Kenyataan pahit

1173 Kata
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua. Aku berdiri mematung di belakang Rendi dan Nisa yang sedang menyantap makanan sambil berbincang-bincang. Kakiku seperti terpaku di lantai, lidahku kelu. Perlahan kakiku lemas hingga akhirnya jatuh tersungkur ke lantai dengan tangis yang sudah tidak bisa aku bendung. “Kau kenapa?” tanya Bu Silva. Cepat-cepat aku menghapus air mataku. Nisa dan Rendi berbalik menatapku heran. Aku hanya diam. Masalah ini tidak bisa aku bahas saat Bu Silva ada bersama kami. aku takut Bu Silva akan membatalkan pernikahan mereka. “Ada apa?” tanya Rendi yang dengan sigap langsung menolongku berdiri. Aku menggeleng, aku belum bisa berdiri. Aku ingin tenangkan hatiku agar memiliki kekuatan untuk bangkit kembali. “Salma,” gumam Nisa yang ikut membantuku. Lagi-lagi aku menggeleng kemudian berusaha tersenyum pada mereka. “Tidak usah sok kuat kamu,” kata Bu Silva kemudian meningalkan kami bertiga. “Bisa kita bicara diluar?” tanyaku kemudian menatap mereka silih berganti. Nisa dan Rendi saling menatap kemudian mengangguk setuju. Aku menarik nafas berat, menghapus sisa air mataku kemudian bangkit berdiri meski lututku masih gemetaran. “ada apa?” tanya Rendi dengan wajah panik. “Kamu sakit?” tanya Nisa. Aku menggeleng. “Sakit parah, karena itu kau memaksa suamimu untuk menikah lagi?” tuntut Nisa. “Kita tidak sedang syuting film, jangan drama deh,” kataku lalu berbalik meninggalkan mereka dengan langkah tertatih. Nisa dan Rendi saling tatap heran lalu melangkah mengikutiku. “Mau kemana kalian?” tanya Bu Silva saat Rendi dan Nisa melewatinya. Sedangkan aku yang sejak tadi melangkah keluar rumah tidak pernah ditanya oleh Bu Silva. “Keluar sebentar bu,” jawab Rendi. “Kalau hanya untuk mengikuti keinginan dia, tidak perlu,” kata Bu Silva menatapku. Aku berbalik menatap mereka yang masih ada di dalam rumah padahal sejak tadi aku sudah menunggu di teras rumah. “Maaf bu, kami keluar sebentar,” kata Nisa kemudian menarik lengan Rendi untuk mengikutinya. Aku sadar suatu saat aku memang tidak dibutuhkan dikeluarga ini. Seakan keberadaanku tidak penting dan lenyap begitu saja. Aku melangkah ke mobil Rendi dan duduk di jok belakang sedangkan Rendi dan Nisa duduk di jok depan. Saat menatap punggung mereka yang tegak menghadap jalan. Aku merinding, aku melihat mereka begitu serasi. Seperti pasangan yang sejak awal memang hadir untuk saling melengkapi. Berbeda denganku yang selalu membuat Rendi kelelahan dengan keluhan dan permitaanku selama ini. Aku menarik nafas berat lagi. Aku paling takut kehilangan Rendi, padahal beberapa waktu lalu aku paling yakin bahwa Rendi tidak akan berpaling dariku, tetap mencintaiku meski telah ada perempuan lain dalam hidupnya.***&&&*** Rendi membawa kami ke pantai, mungkin untuk menyegarkan hari kami yang sedang kusut, meski aku tidak begitu setuju dengan keputusannya. Rendi memilih sebuah kedai penjual kelapa muda, kami duduk di sebuah bangku sambil menatap laut lepas. Aku kembali menarik nafas berat, seperti menghembuskan beban yang begitu berat. Aku duduk di samping kanan Rendi sedangkan Nisa duduk di samping kiri Rendi. Miris melihat kenyataan tersebut. padahal selama ini jika kami jalan bertiga, maka aku akan duduk di tengah sebagai perisai antara Rendi dan Nisa. Dan mungkin suatu saat Nisa yang akan duduk di tengah sebagai perisai aku dan Rendi. Nisa dan Rendi menyeruput es kelapa muda dengan begitu nikmat. Tidak henti-hentinya mereka tersenyum sambil menatap lautan luas. Aku menatap mereka silih berganti. Untuk sejenak aku ingin mereka menikmati suasana sampai akhirnya kami membicarakan sesuatu yang sudah pasti membuat hati kami kusut. “Ada apa?’ tanya Rendi saat dia merasa puas menikmati suasana. “Menurut kalian. Pernikahan itu apa?” tanyaku. “Penyempurna agama,” kata Nisa tegas. “Sebagai tempat menunai amal. Ladang pahala,” kata Rendi. “Seperti itu pernikahan menurut kalian?” tanyaku mempertegas. Mereka mengangguk mengiyakan. “Tetapi mengapa kalian mengkhianati ikatan suci pernikahan ini?” tanyaku dengan suara serak menahan amarah. Ingin sekali aku berteriak dan memaki mereka tetapi aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri dan mereka. Di sekitar kami begitu banyak pasangan yang menikmati indahnya pantai. Cukup aku saja yang saat ini tidak bisa menikmati suasana sebab hatiku yang begitu mendidih melihat keadaan. “Kami tidak pernah mengkhianati ikatan pernikahan,” kata Nisa dengan wajah bingung. “Bagaimana bisa kami mengkhianati ikatan yang belum kami mulai?’ tanya Rendi dengan tatapan jengkel. “Kamu jangan bertingkah lagi. Kami sudah lelah terus saja mengikuti permainanmu,” ketus Rendi. “Belum terlambat jika kau menyesal dan ingin menghentikan pernikahan,” kata Nisa sedikit sinis. Aku tahu mereka sudah tidak tahan dengan tingkahku, namun kali ini mereka yang membuat masalah. “Kenapa kalian selalu ingin membatalkan pernikahan ini? Sejak awal kalian memang tidak punya niat untuk menikah,” kataku dengan tatapan tajam ke arah mereka. “Aku sangat ingin menikah dengan Rendi. Tentu saja kau tahu hal tersebut melebihi siapapun juga,” kata Nisa tegas. Aku menelan air liurku. Terkejut dengan kata-kata Nisa yang begitu berani mengungkapkan perasaannya di depan Rendi. Di depan suamiku yang selalu menolak untuk menikah lagi. “Lalu apa maksud percakapan kalian saat kalian sedang makan tadi,” kataku dengan bibir bergetar menahan tangis. Nisa dan Rendi saling tatap, mereka seakan mengisyarakat bahwa mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada yang salah dengan percakapan mereka. “Jangan buat kami bingung,” kata Rendi dengan tatapan tidak bersahabat. “Kami sudah lelah menghadapi tingkah kanak-kanakmu,” tegas Nisa. “kalian yang kekanak-kanakan. Kalian yang menjadikan pernikahan sebagai ajang bisnis dan merusak tujuan utama dari niat menikah tersebut. kalian yang hancurkan harapanku untuk mendapatkan pahala yang besar pada pernikahan kalian,” kataku dengan tetesan air mata. “Jangan selalu menyudutkan kami,” kata Nisa yang membuat aku dan Rendi tersentak. “Kau selalu menjadikan kami tameng untuk menutupi dosa-dosamu. Meminta kami menebus dosa tersebut. iyakan?” bentak Nisa. Beberapa pasang mata menatap ke arah kami tetapi Nisa seperti tidak peduli dengan keadaan. Nisa yang saat ini menatapku tajam, sedang marah besar dan aku tahu seperti apa Nisa jika sedang marah. Semua kekesalannya akan keluar dan membuatku terdiam karena merasa bersalah. “Kau selalu seperti itu. Menarik kesimpulan seenak hatimu. Sejak dulu selalu kekanak-kanakan,” bentak Nisa. “Kalau begitu jelaskan, agar aku mengerti dan tidak menuduh kalian,” bentakku kemudian berdiri dan menatap mereka dengan tatapan tajam. “Dari segi mana kau menilai kami merusak tujuan pernikahan dan menjadikannya ajang bisnis?” tanya Rendi. “Kalian menikah hanya untuk bisnis. Nisa akan membantumu keluar dari masalah keuangan perusahaanmu. Nisa yang cerdas dan kaya raya rela mengorbankan uang ratusan milyar hanya untuk menolongmu,” kataku sarkas. “Bukankah itu simbiosis mutualisme?” tanya Rendi sarkas. “Bukahkan sudah kewajibanku untuk membantu suamiku? Apa yang salah dengan bantuan itu? Toh dia adalah suamiku. Dan bukan berarti pernikahan kami adalah ajang bisnis. Jangan kebanyakan nonton drama kamu,” kata Nisa sarkas. “Apa salahnya seorang istri membantu?” tanya Rendi. Aku tersentak, seperti sebuah pukulan yang tepat sasaran. Aku terduduk dengan wajah pias. Aku salah tingkah. Aku yang salah. Aku yang selalu salah mengartikan keadaan. Tiba-tiba saja aku merasa takut Rendi benar-benar meninggalkanku. Sikap dewasa Nisa, kemampuannya untuk selalu membuat Rendi tenang serta bantuan yang tidak bisa aku berikan namun mampu diberikan oleh Nisa. Aku sangat takut, tiba-tiba bayangan mengerikan tentang kebahagiaan mereka di masa depan membuatku merinding. Haruskan aku mengakhiri semua ini? Haruskan aku menghentikan mereka menikah? Aku yang menggebu-gebu inginkan balasan surga untuk pernikahan mereka kini jadi ketakutan.***&&&****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN