22. Pembalasan

1015 Kata

"Mas...," panggilku pelan. Mas Graha masih tidak bergerak. Apa suaraku terlalu kecil? "Mas, nanti aja tidurnya. Kita makan dulu ya." Aku menyentuh lengannya perlahan. Perlahan Mas Graha menggerakan badannya, merespon panggilanku. Tanganku terus menggoyang-goyangkan lengan Mas Graha. "Mas...," panggilku sekali lagi. "Kenapa, May?" Akhirnya Mas Graha bangun juga. Suaranya terdengar serak. Dia membalikkan badannya, sehingga posisinya sekarang menyamping dan berhadapan langsung denganku. Mata Mas Graha masih terpejam. "Mas masih ngantuk, May," jawabnya dengan mata terpejam. "Ini sudah siang, Mas. May pesanin makan ya, kita makannya di kamar aja," kataku. "Kepala Mas pusing," katanya dengan nada kesakitan. "Agak hangat." Aku menempelkan tanganku di keningnya. "Mas kecapean kali,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN