Dibalik Sebuah Keputusan

1126 Kata
.Bahwa suaminya menikah lagi dengan wanita lain menjadi ujian baginya, jika dia bersabar akan hal itu, maka dia akan mendapatkan pahala sabar dari ujian tersebut, sebagaimana firman Alloh: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar: 10) Aku meneteskan air matanya, rasanya sangat sakit. Tapi sudah menjadi suratan takdir seperti ini. Harusnya dia menerima permohonanku saat itu. Harusnya dia bersedia menikah saat itu. Bukan sekarang, saat aku sudah berusaha untuk berdamai dengan keadaanku. “Kita harus menyeleksi perempuan yang harus kamu nikahi mas,” kataku menyembunyikan perasaanku sebenarnya. Rendi menguyah nasinya saat kami makan malam, seakan tidak peduli dengan kata-kataku. “Jangan bilang kamu berubah pikiran,” sambil tertawa lirih. “Tidak perlu menyeleksi, aku sudah punya calonnya,” kata Rendi santai. Tentu saja itu membuat hatiku semakin ngilu. Bagaimana bisa lelaki yang menolak untuk menikah lagi kini punya calon istri yang siap untuk dinikahi. “Siapa?” tanyaku ragu. “Kau akan segera mengetahuinya,” kata Rendi kemudian melap mulutnya sebagai tanda bahwa dia baru saja menyelesaikan makannya. Aku menelan air liurku dengan berat. Seperti duri yang menusuk kerongkonganku. “Aku istirahat dulu,” kata Rendi kemudian tersenyum dan meninggalkanku yang masih terpaku menatapnya. Tiba-tiba aku takut kehilangan Rendi, aku takut dia lebih memilih bahagia bersama istri keduanya dibandingkan denganku. Aku mulai ragu pada perasaan Rendi. Aku takut dinomor duakan. Padahal aku yang memulai permainan ini.***&&&&*** Tepat di malam ahad, saat Rendi harusnya istirahat di rumah, menghabiskan waktu denganku, kali ini Rendi manfaatkan untuk makan malam bersama calon istrinya. Tentu saja dia memintaku untuk ikut, memberikan penilaian pada perempuan pilihannya. Rendi mengenakan kemeja biru yang dia sengaja lipat lengannya hingga siku. Terlihat santai dan keren. Aku bangga menjadi orang yang memiliki Rendi, dan sekarang aku ragu untuk bisa berbagi suami dengan perempuan lain. “Kau siap?” tanya Rendi saat aku selesai mengenakan hijabku. Aku mengangguk kemudian tersenyum. Rendi melengkungkan tangannya. Aku meraih sikunya dan berjalan tepat di sampingnya. Tidak lama lagi semua yang harusnya utuh menjadi milikku akan aku bagi dengan perempuan lain. Sebuah restourant mewah yang Rendi pilih untuk pertemuan kami. alunan musik, lilin di atas meja, serta pemandangan ibu kota lewat jendela restourant tersebut membuat suasana romantis. Andai saja kami hanya makan malam berdua, atau keadaan seperti inilah saat kami menikah dulu. Aku yakin pasti akan menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini. Rendi bangkit dari duduknya saat dari jauh ku lihat siluit perempuan berhijab, langkah yang berani, bentuk tubuh yang sempurna. Dan saat aku ingin ikut berdiri menyambutnya tiba-tiba kaki lemas, saat perempuan itu mendekat. Saat wajah dari gadis pilihanku begitu jelas di depan mataku dengan senyum merekah namun menghancurkan hatiku. “Nisa?” lirihku dengan bibir bergetar. Rendi menarik kursi yang ada di sampingnya dan mempersilahkan Nisa untuk duduk berhadapan denganku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Haruskah aku menertawakan takdir yang aku buat sendiri? Atau harus menangisinya sebelum semuanya semakin jauh melangkah. “Sebuah keputusan yang tepat jika memilih Nisa sebagai calon istriku,” kata Rendi membuka pembicaraan. “Apakah sejak dulu kau menyukai Nisa?” tanyaku ngelantur. “Ada apa denganmu?” Rendi malah balik bertanya. Mataku terasa panas, ingin sekali aku menangis dan membatalkan semuanya. Tetapi aku tidak bisa. Bahkan aku lebih memilih untuk berbagi suami dari pada merasakan rasa bersalah yang setiap saat datang menyiksaku. “Kenapa harus Nisa?” tanyaku lagi dengan bibir bergetar. “Karena hanya aku yang memahami keadaan rumah tangga kalian. Jangan menyakiti orang lain. Jangan melibatkan orang lain. Cukup aku yang menanggungnya,” kata Nisa sok bijak. “Benarkah?” kataku sedikit kasar kemudian menatapnya tajam. “Kenapa? Kau takut? Atau kau ingin mengakhirinya?” tantang Nisa. “Tidak,” jawabku tegas. “Kalian sahabat. Aku yakin kalian bisa saling memahami,” kata Rendi. “Ini pernikahan, bukan permainan apalagi jadi ajang bisnis,”kataku tegas. “Pernikahan adalah ikatan yang suci. Tidak mungkin kami mempermainkannya. Tidak mungkin kami melakukannya karena bisnis. Sebab pernikahan adalah penyempurna agama kami,” tegas Nisa. Aku hanya bisa diam, mencoba meresapi apa yang ada di balik dadaku. Mungkin aku akan lebih ikhlas jika perempuan yang ada di hadapanku bukan Nisa.***&&&*** Di seberang restourant kembang api memecahkan kesunyian, membuat langit gelap menjadi terang dan semua orang kagum melihatnya, termasuk aku. Dan dari jendela restourant itu terlihat kembang api yang bertuliskan WILL YOU MERRY ME? Disaat bersamaan Rendi mengeluarkan kotak cincin dan dengan berlutut di hadaan Nisa, Rendi mengucapkan kata yang sama. Nisa menutup mulutnya bahagia. Aku yakin sejak awal dia memimpikan lamaran yang lebih indah dari film-film romance yang selalu ditontonnya. Dan aku menatap iri adegan tersebut, miris melihat suamiku sendiri malah melamar perempuan lain. “Aku bersedia,” kata Nisa dengan wajah bahagia, Rendi lalu menyematkan cincin tersebut ke jemari Nisa diiringi oleh tepuk tangan semua orang yang ada di restourant. Aku seperti peran pembantu yang tidak pernah diharapkan dalam adegan mesra mereka. Tentu saja sakit. Sangat sakit. Tetapi aku harus menahannya.***&&&*** Prak Tamparan hangat mendarat di wajah Rendi. Dia hanya tertunduk. Ayahku bersama ibuku datang dan mengamuk setelah tahu bahwa Rendi melamar Nisa. “Kau hebat!!!” teriak ayahku. “Menikahi dua perempuan yang bersahabat bahkan mungkin sejak mereka dalam kandungan!! Mau taruh dimana wajah ayah jika bertemu warga kampung yang juga mengenal Nisa?!!” ayah terlihat sangat putus asa. Ibu berusaha tenangkan ayah dengan mengelur pundaknya. “Ini bukan pertama kalinya, aku membuat malu ayah. Bahkan pernah lebih buruk dari ini,” kataku dengan wajah angkuh. Dan berdiri disamping Rendi, mengenggam jemari Rendi. “Aku yang memaksanya untuk menikah dengan Nisa,” lanjutku yang membuat ayahku meradang. Ingin sekali dia mengcengkram tubuhku atau mungkin membunuhku agar aku tidak kembali membuatnya malu. “Anak kurang ajar!!!” teriaknya dengan tangan melayang dan siap untuk menamparku. Aku tersenyum jahat. “Harusnya kau mati saja!!” bentak ayak kemudian berbalik meninggalkan kami. ibu dengan wajah panik menatapku lalu berbalik mengejar ayah. Aku terduduk lemas sedangkan Rendi masih berdiri dengan wajah tertunduk. “Inikah yang kau inginkan?” gumam Rendi. “Kau tahu betul apa yang aku inginkan mas,” Kataku. “Harusnya kau jangan melibatkanku,” kata Rendi ngelantur. Aku menatap tajam ke arah Rendi. “Bagaimana bisa aku tidak melibatkanmu mas, padahal yang harusnya menikah adalah dirimu,” tegasku. “Harusnya kau bertanggung jawab dengan keputusan yang kau buat, tanpa harus menyakiti orang-orang disekitarmu,” kata Rendi. “Maaf mas,” kataku lirih. Aku merasa bersalah pada Rendi tetapi aku benar-benar tidak bisa menghentikan keputusanku untuk menikahkan suamiku dengan perempuan lain. “Apa hanya ini jalan menuju surga bagimu?” gumam Rendi yang membuatku tersentak. “Karena kau berharap imbalan surga dengan hidup poligami? Apa kau tidak takut, penyesalan dan tidak ikhlas malah akan membuat pahalamu hilang begitu saja dan yang tertinggal hanyalah rasa sakit karena harus membagi suami?” Rendi menatapku sejenak. Kata-kata Rendi tepat sasaran, menghujam jantungku. Rendi berbalik kemudian meninggalkanku yang sedang mereseapi perasaanku. Bayangan dosaku di masa lalu membuatku ketakutan menghadapi kematian. Bahkan baktiku sebagai seorang istri tidak akan pernah bisa membuat dosaku itu terhapuskan. Dan benar kini harapanku satu-satunya adalah poligami dimana janji Allah surga bagi istri yang ikhlas suaminya berpoligami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN