Perjuangan

1087 Kata
Aku sudah berdamai dengan keadaan. Sudah melupakan masa lalu. Sesuatu yang melegakan. Tetapi saat aku sudah tidak dihantui oleh mimpi buruk. Kini aku harus berhadapan dengan kenyataan pahit kehidupan. Melihat dua orang yang aku cintai harus menderita karena ulahku membuatku ikut terluka. Karena itu aku memutuskan untuk menemui orang tua Nisa. “Kalian beranggapan bahwa pernikahan itu permaian?!” teriak ayah Nisa. Aku hanya diam dan tertunduk. Tidak ada yang bisa aku katakan untuk pernikahan tersebut. aku mengaku salah. “Apa yang kau inginkan?!” bentak ibu Nisa kemudian memegang kepalanya yang pusing. Aku dan ayah Nisa bergegas meraih tubuh ibu Nisa yang hampir ambruk ke lantai. Ayah Nisa membopong tubuh lemas ibu Nisa dan membawanya ke kamarnya. Aku sendiri hanya termenung melihatnya. Keegoisanku membuat keadaan semakin rumit dan tidak pernah terpikirkan tindakanku akan mengakibatkan hal yang sejauh ini. Aku terduduk di sofa ruang tamu. Orang tua Nisa selama ini sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Tetapi kali ini mereka benar-benar kecewa dengan perbuatanku dan tentunya kata maaf tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah yang aku timbulkan. Aku menatap ke arah kamar ibu Nisa, tidak berapa lama seorang asisten rumah tangga masuk ke kamar tersebut dengan membawa nampan berisikan air dan obat. Kemudian asisten rumah tangga tersebut keluar bersama dengan ayah Nisa yang terlihat sangat lemah. “Seperti inilah keluarga kami setelah pembatalan pernikahan tersebut,” kata ayah Nisa lemah kemudian duduk di hadapanku. Menatapku dalam-dalam. “Aku minta maaf om,” gumamku. “Minta maaf sekalipun tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan,” tegas ayah Nisa. “Aku tahu itu om, tetapi tetap saja aku harus meminta maaf,” kataku. “Setelah berkali-kali menolak lamaran orang lain, akhirnya Nisa memutuskan untuk menikah dengan Rendi. awalnya kami tentu saja menolak pemirntaan Nisa, tetapi Nisa begitu ngotot dan bilang tidak akan pernah menikah selain dengan Rendi,” jelas ayah Nisa. “Om sendiri tahu sejak kami kecil, Nisa memang menyukai Rendi,” kataku. “Sangat menyukainya. Kami sekeluarga tahu betul itu. Tetapi dia begitu tegar saat menyaksikan kau dan Rendi menikah,” kata ayah Nisa. Aku tertunduk merasa bersalah. “Sekali lagi aku meminta maaf om,” kataku. “Dan kami dikejutkan dengan keinginannya menikah dengan Rendi. berbagi suami dengan sahabatnya sendiri. Nisa menyakinkan kami bahwa dia bisa menjalani poligami sebab kau adalah sahabatnya. Selama ini apapun Nisa inginkan pasti kami turuti termasuk keinginannya untuk menikah dengan Rendi,” ujar ayah Nisa. “Kami kecewa, merasa dipermainkan saat Nisa memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Rendi,” lanjut ayah Nisa. “Semua itu salahku om,” kataku kemudian berlutut di hadapan ayah Nisa. Aku menangis. “Kenapa itu jadi salahmu?” tanya ayah Nisa. “Saat itu aku jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit,” kataku. “Dia bisa saja mengabaikan semua itu kemudian menikah. Bukankah kalian sudah sepakat untuk berbagi suami?” tanya ayah Nisa. “Iya, tetapi om tahu sendiri Nisa seperti apa. Dia terlalu baik, dia seperti Dewi yang sempurna. Tidak akan pernah bersedia bahagia diatas penderitaanku,” kataku. Ayah Nisa mengendus kesal. “Itulah ikatan kalian. Kadang om salut, namun terkadang om juga kecewa dengan tingkah kalian yang kekanak-kanakan,” ujar ayah Nisa. “Karena itu ampuni Nisa dan Rendi om. Jangan menghukum mereka dengan menarik utang piutang Rendi,” mohonku tetapi ayah Nisa hanya mengendus kesal. “Kalau kau datang hanya untuk itu. Om tidak bisa bantu. Om malu pada kolega om. Ibu Nisa sakit-sakitan karena masalah ini, tidak ada jalan untuk memperbaiki keadaan, dan kalian harus ikut merasakan perbuatan kalian,” kata ayah Nisa tegas kemudian meninggalkanku begitu saja yang berlutut bahkan hingga larut malam.***&&&&*** Aku pulang dengan keadaan lemah. Rendi menyambutku dengan menatapku dengan tatapan heran dan cemas. “Kau dari mana saja?” tanya Rendi lembut. “Aku bosan di rumah karena itu refreshing,” bohongku. “Sampai larut malam begitu?” tanyanya masih dengan wajah cemasnya. Aku hanya tersenyum menjawabnya. “Jangan terlalu lelah,” kata Rendi. aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum. “Kau ingin ke dokter kandungan besok? Kita periksakan keadaan janin kita,” kata Rendi. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyaku cemas. “Bisa diatur. Lagi pula proyeknya akan segera selesai dan kita bisa mengembalikan utangan yang diberikan oleh keluarga Nisa. Jangan cemaskan itu,” kata Rendi kemudian tersenyum menyembunyikan kecemasannya. “Kamu urus saja pekerjaanmu dulu. Soal ke dokter. Biar aku yang berangkat,” kataku tegas. “Sendirian?” tanya Rendi cemas. Aku menggeleng. “Dengan Nisa?” tanya Rendi lagi. Aku kembali menggeleng. “Lalu dengan siapa?” tanya Rendi penasaran. “Dengan bayi kita,” kataku sambil mengelus lembut perutku. Rendi ikut mengelusnya kemudian menuntunku masuk kamar dan mendudukkanku di pinggiran tempat tidur. “Tunggu sebentar,” kata Rendi lalu keluar kamar. Tidak berapa lama Rendi muncul dengan membawa baskom berisikan handuk dan air hangat. Rendi merendam kakiku dan menggosoknya lembut dengan handuk. “Kau tidak boleh lelah meski itu hanya untuk jalan-jalan. Ini bisa menyegarkanmu,” kata Rendi. aku mengangguk. “Betapa beruntungnya anak dalam kandunganku karena memiliki ayah yang perhatian sepertimu,” kataku. “Alhamdulillah,” kata Rendi. “Aku janji akan membantumu merawat bayi kita kelak saat dia lahir. Insya Allah,” lanjut Rendi. “Membantu istri adalah sunnah Rasul,” kataku. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat,” kata Rendi. “Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember”lanjut Rendi. “Meski kamu tidak mampu melaksanakan semua sunnah Rasulullah setidaknya kau mencoba melaksanakan apa yang kau bisa dan ketahui. Dan aku bersyukur kau jadi suamiku mas,” kataku pada Rendi. Rendi menatapku penuh kasih sayang. Bisa aku rasakan betapa berharganya aku dalam hidup Rendi. meski tidak bisa kami pungkiri bahwa cinta itu tumbuh setelah kami menikah. “Sudah menjadi kewajibanku untuk memperlakukanmu dengan baik istriku, Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” kata Rendi. “Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf. Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf. Kamu itu tulang rusukku yang selalu ada di samping, bukan di kepala untuk jadi atasaku, bukan pula di kaki untuk aku injak-injak. Tetapi selalu mendampingiku dalam suka maupun duka. Berjalan beriringan denganku,” lanjut Rendi dengan senyum bahagia. “anakku. Kau pasti sudah tidak sabar bertemu dengan ayahmu yang soleh. Tidak sabar untuk dibimbing olehnya,” kataku sambil mengelus lembut perutku. Rendi ikut mengelus lembut perutku. Aku menatap Rendi lekat-lekat. Semua orang mengatakan bahwa Rendi orang baik. Sedangkan kita semua yakin bahwa manusia adalah wali Allah di dunia. Jika 80% mengatakan bahwa manusia tersebut baik, maka bisa dipastikan bahwa memang manusia tersebut baik. Dan Rendi adalah salah satu manusia yang dinyatakan baik hampir oleh semua orang yang ditemuinya. Dan sebagai istri, aku bangga memiliki suami sepertinya.***&&&&***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN