Chapter 7

4347 Kata
INDONESIA, 2017 Awan cumulus beradu dengan sinar mentari yang berpendar sempurna, mengiringi langkah Gin. Genap tujuh hari ia dalam perawatan di rumah sakit. Dan baru hari kemarin ia dipulangkan, kini ia telah siap untuk kembali pada rutinitasnya. Berjalan dengan langkah riang. Seolah tak peduli, jika ia masih dalam tahap pemulihan. Ia memang sedikit keras kepala. Oh, apakah aku katakan sedikit? Tidak. Dia sangat kerasa kepala. Bahkan saat kaki kanannya patah tahun lalu, ia masih bersemangat datang ke lokasi syuting. Meski, ia hanya sekadar duduk dan melihat. Baginya, sangat membosankan jika menghabiskan waktu hanya untuk berbaring. Well, dia gadis yang unik. Di saat para gadis remaja sibuk mewarnai kuku. Merawat rambut. Berlarian ketika mendengar sebuah Mall mengadakan diskon besar-besaran. Gin lebih memilih untuk mendulang uang. Sekali lagi, keadaan yang menuntut dia hidup seperti itu. Tapi, ia juga berlari ketika mendengar kata diskon. Di sebuah minimarket. Tiga toko pakaian. Satu salon kecantikan. Satu kantor pemasaran kota. Satu pusat perbelanjaan. Dan beberapa bangunan yang lain telah ia lewati. Tapi, ia tak merasa kelelahan sama sekali. Terlihat dari senyum tipis yang tak kunjung hilang. Jarak dari halte bus menuju Studio N memang cukup jauh. Setelah melewati kafe di sudut jalan, ia hampir tiba. Tapi, langkahnya kembali mundur. Berhenti di depan pintu kafe. Memutar tubuh ke kiri. Mendorong masuk pintu kafe. "Vous ne comprenez pas de quoi je parle? Je veux un peu de sucre dans mon cafe!" Suara lantang dari pria asing di dalam kafe, menggugurkan senyum Gin. Memperhatikan pria berambut pirang yang tengah beradu mulut dengan seorang karyawan wanita, di meja kasir. Atau lebih tepatnya, ia tengah mencaci wanita tersebut, yang hanya tertunduk lemas. Sempat mendesah singkat, kini Gin berjalan mendekatinya. Berdiri di belakang pria asing tersebut. "Ada masalah apa?" Gin bertanya pada karyawan tersebut. Membuat celoteh pria asing dengan setelan jas rapi itu berhenti. Memutar badan. Menghadap Gin. Masih dengan tampang kesal. "Tuan ini memesan Americano. Tapi, saat aku memberikan pesanannya, dia tiba-tiba marah." "Ah, begitu.." Gin terdiam untuk sesaat. Ingin hati membantu, namun bicara dalam bahasa inggris saja dia payah. Di saat seperti ini, earpiece milik bibi Kim pasti dapat membantu. Oh! Tunggu.. Bukankah alat itu ada padanya sekarang? Gin segera menarik resleting tas selempangnya ke samping. Mengeluarkan earpiece. Memasangnya di daun telinga. Yang ia butuhkan saat ini adalah membuat pria asing itu bicara. Agar alat ini dapat bekerja. Segera dia berdeham singkat. "Tuan.. Anda tampan sekali." Kata-kata yang sungguh mengejutkan dan tidak masuk akal untuk diucapkan pada waktu seperti ini. Bahkan membuat karyawan tersebut terperangah. Sedangkan pria asing itu mengernyitkan dahi. "Siapa kau?" tanya pria asing tersebut, dalam bahasanya. "Ah, saya hanya pelanggan yang menunggu giliran untuk memesan. Kalau boleh tahu kenapa Anda memaki gadis itu?" Kini Gin bicara dalam bahasa pria tersebut. Semakin membuat mata dan mulut karyawan tersebut kian melebar. "Aku memesan satu Americano. Dan ingin sedikit gula di dalamnya! Tapi, saat aku mencicipinya, kau tahu? Tidak ada gula di dalamnya! Dia bodoh, kan?!" Gin mendorong keluar udara di dalam mulutnya. Sejurus picingan tajam terlempar pada pria asing itu. "Anda tahu? Dia tak mengerti apa yang Anda katakan. Anda terus berbicara dengan bahasa Anda. Bagaimana dia bisa mengerti keinginan Anda?" kata Gin. "I-itu-" "Saya akan membantu Anda." Gin berbalik. Menghadap karyawan yang sejak tadi hanya mampu menutup mulut saja. "Nona, dia memang memesan Americano. Tapi, dia ingin sedikit gula di dalamnya." "Ah, Gula!" kata karyawan tersebut. "Tolong katakan padanya, saya akan mengganti pesanannya. Dan dia tak perlu membayarnya." Gin menyampaikan pesan tersebut. Sesaat setelah itu pria asing tersebut mendapatkan pesanannya. Begitu pula dengan Gin. Dan beruntungnya, Gin tak perlu membayar cokelat panas yang ia pesan. Sebagai tanda terima kasih, kata karyawan itu. Berjalan pergi kemudian. Ia kembali mendorong pintu kafe ke depan. Dan keluar dari kafe. "Hei, bisakah kita bicara sebentar?" Pria asing yang sebelumnya menghentikan langkahnya. Gin hanya menjawab dengan anggukan. "Terima kasih untuk yang tadi," katanya. "Sama-sama. Tapi, lain kali Anda harus mengajak seseorang yang dapat memudahkan Anda berkomunikasi dengan yang lain." "Aku tahu. Aku baru beberapa hari disini. Dan kebetulan aku sedang mencari seorang penerjemah. Kalau boleh tahu, apa pendidikan terakhirmu?" Pertanyaan yang cukup frontal dan sedikit tidak sopan untuk ditanyakan pada seseorang yang baru dikenalnya. Apalagi belum mengetahui nama satu sama lain. Kernyitan di dahi Gin muncul. "Kenapa Anda menanyakan itu?" "Aku hanya kagum dengan kemampuanmu berbicara dalam bahasa Perancis," katanya. "Kau bekerja di perusahaan asing?" "Tidak," kata Gin seraya tertawa kecil. "Aku seorang pemeran pengganti." "Oh, benarkah?" Intonasi suaranya menggambarkan dia cukup terkejut. "Seorang pemeran pengganti mahir bicara bahasa Perancis. Kau hebat, nona." "I-itu, hanya kebetulan saja." Tawa kikuk Gin menyambut. "Kalau begitu," katanya seraya menarik keluar dompetnya dari saku celana belakang. Mengeluarkan sebuah kartu nama. Memberikannya pada Gin. "Hubungi aku jika kau ingin pekerjaan yang lebih menjanjikan." Sedikit bingung juga heran, Gin menerima kartu nama pria asing itu. "Nikmati harimu, nona." Pria asing tersebut berjalan pergi. Membuka pintu mobil mewah yang terparkir beberapa meter di depan Gin. Duduk di kursi penumpang. Setelah melihat mobil tersebut pergi, Gin segera menyeruput cokelat panasnya. Membaca kartu nama. Tak butuh waktu lama untuk cokelat panasnya menyembur keluar dari mulut. Sisanya menetes di dagu. Mengusapnya dengan jemari, sementara matanya terbelalak. "CEO?" *** Bangunan yang dihimpit toko bunga dan toko pakaian itu adalah tempat Gin beradu akting. Meski, hanya pemeran pengganti, dimana yang terekam hanyalah tubuhnya saja, tapi peran Gin sangatlah penting untuk pembuatan film. Bangunan Studio N memang nampak kecil dari depan. Namun, cukup luas di dalam. Yang memang sengaja dibangun secara memanjang. Dan memiliki tiga lantai. Di lantai teratas terbagi beberapa ruang. Ruang direktur. Ruang editor. Dan ruang untuk para karyawan. Lantai kedua terdapat ruang pengambilan gambar. Ruang rapat. Kamar mandi. Gudang penyimpanan barang. Dan beberapa ruang lainnya. Di lantai terakhir terdapat kafetaria. Tempat favorit para karyawan. Juga studio pengambilan gambar. Dimana Rey tengah berbincang dengan seorang pria berkaos putih. Berkumis tipis. Dan gulungan kertas di tangannya. "Bagaimana keadaan Gin?" "Sudah cukup baik. Tapi, dia masih dalam tahap pemulihan. Mungkin satu atau dua bulan lagi dia bisa kembali kemari." "Ah, begitu," kata pria yang dikenal sebagai produser itu. "Lalu, bagaimana Gin bisa ditemukan di jembatan itu? Dia benar diculik?" "I-itu.. S-saya juga belum tahu. Pihak kepolisian masih menyeldiki kasusnya." Bukan bermaksud untuk berbohong. Tapi, Rey tidak tahu harus memulai darimana cerita yang terdengar tak masuk akal itu. Apa dimulai ketika Gin menghilang di jembatan? Atau cerita Gin tentang penjelajah waktu? Yang pasti penjelasan Rey hanya akan dianggap bualan belaka oleh sang produser. Bahkan ketua persatuan pemeran pengganti di Indonesia itu akan dianggap tidak waras. "Kau bilang Gin masih dalam tahap pemulihan?" "Iya, benar." "Lalu, siapa gadis yang mengenakan kemeja hitam dan menguncir rambutnya itu?" Sang Produser menghentakkan kepala, kearah belakang Rey. Dimana Gin tengah berjalan cepat masuk ke dalam studio. Cukup membuat kernyitan di dahi Rey muncul seketika. "Gin? Kenapa kau kemari?" Pertanyaan tersebut segera keluar, begitu Gin berdiri di sampingnya. Namun, diabaikan oleh Gin. "Selamat pagi, produser," sapa Gin, sedikit membungkukkan badan. Memberi hormat. "Hei, Gin! Wah, rasanya sudah 365 hari aku tak melihatmu," guraunya. Tawa Gin menggema karena itu. Membuat beberapa karyawan serta para pemeran pengganti menoleh padanya. Hanya butuh sepersekian detik untuk Gin dikelilingi oleh mereka yang seolah rindu dengan sahabat lamanya. Selain keras kepala, ia juga dikenal baik serta ramah. Tak pernah segan untuk membantu staff produksi, jika ia memiliki waktu luang. Memberikan pengarahan kepada anggota baru. Bagi mereka, Gin tidak sekadar teman. Kadang seperti seorang ayah. Ibu. Pembimbing. Kakak. Dan sahabat. Mereka juga tak pernah segan menceritakan keluh kesahnya pada Gin. Di saat yang lain tengah bersuka cita menyambut kehadiran Gin, Rey justru menekuk wajahnya. Kesal. Memandang Gin yang sedang asik bercengkrama. Sebagai seorang ketua, Rey memang sangat peduli dengan anggotanya. Terlebih, jika itu Gin. Entah kenapa dia sangat menyukai gadis polos itu. Sejak pertama kali mereka bertemu. Beberapa tahun yang lalu. ____ Nasional Art Campus. Adalah tempat Rey menggali ilmu. Ia senior dalam jurusan Film dan televisi. Semenjak kecil, cita-citanya ingin menjadi sutradara maupun produser. Meski, wajah serta kemampuan aktingnya sangat mumpuni, untuk menjadi seorang aktor, tapi, ia lebih memilih untuk bekerja di belakang layar. Hingga pertemuannya dengan Gin, merubah haluan hidupnya. Dimana ketika itu, Gin tengah menyusup masuk di kampus tersebut. Ia sedang berdiri di depan ruang seni peran. Menyelusupkan kepala diantara pintu yang setengah terbuka. Kebetulan Rey bersama seorang temannya melintas. Ketika Gin melakukan itu. Dan cukup menarik perhatian keduanya. Menghentikan langkah. "Laki-laki itu mencurigakan," kata Rey. Menghentakkan kepala kearah Gin. Karena mengenakan jaket hoodie abu-abu, menutupi kepala dengan tudung jaket, mereka menduga jika Gin adalah seorang laki-laki. "Kau benar," kata teman Rey. "Gerak- geriknya seperti ingin mengambil sesuatu? Apa, kita hampiri saja dia?" "Ide yang bagus." Billy, nama teman Rey, menegurnya. Berteriak. Ketika keduanya telah berdiri beberapa langkah di belakang Gin. Punggung Gin menegang seketika. Mematung. Bola matanya berputar sedikit cepat. "Siapa kau? Kenapa kau mengintip ruangan ini?" tegur Billy. "Ah, s**l," umpatnya, berbisik. "Kau, mahasiswa disini?" tambah Rey. Dua pertanyaan yang terus diabaikan oleh Gin. Berdiri diantara kegugupan. Jantungnya seolah terdengar berdegup dengan keras. Berpikir. Bagaimana bisa keluar dari situasi tersebut. Berpura-pura pingsan? Tidak mungkin rasanya melakukan hal itu. Mereka pasti membawanya ke rumah sakit, dan kembali menginterogasinya ketika ia bangun. Berlutut serta meminta maaf? Apalagi itu. Keduanya akan lebih curiga, jika Gin melakukan hal tersebut. Dan akan berakhir di kantor polisi. Satu-satunya jalan keluarnya adalah lari. Berlari sekencang mungkin. Gin mengangguk samar. Setuju dengan rencana yang ia buat seorang diri. Mendorong keluar udara dari dalam mulutnya. Dan berlari. Satu. Dua. Tiga. Billy berhasil meraih tudung jaket Gin. Membuat kepalanya tertarik ke belakang. Adegan slowmotion terjadi, ketika Gin memutar leher ke samping, bersamaan dengan rambut panjang coklatnya tergerai ke udara. Seolah mempertontonkan kecantikan wajah peranakannya pada Rey. Pemuda yang dua tahun lebih tua darinya pun terkesima. Tatapannya seakan membeku. Melodi melankolis seakan terdengar di telinga Rey. Cantik. Setidaknya kata itu yang menggambarkan perasaan tak terungkap dari Rey. Sementara pemuda yang mengenakan kemeja biru tak berkancing dengan kaus putih di dalamnya itu menikmati suasana yang ia rasa romantis, Gin berusaha melepaskan diri dari Billy yang saat ini tengah menggenggam erat pergelangan tangannya. "Kau takkan bisa lari dariku! Mengejutkan sekali ternyata kau perempuan," kata Billy, terengah-engah. Alih-alih memohon, Gin menyeringai. "Aku rasa tidak," katanya. Gin menarik tangan Billy sekuat mungkin. Membawa lebih dekat dengan dirinya. Menutup jarak diantara keduanya. Membuat Billy sedikit terbungkuk. Gin kembali menyeringai. "Maafkan aku." Gin segera melayangkan pukulan pada bahu Billy, dengan siku tangan yang lain. Cukup keras. Hingga membuat Billy meraung. Kesakitan. Meringkuk. Genggaman di tangan Gin pun melemah. Memberi kesempatan Gin untuk melarikan diri. "Rey! Apa yang kau lakukan?! Cepat kejar dia!" Rey menurunkan pandangan. Melihat Billy tengah meremas bahunya. Hidungnya berkerut. Menahan sakit. Tapi, Rey justru tersenyum. Berjalan beberapa langkah. Membungkukkan badan. Mengambil ponsel hitam yang tergeletak di lantai. Kembali meluruskan punggung. "Dia akan kembali," kata Rey, seraya menunjukkan ponsel pada Billy. Senja hampir menjelang. Tapi, mentari masih menampakkan diri. Berpendar sedikit sempurna. Gin kembali ke tempat dimana ia berseteru dengan Billy. Di depan ruang seni peran. Mencari ponselnya. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Menyibak bunga-bunga yang tertanam rapi di tanah. Langkahnya menggema. Mengingat kampus hampir kosong. Tidak ada mahasiswa. "Aku yakin sekali, ponselku terjatuh saat dua laki-laki b******k itu datang," katanya. "Ah.." desahnya. "Apa mungkin seseorang mengambilnya?" "Kau mencari ini?" tanya Rey, keluar dari balik pintu ruangan. Mengayunkan ponsel Gin. Sedikit terkejut dengan kehadiran Rey, ia melangkah mundur. Menatap Rey. "Ini milikmu, kan?" Sedetik Gin menatap ponselnya. Dan kembali memandang Rey. Anggukan gugupnya pun menjawab. Dibalas senyuman kecil oleh Rey. Mengulurkan tangannya. Mencoba memberikan ponsel pada Gin. Tapi, sang pemilik ponsel hanya terdiam. Ragu untuk melangkah. Hingga Rey menggoyangkan singkat ponselnya. Gin menelan ludah. Perlahan mengangkat tangan kanannya. Satu. Dua. Tiga. Rey mengangkat tangannya ke udara. "Katakan padaku, apa alasanmu datang kemari? Kau, bukan mahasiswa di kampus ini." Desahan singkat terdengar dari Gin. Memutar bola sedkit cepat. "Ambil saja, ponselku," katanya, seraya memutar badan. Berjalan pergi. "James," kata Rey, sedikit berteriak. Membuat langkah Gin terhenti. "Siapa dia? Kekasihmu? Dia meneleponmu puluhan kali sejak siang tadi." Secara terpaksa, Gin memutar haluan. Berjalan cepat kearah Rey. Berhenti dengan tiba-tiba. Ketika merasa jaraknya hampir dekat dengan pemuda tampan kedua di kampus tersebut. "Kau tahu? Kau pria yang paling menyebalkan yang pernah aku temui!" Rey hanya menggidikkan kedua bahunya. "Setiap hari aku kemari," kata Gin. "Kenapa?" "Hanya sekadar melihat." "Lalu, kenapa mengendap-endap? Siapapun yang melihatmu pasti berpikiran sama denganku." Gin kembali mendesah singkat. "Terakhir kali aku datang kemari, para mahasiswa perempuan melempariku dengan telur mentah. Menjambak rambutku. Menendang perutku. Jika kau jadi aku, apa kau akan kembali ke tempat ini secara terang-terangan?" "Wah, maafkan aku, nona. Aku tidak tahu kalau terjadi seperti itu." "Aku tertarik dengan kelompok seni peran di kampus ini. Mereka selalu memenangkan kontes. Karena itu, aku ingin melihat mereka berlatih. Setidaknya, aku bisa mendapatkan ilmu secara gratis." "Ah, begitu. Kau anggota seni peran di sekolahmu?" "Bagaimana kau tahu, jika aku masih sekolah?" "Mudah saja. Fotomu di beranda ponsel masih mengenakan seragam SMA." "Aaah..." desahnya, mengerti. "Sekarang bisakah kau mengembalikan ponselku?" "Tunggu sebentar." "Apalagi? Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Rey tersenyum singkat. "Mengenalmu." Satu kata yang membuat Gin terdiam. Tak dapat berkomentar. Mentari hampir tenggelam. Burung-burung senja keluar dari sarang. Menari dengan elok diantara langit oranye. Obrolan keduanya berlanjut di taman kampus. Duduk di kursi kayu yang memanjang ke samping. Rey berpangku tangan. Gin meletakkan tangan di samping kiri dan kanannya. Bertumpu pada kursi kayu. "Kau menyukai dunia peran?" Tanya Rey. "Sejak kecil... Aku selalu menatap diriku pada cermin. Bergaya menirukan tokoh kartun yang aku tonton tiap sore. Aku hanya berpikir, pasti akan hebat bisa menjadi apapun dalam sebuah film. Tidak peduli apapun karaktermu, kau akan tetap disanjung selama aktingmu bagus." "Wah, mendengar penjelasanmu aku jadi merasa seni peran itu hebat," kata Rey. "Tapi, kau tak perlu mengendap-endap untuk datang kemari. Kau harus berjalan dengan gagah. Dan tunjukkan kemampuanmu disini." Gin menengok pada Rey, yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan. "Bagaimana caranya?" "Kau harus masuk ke kampus ini!" "Ah, kau benar," kata Gin, tertawa kikuk. "Tapi, apa aku bisa lolos? Aku.. Takut jika gagal." "Kegagalan itu adalah hal yang biasa. Tapi, jika kau gagal tanpa mencoba.. Kau akan menyesal seumur hidup." "Hei, kau benar juga. Wah, kata-katamu membuat semangatku bangkit. Terima kasih....." "Rey.. Namaku Rey." "Ah.. Terima kasih, Rey." "Mulai sekarang, kau harus belajar dengan giat. Bukankah, beberapa bulan lagi kau sudah lulus?" Anggukan Gin menjawab. "Aku akan belajar dengan giat!" kata Gin, seraya mengepalkan tangan. "Dan aku akan dengan giat memberimu semangat!" Rey menirukan gaya bicara Gin. Juga mengepalkan tangan. Membuat tawa keduanya menggema. "James adalah ayahku," kata Gin, tiba-tiba menjelaskan. "Aku sengaja menuliskan namanya di ponselku, untuk mengelabui para teman laki-lakiku. Aku takut, menyakiti mereka. Jadi, aku katakan saja James adalah kekasihku." Dengusan singkat terdengar Rey. Menarik sudut bibirnya keatas. "Kau gadis yang unik." "Well, itulah yang mereka katakan," katanya. "Kau juga mengambil seni peran disini? Apa kau berada di jurusan lain?" "Aku? Tentu saja, di seni peran." Ketertarikannya pada Gin, membuatnya sedikit berbohong. Mungkin benar kata pepatah. Cinta itu membutakan. "Ini ambilah," Rey mengembalikan ponsel milik Gin. "Aku sudah menyimpan nomorku. Hubungi aku jika membutuhkan bantuan. Apapun itu." "Baik." Senyum Gin menyambut. Perkenalan tak terduga itu kini berlanjut menjadi persahabatan ditengah keduanya. Saling bertukar pendapat jika sedang bertemu. Perdebatan kecil juga sering terjadi. Bahkan, keduanya memiliki tempat favorit untuk sekadar berbincang. Membunuh waktu di sore hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Kedekatan mereka cukup membuat iri para kaum hawa. Kesetiaannya pada Gin, ia tunjukkan di suatu pagi. Ketika ia sedang mendapatkan libur semester, namun, sudah berada di gerbang kampus sejak pagi. Memarkir motornya di sebelah gerbang. Menatap setiap gadis berseragam SMA yang masuk ke kampus. Mungkin saja itu Gin. Hari itu memang seharusnya Gin datang ke kampus, untuk melakukan pendaftaran mahasiswa baru. Tapi, hingga sepersekian jam, Gin tak juga muncul. Membuat dahi Rey berkerut. Menatap jam coklat yang melilit pergelangan tangan kirinya. Pendaftaran dibuka hanya untuk satu hari. Dan akan segera berakhir beberapa menit lagi. Puluhan pesan juga panggilan telah ia lakukan. Namun, tak ada jawaban. Atau lebih tepatnya ponsel Gin sedang tidak aktif. Rey pun berlari masuk ke dalam gedung. Melewati taman. Berbelok ke koridor. Berbelok ke kiri. Kanan. Dan berhenti di depan sebuah ruang. Dimana tertulis "Tempat pendaftaran seni peran" di sebuah kertas yang menempel pada pintu. Menghampiri seorang gadis di balik meja, disamping pintu yang tengah merapikan beberapa kertas. "Apa pendaftaran sudah ditutup?" tanya Rey, terengah-engah. Gadis itu menjawab dengam anggukan. "Bisakah kalian menunggu beberapa menit lagi? Temanku masih dalam perjalanan. Dia ingin sekali masuk di jurusan seni peran. Bisakah kau mengulur waktu?" "Maafkan aku.. Bukan aku yang menentukan. Aku hanya membantu kampus. Kau bisa meminta itu pada pihak otoritas kampus." Jawaban yang mampu membuat Rey mendesah. Cukup panjang. Kesal. Kembali berlari. Melewati koridor. Mengabaikan sapaan beberapa orang yang mengenalnya. Pergi ke gerbang depan. Melaju dengan motornya setelah itu. Cukup kencang. Tak peduli dengan keselamatan. Dimana dia? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak datang? Pertanyaan tersebut berlarian di kepalanya, hingga ia berhenti di depan griya tawang dengan pagar hitam menjulang tinggi. Mematikan mesin motor. Mendorong standart kaki motor. Melepaskan helm. Meletakkannya diatas motor. Berjalan mendekati pagar. Rey mengedarkan pandangan. Menggenggam besi pagar sesaat. Tampak sepi di dalam rumah. Berulang kali dia berteriak memanggil nama Gin, tetap tidak ada siapapun yamg menjawab. Keputus asaan perlahan menghampiri. "Keluarga Mayer sudah tak tinggal di rumah ini." Seorang pria paruh baya yang melintas, menghampiri Rey. Membuatnya sedikit terkejut. Memutar badannya. "Apa mereka pindah rumah?" "Harta keluarga Mayer disita oleh bank. Tuan James dan istrinya pun menghilang tiga bulan yang lalu. Aku tak tahu, kemana Gin serta dua adiknya tinggal sekarang." Penjelasan pria paruh baya itu, cukup membuat Rey mengurung diri dalam kamar. Selama tujuh hari. Mungkin lebih. Benar-benar putus asa. Bahkan nasi pun tak lebih dari tiga sendok tiap kali ia makan. Melamun. Menyalahkan diri sendiri. Terlambat untuk mencari Gin. Seharusnya, aku sadar saat ia tak menghubungi begitu lama, pikirnya. Seluruh tempat yang sering Gin kunjungi di kota ini, telah ia datangi satu demi satu. Tempat favorit mereka berdua juga tak luput dari penjelajahannya. Tetap. Tidak ada Gin. Berselancar di web, mencari informasi di sosial media milik Gin pun sudah ia lakukan. Hampir saja ia menyerah, ingin melupakan Gin, jika saja Billy tak menelepon dan mengatakan ia baru saja melihat Gin berjalan masuk di pemukiman kumuh. Oh, apakah aku mengatakan pemukiman kumuh? Well, inilah hidup. Uang memiliki kekuasaan diatas segalanya. Tidak perlu berpikir panjang tentunya. Segera ia meraih jaket yang tergantung di balik pintu. Mengenakannya. Berjalan keluar dari kamar. Menuruni setidaknya dua belas anak tangga. Melewati ruang keluarga, dimana sang ayah serta ibu tengah menonton drama di televisi. Melewati ruang tamu, yang saat itu tengah gelap. Membuka pintu depan. Kembali menutupnya. Berjalan ke samping rumah. Mengangkat pintu harmonika garasi keatas. Segera naik diatas motor. Mengenakan helm. Dan Pergi. Menjemput Gin. Butuh waktu lama untuknya mencari pemukiman kumuh di kota ini. Karena cukup banyaknya tingkat pengangguran di kota metropolitan ini, sehingga terbentuk puluhan pemukiman kumuh yang tersebar di beberapa titik di pinggiran kota. Ingatan Billy cukup buruk. Saat Rey bertanya tepatnya dimana ia melihat Gin, ia hanya menjawab "Maaf, aku tidak ingat" . Dan itu cukup menjengkelkan. Satu tempat. Dua. Tiga. Empat. Bahkan hampir tujuh tempat sudah ia datangi. Belum patah semangat, ia hendak mengunjungi satu tempat lagi. Jika Gin tak ada di tempat terakhir, maka Rey ingin meminta bantuan kepada pihak yang berwajib. Yang mungkin tak harus ia lakukan. Ia melihat Gin tengah melipat kardus dan berjalan menentengnya, bersamaan dengan Rey berlari kearahnya. Meraih lengan Gin. Menggenggam. Dan menariknya. Membuat tubuh Gin sedikit berputar. Memperlihatkan wajahnya yang kusam. Sedikit debu menempel di pipinya. Terlalu sakit untuk Rey melihat keadaan Gin. Matanya berkaca-kaca. "Rey.. Kau-" Seolah tak ingin membiarkan Gin mengucapkan sepatah kata pun, ia kembali menarik lengan Gin. Membawanya lebih dekat. Memeluknya. Menutup jarak diantara mereka. Gin yang sedikit terkejut, mencoba untuk diam. "Kau, bodoh. Sudah aku katakan padamu untuk mencariku jika membutuhkan bantuan. Kenapa kau tak datang padaku." "Maaf, aku hanya tak ingin merepotkan orang lain. Sebenarnya, aku-" "Tak perlu menjelaskan apapun padaku. Sekarang, aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini." Bukan sekadar kata-kata manis tentunya. Esok harinya, Rey menyewakan rumah untuk Gin. Dengan uang tabungan yang ia kumpulkan untuk membangun rumah produksi. Tak ada keraguan ketika ia memakai uang yang ia kumpulkan dengan hasil kerja kerasnya. Meski, kehidupan keluarganya lebih dari cukup, dia tak ingin mengusik harta milik ayahnya. Mandiri dan kerja keras. Itu yang ia terapkan dalam hidupnya. Gin sempat menolak. Namun, Rey memaksa. Dengan sedikit ancaman tentunya. Ia takkan melnjutkan kuliahnya, jika Gin tak menempati rumah sederhana itu. Pengorbanan Rey tak cukup sampai disitu. Ia rela menggugurkan impiannya untuk menjadi seorang produser. Di tengah-tengah semester, ia keluar dari jurusannya. Masuk ke dalam seni peran. Karena ia takkan sanggup, jika harus membiayai kuliah Gin. Buku catatan yang selalu penuh dengan coretan, kini berbaris rapi rangkuman mata kuliah yang ia dapat. Selalu meminjamkannya pada Gin. Dan menjadi pembimbingnya. Beberapa minggu setelahnya, Gin bekerja paruh waktu di sebuah minimarket. Beberapa minggu setelahnya lagi, Maria menghubungi dan tinggal bersama mereka. Karena harus merawat nenek Gin yang berada di Inggris, Negara asalnya. Tapi, kini sang ibu sudah tiada. Maria tak mampu berbuat apa-apa selain meminta maaf pada Gin. Pun ia juga mengerti. Dan tak meminta bantuan. Kini kehidupan mereka berangsur membaik. Meski, hidup secara sederhana tapi mereka cukup bahagia. Setahun kemudian, Rey membangun kelompok pemeran pengganti. Dan memasukkan Gin sebagai anggotanya. Meski, tak dapat menjadikan Gin seorang aktris, setidaknya Gin dapat mempergunakan bakatnya. Dan mendapatkan pekerjaan lebih baik. Juga, setiap menerima upah, Rey selalu memasukkan upahnya pada milik Gin. _____ Mengingat kembali kenangan itu, desahan Rey semakin panjang. Sorot matanya tak lepas dari sosok Gin, yang tengah tertawa riang. "Gin. Kemari sebentar," pinta Rey. Gin menengok. Meminta izin pada mereka yang sejak tadi menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Berjalan. Mendekati Rey. "Bukankah, sudah aku katakan-" Rey terdiam. Tak melanjutkan kalimatnya. Pipinya merona. Terkejut, dengan pelukan Gin yang secara tiba-tiba. Tangannya merangkul leher Rey. Sedikit mengangkat tumitnya, karena tinggi mereka tak sepadan. "Maafkan, aku," kata Gin. "Aku tahu, kau sudah melarangku untuk datang kemari. Tapi, kau tahu, kan? Aku tidak betah kalau harus berada di kamar seharian. Jadi.. biarkan aku disini." Gin melepaskan pelukan. Mundur satu langkah. Menatap Rey, yang tengah mendesah singkat. "Aku janji, takkan melakukan apapun. Hanya ingin melihatmu bekerja," lanjutnya, seraya tersenyum manja. Mengedipkan mata sedikit cepat. Agaknya ia merayu Rey. Yang ternyata strateginya berhasil. "Ingat! Jangan lakukan apapun! Kalau tidak aku akan menyeretmu keluar!" gertaknya, sembari mengarahkan telunjuk kearah Gin. "Baik!" "Kau sudah sarapan?" tanya Rey. Gelengan Gin menjawab. Kafetaria di Studio N tak pernah sepi pengunjung. Di samping, masakan yang bisa memuaskan selera, tempatnya cukup nyaman. Sofa kecil yang menjadi tempat duduk para pengunjung dapat memanjakan punggung. Ditambah tersedianya Wi-Fi. Itu yang terpenting di era saat ini. Seperti yang lain, Gin tengah lahap menikmati sepiring nasi goreng yang kini hanya menyisakan bekas minyak di piringnya. Tak pelak, membuat Rey tertawa kecil sejak tadi. Bahkan belum sempat menghabiskan sarapannya. "Mau lagi?" tanya Rey. "Aku sedang diet," jawab Gin seraya meneguk air mineral. "Ah, benar.. Kau harus lihat ini." Gin menarik keluar kartu nama yang ia letakkan di kantung celana bagian belakang. Rey yang membacanya tidak berkespresi. "Darimana kau mendapatkan ini?" "Antoine." Jawaban singkat yang membuat Rey mendengus konyol. "Aku tidak bercanda," kata Gin, seolah membaca pikiran Rey. "Dimana kau bertemu dengannya?" "Di kafe sudut jalan tadi. Saat ia membeli kopi." "Tapi, kenapa dia memberimu kartu nama? Kau sudah mengenalnya?" "Ah, itu.. Kebetulan tadi aku sedikit membantunya. Lalu, dia memberiku kartu nama. Katanya, dia ingin memberiku pekerjaan." "Lalu, kau menerimanya?" Gin menggidikan bahu. "Ah, tapi kau tahu K&C itu apa?" tanya Gin. "Kau bercanda? K&C adalah perusahaan eletronik terbesar di Perancis. Baru-baru ini memang mereka membuka cabang di kota kita." "Benarkah?" Nada bicara Gin tersengar cukup terkejut. "Kau bisa memeriksanya di internet, Nona," katanya. "Tapi, apa kau akan menerima tawarannya?" "Mungkin saja." "Kau sudah lupa impianmu?" "Mungkin impian itu akan tetap menjadi impian, Rey. Aku harus mencari lebih banyak uang. Lu Dan Lace semakin beranjak remaja. Kebutuhan mereka akan lebih banyak kedepannya." Tak mampu berkomentar, Rey hanya diam. Bersandar. Menyesap kopi paginya. Mendesah panjang. *** Sebuah kamar, dengan tata ruang yang sederhana. Satu lemari. Satu kursi. Dan satu ranjang. Dan satu pria tampan di dalamnya. Ken tengah menarik kaosnya keatas. Melewati bahu, bersamaan dengan Kim membuka pintu kamar dan masuk begitu saja. Membuat Ken berjengit kaget. Memutar badannya. "Kau tidak bisa ketuk pintu?!" "Maaf, aku sedang terburu-buru." Desahan kesal tak pelak terdengar dari Ken. Tangannya kembali bergerak, melepas kaus. Melemparkannya begitu saja. Berjalan sedikit ke kiri. Membuka lemari kayu. Mengambil satu kaus hitamnya. Mengenakan dengan cepat. Seolah tak membiarkan Bibi yang memiliki bulu mata lentik itu, menikmati pemandangan tubuh berototnya. "Ada apa?" tanya Ken, sesaat setelah memasukkan tangannya di lubang kaus yang terakhir. "Mmm.. Aku.. Masih penasaran dengan kata-katamu." "Tentang apa?" "Itu.. tentang salah satu dari kami yang berkhianat," katanya. "Siapa? Tak mungkin itu jika aku, kan?" "Ck. Itu bukan kau, bibi." "Lalu, siapa? Sejenak Ken menatap wanita yang seusia dengan ibunya tersebut. "Nanti. Kau akan mengetahuinya sendiri." "Oh, Ken! Kau sungguh menjengkelkan. Aku tidak akan bisa tidur malam ini!" Dengan langkah kesal Kim keluar dari kamar. Satu. Dua. Tiga. "Tutup pintunya!" teriak Ken. Kim kembali dengan picingan tajam. Mengulurkan tangan. Menggenggam daun pintu. Menarik pintu dengan keras. Cukup menimbulkan suara gaduh. "Ah, wanita itu semakin tua saja," gumamnya. Kemudian berjalan mendekati ranjang. Merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar. Merasakan lelah di tubuh serta otaknya. "Mayer.." katanya. "Apa mungkin benar dia?" Kebimbangan itu terus mengikuti dirinya sepanjang hari ini. Terus mendesah singkat. Terlebih, jika mengingat keadaan Gin. Apa dia baik-baik saja? Apa ia mampu bertahan? Dua pertanyaan itu seolah melayang-layang di benaknya. Membuatnya menggeleng sedikit kencang. Menggaruk kepala yang sedang tidak gatal. Berbaring menghadap kiri. Dan tertidur. Malam yang temaram, ditemani dengan derikan hewan malam. Membuat delapan dari mereka tidur cukup lelap. Tapi, nyatanya itu tidak berlaku pada Dong Joo, yang tengah tidur di sofa ruang tengah. Para hewan kecil penyesap darah sedang berpesta di sekitar tubuhnya. Cukup membuat Dong Joo geram. Berdiri. Berjalan mendekati pintu kamar Ken. Membukanya. Lalu masuk. Dan.. "Aaaaaaa!" teriakan Dong Joo berhasil membuat Ken serta Gin berjengit kaget. Terbangun. Sejenak Gin serta Ken menukar pandang. Sebelum akhirnya, "Aaaaaaa!" teriakan mereka menggema malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN