduk di sampingnya. "Tapi bagaimana dengan Ardha?"
"Ardha hari ini aku liburkan," ucap Alika santai.
Melihat anak mereka terlihat santai bersama ibunya, ia lega. Biasanya sang istri tak mau menunggui Ardha bahkan di sekolah. Daripada sang anak disuruh berangkat sendiri ke sekolah, bocah itu lebih baik di rumah walau Alika tak menemaninya. "Tapi sekarang kau kekurangan pembantu di rumah."
"Nanti aku cari lagi, Mas. Aku minta ke agen."
Sebenarnya Raka malas sarapan. Namun pagi ini ia harus duduk dan memikirkan strategi apa yang harus ia lakukan, agar ia bisa menyusupkan Maya ke kantor dan menjadikan pembantu itu pegawainya, karena ini sangat sulit.
"Tuan, apa Tuan butuh jamu tolak angin?" Maya yang lega pertengkaran mereka usai, masih merasa bersalah. Ia merasa dirinya beban.
Pria itu menoleh sekilas. "Tidak usah. Buatkan saja aku kopi. Aku butuh kopi pagi ini untuk konsentrasi." Ia menarik kursi dan duduk diam di sana. Pandangannya jauh ke depan. Makanan bahkan tak disentuhnya.
"Eh, baiklah, Tuan." Maya pun pergi ke dapur.
"Kok gak makan?" tanya sang istri di samping pria itu.
Raka kini melirik Alika, dengan menyatukan kedua tangan di atas meja. "Katamu aku harus memasukkan Maya jadi pegawaiku, jadi kalau begini, aku harus memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuknya."
"'Kan jadi sekretaris?" Wanita itu kembali mengingatkan. Bola mata wanita cantik itu menatap ke arah sang suami untuk memastikan.
"Iya ...," sahut Raka pelan. Ia harus memikirkan ini lebih baik lagi atau pegawainya di kantor akan meremehkan dirinya.
Alika tentu saja terlihat senang. Sang suami memenangkan dirinya. Itu yang membuat ia awet dan sayang pada Raka, cinta pertamanya. Karena, untuk punya teman saja Alika kesulitan.
Maya sangat tahu bagaimana anak majikannya ini sering ditinggal temannya saat di sekolah karena egois. Hanya ia yang menemani hari-hari Alika di sekolah walaupun kebanyakan ia di-bully. Maya sebenarnya enggan selalu bersama anak majikannya ini, tapi karena orang tua Alika menyekolahkannya, ditambah ia kasihan pada nasib Alika yang selalu sendirian tak punya teman. Ia menerima saja bully-an dari wanita itu tanpa pernah melawannya.
Tiba-tiba Raka bangkit dari duduknya. Ia segera melangkah ke arah pintu depan. "Eh, Maya! Sebaiknya kita berangkat saja!"
Sang istri terkejut dan mengejarnya. Ia mencium punggung tangan sang suami. "Kenapa buru-buru?"
"Mmh? Aku mau makan di kantor saja. Aku baru ingat, ada pertemuan dengan dokter spesialis yang baru bergabung, pagi ini."
Maya berlari-lari keluar dari dapur berusaha berjalan seimbang dengan high heels di telapak kakinya. Mendapati tuannya telah pergi ke arah mobil, ia segera mengikuti. Wanita itu membuka pintu belakang.
"Hei, aku bukan sopir ya!"
Pernyataan Raka membuat Maya terkejut. Padahal ia bermaksud bersikap sopan. "Eh, maaf, maaf, maaf." Segera wanita itu menutup pintu. Ia membuka pintu di depan, dan duduk di samping dokter itu. Jantungnya berdetak cepat. Hari ini ia akan bekerja dengan pria itu di kantornya. Betapa bahagia hati ini walaupun ia tak tahu akan mengerjakan apa.
Terlihat Alika muncul di depan pintu bersama Ardha. Bocah kecil itu bingung karena Maya ikut dengan ayahnya. "Mama, kenapa Bibik ikut Papa?"
"Biar Mama bisa pantau Papa."
"Hah?" Bocah kecil itu mendongak ke arah ibunya.
Alika melipat tangannya di d**a dan melirik anaknya dengan cemberut. "Mau tau saja urusan orang tua!"
Tak lama, mobil pun keluar dari rumah besar itu. Maya masih terlihat bingung hanya berduaan dengan sang majikan. Ia memutuskan untuk hanya melihat ke arah jendela saja. Belum lama mobil berjalan, tiba-tiba mobil ditepikan di pinggir jalan, membuat kedua netra Maya membola.
Raka kini menatap ke arahnya. "Sebelum kita sampai ke kantor, aku ingin memperjelas ini dulu." Ia menarik napas dalam. "Aku masih bingung bagaimana cara menentukan ini," gumamnya sambil menatap ke arah lain.
"Jangankan Tuan, Saya juga bingung." Saat netra Raka tertuju ke arah wanita ini, Maya buru-buru menjelaskan. "A-aku juga sependapat dengan Tuan, a-aku tak bisa apa-apa kalau nanti bekerja di kantor," ujarnya sambil menundukkan kepala, takut. Ia gugup. Apa pria ini akan memarahinya, karena terus terang ikut ke kantor itu bukan idenya tapi ide istrinya.
"Pertama." Pria berwajah dingin itu mulai mengatakan peraturannya dengan nada tegas. "Jangan panggil aku 'Tuan' di kantor. Orang akan segera tahu bahwa kamu pembantu di rumahku, mengerti?"
Maya mengangguk.
"Kedua." Pria itu kembali mengambil napas panjang karena telah pusing memikirkan jalan keluar ini demi sang istri. "Untuk sementara, kamu jadi karyawan magang."
"Magang?" Kedua netra Maya membola. Apa artinya itu?
"Aku ...." Pria itu tampak ragu. "Aku akan bilang kau keluarga istriku yang sedang bingung ingin bekerja atau kuliah karena pendidikanmu masih SMA."
"Tapi wajahku 'kan sudah terlalu tua untuk disebut baru lulus SMA?"
Kali ini Raka makin memperlihat wajah dingin kutub utaranya yang menusuk. Ia tidak suka tugas yang diberikan olehnya dibantah begitu saja apalagi oleh seorang pembantu rumah tangga. Sedang di kantor saja, tidak ada seorang pun yang berani membantahnya. Ia berdehem karena kesal.
Maya ketakutan dan tertunduk. "Eh, iya, Tuan."
Pria itu kembali berdehem sedikit keras.
Maya bingung dan berusaha mencari kesalahannya. "Eh ... Pak?"
Raka terlihat puas. "Jangan sampai salah menyebut panggilanku lagi ya! Ingat itu," sahutnya dengan wajah serius. Kalau bukan karena permintaan istrinya, ia tidak mau ikut pusing memikirkan hal ini. Pria itu kemudian menjalankan mobilnya kembali.
****
Maya sedang belajar mengetik dengan kedua jari telunjuknya ketika telepon di mejanya berdering. Ia melirik pada wanita cantik yang duduk di sampingnya.
"Ayo, coba angkat teleponnya. Ini dari meja presdir. Kamu bisa bicara seperti yang aku ajarkan tadi," ucap wanita itu yang melihat tanda telepon dari meja presdir menyala.
Maya mengangkat telepon itu. "Halo, Pak." Ia melirik pada sekretaris itu yang memberinya acungan ibu jari.
"Oh, Maya. Aku sudah selesai sarapan. Tolong, kamu kembalikan piringnya ke kantin."
"Baik, Pak." Ia pun kemudian masuk ke ruang kerja Raka setelah sebelumnya mengetuk pintu.
Pria itu melihat penampilan Maya yang sedikit kesulitan berjalan dengan sepatu hak tingginya, tapi wanita itu tidak terlalu buruk dengan penampilannya sebagai pegawai di rumah sakit. Mungkin harus menghilangkan pembawaannya sebagai pembantu yang sering membungkuk saat lewat di depan orang. Bahkan mungkin yang lainnya. "Kamu bisa tidak berjalan tidak membungkuk seperti itu?" Mata pria itu sedikit memicing.