Chapter 5

2219 Kata
INDONESIA, 2017 ( Sebelum Gin ditemukan) Sepersekian menit seusai Ken pergi, Gin masih tersungkur. Dengan nafas yang makin melemah. Tolong aku. Kata-kata itu terus terucap lemas dan lirih. Ia tak mampu menggerakkan tubuhnya. Kesadarannya terus menurun. "Apa aku akan mati? Tapi, jika aku mati.. Bagaimana dengan bibi dan adikku? Tidak.. Aku tidak boleh menyerah. Ayah.. Ibu.. Tolong aku." "Hei, nona? Kau baik-baik saja? Kau perlu bantuan?" Seorang pria paruh baya berkemeja putih yang tak sengaja melintas, menghampirinya. Menepikan mobil dengan terburu-buru. "Pa..Pa.. Paman.. Tolong.. Tolong aku." "Kau masih bisa berdiri, nona?" Gelengan lemah Gin menjawabnya. "Astaga! Apa yang terjadi?" Satu lagi pria datang mendekat, dengan kamera yang menggantung tepat di depan d**a. "Saya tidak tahu. Kebetulan saya melintas dan melihat nona ini sudah dalam keadaan seperti ini." "Lebih baik kita membawanya ke rumah sakit," ajak pria berkamera. Beruntungnya, terdapat satu rumah sakit yang tak jauh dari lokasi ditemukannya Gin. Setibanya di depan pintu IGD, keduanya turun dan membawa Gin masuk. Ranjang Brankar pun menyambut. Setelah pertanyaan singkat dari seorang perawat kepada keduanya, Gin pun masuk ke ruang ICU. "Terima kasih, Anda sudah membantu," kata pria berkemeja yang memiliki wajah kotak. "Bukankah sebagai manusia kita harus saling menolong?" kata pria berkamera diselingi tawa ringan. Tawa kecil dari pria berkemeja menyambut. "Tunggu disini, Saya akan membelikan kopi untuk Anda." Anggukan pria berkamera menjawab. "Gadis itu... Sepertinya tak asing," katanya, sesaat setelah pria berkemeja pergi. "Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat." Pria berkamera yang memiliki t**i lalat di bawah mata itu, menarik keluar ponsel dari dalam saku celana kain hitamnya. Memeriksa sesuatu. Tak butuh waktu lama untuknya terkejut. "Oh! Gadis itu.." *** Kamar di salah satu apartemen di kawasan pusat kota itu terlihat sepi. Tirai abu-abu melambai lirih. Sedikit terbuka. Membiarkan bias sinar mentari siang menyelusup masuk. Beberapa foto serta lukisan menghiasi dinding yang warnanya selaras dengan tirai. Satu bingkai foto yang terletak di nakas, yang berdampingan dengan lampu lantai yang berdiri tegak itu memperlihatkan kedekatan sang pemilik rumah dengan Gin. Merangkul bahu Gin dengan senyum terbaik. Sofa yang memanjang, menghadap televisi yang mempertontonkan iklan makanan kecil itu terlihat kosong. Dan beberapa meter di belakang sofa, terdapat sebuah meja makan berwarna putih tulang. Lengkap dengan beberapa kursi. Beberapa kaleng bir kosong beralkohol rendah, tergeletak begitu saja diatas meja. Desahan lirih dari pemilik apartemen terdengar. Ia tengah duduk di salah satu kursi, di depan meja makan. Menunduk. Rambut hitam bergaya pomade miliknya, sedikit menunjukkan jika ia adalah pria yang rapi. Satu kaleng bir yang masih berdiri tegak, ia raih dan meneguknya hingga tetes terakhir. Meremasnya. Melemparkannya begitu saja. Bersamaan dengan ponselnya berdering. Menyeret lemas ponsel diatas meja. "Halo.." "Rey! Kau sudah mendapatkan kabar darinya?" suara wanita paruh baya terdengar di seberang. "Belum. Saya-" "Breaking News hari ini. Seorang gadis ditemukan tak sadarkan diri di sebuah jembatan raya besar yang letaknya tak jauh dari studio N. Gadis yang berusia sekitar dua puluh empat tahun ini diduga adalah Ginny Mayer. Seorang Stuntwoman. Seperti yang kita ketahui, Ginny Mayer telah dilaporkan menghilang oleh rekan serta bibinya beberapa hari yang lalu. Ginny Mayer pertama kali ditemukan oleh seorang pengemudi mobil yang tak sengaja melintas. Saat ini, ia telah dilarikan ke Rumah Sakit Nasional. Dugaan sementara Ginny Mayer telah menjadi korban p**********n serta penculikan. Berikut wawancara eksklusif dengan saksi mata." Seorang pewarta wanita tengah menyampaikan berita di televisi. Berita yang cukup mengejutkan bagi Rey. Mampu membuatnya berdiri, dengan ponsel yang masih menempel pada telinga kanannya. Matanya pun nyaris tak berkedip. "Rey! Ada apa? Kenapa kau diam?" "Bibi, saya akan menghubungi Anda nanti." Rey bergegas menutup telepon. Menaruh ponsel dalam saku celana. Berjalan cepat kearah nakas. Mengambil kunci motor. Meraih Jaket kulit hitam yang terselempang di punggung sofa. *** Deru mesin motor Rey menggema di tempat parkir basemen apartemen. Mengaitkan kunci helm. Memastikan keamanannya. Menarik keatas resleting jaket. Menurunkan kaca helm. Memasukkan gigi kopling. Menarik gas. Pergi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hingga hanya butuh waktu sepersekian menit saja ia tiba di depan gedung rumah sakit. Memarkir motor. Meletakkan helm diatasnya. Berlari masuk ke ruang IGD. Suara khas dari beberapa alat di ruangan pun menyambut. Para perawat nampak berjalan kesana-kemari. Membuat Rey tak dapat bertanya. Beberapa ranjang yang hanya terpisahkan oleh tirai putih saling berjajar. Berdampingan. Perlahan Rey melangkahkan kaki. Memeriksanya. Satu demi satu. Beberapa pasien nampak terbaring di ranjang tersebut, sehingga membuat Rey harus meminta maaf berulang kali. Tersisa dua ranjang. Degup jantung Rey semakin kencang. Dia hanya takut, jika melihat kondisi Gin akan lebih parah dari yang ia bayangkan. Keduanya sama-sama tertutup tirai. Perlahan mengangkat tangan. Jemarinya memegang tirai. Membukanya secara perlahan. Menatap ranjang. Mendesah singkat. Ia harus kembali meminta maaf dan kembali menutup tirai. Segera ia bergeser pada ranjang terakhir. Menggeser tirai ke samping. Menatap ranjang. Dimana Gin tengah berbaring tak sadarkan diri. Alat bantu pernapasan terpasang di hidung. Rey tergelak gugup. Manik mata coklatnya seketika berkaca-kaca. Suaranya tak mampu keluar. Seolah kata-katanya tersekat di tenggorokan. Kakinya mendadak gemetar. Berjalan perlahan mendekati Gin. Bersamaan dengan serbuan para reporter. Entah keamanan tengah lengah, atau mereka yang terlalu banyak, sehingga dapat masuk ke ruangan tersebut. Rey cukup terkejut dengan kehadiran mereka. Memutar tubuh. Bertatapan dengan para reporter yang menggila itu. Pertanyaan dengan intonasi yang seolah menantang berduel terus terdengar. Kilatan cahaya kamera terus menggerlap. Membuat kernyitan di dahi Rey muncul. Satu. Dua. Tiga. "HEI!!! Kalian gila?! HAH?!" Bentakan Rey yang secara tiba-tiba, membuat mereka kompak terdiam. Berhenti mengambil gambar. Satu perawat wanita datang menghampiri. Namun, hanya diam. Gugup. "Kalian tidak lihat? Gadis ini belum sadarkan diri! Jika terjadi apa-apa dengannya, apa kalian mau bertanggung jawab?!" "Kami hanya mengambil gambar. Apa yang salah dengan itu. Lagipula, jika bukan karena aku, gadis itu takkan selamat," kata pria berkamera yang telah menolong Gin sebelumnya. Jawaban yang cukup menjengkelkan di telinga Rey. Menyulut kemarahannya. Berjalan satu langkah. Mendekati pria tersebut. "Siapa kau?" tanya Rey. "Aku? Ah, perkenalkan.. Aku adalah Roy. Reporter dari Star TV," katanya, mengulurkan tangan. Tak disambut hangat oleh Rey. Hanya lirikan singkat yang menatap tangan Roy. "Aku tak peduli siapa namamu. Mau apa kau kemari?" "Seorang Reporter datang ke tempat seperti ini untuk apa jika tidak untuk meliput berita?" katanya, menurunkan tangannya. "Dia.. Ginny Mayer, kan? Gadis yang dilaporkan menghilang, tiba-tiba dia berada di sebuah jembatan besar. Dalam keadaan terluka. Wah, bukankah itu berita yang sangat menarik?" Dengusan singkat terdengar dari Rey. "Menarik? Menarik kau bilang? Seseorang sedang terluka dan hingga saat ini belum membuka mata, yang kau pikirkan hanya berita? Kau bodoh? Atau kau memang tak punya otak?" Amarah Rey semakin menjadi. "Pergi. Selagi aku masih berbaik hati." Rey memutar badannya. Satu langkah. "Bukankah kau seharusnya balas budi?" kata Roy. Langkah Rey berhenti. "Aku yang menolongnya. Aku yang membawanya kemari! Jika tak ada aku, dia akan mati, b******k!" Rey kembali memutar haluan. Berjalan cepat mendekati Roy. Meremas kerah kemeja Roy. Otot tipis di pelipisnya muncul. "Lalu, kau ingin aku berterima kasih? Dan membiarkanmu mengambil gambarnya dalam keadaan seperti itu? Dan memperbolehkanmu berbicara dengannya setelah dia sadar? Itu yang kau inginkan? Kau ingin aku berkata 'Ah, silahkan saja' seperti itu? Hah?! Aku takkan membiarkannya, b******k! Jika kau tak pergi dalam beberapa menit.. Tidak, jika kau tak pergi sekarang juga.. Aku akan mematahkan rahangmu! Mengerti?!" "T-tuan.. Hentikan. Mohon, jangan buat keributan disini," kata perawat yang sebelumnya hanya diam menyaksikan. "Jika kau tahu, tak boleh membuat keributan disini.. Lalu, kenapa kau izinkan mereka masuk?!" bentak Rey seraya melepaskan kasar jemarinya dari kerah Roy. "Cepat panggil keamanan, bodoh!" Tak butuh waktu lama untuk akhirnya mereka pergi. Keadaan kembali sunyi. Suara khas dari beberapa alat di ruangan pun kembali terdengar. Rey pun mendekat pada Gin. Duduk di kursi kecil, sebelah ranjang. Mendesah panjang. Merasa iba. "Anda keluarganya?" suara berwibawa dari seorang pria, mengejutkan Rey. Memutar leher ke kanan. "Ah, iya. Bagaimana keadaannya, dokter? Dia baik-baik saja, kan?" Rey bangkit dari kursinya. Saling berhadapan dengan dokter yang seusia dengannya. "Bisa Anda ikut ke ruangan saya sebentar? Ada yang ingin saya perlihatkan." Ruangan dokter itu terlihat membosankan. Terdapat satu meja. Dua kursi. Jam dinding. Beberapa poster seputar dunia medis yang menempel pada tembok. Dan sebuah komputer di atas meja. "Apa yang ingin Anda bicarakan?" Pertanyaan itu segera keluar, begitu Rey duduk di kursi. Saling berhadapan dengan dokter muda tersebut. Alih-alih menjawab pertanyaan Rey, sang dokter memutar layar komputer, mengarahkannya pada Rey. "Ini.. Apa?" tanya Rey, menatap layar. "Ini adalah hasil CT-SCAN bagian d**a milik nona Ginny. Lihat bagian ini," katanya. Dokter membuat tanda melingkar dengan jarinya pada gambar rongga d**a Gin. "Jika Anda lihat di bagian ini, terjadi pembengkakkan yang hebat. Satu tulang rongganya hampir menusuk bagian paru-paru. Ini yang menyebabkan nona Ginny hilang kesadaran dan susah bernafas. Beruntung, mereka tak melakukan CPR. Jika saja tindakan itu dilakukan, maka satu tulang yang hampir patah ini akan menusuk paru-paru dan menyebabkan kematian." Rey yang mendengarkan penjelasan itu hanya mampu menghela nafas. "T-tapi, apa yang menyebabkan luka itu, dokter?" "Emm, jika dalam kasus kecelakaan lalu lintas, hal itu dapat terjadi jika bagian d**a kita membentur suatu benda dengan sangat keras. Tapi, setelah saya memeriksa nona Ginny, tidak ada luka maupun goresan," katanya. "Saya dengar kalau nona Ginny sempat menghilang?" "Iya." "Mmm, saya tidak begitu yakin untuk mengatakan ini. Tapi, saya rasa nona Ginny mendapatkan tindak k*******n dari seseorang." "Apa?" "Luka seperti itu juga bisa disebabkan oleh pukulan benda metal. Dan membutuhkan tenaga yang kuat untuk mematahkan tulang rongga dada." "Jadi.. Menurut Anda Gin benar-benar diculik? Dan pelakunya adalah seorang laki-laki?" "Anda harus segera melaporkannya pada pihak yang berwajib." *** Mendesah panjang. Hanya itu yang dapat dilakukan Rey, ketika mengingat penjelasan dokter. Duduk. Menatap Gin yang belum membuka matanya. Rasa bersalah yang mendalam, karena membiarkan Gin pulang seorang diri waktu itu, terus menghantui pikirannya. Membenamkan kepala pada bibir ranjang. Dengan jemari yang masih mengunci jemari Gin. Ia merasakan Gin membalas genggamannya. Bergerak perlahan. Semakin membuat rasa bersalahnya kian melebar. Oh, tunggu sebentar. Gin membalas genggamannya? Jemari Gin bergerak? Rey segera menarik lehernya naik. Menatap Gin. Menatap mata Gin yang sayup-sayup mulai terbuka. "Gin! Kau sudah sadar? Oh, syukurlah!" Rasa Lega dan bersyukur telah tergambar jelas dari intonasi bicaranya. Ditambah, senyuman yang mengembang di wajah tampannya. Ia bergegas melepaskan genggamannya. Berlari ke luar. Sepersekian menit kemudian, ia kembali bersama seorang dokter dan perawat. Gin hanya melihat sekitar dengan pandangan lemah. Sang dokter mengeluarkan senter kecil dari saku jubah putihnya. Mendekat pada Gin. Menyalakan senter. Memeriksa bola mata Gin. Mematikan senter. Kembali memasukkannya ke dalam saku. "Nona Gin? Anda dapat mendengar saya?" tanya Dokter. Leher Gin perlahan bergerak ke kiri. Memandang dokter tersebut. Mengangguk samar. "Kalau begitu, saya akan mengajukan sedikit pertanyaan kepada Anda," katanya. "Siapa nama Anda? Dan berapa usia Anda?" "Ginny Mayer. Dua puluh sembilan tahun." Suara Gin masih terdengar serak. Lemas. "Keadaannya cukup stabil. Tapi, ia tidak boleh terlalu banyak bergerak. Luka jahitnya belum mengering. Dan untuk satu hari ini, biarkan dia berpuasa." "Terima kasih, Dokter," kata Rey. "Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi tugas saya. Ah, dan juga.. Nona Ginny masih akan dirawat selama satu minggu disini." "Baik, saya mengerti." Setelah penjelasan yang cukup singkat dan sekali lagi melegakan bagi Rey, keduanya segera keluar dari ruangan. "Kau baik-baik saja?" tanya Rey, duduk di tepi ranjang. Mengusap tangan Gin yang berbalut jarum infus. "Kau sudah mendengar penjelasan dari dokter, bukan?" Senyum simpul Rey menyambut. "Aku hanya ingin memastikan." "Jangan khawatir. Aku tidak mati." "Hei, kau tak tahu aku sangat mengkhawatirkanmu?! Untuk minum saja aku gugup!" Gin hanya tersenyum. "Tapi, Rey.. Kenapa aku bisa disini? Dan kenapa aku di operasi?" "I-itu hanya operasi kecil. Jangan cemas. Kau akan segera pulih." Anggukan Gin menjawab. Seolah tak mempedulikan lukanya. Ia mengedarkan pandangan. Mengamati kamar yang dua kali lipat lebih besar dari ruang tamu rumahnya. "Wah, tempat ini sangat besar. Rey, apa kamar ini tidak terlalu mahal? Kau tahu kan aku harus berhemat." "HOI!" bentak Rey. Seketika pandangan Gin terarah padanya. "Kau masih memikirkan biayanya? Dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan hal itu?" "Bukan seperti itu. Tapi-" "Kau tak perlu khawatir soal biaya. Aku yang menanggungnya." "Rey.." "Jangan berdebat lagi. Lebih baik kau ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba muncul dengan terluka parah?" tanya Rey. "Kau.. Diculik?" Gin mendengus singkat. Menarik sudut bibir keatas. "Kau ini bicara apa? Aku hanya pergi beberapa jam. Itu bisa dikatakan penculikan?" Kernyitan pada dua alis Rey terbentuk. "Apa?" katanya. "Gin.. Kau menghilang selama enam hari! Bahkan aku dan bibi telah melaporkan kehilanganmu! Kau tahu? Media menggila begitu tahu kau ditemukan di jembatan itu!" Gin terperangah. Tatapannya membeku. "Rey, bantu aku duduk." Rey memutar tuas yang berada di ujung ranjang. Membuat ranjang berposisi setengah berdiri. "Aku menghilang selama enam hari?" Anggukan pasti dari Rey menjawab. "Kau tidak sedang bercanda, bukan? Karena itu tidak lucu sama sekali." Jari telunjuk Rey, mengarah pada wajahnya sendiri. Memutarnya searah jarum jam. "Apa aku terlihat sedang bercanda?" "Aku rasa tidak," katanya. Tersenyum kecut. "Tapi, itu sungguh aneh. Aku sangat yakin hanya beberapa jam disana. Tapi, kenapa-" Tiba-tiba Gin terdiam. Berpikir. Bola matanya berputar. Perlahan. "Apa mungkin ada perbedaan waktu? Aku yakin disana hanya.. Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Aku yakin hanya enam jam saja disana?" katanya dalam hati. "Tidak mungkin.. Satu jam disana sama dengan satu hari disini?" "Gin.. Gin!" Panggilan dari Rey membuyarkan spekulasinya. "Ah, ada apa?" "Apa yang kau pikirkan?" "Tidak. Bukan apa-apa." "Sekarang katakan padaku. Kemana kau selama enam hari? Dan kenapa kau kembali muncul di jembatan itu?" "Kembali?" kata Gin. "Kau.. Melihatku?" Rey mendesah singkat. "Aku.. Melihat kau tiba-tiba menghilang waktu itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN