Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Tidak juga dengan hubunganku yang sebelumnya. Ada semacam perasaan yang dilambungkan dengan tinggi, bercampur antara bahagia dan haru. Aku tidak menyangka hal ini akan diucapkan Mas Graha padaku. "May," panggil Mas Graha kemudian. Dari tadi aku cuma terdiam, bukan karena tidak suka dengan apa yang barusan dikatakannya. Tapi sebenarnya sedang menenangkan perasaanku yang terlalu bahagia. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa, semuanya serba tiba-tiba. "Kenapa jadi diam?" tanyanya. Kenapa sekarang hanya mendengar suaranya saja sudah membuat aku jadi salah tingkah. "Ng...itu...Mas serius?" Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku menunduk sambil pura-pura membetulkan seat belt-ku. "Bukan itu yang pengen Mas dengar." Dia malah tidak m

