Rendi tidur dengan memunggungiku. Aku tahu bahwa matanya terpejam namun seutuhnya dia belum tidu. Hanya untuk menghindari percakapan yang menurutnya tidak penting karena itu dia bersikap seperti itu.
“Usiamu tidak muda lagi,” kataku kemudian merebahkan tubuhku di sampingnya. Dia bergeming. “Aku berharap garis keturunan mas berlanjut,” lanjutku. Rendi langsung berbalik menatapku. Matanya berkaca-kaca. Aku tersenyum melihatnya.
“Kau lelaki baik. Soleh dan tampan. Aku berharap bisa memberimu keturunan. Tetapi jika benihmu yang baik tidak bisa tumbuh di ladang yang tandus. Bukankah lebih baik menabur benih di ladang yang subur?” kataku lagi.
“Bisakah kegilaan ini dihentikan?”tanya Rendi dengan tetesan air mata tanpa suara tangis.
“Tidak bisa,” jawabku.
“Apa yang salah dengan rumah tangga kita, sampai kau bersikap seperti ini?” tanya Rendi.
“tidak ada yang salah dalam rumah tangga kita. Bahkan di mataku rumah tangga kita terlalu sempurna untuk kita jalani. Hanya saja kita harus menjalani pernikahan poligami ini,” jelasku.
“Kenapa harus?” tanya Rendi dengan suara serak. Aku menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Rendi. Aku tahu betul bahwa Rendi tidak pernah menangis selain di atas sajadah, bahkan saat ayahnya pergi meninggalkannya untuk wanita lain, Rendi tidak pernah menangis. Dan kali ini, dia benar-benar terluka dengan sikapku. Dia menunjukkan betapa rapuhnya dirinya. Dia menunjukkan betapa dalam cintanya untuk diriku.
“Karena ini untuk kebaikanmu, kebaikanku, kebaiikan rumah tangga kita,” kataku.
“Aku tidak mampu,” kata Rendi. “Aku tidak ingin orang lain terluka sepertiku. Aku tidak ingin kau mengalami apa yang ibuku alami dan anakku juga merasakan sakit yang aku alami,” lanjut Rendi.
“Tidak akan. Aku yang bersedia di madu. Dan nyaris mustahil mengharapkan keturunan dariku, karena itu anakmu akan bahagia sebab itu lahir dari rahim istri keduamu,” jelasku. “Aku melakukan ini bukan karena semata-mata mimpi buruk yang selalu menghantuiku, bukan pula karena masa lalu yang terus aku sesali, tetapi karena aku ingin kau memiliki keturunan dan hidup bahagia. Namun melepaskanmu begitu sulit bagiku,” lanjutku.
“Aku tidak ingin kita pisah,” kata Rendi kemudian menangis. Dia mendekatkan dahinya ke dahiku. Sesenguk di depanku. Dan aku tetap tidak akan menyerah dengan keputusanku meski melihatnya terluka seperti ini.***&&&&****
Bu Silva datang membawa contoh undangan, dia meletakkannya diatas meja ruang tamu kemudian duduk di sofa. Di depannya Rendi dan Nisa terlihat bingung. Aku yang baru menyiapkan minuman dan makanan ringan di dapur langsung keluar menemui mereka di ruang tamu.
“Wah pemilihan undangan,” kataku dengan wajah berseri kemudian duduk di samping Bu Silva. Rendi menatapku sinis sedangkan Nisa hanya terdiam. “Mau aku bantu untuk pilihkan?” tanyaku.
“Ini pernikahannya. Kau jangan terlibat,” sarkas Bu Silva.
“Aku hanya ingin membantu bu,” kataku.
“Bantu sesuatu yang seharusnya kamu bantu. Pemilihan gedung, baju pengantin dan undangan itu harus dilakukan oleh pengantin,” tegas Bu Silva. Aku hanya mengangguk kemudian tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihanku.
“Bagaimana menurut ibu jika aku pisah dengan Salma?” tanya Rendi. Nisa terkejut mendengarnya, dia langsung menatap Rendi dalam-dalam. Bu Silva nampak tidak terkejut, dia tersenyum kemenangan. Sedangkan aku hanya bisa menarik nafas untuk menenangkan hatiku yang berkecamuk.
“Terserah padamu. Jika itu menurutmu pilihan yang terbaik, ibu akan ikut keinginanmu,” kata Bu Silva. Aku tidak terkejut dengan kata-kata Bu Silva sebab sejak awal Bu Silva tidak pernah menyukaiku bahkan terkesan membuatku menderita dan terus berusaha untuk membuatku pisah dengan Rendi.
“Kenapa harus pisah jika kita bisa menjalaninya bersama,” kataku.
“Aku tidak bisa adil,” kata Rendi.
“Aku akan selalu mengalah pada Nisa. Akan selalu beranggapan diperlakukan adil,” kataku. Rendi menarik nafas berat dan menatapku dalam-dalam.
“Benarkah ini sudah tidak bisa dihentikan?” tanya Rendi.
“Tidak,” jawabku tegas.
“Baiklah kalau seperti itu. Mari kita jalani kehidupan sesuai dengan pilihanmu,” kata Rendi kemudian menarik beberapa contoh undangan kemudian memilihnya bersama Nisa. Aku berdiri meninggalkan mereka. Mungkin mereka butuh privacy untuk bisa bahagia. Mungkin mereka akan terluka jika beranggapan bahwa mereka bahagia diatas deritaku.***&&&***
Setelah insiden itu Rendi tidak pernah mempermasalahkan keputusan yang dia ambil. Seperti akan menikahi perempuan yang lama disayanginya, Rendi begitu menikmati persiapan pernikahannya. Selalu bersama Nisa memilih pakaian pengantin, gedung bahkan kue dan menu makanan lainnya. Rendi dan Nisa ingin pernikahan yang sempurna.
Rendi terlalu sibuk untuk urusan pernikahannya. Karena itu aku memilih menggantikan Rendi untuk berkunjung ke rumah Bu Silva sekedar untuk tahu keadaannya. Biasanya setiap bulan Rendi setidaknya sekali dia akan menghabiskan waktu dengan Bu Silva. Sayang tidak ingin Bu Silva kesepian saat Rendi sedang sibuk dengan urusan pernikahannya.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Bu SilVa saat melihatku datang dengan sekeranjang buah dan sekotak kue kesukaannya.
“Sekedar menjenguk ibu,” kataku. Tetapi saat akan masuk ke rumah mewah Bu Silva aku melihat sepatu Rendi disana.
“Rendi datang?” tanyaku. Bu Silva mengangguk.
“Bersama Nisa?” tanyaku lagi. Bu Silva lagi-lagi mengangguk. Aku tampak ragu.
“Kenapa? Kau tidak ingin masuk? Kau ingin menghindar? Atau kau tidak ingin sakit hati calon madumu ternyata bahagia dengan suamimu?” kata Bu Silva sarkas. Aku hanya tersenyum miris.
“Tidak kok bu, aku akan masuk. Menyaksikan kebahagiaan mereka,” kataku kemudian masuk melewati Bu Silva yang berdiri di dekat pintu masuk rumahnya.
“Mereka dimana?” tanyaku saat tiba di ruang keluarga.
“Sedang makan siang,” jawab Bu silva singkat kemudian duduk di sofa dengan gaya angkuhnya.
“Kalau begitu aku letakkan semua ini diatas meja saja,” kataku kemudian meletakkannya di meja yang ada di depan sofa yang Bu Silva duduki.
“Kenapa?” tanya Bu Silva lalu membuka majalah pernikahan tanpa peduli dengan keberadaanku. Tanpa dipersilahkan dudukpun aku duduk di sofa yang berhadapan dengan Bu Silva, aku tahu Bu Silva memang tidak pernah menganggapku ada.
“Aku hanya tidak ingin merusak nafsu makan mereka saat aku masuk ke ruang makan,” kataku.
“Baguslah jika kau tahu hal yang seperti itu,” lagi-lagi Bu Silva sarkas. Tetapi otak, hati dan telingaku sudah kebal dengan hal seperti itu.
Sudah tiga puluh menit aku menunggu tetapi Rendi dan Nisa belum juga keluar dari ruang makan. Bu Silva terlihat santai dan malah terkesan menertawakanku. Aku bangkit dari dudukku.
“Mau kemana kamu?” tanya Bu silva.
“Ke ruang makan, kenapa mereka makan terlalu lama?” tanyaku.
“Tidak ada masalah yang tidak selesai diatas meja makan. Karena itu mungkin mereka sedang membicarakan tentang pernikahan mereka,” kata Bu Silva. Aku tidak peduli dengan Bu Silva dan melangkah masuk ke ruang makan dan...
Jreng... jreng.. jreng..
Aku kecewa dengan apa yang aku dengar, aku lihat. Air mataku menetes. Aku tidak menyangka suami dan sahabatku melakukan semua itu. Prilaku diluar nalar yang tidak bisa aku pahami. Padahal mereka berdua adalah orang yang paling aku percaya di muka bumi ini melebihi diriku sendiri.***&&&&***