Tiba-tiba saja aku ingin makan steak. Perasaan itu terlaku kuat untuk aku lawan. Bahkan saat aku mencoba untuk menghilangkan steka di pikiranku, rasa mual menyelimuti perutku, melilitnya hingga akhirnya aku memuntahkannya. Mungkin seperti inilah yang disebut ngidam. Aku mencoba untuk menggantikannya dengan makanan yang lain namun pada akhirnya, jangankan memakannya, untuk menghirup aromanya saja sudah membuatku mual dan muntah. Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus mewujudkan keinginan bayiku agar dia tetap sehat dan nyaman dalam lahirku hingga waktu untuk bertemu denganku di dunia tiba.
“Kau bisa buat steak Adelia?” tanyaku pada Adelia.
“Aku bisa membuatnya jika pernah merasakannya nyonya,” kata Adelia.
“Kalau begitu, aku akan mengajakmu makan diluar. Agar bisa membuatnya saat aku ingin memakannya,” kataku. Adelia mengangguk setuju dan melangkah di belakangku, mengikutiku.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku pada Adelia yang menatapku heran.
“Ikut dengan nyonya. Bukankah nyonya ingin mengajakku makan diluar?” tanya Adelia.
“Dengan pakaian seperti itu?” tanyaku dengan wajah heran.
“Kenapa dengan pakaianku nyonya?” tanya Adelia dengan tatapan polosnya.
“Orang akan beranggapan bahwa aku jalan dengan asisten rumah tanggaku,” kataku ketus.
“Memang itu kenyataannya nyonya,” jawab Adelia.
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai asisten rumah tangga. Aku menganggapmu sebagai teman,” ketusku lagi.
“Kalau begitu apa yang mesti aku lakukan nyonya?” tanyanya malu-malu.
“pilihlah pakaian di lemariku. Lalu berdandanlah,” kataku singkat kemudian kembali ke kamarku dan ikut bersiap.
Tiga puluh menit Adelia berdandan. Rasa jengkel menyelimutiku. Aku ingin marah dan teriak tetapi aku yakin itu hanya akan membuat Adelia ketakutan. Dan penantiaku selama tiga puluh menit sungguh berakhir dengan mengecewakan. Adelia muncul dengan wajah badutnya. Pakaian yang dia kenakan serta sepatu yang dia pilih sebenarnya cukup bagus dan serasi tetapi tidak dengan dandanannya yang begitu menor. Aku menarik nafas berat kemudian menarik lengannya untuk mengikutiku.
“Kau sungguh mengecewakan,” gumamku. “cuci mukaku,” lanjutku saat berada di depan wastafel. Setelah mencuci mukanya dan mengeringkannya, aku mencoba mendadani Adelia. Aku tidak suka melakukan ini sebelumnya. Aku lebih menyukai orang dengan wajah natural tanpa dandan sedikitpun. Tetapi kali ini berbeda. Perilakuku selalu berbanding terbalik dengan sebelumnya dan aku menganggap bahwa itu bawaan bayi.
Seperti yang diprediksi sebelumnya. Adelia memang cantik dan anggun. Apalagi aku sengaja memintanya untuk mengenakan hijab. Dia terlihat begitu mempesona.
“Kau cantik,” gumamku. Adelia tersipu malu.
“Aku tidak menyangka akan seperti ini nyonya,” kata Adelia. Aku tersenyum melihatnya.
“Kalau begitu kita siap untuk berangkat,” kataku sembari menjulurkan tanganku. Adelia tampak ragu. Aku meraih jemarinya kemudian mengenggamnya. Menarik tubuhnya agar melangkah di sampingku.
“Melangkah saja di sampingku. Jangan berjalan di belakangku,” kataku. Adelia gugup.
“Tetapi nyonya,” gumam Adelia.
“Aku bukan majikanmu. Aku temanmu, sahabatmu,” kataku. Adelia tersenyum kecut dan berusaha untuk bersikap wajar meski tetap terlihat tegang di mataku.***&&&&***
Aku dan Adelia turun dari taksi. Aroma daging langsung mengugah selera makanku. Aku menutup mataku, mencoba menghirupnya. Aku tersenyum. Bahkan dengan hanya menghirupnya aku sudah merasa sangat senang. Benarkah ini yang dinamakan ngidam? Sangat unik dan tentu saja berbeda dari biasanya.
Aku melangkah masuh ke restourant dan Adelia berusaha untuk menjejeri langkahku. Namun langkahku terhenti saat menyaksikan Nisa dan Rendi tertawa. Hal itu tiba-tiba saja melukai harga diriku. Dengan langkah gontai dan amarah yang tidak terbendung aku menghampiri mereka.
“Seperti ini kelakuan kalian di belakangku,” bentakku membuat Nisa dan Rendi berhenti tertawa dan orang-orang di sekitar kami menatap heran ke arah kami.
“Harusnya kalian malu,” kataku dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. “Kalian menjerit dan memohon untuk membatalkan pernikahan, melupakan keinginan untuk menyatukan kalian. Tetapi apa yang sedang kalian lakukan ini pengkhianatan. Aku lebih ikhlas jika kalai bertemu dengan sepengetahuanku,” teriakku.
“Apa aku harus memberitahumu jika aku harus bertemu dengan rekan kerjaku?’ tanya Rendi penuh penekanan namun berusaha untuk merendahkan suaranya.
“Aku tidak percaya bahwa ini hanya sebatas pertemuan bisnis. Tidak ada makan siang yang gratis,” gumamku. Rendi terlihat terkejut mendengar kata-kataku.
“Apa maksudmu?” bentak Nisa.
“Kalian tahu betul maksudku?’ teriakku.
“Kau mempermalukan diri sendiri,” teriak Nisa kemudian meninggalkanku. Rendi menatap kecewa ke arahku kemudian meninggalkanku begitu saja.***&&&***
“Berhenti mengatasnamakan perbuatan anehmu sebagai efek dari ngidam. Bahkan sebelum kau ngidam, kau sudah bersikap aneh,” kata Rendi saat aku berusaha menjelaskan bahwa aku sendiri tidak mampu mengendalikan amarahku yang meluap saat ini.
“Kau tidak percaya padaku?” tanyaku dengan linangan air mata.
“Itu semua terjadi karena kau jauh dari Allah,” kata Rendi kemudian menyodorkan Alquran padaku.
“Perbanyak sujud,” kata Rendi kemudian meninggalkanku yang berdiri mematung di dalam kamar.
Aku menarik nafas berat kemudian melangkah gontai meninggalkan kamar tidurku mengejar Rendi. Namun langkahku terhenti saat menyaksikan Rendi sedang berbicara dengan Adelia. Tiba-tiba aku merasa takut. Aku takut Rendi lebih merasa nyaman bersama Adelia dibandingkan denganku.
“Apa yang kalian lakukan?” bentakku. Membuat Rendi mengendus kesal lalu pergi meninggalkan rumah. Aku ingin mengejarnya namun langkah Rendi terlalu panjang dan meninggalkanku saat aku tidak bisa menjejeri langkahnya.
“Kau sedang menggoda suamiku?” bentakku pada Adelia. Adelia terlihat pucat namun berusaha menantang tatapanku.
“Apa maksud nyonya?” tanyanya yang membuat amarahku semakin naik.
“Apa yang kalian bicarakan?” bentakku lagi.
“Apa nyonya tidak merasa bahwa ini sudah kelewatan?” tanya Adelia dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu?” bentakku.
“Bahkan jika nyonya curiga padaku. Dan merasa bahwa aku pantas dicurigai menggoda suami nyonya. Bukankah Nyonya harusnya percaya pada suami nyonya? Dia butuh kepercayaan nyonya. Dia butuh melonggarkan ikatan yang nyonya ikat padanya, percayalah pada suami nyonya,” kata-kata Adelia membuatku tersentak. Benarkan aku sudah sejauh itu? Benarkah aku mengcurigai semua orang yang dekat dengan suamiku. Adelia berbalik kemudian meninggalkanku begitu saja. Aku merasa terpuruk. Aku bingung benarkan ini ngidam atau memang aku yang tidak pernah bisa mengontrol emosiku. Jika aku bersikap seperti ini terus menerus, bisa dipastikan aku akan kehilangan segalanya termasuk Rendi.***&&&***
Aku tahu siapa Rendi. Tahu betul bagaimana karakter suamiku. Semarah apapun dia, dia tetap akan kembali ke rumah. Sebab rumah selalu menjadi tempat paling nyaman untuk kembali. Aku memutuskan untuk tidur di kamar lain. Memberikan ruang pada Rendi untuk merasa nyaman di rumah kami. mencoba tidak egois meski mengalah adalah hal yang paling sulit untuk aku lakukan. Tetapi kali ini demi mempertahankan rumah tangga kami, demi kenyamanan Rendi dan demi janin yang aku kandung, aku harus bisa mengalah. Demi kebaikan kami bersama, aku harus mengalah pada keegoisanku.***&&&&***