Aku sedang bersiap ke dokter kandungan saat Bu Silva datang ke rumah mengamuk.
“Salma,” teriak Bu Silva. Aku yang sedang duduk di depan meja hias bergegas keluar kamar.
Prak
Tamparang Bu Silva membuat wajahku memanas. Seketika air mataku mengalir. Sikap Bu Silva kali ini sungguh sudah keterlaluan. Bahkan kedua orang tuaku tidak pernah memperlakukanku seburuk ini meski kesalahanku sangatlah besar.
“Ini yang kau inginkan?” bentak Bu Silva.
“Aku tidak mengerti maksud ibu,” kataku penuh penekanan meski aku tahu di depan Bu Silva aku tidak bisa meninggikan suaraku.
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
“Kau ingin menghancurkan kehidupan anakku,” teriak Bu Silva frustasi.
“Hancurkan hidup suamiku sendiri?” aku tertawa mengejek. “Sejahat apapun seorang istri. Tidak akan pernah mau menghancurkan suaminya sendiri,” lanjutku.
Bu Silva mengangkat tangannya siap untuk menamparku. Aku menatap tangan itu. Bu Silva membiarkan tangannya melayang di udara sambil terus menatapku jengkel. Aku menelan air liur getirku. Setelah sekian lama berumah tangga inilah insiden terparah dalam rumah tanggaku. Kapal yang aku tumpangi seolah oleng karena ombak besar yang menyerang.
“Kau pasti pernah mendengar Rendi mengatakan bahwa manusia itu kadang sebaik malaikat namun kadang bersikap serendah hewan. Dan inilah kau sekarang, serendah hewan sikapmu,” kata Bu Silva dengan mata berkaca-kaca.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
“Jelaskan semuanya bu. Aku tidak mengerti maksud ibu,” kataku mencoba selembut mungkin.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika anakku berakhir di penjara. Meski tanpa persetujuan Rendi, saat itu akan aku pastikan dia menceraikanmu,” kata Bu Silva lalu berbalik meninggalkanku.
Lututku gemetran, kakiku lemas dan tidak mampu menopang berat badanku. Aku jatuh terkulai di lantai.
“Tidak mungkin,” gumamku. Aku sendiri tidak akan pernah bisa memaafkan diriku jika Rendi berakhir di penjara. Benar-benar masalah ini terlalu jauh menenggelamkan rumah tangga kami.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus
sejak awal aku tidak pernah memurnikan niatku hanya untuk Allah. Aku hanya sembunyi dari kata sunnah Rasulullah. Padahal dibalik itu semua hanya untuk menghilangkan rasa bersalah yang setiap malam menghantuiku.
Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.
Dan inilah buah dari sika aroganku selama ini. Sikap ingin menang sendiri padahal sejak awal Rendi sudah menolak dengan berbagai pertimbangan yang selalu aku abaikan. Aku selalu merasa benar di hadapan Rendi. seorang seorang ratu yang selalu mampu menundukkan sang raja dengan mengatasnamakan cinta.
Aku menghapus air mataku. Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lewat mulutku. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini. Aku harus berjuang. Aku harus menyelesaikan masalah yang aku buat. Aku mencoba berdiri namun kakiku terasa berat. Bahkan dengan bantuan semua benda yang dapat aku raih di sekitarku tetap saja tubuhku tidak mampu untuk aku gerakkan. Ternyata aku selemah ini namun bersikap sok kuat di depan orang-orang. aku menangis histeris, mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatiku.
“Nyonya kenapa?” tanya Adelia yang entah kapan duduk di hadapanku.
“Bantu aku berdiri,” kataku. Adelia menganggauk. Dia meraih lenganku dan memapahku. Membantuku untuk berdiri dan berjalan menuju sofa.
“Terima kasih,” kataku lemas.
“Kenapa tidak ke kamar saja nyonya? Istirahat dulu, kasihan janin yang nyonya kandung,” kata Adelia dengan wajah cemas. Aku tersentak, aku baru ingat kalau aku sedang hamil dan tidak boleh egois. Aku harus mengutamakan bayi yang aku kandung untuk saat ini.
“Aku akan istirahat sejenak di sini, setelah itu aku akan menemui seseorang,” kataku lemas.
“Aku ambilkan minum dulu yang nyonya,” kata Adelia. Aku mengangguk. Adelia meninggalkanku sendiri. Aku menarik nafas berat, seperti ada sebongkah batu gunung yang menindih dadaku, membuatku sesak dan kesulitan untuk bernafas. Aku memukul-mukul lembut dadaku berharap rasa sesak itu segera menguap.
“Jangan seperti itu nyonya,” kata Adelia sembali mengenggam tanganku. Aku tersenyum. Adelia menyodorkan segelas air minum. Aku hanya meneguknya beberapa tegukan lalu menyimpannya diatas meja.
“Harus di elus lembut nyonya, bukannya di pukul,” kata Adelia kemudian mengelus lembut dadaku. “Terlalu berat bagi nyonya?” tanya Adelia.
“Tidak hanya berat, bahkan aku merasa sudah tidak mampu untuk mengangkat beban ini,” kataku dengan buliran air mata yang mengalir di kedua pipiku.
“Sabar nyonya,” kata Adelia sambil terus mengelus lembut dadaku.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Dan aku yakin Allah tidak akan meninggalkan kami dalam kesusahan sendirian.
Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Ya Allah, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.
Barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam menyerahkan (semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala) keperluannya.
Aku menarik tangan Adelia. Dia terkejut melihatnya. Aku tersenyum.
“Terima kasih. Aku sudah tidak apa-apa,” kataku menarik nafas berat. Sekarang bukan waktunya untuk lemah. Sekarang bukan waktunya untuk larut dalam masalah tanpa mencari solusi. Aku tahu saat ini Nisa dan Rendi sedang berjuang untuk menyelesaikan masalah ini.
Orang mukmin yang kuat (dalam iman dan tekadnya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing (dari keduanya) memiliki kebaikan, bersemangatlah (melakukan) hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah (selalu) pertolongan kepada Allah, serta janganlah (bersikap) lemah.
“Tetapi nyonya pucat,” kata Adelia.
“Aku akan dandan dulu. Baru berangkat,” kataku. Adelia terlihat ragu.
“tolong ambilkan bedak dan lipstik di kamarku,” perintahku. Adelia langsung bangkit dan melaksanakan tugasnya.
“Nyonya,” gumam Adelia sembari menyerahkan bedak dan lisptikku.
“Doakan yang terbaik untuk keluarga ini,” kataku kemudian memaksakan diri untuk tersenyum. Aku sedikit berdandan untuk menyembunyikan wajah pucatku.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Ya Tuhanku, lapangkan untukku dadaku, Dan mudahkanlah untuk urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku, agar mereka dapat dengan mudah mengerti perkataanku.” Doaku. Kemudian aku bangkit dari dudukku. Memantapkan hatiku untuk menyesalai masalah yang kami hadapi. Setidaknya sebagai umat muslim aku bisa mengandalkan ikhtiar dan doa. Soal hasil biar Allah yang menentukannya. Bahkan Allah memerintahkan Sitti Hajar radiallahu untuk berjuang mencari air yang pada akhirnya air zam-zam muncul di tumit Nabi Ismail As.
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya.
Cukuplah bagimu untuk melakukan tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada-Nya, maka Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut.