Pengorbanan

1054 Kata
Untuk memastikan apa yang aku dengar dari Bu silva maka aku memutuskan untuk menemui Rendi di kantornya. “Ren.. apa yang bisa kita lakukan?” suara Nisa cemas. Aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu ruangan Rendi. aku tidak ingin memperkeruh masalah. Cukup mendengarkannya saja,. “Tenggang waktunya sangat dekat. Bahkan jika ayahku benar-benar melaporkanmu ke pihak berwajib, semuanya bisa hancur. Proyek tidak akan jalan. Bahkan semua asetmu bisa disita dan semua investor pasti akan menarik semua dana mereka. Dan kau hancur seketika” lanjut Nisa. “Kau tidak perlu memperjelas begitu Nisa,” kata Rendi dengan tawa renyah yang dia paksakan. “Aku terlalu cemas,” kata Nisa. “Kita itu seorang muslim. Tidak perlu cemas. Sebab Allah akan memberikan jalan keluar untuk setiap masalah kita. Serahkan semuanya pada Allah,” kata Rendi. “Putus asa,” vonis Nisa. “Tidak. Aku tidak pernah berputus asa pada Allah. Aku sudah berdoa dan berikhtiar. Sekarang saatnya untuk tawakkal,” kata Rendi penuh keyakinan. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.)” (157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” “Rendi-“ kata-kata Nisa terpotong oleh penjelasan Rendi. “Dan milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” Kata Rendi. “Ren.. setidaknya saat ini kita harus bergerak, melakukan sesuatu untuk mencegahnya,” desak Nisa. “Seperti apa misalnya?” tanya Rendi. Nisa hanya diam. “Bahkan kau sendiri tidak tahu apa yang bisa kita lakukan,” lanjut Rendi. “Tetapi-“ lagi-lagi kata Nisa dipotong oleh Rendi. “Saat seorang hamba menengadahkan tangannya, berdoa pada Allah maka sejak saat itu garis start untuk penyelesaian masalahnya telah dibuka. Sabar saja, akan sampai pada finish masalahnya, Dunia adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bari orang kafir. Jadi apapun kemungkinan terburuk yang bisa terjadi maka aku siap untuk menanggung resikonya,” kata Rendi.hanya hela nafas berat Nisa yang bisa aku dengar. “orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Kata Rendi lagi. Lagi-lagi Nisa hanya menarik nafas berat. Bisa aku bayangkan bagaimana putus asanya Nisa menghadapi Rendi saat ini. Saat semua orang gelisah, saat kami merasa semua pintu telah tertutup dan saat kami gemetar menghadapi kenyataan maka Rendi akan selalu tenang. Baginya apapun yang telah Allah gariskan, dia akan melaluinya, mengharapkan ridho Allah. Aku berbalik dan melangkah meninggalkan kantor Rendi. jika sudah bersikap demikian artinya masalah ini benar-benar tidak bisa Rendi dan Nisa selesaikan. Mereka akan menunggu campur tangan Allah dalam masalah tersebut.**&&&*** Wajah ayah Nisa terlihat sangat tegang saat aku memasuki pekarangan rumahnya setelah berdebat sengit dengan beberapa scurity yang mencegahku masuk ke rumah ayah Nisa. “Jika mereka memutuskan untuk pisah. Mengapa mereka masih menjalin hubungan seperti itu? Mereka terkesan selingkuh,” tegas Ayah Nisa. “Mereka tidak selingkuh. Bahkan pernikahan yang mereka adakan dulu itu atas permintaanku,” kataku. Ayah Nisa terbelalak menatapku heran. Aku tertunduk merasa bersalah. “Apa maksudmu?” tanya ayah Nisa. “Mereka tidak punya hubungan apapun,” kataku tegas. “Kalian semua gila. Kalian beranggapan pernikahan adalah permainan?” bentak ayah Nisa, aku tahu sepenuhnya adalah kesalahanku. Aku hanya menyeret mereka semua ke dalam egoku saja. “Jika harus ada yang disalahkan. Itu adalah aku,” kataku tegas. Ayah Nisa mengendus nafas berat. “Om... tidak bisakah om membatalkan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum?” tanyaku. Ayah Nisa hanya diam. “Kau ingin mendikte kami?” bentak ibu Nisa yang muncul dari dalam kamar. “Kami sudah menganggap kamu dan suamimu adalah keluarga kami. kami sangat sayang pada kalian, kami percaya kalian. Tetapi apa yang kalian berikan. Sebuah pengkhianatan,” ibu Nisa menangis tergugu. Aku sendiri kasihan melihatnya. Aku mendekati ibu Nisa. “Maafkan aku tante,” kataku kemudian meraih gemari ibu Nisa tetapi ibu Nisa dengan kasar menepisnya. “Terlalu dalam kalian melukai kami!!!” teriak ibu Nisa. “Apa yang bisa aku lakukan untuk bisa memperbaiki keadaan?” tanyaku dengan wajah tertunduk merasa bersalah. “Persatukan mereka dalam ikatan pernikahan!!” kata ibu Nisa lantang. “Tapi tante..” rengekku. “Kenapa?!” bentak Bu Nisa. Aku langsung memeluk tubuh ibu Nisa untuk berbagi perasaan sedih namun ibu Nisa dengan sekali hentakan langsung merobohkan tubuhku. Aku jatuh tersungkur ke lantai. Aku dapati wajah terkejut ayah Nisa, dia melangkah ingin menolongku namun terhenti, entah apa yang dipikirkannya, sedangkan ibu Nisa menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat begitu angkuhnya. Aku ngeri melihat adegan ini semua. Tidak pernah sekalipun ibu dan Ayah Nisa memperlakukanku dengan buruk, mereka sayang padaku sama seperti mereka sayang pada Nisa. “Jangan pernah sekalipun kau kembali jika kau tidak bisa memenuhi syarat kami,” kata ibu Nisa lalu berbalik bersiap untuk melangkah pergi namun kakinya aku tahan. “Tolonglah,” kataku, namun karena emosi yang tidak terkendali tanpa sengaja ibu Nisa menghentakkan kakinya untuk melepaskan peganganku sayangnya kaki ibu Nisa malah menendang perutku. “ach..” teriakku. Ibu Nisa terlihat panik namun tidak memberikan bantuan. Ayah Nisa berlari ke arah, jongkok di depanku. “Ada apa? Kau kenapa?” tanya ayah Nisa cemas. “Jangan lebay, berdiri saja!!!” bentak ibu Nisa. Aku berusaha berdiri tetapi tidak bisa perutku terasa sakit. Aku meringis menahan sakit. “Sini aku bantu,” kata ayah Nisa dan mencoba untuk memapahku. “Ahc...” teriakku lagi karena kesakitan. Ayah Nisa heran. “Kau kenapa?” tanya ayah Nisa lagi. “Perutku sakit sekali om,”kataku sambil meringis. “Darah,” teriak ibu Nisa. Aku tersentak. Aku menatap arah yang ditunjuk oleh ibu Nisa. Darah segar mengalir di betisku. Rasanya dingin. Tiba-tiba saja rasa sakit itu hilang. Yang ada rasa takut kehilangan bayi yang selama ini kandung. “Tidak,”teriakku. “Tidak mungkin,” teriakku lagi. Ibu Nisa langsung jatuh tersungkur di hadapanku. Dia terlihat sangat pucat dan menyesal sedangkan aku hanya bisa menangis histeris. Aku mengelus perutku kemudian mengcengkramnya kuat-kuat berharap bisa menangkap benih dalam rahimku sehingga aku bisa mempertahakannya. “Aku baik-baik saja,” kataku seperti matra yang yakinkan diriku sendiri. Tetapi darah segar itu terus mengalir keluar dan membuatku makin lemas. “Hubungi rumah sakit,” kata Ibu Nisa saat dia mulai menyadari keadaan. “iya,” jawab ayah Nisa gelagapan. “Selamatkan bayiku dan ayah dari bayiku tante,” kataku. Ibu Nisa menangis kemudian memelukku erat. “Semuanya akan selamat,” kata ibu Nisa. Aku makin lemah hingga akhirnya penglihatanku kabur. Semuanya lalu tiba-tiba menjadi gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.***&&&***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN