"Mas, ini sekali seumur hidup. May pengen yang benar-benar nggak terlupakan." Ini perdebatan kesekian kalinya antara aku dan Mas Graha. Di kepalaku sudah terbayang pesta pernikahan dengan nuansa putih seperti yang sudah menjadi impianku. Pesta kebun dan ribuan undangan. Tidak ada yang salah, kan dengan impianku. Lagipula aku juga tidak berniat mengulangnya, cukup sekali saja. "Sekarang musim hujan, May. Kalau outdoor bisa-bisa nanti nggak ada undangan yang datang." "Artinya Mas ngedoain pas acaranya hujan," kataku kesal. Tidak pernah ada kata sepakat, selalu saja Mas Graha mengomentari apa yang aku inginkan. "Bukan begitu, Mas cuma memikirkan keadaan terjeleknya aja. Kalau di gedung, kan aman, nggak perlu takut hujan," sahut Mas Graha. "Kemarin Mas bilang, semuanya terserah May. Sekar

