Chapter 6

1333 Kata
INDONESIA, 2017 ( Beberapa menit sebelum Gin menghilang ) "Rey! Ini milik Gin, kan?" seorang gadis menghampirinya, dengan membawa dompet berwarna putih, bermotif bunga. "Ah, gadis itu ceroboh sekali," gerutunya seraya mendecakkan lidah. Rey segera berlari setelah mengatakan itu. Menghiraukan teriakan panggilan dari temannya. Mengedarkan pandangan pada kerumunan pejalan kaki. Mencari sosok Gin. "Aku yakin dia belum jauh dari sini," gumamnya seraya berjalan. Suara gemuruh dari langit membuatnya menengadahkan kepala. Menatap awan abu-abu nyaris hitam yang berkumpul. Burung kecil semburat beterbangan. Seolah akan menyambut hujan yang turun. Kernyitan di dahinya muncul begitu saja, di kala melihat sosok yang dicarinya. Jauh didepannya. "Ah! Itu dia!" katanya, melebarkan mata. "Gi-" Teriakannya menggantung di udara, melihat momen saat Dong Joo merampas uang Gin. Segera, sesaat Gin berlari, dengan terburu-buru Rey turut melakukannya. Terus berlari. Tak lama ia terengah. Berhenti sejenak. Membungkukkan badan. Kedua tangan bertumpu pada lutut. Membiarkan keringat berlari melewati pelipisnya. Ia pun merutuk dirinya sendiri. "Sekarang.. Aku.. Tahu.. Apa.. Pentingnya berolahraga," katanya, tersengal. "Sial.. Mereka cepat sekali." Baru sepersekian detik ia berhenti, keduanya hampir tak nampak di pandangan Rey. Mendorong udara keluar dari mulut. Berdiri tegak. Bersamaan dengan satu titik air menjatuhkan diri pada trotoar. Terperangah untuk sesaat. Mendesah kesal kemudian. Dan berlari. Mengerahkan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Sepasang pakaian yang ia kenakan hampir seluruhnya basah. Hujan menderas secara tiba-tiba. Tidak memberi kesempatan untuknya berlindung. Gin kembali terlihat. Tapi, sepasang sneakers abu-abu milik Rey berhenti, beberapa meter dari jembatan. Kilatan cahaya putih yang menyilaukan matanya, membuat dirinya terkejut. Berpikir, apakah petir menyambar? Bola matanya membeku, ketika menyadari. "Dimana Gin?" Rey kembali berlari. Lebih mendekat pada jembatan. Mengedarkan pandangan. Mengusap air hujan yang menghalangi pandangannya. Melongokkan kepala. Melihat sungai di bawah jembatan. Mungkin saja, Gin melompat bersama perampok itu. Namun, nyatanya mereka menghilang. Dan hanya tersisa penyesalan pada diri Rey. Membiarkan dirinya berlutut diantara hujan. *** "Saat itu.. Aku pikir, kau tersambar petir dan jatuh di sungai." "Petir? Seingatku, tidak ada petir waktu itu." "Tapi, aku melihat dengan jelas kilatan cahaya putih itu. Lalu, kau menghilang begitu saja." Sejenak menjadi hening. "Rey.. Apa.. Kau akan percaya dengan ceritaku?" "Kau menghilang tepat di depanku. Bahkan, jika kau mengatakan kau diculik oleh alien pun, aku akan percaya." "Kau gila." "Well, aku gila karenamu." Dengusan singkat dan senyuman tipis dari Gin nampak, mendengar kata-kata Rey. "Sekarang ceritakan padaku." Cerita aneh itu pun dimulai. Terjebaknya ia di taman bermain. Pertemuannya dengan Joe serta yang lain. Mobil terbang. Ekskalator spiral. Berpindah tempat hanya dengan beberapa langkah. Semua ia ceritakan secara mendetail. Kecuali, saat kejadian di padang bunga. Bukan ingin merahasiakan, tapi, Rey sudah mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. "Jadi.. Yang kau maksud, pencuri itu adalah seorang penjelajah waktu?" Mereka saling beradu pandang. Sesaat. "Kau, tidak percaya, kan?" "Mmmm, memang sulit untuk mempercayai itu. Tapi, ceritamu sedikit masuk akal bagiku. Jika saja, aku tak melihat kilatan cahaya itu. Dan jika saja, kau tak menghilang di depanku, mungkin aku akan menganggap kau sudah tidak waras." Gin mendengus. Menarik sudut bibirnya keatas. Ingin hati, memukul dengan keras kepala Rey. Namun, ia terlalu takut untuk bergerak. Mengingat pesan dokter sebelumnya. "Lalu," katanya, seraya mengeluarkan benda kecil dari saku jaketnya. "Benda ini miliknya?" Gin segera terbelalak. Melihat Rey mengeluarkan earpiece tersebut. "Tidak! Ini milikku!" tegasnya. Mengambil paksa benda tersebut. "Itu.. Earpiece, kan? Apa itu kau bawa dari masa depan?" "Oh? Ti-tidak. Ini hanya earpiece biasa. Kau bisa membelinya di toko ponsel." "Benarkah?" "Apa aku pernah berbohong?" "Bisa dikatakan sering," "Hei.." Sejurus picingan tajam terlempar pada Rey. "Aku hanya bercanda," senyum manis Rey menyambut. Gin Sedikit menyesal. Berbohong pada Rey, tentang earpiece tersebut. Mengingat ia telah berjanji pada bibi Kim, untuk tidak mempertontonkan benda itu pada siapapun. Karena itu adalah benda rahasia milik mereka. "Jadi.. Perampok itu yang membuatmu seperti ini?" "Itu-" "Gin!" Teriakan dari wanita paruh baya, membuat kata-kata Gin tertahan. Tiba-tiba masuk, menggeser pintu dengan cepat. "Bibi?" kata Gin, sedikit terkejut bercampur haru. Maria berjalan dengan cepat. Mendekat pada ranjang Gin. Memeluknya erat-erat. Dua anak kecil yang berwajah mirip mengikuti dari belakang. Satu berambut pendek. Satu lagi berambut hitam panjang. "Syukurlah Gin, kau baik-baik saja. Aku kira kau sudah mati di tangan para debt kolektor b******k itu." "Jangan menangis. Aku tidak mati," guraunya. Mengusap punggung sang bibi. Namun, Maria membalasnya dengan memukul punggung Gin. "Bodoh! Kau tidak boleh mati sebelum aku!" Mendengar hal itu Gin tertawa kecil. Melepaskan pelukan. "Maaf, aku membuatmu khawatir." "Jangan bicarakan itu. Melihatmu dalam keadaan seperti ini saja aku sudah sangat bersyukur," katanya. "Kau tahu, betapa merepotkannya dua anak ini saat kau tak ada? Setiap hari mereka menangis, mencarimu." "Benarkah?" Kata Gin, memiringkan kepala. Tersenyum. Menatap Lace dan Lu yang berdiri di samping bibinya. "Kakak! Jangan pergi lagi," kata Lace. "Kalau kau pergi aku tidak bisa makan ayam," tambah Lu. Kata-kata polos dari dua adiknya tersebut, membuat hati Gin tersentuh. Meski, terdengar lucu tapi Gin tahu arti dari kata-kata itu. Keempatnya pun saling melepas rindu. Dengan sengaja Rey keluar dari kamar. Memberikan waktu untuk mereka. Menutup pintu dengan tersenyum kecil. Menarik keluar ponsel dari saku celananya kemudian. Menghubungi seseorang. "Kau dimana? Aku membutuhkan bantuanmu." *** INGGRIS, 2023 Sebuah kamar hotel bergaya kolonial di kota Inggris itu tampak ramai. Satu orang tengah berbaring pada single bed yang besar. Dua orang tengah berada di beranda. Menikmati pemandangan cakrawala kota. Tiga orang saling berebut mengganti saluran televisi berlayar datar. Satu orang lagi tengah berjalan kesana-kemari. Melangkah diantara kecemasan. Tidak dapat dihitung berapa menit, wanita berhidung mungil itu mondar-mandir seperti orang linglung. Hingga pada akhirnya, kilatan cahaya putih, menghentikan aktivitas mereka. Kehadiran Ken membuat mereka terpaksa berkumpul. Duduk di sofa berwarna putih tulang. Berdampingan. Ken serta bibi Kim, duduk di sofa kecil di depan mereka. Juga berdampingan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada yang menyela selama Ken bercerita. Hanya terdengar desahan singkat silih berganti. "Apa Gin baik-baik saja?" tanya Kim "Aku tidak begitu yakin. Aku sempat melihatnya tak sadarkan diri, sebelum masuk ke dalam portal." "Kau gila?! Kau meninggalkannya dalam keadaan seperti itu? Dimana perasaanmu?!" bentak Lan. Mereka kompak menatap Lan yang duduk seorang diri, di sebelah kanan Ken. Mengernyit heran. Bukan karena pertanyaannya, tapi nada tinggi dari Lan mengejutkan mereka. Bertahun-tahun mereka mengenal Lan, tak pernah sekalipun melihatnya seagresif itu. Lan yang sadar, mereka memberikan tatapan tanda tanya segera tertawa kikuk. "M-maksudku, kenapa Ken tidak mengantarkannya pulang atau ke rumah sakit? Agar terlihat sedikit bertanggung.. Jawab?" katanya, menarik kulit dahinya keatas. "Menurutmu?" tanya Ken. Kedua sikunya bertumpu pada paha. "Ah, kau sudah menawarkannya? Dan dia menolak?" Sekali lagi. Tawa kikuk terdengar dari Lan. Meraup makanan kecil yang tersaji di dalam toples terbuka. Memaksanya masuk ke dalam mulut. Berusaha mengakhiri suasana canggung tersebut. "Tapi, kenapa HeeBi ada di tempat itu?" tanya Joe. "Sebenarnya, itu adalah tempat rahasia kami," jawab Ken. "Dan sebelum kemari, aku kembali pergi ke tempat itu. Di tahun 2026. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Kenapa dia bisa membenciku." KANADA, 2026 Ken baru saja tiba di padang Bunga, Kanada. Di tahun 2026. Tidak ada yang berubah dari tempat ini di tiga tahun mendatang, pikirnya. Hanya saja gunung yang membentang jauh di hadapannya, kini berwarna putih. Salju menyelimutinya. Namun, ia datang bukan untuk berwisata mata. Seolah tak ingin membuang waktu, ia segera menelusuri tempat tersebut. Suara khas dari sepasang sepatu yang menginjak ilalang terus terdengar. Tak butuh waktu lama, untuk menemukan dirinya di masa depan. Kim juga yang lain terlihat mengenakan dress code. Gaun pendek putih untuk perempuan. Setelan jas untuk laki-laki. Masing-masing dari mereka, berdiri di sisi kiri Ken. Terlihat karpet merah yang terbentang panjang. Ken nampak rapi dan gagah dengan setelah tuxedo yang nyaris tanpa kusut. Dasi kupu-kupu menjadi pemanis. Di ujung lain Gin tengah tersenyum. Gaun putih sederhana yang ia kenakan menambah cantik parasnya. Tiara kecil yang berada di kepalanya, membuat dia seperti seorang putri dengan rambut tergerai. Cukup terkejut melihat kejadian itu, kini keterkejutannya semakin bertambah, ketika ia melihat seseorang yang berdiri di balik podium. "Paman?" INGGRIS, 2023 "Jadi, kau akan menikah dengan Gin?" tanya Galip. Intonasi suaranya cukup menggambarkan antara tidak percaya dan terkejut. Anggukan Ken menjawabnya. "Dan juga," katanya. "Aku melihat.. Salah satu dari kita akan berkhianat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN