Mimpi Buruk Lagi

1108 Kata
Aku tersentak. Seketika aku terbangun dari mimpi burukku. Seluruh tubuhku terasa bergetar hebat. Ketakutan itu kembali muncul. Dan aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikannya. Aku pikir semua ini usai tepat saat aku dinyatakan hal, tetapi kenyataannya tidak. Bahkan mimpi buruk itu menyiksaku lebih dari sebelumnya. Aku menyeka keringat dingin yang mengguyur tubuhku. Nafasku ngos-ngosan tidak mampu untuk aku netralisir. Rendi yang terlelap di sampingku mampu merasakan aura yang tidak baik. Dia ikut terbangu. Rendi mencemaskanku. “Itu karena kamu tidur tanpa berdoa,” ujar Rendi. “Aku selalu berdoa. Mas tahu betul betapa mengerikan tidur di mataku. Agar aku bisa terlelap, aku gunakan waktu sejam hanya untuk berdoa,” rintihku kemudian menangis. Rendi memeluk pundakku. Dia menarik nafas berat seakan mengeluarkan beban yang begitu berat baginya. “Bagaimana jika kau menikah mas?” tanyaku hati-hati. “Lagi-lagi kau harus bahas tentang itu?”tanya Rendi dengan tatapan tajam. “Karena memang seharusnya kau bahagia dengan yang lain,” tegasku. “Itu bukan untuk kebahagiaanku. Bukan juga untuk menjalankan sunnah Rasul seperti yang selalu kamu katakan. Tetapi karena egomu. Karena kamu beranggapan bahwa itulah satu-satunya cara untuk hentikan mimpi burukmu,” kata Rendi dengan geraham beradu karena amarah. “Bukan mas. Bukan karena egoku. Tetapi karena rasa bersalah yang terus menghantuiku. Bahkan aku merasa bahwa pintu surga sudah tertutup untukku,” kataku dalam tangisku. “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah menyerah dari rahmat Allah,” kata Rendi lebih lembut dari sebelumnya. Dia memegang kedua pundakku lalu perlahan menggerakkannya agar tubuhku menghadap ke tubuh Rendi. Aku tertunduk. Tidak berani untuk menatap Rendi. Dan aku selalu percaya bahwa Rendi menderita bersamaku. Bahwa Rendi akan bahagia sepenuhnya dengan perempuan pilihannya. Namun untuk melepaskannya adalah hal yang mustahil bagiku. “Aku tidak menyerah pada rahmat Allah. Aku selalu berjuang untuk mendapatkannya meski dengan cara yang tidak biasa,” kataku. Rendi membelai lembut wajahku, mengelus rambutku. Menghapus air mataku kemudian tersenyum. “Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan poligami. Kau harus ingat bahwa ada seseorang yang harus kamu jaga. Dia buah cinta kita,” kata Rendi kemudian mengelus lembut perutku. “Dia membutuhkan perhatian lebih. Jadi ku mohon jangan melakukan sesuatu yang akan menyakitinya. Jaga dia baik-baik. Dia adalah anugerah terindah dalam hidup kita,” lanjut Rendi. Aku menangis tergugu. “Percayalah bahwa aku bahagia bersamamu. Aku mencintaimu karena Allah,” kata Rendi kemudian meraih tubuhku dan membenamkannya di d**a bidangnya. Tentu saja itu selalu memberikan kenyamanan dalam hatiku. “Ingat.. bukankah selama ini kau selalu berprasangka buruk pada Allah?” tanya Rendi yang membuatku tersentak. Aku melerai pelukannya kemudian menatap wajah Rendi yang tersenyum kemudian menyelus lembut rambutku. “Kau bilang benihku tidak akan tubuh dalam rahim tandusmu,” kata Rendi dengan senyum kemenangan. “Tetapi lihatlah. Apa yang terjadi,” lanjut Rendi dengan bangga. “Hanya dengan mengatakan kun fayakun. Maka semua akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Aku dan kau tidak akan mampu untuk mengcegahnya. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia" kata Rendi kemudian menarik nafas berat. “Jalani saja sesuai dengan ketetapannya. Jangan pernah mengeluh. Sebab hidup itu singkat. Nikmatilah,” kata Rendi kemudian mengecup lembut dahiku. Aku mengangguk. “Termasuk soal poligami. Coba kau pikirkan baik-baik. Seluruh semesta alam bekerja sama untuk mewujudkan pernikahanku dengan Nisa namun pada akhirnya Allah belum berkehendak dan hanya satu hentakan semuanya berakhir seperti ini,” kata Rendi. Aku tertunduk merasa bersalah. Tentu saja pembatalan pernikahan di hari H bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan keluarga besar Nisa mengutuk Nisa dan Rendi. Rendi mendekapku erat kemudian menjatuhkan tubuh kami diatas tempat tidur. Aku dan dia berharap mimpi buruk itu akan sirna saat dalam dekapannya.***&&&*** Akhir-akhir ini Rendi sangat sibuk. Dia pulang larut malam. Untungnya ada Adelia yang menemaniku di rumah, meski harus selalu berdebat dengannya yang lebih paham soal kampung dari pada kehidupan kota. Untuk mengusir kebosanan aku memutuskan untuk belanja buah, langkahku terhenti saat melihat Rendi dan Nisa jalan berdua dengan tawa menghiasi wajah mereka. Lagi-lagi aku merasa terkhianati. Aku ingin menelannya, aku ingin bersabar. Ingin pura-pura tidak melihatnya, namun aku tidak mampu. Dengan langkah gontai aku mengcegat mereka yang memasuki area parkir mall. “Jadi ini yang kalian lakukan? Sampai Rendi harus pulang larut malam?” kataku dengan mata yang memanas karena menahan tangis. “Lagi..lagi..lagi dan lagi kau mencurigai kami,” kata Nisa. “Bagaimana tidak curiga? Jika sikap kalian seperti ini,” bentakku. “Kami bertemu untuk membahas uang Nisa yang aku gunakan pada perusahaanku. Orang tua Nisa marah besar karena pembatalan pernikahan kami, bahkan meminta uang tersebut ditarik kembali,” jelas Rendi dengan putus asa. “Dan kami selalu bertemu untuk mencari jalan keluar,” lanjut Rendi. “Aku tidak percaya,” kataku. “Tentu saja kau tidak percaya. Kau krisis kepercayaan. Selama ini apa yang kau percayai hanyalah hal yang ingin kau percaya. Tidak pernah mencari tahu sebuah kebenaran. Praduga tak bersalah dan rasa nyaman yang diciptakannya yang membuatmu selalu bertahan dengan hal yang kau inginkan,” bentak Nisa dengan dagu terangkat. Aku tahu sikap Nisa jika berusaha tegar. Kali ini aku percaya bahwa mereka dalam masalah besar. Tidak perlu kata-kata. Aku mengerti bahasa tubuh mereka. Aku terdiam dan merasa bersalah pada mereka berdua. “Jangankan untuk merancang pernikahan kembali. Bahkan untuk bertemu sekalipun kami harus curi waktu. Saat pulang kerja. Di tengah keramaian sehingga kami bisa memberikan pembelaan,” jelas Rendi. “Dan semua itu terjadi karena ulahmu memaksa kami menikah. Tidak satupun orang tua yang akan mempercayai laki-laki yang sudah mencampakkan putrinya di hari pernikahannya. Jadi jangan kotori hati dan pikiranmu tentang kebersamaan kami. karena aku bukan tipe perempuan yang akan mengabaikan kedua orang tuaku untuk mempertahankan laki-laki yang aku inginkan,” tegas Nisa kemudian masuk ke mobilnya dan meninggalkanku yang masih tertunduk. Rendi meraih jemariku mengenggamnya erat seakan ingin mengaliri semangat ke dalamnya. Aku tersenyum menatap Rendi. lelaki yang tidak pernah menyerah terhadap sikap kasarku. Lelaki yang selalu mempunyai kesabaran tambahan untuk menghadapi tingkah kekanak-kanakanku. Dan aku bersyukur dalam rahimku tumbuh benih dari lelaki sempurna sepertinya. “Kau mau kemana?” tanya Rendi saat aku mulai tenang. “Membeli buah,” kataku. “Kalau begitu, aku temani,” kata Rendi. aku hanya mengangguk. Dia merangkul pundakku mesra kemudian melangkah seakan menuntunku. Aku tersenyum. Perlakukan Rendi terhadapku seperti orang yang hamil tua dan butuh pertolongan. “Kau harus hati-hati. Jaga emosi dan jangan terlalu capek. Demi anak kita,” kata Rendi. aku mengangguk kemudian tersenyum bahagia. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Aku mulai sadar bahwa hanya karena semua terjadi tidak sesuai dengan inginku. Aku beranggapan bahwa Allah membenciku dan memberiku begitu berat cobaan. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN