Mimpi Buruk

1181 Kata
“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6). “Rajam..” teriak para warga yang berjalan di gelapnya malam. Mereka mengunakan obor sebagai penerangnya. “Bunuh,” teriak yang lainnya. Lalu aku diseret mengikuti mereka yang berjalan menuju lapangan. Tentu saja aku meronta, berusaha untuk lepas namun tangan-tangan itu mengcengkramku dengan kuat, seakan tidak pernah rido jika aku lepas. Tatapan tajam bak pisau yang siap menikamku. Aku gemetaran, ketakutan. Haruskan aku mengakhiri hidup seperti ini? “Perempuan jalang,” teriak mereka. Aku semakin ketakutan ketika langkahku dipaksa berhenti di depan sebuah lapangan, di tengah lapangan orang-orang menggali tanah setinggi pinggang orang dewasa. Aku hanya bisa menangis, memohon sekalipun pada mereka aku yakin mereka tetap bergeming, bahkan suara tangisku terkalahkan oleh caci maki mereka yang seakan tidak pernah lelah untuk menghinaku. “Aku hanya korban. Itu perbuatannya,” teriakku, semua orang terdiam dan memperhatikan lelaki yang membelakangiku dan aku tunjuk itu. Lelaki yang aku tuduh sebagai orang yang memperkosaku. Lelaki itu berbalik, slow dan menatapku heran. Semua orang terbelalak, mengangga kemudian menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan menggeleng tidak percaya. “Ach..” teriakku saat terbangun dari mimpi burukku. Seluruh tubuhku berkeringat. Rendi tidak ada di tempat tidur. Dia pasti sedang sholat tahajjud. Dengan malas aku turun dari ranjang menuju kamar mandi, menangis sesengukan di dalam kamar mandi. Mimpi itu terus menghantuiku seakan memintaku untuk bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan dulu. “Aku telah merusak kebahagiaannya. Merusak masa depannya. Dan sekaranglah aku harus memperbaiki masa depannya,” gumamku kemudian menangis.****&&&***&*** Mimpi itu masih mempengaruhiku hingga saat pertemuan dengan Rendi dan Nisa, mereka menatapku heran yang lebih banyak diam dari pada bicara. “Bagaimana dengan gaun pengantinnya? yang ini pasti cocok denganmu?” Kata Rendi memperhatikan album baju pengantin. “Bagaimana menurutmu?” tanya Rendi padaku sambil memperlihatkannya. Aku hanya tersenyum kecut kemudian mengangguk. “Itu bagus. Nisa pasti terlihat cantik mengenakan pakaian pengantin itu,” kataku. “Kalau kau tidak bisa, kenapa tidak hentikan semuanya sampai disini? Kita sudah terlalu jauh melangkah,” bentak Nisa. Rendi tertunduk merasa bersalah. “Aku bisa,” kataku tegas. “Kau bohong,” tuntut Nisa. “Aku tidak bohong,” kataku lagi dengan sedikit penekanan. “Tetapi sejak tadi kau tidak fokus. Bahkan makanan kesukaanmu tidak kau sentuh, lalu kau bilang kau tidak bohong?” bentak Nisa dengan geraham beradu menahan marah. “Untung aku mau bekerja sama. Jika tidak mau kau akan terpuruk saat perempuan yang Rendi pilih benar-benar menuntut sebuah pernikahan,” lanjut Nisa. “Aku sudah memutuskan untuk membahagiakan Rendi. Dan aku tidak akan terpuruk hanya karena Rendi menikah,” tegasku. “Hentikan saja sekarang, jika tidak maka kau akan terluka lebih dalam dari ini,” kata Rendi kemudian bangkit dari duduknya. Dia pergi meninggalkan kami dalam keadaan marah besar. “Kau akan sadar betapa berharganya lelaki itu, saat dia sudah bersama yang lain,” kata Nisa. “Tidak perlu menunggu perempuan lain hadir dalam rumah tangga kami. bahkan jauh sebelum menikah aku sudah tahu betapa berharganya lelaki itu,” kataku tegas. “Lalu kenapa kau harus menyerahkannya pada perempuan lain?” tuntut Nisa. “Karena mutiara tidak akan pernah nampak indah jika harus sembunyi dibalik cangkang kerang,” kataku. “Kau akan menyesal,” kata Nisa kemudian meninggalkanku. Aku menarik nafas berat. Sejak dulu aku sudah menyesal, sejak dulu aku sudah terpuruk, dan akan semakin terpuruk jika aku tidak mengizinkannya untuk menikah. Bagaimana mungkin keputusan untuk poligama ini di hentikan, sedangkan mimpi itu semakin hari semakin kuat mengcengkram jiwaku, merasuki hatiku dan menganggu kehidupanku. Dan hanya inilah cara untuk mengusir mimpi buruk itu dari kehidupanku.***&&&*** Rendi hanya diam saat aku masuk kamar dan duduk di sampingnya. Aku tahu sekuat tenaga dia menahan amarahnya. Apapun yang terjadi Rendi hanya akan menjadi air yang akan selalu memadamkan api pertengkaran diantara kami. “Aku kira kau sudah bersedia menikah? Kenapa kau marah?” tanyaku hati-hati. “Aku setuju untuk menikah hanya untuk membuatmu sadar bahwa langkah ini salah. Aku ingin kau menyesal kemudian hentikan semua ini,” kata Rendi dengan suara serah. “Aku tidak akan menghentikannya apalagi menyesalinya,” kataku tegas. “Padahal Nisa sudah berkorban,” kata Rendi. “Maksudmu?” tanyaku heran. “Jika kau hentikan perbuatanmu secepatnya. Nisa tidak akan terseret lebih jauh. Dia sahabat yang baik, bahkan bersedia masuk dalam sandiwara pernikahan kedua ini,” kata Rendi dengan wajah putus asa. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku tahu betul siapa Nisa, dia sahabatku sejak kecil dan sejak kecil dia bermimpi dan berdoa untuk menjadi istri Rendi. Dan doa itu dia hentikan tepat saat aku dan Rendi terpaksa menikah. “Kau egois,” kata Rendi kemudian meninggalkanku. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku memejamkan mataku, bahkan saat mataku tidak sengaja terpejam maka bayangan mimpi buruk itu terus melintas di pelupuk mataku. Semakin hari semakin mengikatku bahkan membuatku tidak mampu untuk bernafas. Seperti menjemput kematian. Mereka diluar sana melihatku tegar. Mereka tidak tahu betapa luka ini terlalu dalam dan berdarah setiap malam tiba. Kegelapan terlalu mengerikan bagiku.***&&&&*** Aku duduk diam di depan ibu mertuaku. Sudah sekitar 30 menit dia menatapku tajam tanpa sekalipun berpaling. Aku salah tingkah, kadang menatapnya kadang pula mengalihkan pandanganku atau hanya sekedar tunduk. Tatapan intimidasi yang selalu mampu diberikan oleh ibu mertua. “Kau setuju suamimu menikah lagi?” tanya Bu Silva, ibu mertuaku. “Iya,” jawabku tegas. “Kalau seperti itu. Aku yang akan memilih perempuan untuknya. Aku tidak ingin dia salah memilih lagi,” kata Bu Silva. SALAH PILIH LAGI? Tentu saja bagi semua orang aku adalah pilihan yang salah untuk Rendi. “Setidaknya dia bisa menikah layaknya orang lain,” kata Bu Silva kemudian meninggalkanku. Aku ataupun Rendi tentu saja berharap pernikahan yang layak seperti yang lainnya. Bukan menikah terpaksa di depan warga dan ketua adat. Tidak ada perayaan, seumur hidup di kenang sebagai pengantin dadakan. Dan itu adalah kesalahanku. Bukan kesalahan Rendi.***&&&*** “Sejauh ini, ibuku sudah terlibat,” kata Rendi saat kami memilih untuk duduk di teras sambil menikmati indahnya malam. “Beliau ingin memilih gadis untuk kamu nikahi, semua keputusan kembali padamu, entah menikah dengan Nisa atau menikah dengan pilihan ibu,” kataku miris. “Pilihan ibu adalah Nisa,” kata Rendi yang membuat jantungku tiba-tiba nyaris berhenti berdetak. Aku diam. Membayangkan bahwa aku akan berbagi suami dengan sahabatku sendiri sungguh membuatku sedih. Aku ingin berbagi Rendi tapi bukan dengan Nisa. Bukan dengan seseorang yang tahu betul tentangku dan tentang rumah tanggaku. “Belum terlambat untuk berhenti, jangan sampai kau menyesal saat ijab Qabul telah dilafadzkan,” kata Rendi kemudian bangkit dari duduknya. “Kenapa selalu memintaku untuk berhenti,” tanyaku pada Rendi sebelum dia pergi meninggalkanku seperti biasanya. “Sebab pernikahan bukan permaian,” tekan Rendi. “Diluar sana banyak yang ingin poligami tetapi istrinya menentangnya,” kataku. “Tidak denganku. Aku tidak mampu untuk hidup adil. Aku tahu diriku sendiri. Sedangkan sebagai seorang pemimpin aku wajib untuk menjaga keluargaku dari api neraka,” kata Rendi membuatku terdiam. Aku mulai ragu dengan keputusanku untuk meminta Rendi untuk menikah. “Jangan salahkan aku jika nantinya pada pernikahan ini, aku tidak mampu memberikan keadilan, tidak mampu membahagiakan sesuai dengan harapanmu,” lanjut Rendi. “Aku sudah siap dengan semua konsekuensinya,” kataku tegas. “Aku tidak bisa untuk poligami, jika kau tetap memaksa, mengapa tidak kita akhiri pernikahan ini. Dan memulai pernikahan baru,” kata Rendi kemudian berlalu dari hadapanku. Aku tersentak. Tidak mungkin aku melepaskan lelaki yang aku harapkan menjadi imam di dunia dan akhirat untukku. Tidak mungkin aku mengakhiri pernikahan yang nyaris sempurna ini. Tidak mungkin. “Tidak mungkin,” teriakku histeris kemudian menangis tergugu.***&&&***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN