Aku menarik nafas berat. Kemudian berbalik berjalan mengikuti mereka. Aku tahu kali ini aku akan membuat kegaduhan, meski begitu aku tetap ingin permasalahan ini jelas.
“Apa segitu tidak berartinya aku sampai kalian bersikap seperti ini?” bentakku. Semua menghentikan langkahnya, berbalik dan menatapku dengan pandangan tidak bersahabat. Aku mempercepat langkahku kemudian berdiri di tengah-tengah mereka.
“Apa lagi kali ini?” tanya Nisa sinis.
“Bukankah mereka sudah memenuhi semua keinginanmu?” bentak Bu Silva.
“Kami lelah menghadapi sikapmu yang sensitif,” kata Rendi.
“Jangan lebay deh,” kata Nisa.
“Ratu drama banget,” ujar Bu Silva.
“Aku hanya ingin kalian hargai,” kataku berbata.
“Hanya karena kami lelah dan tidak bisa menemanimu kami menganggap kami tidak menghargaimu?” sarkas Bu Silva.
“Tapi-“ kata-kataku langsung dipotong oleh Rendi.
“Sudah cukup kami menjadi bonekamu. Menjalankan semua inginmu. Ini baru permulaan dan kau bilang kami tidak menghargaimu,” kata Rendi kemudian tertawa meremehkan. “Ke depannya, yakinlah bahwa kau semakin terluka sebab aku tidak bisa menjamin mampu untuk berbuat adil,” lanjut Rendi.
“Kau bilang akan ikhlas, kau bilang bisa terima itu semua, tetapi apa? Hanya karena masalah kecil kau perbesar-besarkan,” kata Nisa. Aku tertunduk malu. Apa yang mereka katakan itu benar tetapi ada satu sisi dalam hatiku yang sangat kuat menolak perlakuan mereka.
“Maaf,” kataku. Rendi kemudian melangkah mendekat kemudian mendekapku. Bisa aku rasakan cinta yang begitu besar dari seorang Rendi. Aku takut kehilangan cinta itu, tetapi untuk menghentikan pernikahan ini sudah tidak mungkin.
“Hari pernikahan sudah dekat. Semua orang merasakan apa yang kau rasakan. Jadi jangan bertingkah bahwa kau yang paling menderita dalam hal ini. Karena membatalkan pernikahan itu sudah mustahil,” bisik Rendi. Aku mengangguk.
“Aku tahu itu. Tetapi apakah tidak bisa aku mendapatkan perhatian lebih?” lirihku.
“Yang harusnya mendapat perhatian lebih saat ini adalah Nisa. Bisa kau bayangkan mentalnya menghadapi orang-orang. menjadi orang ketiga itu sungguh berat,” jelas Rendi. Aku kembali mengangguk kemudian melerai pelukannya.
“Maafkan aku,” kataku pada yang lain. “Aku hanya cemas sebab Rendi belum juga pulang dan tidak memberikan kabar. Belum lagi dia tidak bisa dihubungin. Maafkan aku yang bersikap berlebihan,” lanjutku. Nisa dan Bu Silva hanya mengendus kesal kemudian berbalik menuju kamar masing-masing. Bu Silva ke kamar utama sedangkan Nisa ke kamar tamu.
“Kau tidak pulang malam ini mas?” tanyaku pada Rendi saat kami tinggal berdua saja. Rendi menarik pergelangan tanganku kemudian mendudukkanku di sofa. Dia ikut duduk di sampingku. Mengenggam jemariku erat. Aku tersenyum, sikap Rendi akan selalu manis saat aku marah sehingga bisa meredam amarahku.
“Tidak, aku sedang sibuk dengan persiapan pernikahanku dengan Nisa. Meski ini pernikahan kedua bagiku, tetapi bagi Nisa inilah yang pertama dan aku ingin mempersiapkannya sesempurna mungkin. Aku tidak ingin mengecewakannya,” kata Rendi. Aku tertunduk menyembunyikan rasa sedihku, setelah sekian lama menikah dengan Rendi, ini untuk pertama kalinya kami tidur terpisah. Padahal Rendi tahu betul kalau aku tidak bisa tidur sendirian. Aku terlalu cemas mimpi buruk itu terus menyerangku.
“Aku mencintaimu karena Allah,” bisik Rendi saat melihatku melamun. Aku tersenyum mendengarnya. Dan seakan kata-kata itu menguatkanku untuk melangkah pergi meninggalkan rumah Bu Silva. Aku harus terbiasa tanpa Rendi, mulai saat ini. Dan aku harus bisa menepati kata-kataku untuk selalu ikhlas menerima garis kehidupanku.***&&&***
Semua lampu seluruh ruangan di rumahku aku nyalakan. Saat seperti ini aku merasa menyesal menolak asisten rumah tangga yang selalu Rendi tawarkan. Aku merasa ketakutan. Hanya bisa meringkuk di dalam kamar tidur. Menatap sekeliling dengan berbagai imajinasi buruk.
“Bagaimana jika ada perampok?” gumamku semakin ketakutan. Beberapa kali aku menghubungi Rendi tetapi nomor handphonenya tidak pernah aktif. Mustahil jika aku harus kembali ke rumah Bu Silva. Tengah malam seperti ini, aku yakin lebih berbahaya keluar dibandingkan tetap tinggal di rumah. Tidak sekalipun kantur menyerangku. Bahkan bisa aku rasakan mataku semakin terbelalak mengawasi di sekitarku.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Suara kokok ayam menderu-deru. Aku menarik nafas berat. Aku lemas. Aku berusaha untuk membaringkan tubuhku di tempat tidur. Setidaknya aku ingin terlelap namun hasilnya sama saja. Pikiran buruk itu sudah menghilang mungkin karena aku terlalu lelah. Tetapi tetap saja aku tidak bisa terpejam. Mungkin selama ini kami selalu tidur dengan cara saling mengenggam jemari kami. tetapi kali ini aku harus tidur sendirian tanpa Rendi di sisiku. Bahkan selama ini setiap kali Rendi harus keluar daerah maka Rendi pasti membawaku ikut bersamanya.***&&&&***
Mentari sayup-sayup masuk ke dalam kamarku melalui tirai jendela kamarku. Setelah sholat subuh aku berusaha untuk tidur, menyakinkan diriku bahwa orang-orang sudah beraktifitas dan akan mendengar ketika aku teriak nanti. Tetapi hasilnya tetap sama. Aku tidak mampu terlelap. Aku bangun dengan malas-malasan, kemudian ke kamar mandi sekedar membersihkan diri lalu memakai pakaian yang akan aku gunakan di acara resepsi pernikahan Rendi dan Nisa nanti siang. Setelah siap aku langsung ke rumah Bu Silva dan kami akan berangkat ke gedung pernikahan bersama.
“Wajahmu terlalu pucat. Aku takut dipikirnya orang-orang bahwa aku sudah mendzolimimu,” kata Nisa kemudian memoles mukaku dengan make up. Aku tersenyum.
“Aku berharap kita akan tetap rukun seperti ini,” kataku Nisa mengangguk kemudian tersenyum. Namun tiba-tiba aku merasa asam lambungku naik dan aku berlari ke kamar mandi untuk muntah.
“Kau kenapa?” tanya Nisa panik.
“Aku sulit tidur semalam,” kataku dengan tawa renyah.
“Maaf,” kata Nisa.
“Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Sekarang kamu harus bersiap untuk acara pernikahanmu,” kataku. Nisa lalu bergegas pergi bersama Rendi. Sedangkan aku ke dapur untuk mencari makanan yang bisa meredakan mualku.
“Ini,” kata Bu Silva sambil menyodorkan buah jeruk. Aku menatap heran. “Jeruk bisa meredam mualmu,” lanjut Bu Silva.
“Terima kasih,” kataku kemudian meraih jeruk yang diberikan oleh Bu Silva.****&&&&
Aku menatap gedung yang Rendi dan Nisa pilih untuk dijadikan resepsi pernikahannya. Tidak bisa aku pungkiri bahwa ada rasa iri menyelimuti hatiku. Aku juga ingin mengadakan resepsi pernikahan semegah ini. Hanya saja itu sudah menjadi impian yang mustahil terwujud.
Disatu sudut ruangan aku menatap Rendi di depan. Dengan punggung tegap dan tangan yang tertaut dengan sang penghulu. Bahkan dari belakang Rendi tampak begitu sempurna. Meski ini pernikahan yang kedua bagi Rendi tetapi setidaknya Rendi bisa menikah secara layak. Perempuan yang dia nikahipun akan selalu membuat Rendi bagi. Tiba-tiba kepalaku pusing, tatapanku menjadi kabur dan perlahan gelap. Kakiku lemas dan tidak mampu menopang tubuhku. Akhirnya aku ambruk. Jatuh tidak berdaya di atas lantai yang terasa dingin. Perlahan mataku tertutup, aku pikir kantuk yang menyerangku begitu kuat, setelah itu aku sudah tidak tahu apa yang sedang terjadi selanjutnya.***&&&**