Pakaianku tidak lagi utuh. Aku duduk sambil memeluk lututku sendiri. Tidak pernah terbayangkan hal mengerikan seperti ini terjadi padaku.
“Salma...” teriak orang-orang diluar gubuk reot tersebut.
“Salma..” aku mengabaikan teriakan tersebut. aku takut, aku hanya bisa menangis jangangkan untuk menyakut sekedar mengeluarkan suara karena tangisku saja itu hampir mustahil. Aku terus menangis. Aku mengutuki takdir buruk yang menimpaku.
Lalu lelaki itu menyeringai. Menatapku dengan tatapan yang memuakkan. Dia mendekat, aku meringkuk ketakutan. Dia mendekatkan bibir kotornya lalu mengecup dahiku. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku. Dan tepat saat itu, pintu gubuk terkuak. Warga yang membawa obor menatap terkejut, lelaki itu dengan satu hentakan melompati jendela gubuk dan berlari di tengah gelapnya malam.
“Perempuan laknat,” teriak warga.
“Kau sudah mengotori kampung kami,” teriak lainnya. Kemudian menyeretku tanpa ampun keluar dari gubuk reot yang baru minggu lalu kehilangan pemiliknya. Aku tahu bahwa kemarahan mereka memuncak karena nenek pemilik gubuk reot itu begitu dihormati oleh warga. Mereka tidak terima gubuk itu menjadi tempat m***m atau perbuatan buruk lainnya.
“ach...” teriakku saat tanganku seperti tersengat listrik. Aku terduduk. Dengan meraba-raba Rendi menyalakan lampu kamar kami dan menatapku dengan satu mata yang tertutup karena masih mengantuk. Dia kemudian berusaha beradaptasi dengan keadaan. Sedangkan aku nafasku memburu, aku ketakutan dan keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku.
“Mimpi buruk lagi?” tanya Rendi. Aku mengangguk. Rendi memeluk tubuhku berusaha untuk menenangkanku. Saat nafasku kembali normal dia melepaskan pelukannya kemudian keluar kamar dan kembali dengan segelas air putih.
“Minumlah,” kata Rendi. Tanganku gemetaran meraih air yang Rendi sodorkan. Saat gelas itu akan berpindah ke tanganku, getarannya semakin hebat. Rendi tidak melepaskan gelas itu bahkan membantuku untuk meminumnya. Aku menarik nafas sekedar membuat rasa ketakutan ini.
“Bagaimana jika hal ini terjadi saat aku bersama Nisa?” tanya Rendi dengan wajah cemas.
“Setelah kau menikah dan hidup bahagia. Aku yakin mimpi buruk ini akan terhenti,” kataku yakin.
“Kau begitu yakin dengan keputusanmu,” lirih Rendi.
“Bagaimana denganmu?” tanyaku. Rendi mencoba untuk tersenyum. Aku selalu sedih setiap melihat senyuman itu. Senyuman pasrah atas semua yang aku lakukan itu.
“Aku ragu dengan keputusan pernikahan ini,” kata Rendi dengan senyum memukau.
“Mengapa demikian?” tanyaku lagi.
“Kau tahu sendiri. Aku bukanlah orang yang bisa fokus melakukan banyak hal. Aku hanya bisa fokus melakukan satu hal. Dan jika harus memiliki dua istri, maka aku yakin salah satu diantara kalian akan terluka,” kata Rendi.
“Aku mengerti, dan aku siap untuk terluka,” kataku. Rendi meraih kepalaku dan meletakkannya di d**a bidangnya. Aku merasa tenang dalam pelukannya.***&&&&****
Aku menyiapkan makanan diatas meja. Rendi sudah siap dengan kemeja biru dan jas biru muda miliknya. Dia melangkah ke meja makan, kemudian meletakkan tasnya diatas meja. Dia lalu melanjutkan langkahnya mendekatiku kemudian mengecup mesra pipinya. Rendi tahu bahwa aku trauma setiap kali dahiku dikecup karena itu dia memilih untuk mengecup pipiku meski terkadang Rendi lupa dan mengecup dahiku. Tetapi saat ingat, dia akan berusaha untuk menghindari kecupan di dahiku.
“Aku pergi,” katanya kemudian berbalik meninggalkanku.
“Kenapa tidak sarapan dulu,” kataku. Dia sedang meraih tas yang dia letakkan diatas meja.
“Aku sudah terlambat,” jawabnya kemudian menyambar tasnya.
“Anggap saja kita sedang menikmati detik-detik kebersamaan kita secara utuh. Tanpa ada perempuan lain dalam kehidupan kita,” kataku. Langkah Rendi terhenti kemudian berbalik menatapku heran.
“Ada apa denganmu?” tanya Rendi heran.
“Tidak ada. Aku hanya ingin bersamamu untuk saat ini,” kataku tegas.
“Jangan kekanak-kanakan begitu,” kata Rendi.
“Aku tidak kanak-kanakan. Aku hanya ingin kau ada bersamaku. Itu bukanlah hal yang kekanak-kanakan,” kataku. Rendi lalu berbalik berjalan menuju meja makan, meletakkan tasnya di satu kursi tepat disamping dia duduk kemudian menyantap sarapan kami.
Uku..kukk
Rendi batuk, aku memberikannya air. Dia langsung meneguknya hingga habis. Lalu menyudahi makannya.
“Kenapa buru-buru?” tanyaku.
“Kau tahu aku terlambat,” kata Rendi kemudian bangkit dari duduknya.
“Aku hanya memintamu untuk sarapan, tidak lebih,” kataku.
“Kau kenapa aneh seperti ini?” tanya Rendi. Aku tersentak. Aku menyadari keanehan tersebut. tiba-tiba saja aku ingin Rendi selalu ada bersamaku. Tiba-tiba saja aku merasa kacau setiap kali menyadari Rendi tidak ada di sampingku.
“Jangan drama seperti ini. Mengerikan,” kata Rendi. “Padahal kau sendiri memintaku untuk menikahi perempuan lain. Dan ini belum terlambat jika kau memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini,” lanjut Rendi.
“Kenapa selalu mengungkit pembatalan pernikahan itu?” kataku dengan bibir bergetar.
“Sikapmu yang menunjukkan penolakan meski kau terus teriak akan ikhlas,” kata Rendi kemudian berbalik meninggalkanku.
Dia bukan Rendi yang aku kenal. Selama ini yang aku tahu bahwa Rendi akan berhenti sejenak menenangkanku saat gemuruh amarah menyerangku bahkan memutuskan untuk tidak masuk kerja sekedar untuk menenamiku yang sedang galau. Tetapi kali ini dia memilih menjauh. Selangkah dua langkah aku menyadari bahwa Rendi membuat jarak diantara kami. jarak yang dari hari ke hari akan semakin jelas.***&&&***
Aku mondar-mandir di teras, sesekali menatap jalanan. Sudah berulang kali aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 10 malam. Tetapi tanda-tanda Rendi pulang belum juga nampak. Beberapa kali aku menghubungi nomor telfonnya tetapi tidak aktif. Aku juga sudah menghubungi sekertarisnya dan dia mengatakan bahwa Rendi sudah pulang sejak tadi sore. Lalu kemana perginya? Aku takut terjadi sesuatu pada diri Rendi. Menghubungi Bu Silva bukanlah keputusan yang benar. Dia pasti akan memakiku sebagai istri yang tidak becus mengurus suami. Meski aku berjuang sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik pada Rendi.
Aku lelah mondar mandir, lalu aku putuskan duduk di lantai sambil terus menunggu Rendi. Tidak pernah sekalipun Rendi menghilang seperti ini, bahkan saat kami bertengkar hebat dia pasti kembali, karena ini adalah rumahnya. Surganya di dunia. Tempat untuk kembali yang nyaman baginya.
Aku menarik nafas berat dan memutuskan untuk mencari Rendi ke rumah Bu Silva. Saat tiba di rumah Bu Silva, asisten rumah tangganya bilang kalau Bu Silva belum pulang. Aku menunggu di ruang tamu sambil mengawasi mobil Bu Silva saat tiba di rumahnya.
Tidak berapa lama aku mendengar suara deru mobil. Aku melangkah keluar teras dan sangat terkejut menyaksikan Rendi keluar dari pintu kemudi mobil, lalu di jok sampingnya keluar Nisa dan di pintu belakang keluar Bu Silva. Aku tersenyum sinis menyaksikannya. Saat aku sedang pusing memikirkan keberadaan Rendi, yang aku saksikan malah adegan seperti ini. Sungguh menyayat hati.
Rendi menatapku dengan wajah tidak bersahabat. Bahkan dia mengendus kesal dan berjalan melewatiku. Begitupun halnya dengan Bu Silva dan Nisa. Seakan aku tidak ada, mereka masuk ke rumah tanpa sepatah katapun. Tanpa sadar air mataku mengalir. Sekarang aku sadar, ini hanyalah sebuah permulaan sakit hati, masih banyak sakit yang pasti lebih dari ini menungguku di depan sana. Dan jika saat ini aku terluka dalam maka aku yakin besok atau lusa luka itu bahkan akan semakin dalam dan membuatku tidak akan pernah berdiri menghadapi luka tersebut.