Ketenangan

1015 Kata
Aku merasa lelah dan mengantuk. Tidak biasanya aku merasakan hal tersebut apalagi saat Rendi tidak bersamaku. Tetapi aku tidak melawan. Aku memilih untuk tidur. Ini demi anak dalam kandunganku. Aku butuh istirahat yang lebih. Suara adzan subuh bertalu-talu. Dengan perasaan segar aku bangun dari tidurku. Sedikit kaget sebab Rendi tidak ada di sampingku, namun sejak selesai sholat isya semalam, aku tertidur hingga kini sholat subuh tiba. Aku bergegas sholat subuh. Ada ketenangan yang aku rasakan. Nyaman dan juga perasaan yang berbeda dari biasanya. Suara mobil Rendi terdengar tepat setelah aku selesai membaca kitab suci Alquran. Dengan memakai mukena aku bergegas menjemputnya. Rendi berlari-lari kecil memasuki rumah kami. Rendi langsung memelukku. “Ada apa mas?” tanyaku heran. “Kamu bisa tidur? Maaf aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantor. sini mas temani kamu tidur,” kata Rendi sembari melerai pelukan kami. aku tersenyum dan mengcegahnya melangkah ke kamar. “Mas sudah sholat subuh?” tanyaku. “Sudah, jamaah di mesjid tadi,” kata Rendi. kembali menarik tanganku. Aku kembali menolaknya. “Mas ingin makan dulu?” tanyaku lagi. Dia menggeleng kemudian menarikku ke kamar. Kali ini aku tidak menolak. Aku mengikuti langkahnya. Rendi memintaku untuk berbaring dalam pelukannya dan tidak butuh waktu banyak untuk dia terlelap. Terlalu besar beban yang harus suamiku tanggung dan aku begitu kejamnya menambah beban tersebut.***&&&&*** Rendi hanya tidur sekitar tiga jam lalu bergegas kembali ke kantor. dia bahkan tidak bisa menikmati sarapannya. Aku takut Rendi melewatkan makan siangnya dan terus sibuk bekerja. Karena itu aku memutuskan untuk ke kantornya. “Kau tidak perlu menyiksa diri seperti ini jika kamu menikah dengan Nisa,” jemari yang siap memutar knop pintu ruangan Rendi terhenti saat mendengar suara Bu silva dari balik pintu itu. Aku menarik nafas berat. “Bu... kita tidak perlu membahas ini,” kata Rendi. “Kenapa?” tanya Bu Silva. “Keluarga Nisa tidak akan pernah menerima pernikahan ini. Tidak mungkin mereka mempercayai laki-laki yang merusak kepercayaan mereka,” kata Rendi. “Perbaiki kesalahanmu dengan menikahinya. Jika kau setuju. Ibu bisa yakinkan keluarga Nisa untuk menerimamu. Pikirkan itu,” kata Bu Silva. Aku segera sembunyi karena mendengar suara langkah kaki Bu Silva menuju pintu ruangan Rendi. Salahku memberikan peluang bagi keluarga ini retak. Padahal memang sejak awal Bu Silva tidak pernah menganggapku sebagai menantunya. Rendi menyambutku dengan senyuman saat melihatku datang membawa rantang makanan. Dia langsung menikmati makanan yang aku bawakan untuknya. “Kenapa kau sesibuk ini mas?” tanyaku saat Rendi selesai makan. “Ada proyek yang harus segera diselesaikan,” kata Rendi. “Apakah kamu harus mengembalikan uang keluarga Nisa?” tanyaku. Rendi tersenyum kecut. “Tidak adakah solusi lain?” tanyaku. “Sebenarnya pinjaman itu sejak awal aku ajukan ke keluarga Nisa. Bahkan pinjaman itu disetujui jauh sebelum kami merencanakan pernikahan. Tetapi karena terbentur masalah. Keluarga Nisa merasa dikecewakan dan meminta uang mereka dikembalikan,” jelas Rendi. “Kalian tidak punya kontrak utang piutang?” tanyaku penasaran. “Kami punya. Hanya saja jika aku memenuhi kontrak tersebut. hal yang lebih buruk bisa saja terjadi,” kata Rendi sambil menarik nafas berat. “Maafkan aku. Karena keegoisanku semuanya jadi seperti ini,” kataku. “Sudahlah.. jadikan ini sebagai pelajaran, tetap semangat jalani kehidupan. Insya Allah semuanya kita bisa lewati,” kata Rendi. “doa, Ikhtiar dan tawakkal adalah s*****a seorang mukmin,” lanjut Rendi. Dulu kata-kata Rendi tidak pernah aku anggap. Bahkan terkadang aku beranggapan bahwa Rendi terlalu fanatik pada agama kami ternyata pengetahuanku yang dangkal serta jauh dari Allah sehingga kata-kata Rendi tidak pernah masuk ke dalam hatiku. Namun kali ini aku percaya kata-kata Rendi. kami pasti bisa melewati semuanya. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Janji Allah itu pasti, tidak mungkin Allah menyelisihinya. Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan. Laa Haula Quwata illa billah (Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA). Aku meminta Nisa untuk menemuiku di sebuah cafe dekat kantornya. Aku takut salah satu karyawannya mengetahui bahwa aku dan Nisa tetap dekat. Takut mereka akan melaporkan pada keluarga Nisa dan akhirnya membuat masalah semakin runyam. “Tidak adakah jalan keluar untuk Rendi?” tanyaku pada Nisa. “Tentu saja ada. Jika Rendi bersedia tegas dan membawa semuanya ke jalur hukum dan memberikan pelajaran pada keluargaku. Bukannya ciut dengan menuruti keinginan mereka,” kata Nisa dengan tatapan marah. “Bukankah itu sama saja dengan menikam orang yang membantunya? Bukankah itu sama saja dengan kacang yang lupa kulitnya? Siapapun tidak akan melakukan hal yang kau inginkan, apalagi itu Rendi,” kataku. Nisa mengendus kesal. “Jika tidak demikian, tidak akan ada jalan lain,” kata Nisa cemas. “Pasti ada,” kataku yakin. Nisa menatapku sedih. “Aku tahu kalau semua karena perbuatanku. Terlalu kekanak-kanakan. Maaf,” kataku penuh penyesalan. “Jangan lagi ini membebanimu. Kaukan bilang semua pasti ada jalan keluarnya. Selalu ada pelangi setelah hujan,” kata Nisa kemudian berusaha untuk tersenyum. Aku mulai menyadari betapi Nisa dan Rendi berusaha untuk menjagaku. Berusaha agar aku tetap tenang dan seperti anak kecil, aku selalu ingin mereka menjagaku, memperhatikanku dan mencintaiku dengan tulus. “Kenapa kalian membatalkan pernikahan kalian?” tanyaku tiba-tiba. Aku penasaran mengapa mereka membatalkan pernikahannya. Mereka bisa saja melanjutkan pernikahannya dengan alasan nama baik keluarga dan aku bisa ditemani oleh beberapa tamu undangan ke rumah sakit. “Karena Rendi hanya mencintaimu. Mencintai karena Allah,” kata Nisa. “Bukankah yang akan kalian laksanakan adalah sunnah Rasulullah?” tanyaku heran. “Mungkin menurutmu itu bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah. Tetapi menurut Rendi, dia malah mungkin akan kufur nikmat. Akan menyakitimu dan menyakitiku. Menyakiti semua orang,” kata Nisa. “Apakah seberat itu poligami?” gumamku. “Lebih berat dari yang kau bayangkan,” tegas Nisa. “Tidak mungkin seberat itu,” gumamku. “Dengan mentalmu yang seperti ini. Pasti jauh lebih berat dari yang kita bayangkan. Akan lebih sulit menjalaninya. Kau pasti akan mempersulit semuanya. Menyusahkan semuanya dan pada akhirnya kau yang akan menganggap dirimu sebagai korban poligami. Korban ketidakadilan dan menghancurkan semuanya. Karena itu Rendi sempat memilih untuk cerai kemudian menikah lagi dibandingkan harus poligami,” jelas Nisa. Dan lagi-lagi semua pertimbangan tentang diriku. Selama ini aku selalu menganggap diriku korban, dan ingin memberikan kebahagiaan buat Rendi tetapi ternyata aku salah. Akulah biang dari setiap masalah yang timbul. Aku menatap Nisa lekat-lekat, wanita seperti dialah yang pantas untuk Rendi. yang akan berjalan di samping Rendi, sebagai penyeimbang dan memberikan ketenangan pada jiwa Rendi. bukan aku yang selalu memberikan keresahan dan kecemasan pada hati Rendi.***&&&***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN