Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Nisa tampak terkejut, namun dia berusaha menarik nafas berat untuk mengatasi keterkejutannya. Dia menarik bibirnya dengan paksa untuk mengukirkan senyum untukku saat aku datang menemuinya di kantor. aku tahu betul perasaannya. Rasa was-was atas amarahku yang tidak terkontrol, bayangan rasa malu jika itu benar-benar terjadi. Namun dibalik pikiran buruknya itu Nisa tetap menerima keberadaanku. Seperti Rendi yang selalu menerima keadaanku. Mereka dua orang yang aku cintai. Dua orang yang aku sayang.
“Tidak semua orang bisa memahami keputusanmu. Memahami dirimu. Aku dan Rendi bisa memahamimu karena kami sayang padamu,” kata Nisa yang duduk disofa kantornya. Kami saling berhadapan dimana meja sebagai pembatasnya.
“Tetapi tidak keluargaku, keluarga Rendi dan orang luar,” lanjut Nisa. “Mereka tidak akan bisa memahamimu dan menganggap semua itu kekanak-kanakan dan diluar akal sehat.”
“Aku mengerti,” kataku.
“Berhenti untuk selalu larut dalam masa lalu. Itu sudah berlalu. Dan kalaupun harus berbalik menatapnya, maka lakukan itu sekali-kali, saat kau benar-benar butuh pelajaran hidup. Yang harus kau lakukan saat ini menatap masa depanmu. Sampai kapan kau terbelenggu masa lalu. Dan tahukah kamu? Sikapmu itu bisa mempengaruhi perkembangan bayimu,” tegas Nisa.
“Terima kasih selalu ada untukku,” kataku berkaca-kaca. Nisa pindah tempat. Dia duduk di sampingku kemudian menangis bersamaku. Memelukku dalam isak tangis yang menenggelamkan kami berdua.
“Aku dan Rendi akan selalu ada untukmu,” kata Nisa. Aku mengangguk kemudian melerai pelukan kami. kami saling tatap kemudian tertawa dalam tangis kami.
“Aku akan berusaha menjadi lebih baik. Demi Rendi dan bayi dalam kandunganku ini,” kataku sambil mengelus lembut perutku.
“Kau sudah memeriksakan kehamilanmu?” tanya Nisa. Aku menggeleng.
“Lihat.. kamu terlalu sibuk untuk urusan yang tidak penting sehingga melupakan sesuatu yang lebih penting,” kata Nisa. Aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk setuju dengan kata-kata Nisa.
“Aku kenal betul siapa dirimu. Kau perempuan baik. Semua orang percaya akan hal itu. Perempuan yang bersinar dan sempurna di mata semua orang termasuk aku,” kata Nisa. “Jika sesuatu buruk terjadi padamu maka terima itu sebagai takdir burukmu. Itu ketetapan untukmu. Bukan perbuatan yang sengaja kau dekati. Jadi jangan salahkan dirimu. Hadapi dan terus melangkah ke depan. Semua akan berlalu, dan orang-orang yang mengenalmu tahu betul bahwa kau bukan perempuan yang buruk,” tegas Nisa. Aku mengangguk. Hanya kalimat itulah yang membuatku selama ini terus melangkah. Aku perempuan yang menjaga diri meski minim ilmu agama jika sesuatu yang buruk terjadi padaku itu bukan karena kesalahanku tetapi karena takdir sudah menetapkannya demikian.
“Kenapa harus aku?” tangisku pecah.
“Karena hanya kamu yang mampu. Jika ujian itu melandaku, Allah menilai aku tidak mampu. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Aku semakin meraung mendengar kata-kata Nisa.
“Menangislah.. keluarkan semua bebanmu. Ini hari terakhir kau menangisi semua itu. Setelahnya kau harus terima kenyataan hidup ini,” kata Nisa begitu tegas dan menatapku tanpa ampun. Aku benar-benar bahagia memiliki mereka berdua dalam hidupku.***&&&***
Menangis sejadi-jadinya benar-benar membuat hatiku plong. Selama ini aku hanya menangis tangis. Jikalaupun menangis pasti aku harus mengigit apapun untuk bisa meredamnya, minimal tidak menimbulkan suara saat aku menangis.
“Kau cantik,” goda Rendi saat kami sedang menikmati makan malam. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. “Aku benar-benar bahagia melihatmu kembali ceria seperti dulu, seperti sebelum kita menikah,” kata Rendi.
“Kau memperhatikanku dulu?” tanyaku serius.
“Tentu saja. Siapa yang tidak memperhatikan bunga desa sepertimu?” goda Rendi lagi.
“Bukankah kau lelaki yang menundukkan pandangan?” tanyaku penasaran.
“Tentu saja aku harus menjaga pandanganku dari sesuatu yang haram. Dari sesuatu yang bisa mengundang s*****t. Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara k*********a. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Tetapi tidak bisa dipungkiri orang-orang selalu membicarakanmu. Sedikit banyaknya aku bisa dengar dan mungkin tidak sengaja melihatmu disuatu sudut di desa kita,” kata Rendi dengan bibir mengembang menahan senyum. Aku mencibir.
“Seperti itu ya,” kataku tidak tertarik dengan penjelasan Rendi.
“Kau perempuan bersinar. Perempuan sempurna di mata semua orang,” kata Rendi membuatku tersentak. Kata-kata yang sama dengan Nisa dan aku tahu betul selain Nisa dan Rendi semua warga menganggapku seperti itu. Hanya aku saja yang selalu merendahkan diriku sendiri.
“Perempuan sempurna,” gumamku. Secepat kilat Rendi mengenggam jemariku. Aku tahu dia takut jika aku tiba-tiba marah atau kembali larut dalam kenangan masa lalu yang mengerikan.
“Sesungguhnya kami telah ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, itu firman Allah,” kata Rendi semakin mempererat genggamannya. Aku tersenyum menatap Rendi menarik jemariku dalam genggamannya kemudian kembali mengenggam jemarinya.
“Jangan cemaskan aku. Aku akan berusaha untuk untuk menghadapi masa depan dan melupakan masa lalu. Sebab kita punya dia disini,” kataku sambil menarik tangan Rendi dan menuntunnya ke arah perutku. Kami saling tata dan tersenyum bahagia.
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” ujar Rendi.
Aku akan selalu intropeksi diri. Berusaha sekuat tenaga agar bisa mengontrol emosi dan kecemasanku. Aku harus melawan itu semua, demi anak yang kini aku kandung. Buah cinta kami.
Allah menginginkan kemudahan kepadamu, dan Ia tidak menginginkan kesulitan terhadapmu.
Aku yang selalu mempersulit diriku. Aku yang selalu menganggap diriku paling kotor dan takut menghadapi kenyataan. Aku beranggapan semua orang membenciku disaat mereka berusaha menghujaniku dengan kasih sayang. Rasa cemas berlebihan, prasangka buruk pada orang-orang, benar-benar adalah sebuah penyakit yang baru aku sadari telah menggerogoti hatiku. Aku jauh dari Allah. Tidak menerima ketetapan-Nya dan menyalahkan semuanya pada takdir untuk bisa lepas dari permasalahan yang aku ciptakan sendiri.
“Alhamdulillah.” Kataku. Rendi tersenyum bahagia mendengarnya. Aku bahagia dan ini adalah langkah awal menuju kehidupan yang lebih indah. Aku yakin itu karena takdir Allah adalah yang terbaik untukku.
Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.**&&&**