Aroma obat yang kuat menyeruak masuk ke dalam hidungku. Aroma itu pula yang perlahan mengembalikan kesadaranku. Aku membuka mataku perlahan dan berusaha beradaptasi dengan sekitarku. Ku temukan wajah cemas Rendi dan Nisa serta tatapan mengerikan dari Bu Silva.
“Akhirnya kamu siuman juga,” kata Rendi dengan wajah berbinar, meraih jemariku kemudian mengenggamnnya dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya. Beberapa kali dia mengecup punggung tanganku lalu mengecup lembut dahiku. “Terima kasih sayang,” lanjut Rendi. Aku heran dengan sikapnya. Apakah aku melewati masa kritis yang begitu panjang sehingga Rendi bisa sebahagia itu saat aku siuman? Tetapi jika melihat pakaian yang mereka kenakan. Pakaian itu masih sama dengan pakaian yang dikenakan saat ijab Qabul.
“Alhamdulillah, kau sudah siuma,” kata Nisa dengan wajah yang tidak bisa aku tafsirkan. Entah dia bahagia karena aku siuman atau sebenarnya dia kecewa, sebab mungkin dia berharap bisa memiliki Rendi seutuhnya.
“Kau pasti bahagia bisa mengacaukan pernikahan Nisa dan Rendi,” ketus Bu Silva.
“Bu.. Salma butuh istirahat, tidak perlu membahas yang lain,” kata Rendi.
“Mungkin menurut Salma ini hanya permainan tetapi tidak bagi kami orang tua. Tidak bagi keluarga besar kami,” geram Bu Silva.
“Jadi kalian belum menikah?” tanyaku ragu.
“Bukankah itu yang kamu harapkan?” sinis Bu Silva.
“Bu..-“ rengek Rendi.
“Aku ingin kalian menikah sekarang. Di hadapanku,” kataku.
“Tidak bisa,” tegas Nisa.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Karena kini kau memiliki sesuatu yang membuatmu mesti mempertahankan Rendi di sisimu. Karena kau harus menjaga keharmonisan rumah tanggamu,” kata Nisa membuatku bingung.
“Apapun itu. Tidak akan pernah membuatku menghentikan pernikahan kalian,” kataku tegas.
“Aku tidak percaya,” sinis Bu Silva.
“Aku serius. Cepat kalian menikah,” teriakku. Rendi tiba-tiba memelukku.
“Tenang,” bisik Rendi dan mengelus lembut punggungku. Aku heran namun selalu merasa damai dalam pelukannya.
“Jangan pernah membebani pikiranmu dengan hal seperti itu,” kata Nisa kemudian mengelus lembut pipiku. Nisa tersenyum namun aku menyaksikan air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Aku menatapnya heran.
“Kau akan menyesal dengan keputusanmu,” kata Bu Silva lalu pergi meninggalkan kami bertiga. Aku melerai pelukan Rendi dan menatap mereka satu persatu.
“Ada apa dengan kalian?” tanyaku heran.
“Kebahagiaanmu lebih penting dari apapun,” kata Nisa.
“Aku tahu pasti. Aku tahu kalian lebih mementingkan kebahagiaanku dibandingkan perasaan kalian sendiri, hentikan perbuatan kalian. Mari kita lanjutkan pernikahan kalian. Aku berani bersumpah, aku tidak sengaja membuat kacau pernikahan kalian. Aku mohon kalian menikah,” bujukku.
“Apa kau tidak ingin memberikan kebahagiaan sempurna pada anakmu?” tanya Nisa sambil tersenyum mengelus lembut perutku. Aku menepis tangan Nisa dengan kasar.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Ketimbang memaksakan pernikahan. Bukankah lebih baik menatap masa depan lebih indah?” gumam Nisa.
“Aku tidak mengerti dengan kata-katamu,” bentakku.
“Bayi dalam kandunganmu membutuhkan rumah tangga yang utuh,” ujar Rendi.
“Maksudmu?” tanyaku tidak percaya dengan kata-kata Rendi.
“Tepatnya kamu sedang hamil. Buah cinta kalian berdua,” kata Nisa. Membuat aku terperanjak. Aku menatap Rendi dan Nisa silih berganti. Rendi tersenyum lalu meninggalkan aku dan Nisa. Rendi selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk hadir dan pergi dalam kehidupanku. Karena itu cinta untuk Rendi begitu kuat.
“Maaf,” kataku setelah beberapa lama kami terdiam.
“Aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan hal ini,” lanjutku.
“Tentu saja kamu tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku dan kau bagai dua saudara yang tidak terpisahkan. Jadi jangan cemas. Aku tahu betul niatmu,” gumam Nisa.
“Terima kasih,” kataku.
“Aku bersyukur sebab pernikahan ini terhenti tepat waktu. Jika kita terlambat mengetahuinya, maka pernikahan ini sudah jauh melangkah dan melukai satu sama lain,” kata Nisa dengan wajah sedih.
“Aku minta maaf,” gumamku.
“Munafik jika aku mengatakan baik-baik saja setelah kehancuran pernikahanku di hari H. Tetapi aku juga tidak ingin kau terluka lebih dalam. Setidaknya dengan kehamilanmu menyadarkanmu betapa berartinya pernikahan ini bagimu,” kata Nisa.
“Bisakah kalian melanjutkan pernikahan ini?” tanyaku. Aku sendiri tidak tahu dari mana keberanian untuk mempertanyakan hal tersebut.
“Sudahlah. Hentikan semua itu,” kata Nisa.
“Seperti kata ibu. pernikahan ini tidak hanya melibatkan kau dan Rendi. Tetapi keluarga besar kalian,” kataku. Nisa menghela nafas berat. Aku tahu dia menahan diri untuk berdebat denganku. Nisa sangat berhati-hati padaku, apalagi tahu kalau aku sedang hamil. Dia pasti tidak ingin aku stress.
“jangan lagi kau ungkiy pernikahan ini,” ketus Nisa.
“Ini pasti akan mempengaruhi saham perusahaan kalian,” kataku tertunduk.
“Uang tidak lebih penting dari pada bayi dan dirimu,” kata Nisa.
“Tetapi bagiku pernikahan ini lebih penting dari apapun,”kataku. Nisa mengendus kesal kemudian berbalik melangkah menjauh dariku.
“Tolong pikirkan ini,” kataku. Nisa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar perawatan. Dia menghela nafas berat kemudian berbalik dan menatapku tajam.
“Tidak bisakah kau menanggalkan egomu? Setidaknya untuk bayi yang kini dalam kandunganmu,” kata Nisa lalu berbalik meninggalkanku. Aku hanya bisa tertunduk sedih.***&&&***
Sudah seminggu sejak kegagalan pernikahan Nisa dan Rendi. Setelah istirahat total di rumah sakit, akhirnya aku bisa pulang ke rumah. Aku terkejut saat menemukan rumah yang begitu bersih dan rapi.
“Kau sudah kerja keras mengurus rumah mas,” kataku kemudian menghempaskan tubuhku diatas sofa ruang tamu.
“Nyonya, perkenalkan. Aku adalah pembantu di rumah ini,” kata gadis belia yang aku tafsir berusia 20 tahun. Dia cantik, rambut kepang dua khas orang kampung, tubuhnya tinggi dan ramping, kulitnya putih namun pakaiannya ala kampung. Jika dipoles sedikit saja aku yakin dia seperti cinderellah dalam negeri dongeng.
“Kau masih perawan?” pertanyaanku membuat gadis itu terperanjat.
“Maksudku.. kau sudah menikah atau belum?” tanyaku terperangah.
“Belum nyonya,” katanya lembut.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Delia,” jawabnya dengan senyuman yang sangat manis.
“Kau masih perawankan?” tanyaku mencoba menyakinkan diriku.
“Tentu,” jawabnya dengan tatapan heran. Aku tersenyum mendengarnya.
Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa lepas dari keinginan untuk menikahkan Rendi dengan perempuan lain. Jika Nisa tidak bisa menikah dengan Rendi, mengapa tidak dia menikah dengan Delia. Yang penting bagiku Rendi bisa bahagia bagaimanapun caranya. Tiba-tiba aku menyadari diriku yang kini tidak sendiri. Ada seseorang di dalam tubuhku yang butuh perhatian. Kini aku bimbang apakah mempertahankan keutuhan rumah tangga benar-benar dibutuhkan oleh bayi dalam kandunganku?
“Apakah menurutmu hanya dengan mengikhlaskan aku menikah lagi, jalan satu-satunya bagimu untuk meraih surga-Nya?” tanya Rendi menyadarkanku dari lamunanku.
“Mas-“ kata-kataku terhenti. Aku tidak bisa menyangkal ataupun memberikan pembelaan. Sebab aku sendiri mulai meragukan keinginanku untuk membahagiakan Rendi dengan mengajaknya berpoligami.
“Hilangkan pikiran itu dari otakmu. Itu hanya akan membuatmu stress. Itu akan menyakiti anak kita,” kata Rendi lalu meninggalkanku sendirian. Mungkin Rendi ingin agar aku bisa memikirkan semuanya. Bisa mempertimbangkan segalanya. Dan berhenti untuk memaksa Rendi menikah lagi.***&&&***