Buah Ketulusan

1141 Kata
Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita semua pasti kembali. Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata, “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku di surga, dan namai ia dengan nama baitul hamdi (rumah pujian) Aku menggeliat. Perlahan mataku terbuka dan mulai beradaptasi dengan cahaya di sekitarku. Aroma obat menyeruak masuk ke dalam indera penciumanku. Aku mulai menyadari dimana aku berada kini. Mataku sepenuhnya terbuka lebar. Aku mengedarkan penglihatanku. Di depanku dengan wajah cemas orang-orang menatapku. Ada orang tuaku, orang tua Nisa, dan Ibu Silva. Sedangkan yang duduk di sampingku ada Nisa dan Rendi. mereka duduk berhadapan dan mengenggam masing-masing jemariku. Aku tersenyum melihatnya. “Bagaimana perasaanmu?” tanya ibuku. “Bagian mana yang sakit?” lanjut ibuku. “aku panggilkan dokter ya,” kata ayahku namun aku menggeleng mengcegahnya. “Seluruh tubuhku terasa sakit tetapi sepertinya bukan dokter yang aku harapkan, tetapi kehadiran kalianlah yang akan menguatkanku,” kataku dengan mata berkaca-kaca namun berusaha untuk tersenyum. aku bisa merasakan genggaman Nisa dan Rendi yang semakin kuat namun tertunduk dan menciumi punggung tanganku. Ada bulir panas yang aku rasakan di punggung tanganku. Aku menyadari bahwa mereka berdua menangis. “Kalian jangan sedih. Aku baik-baik saja,” kataku. Tiba-tiba aku teringat dengan janin dalam kandunganku. “Bagaimana dengan anakku?” tanyaku. Semua diam. Aku sudah tahu apa yang terjadi saat ini. “Innalillahi waiinah ilahi rajiun,” lanjutku berusaha untuk tegar. “Maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanah,” gumamku. Rendi menatapku dengan linangan air mata. Aku menghapus air mata Rendi kemudian tersenyum. “Kita akan coba lagi,” kataku. “Bukan coba-cobaan. Bahkan sekarang kau sudah tidak bisa hamil,” kata Bu silva. Semua orang menatap tajam ke arahnya. “Kenapa? Kalian mau menyembunyikannya dari Salma?” bentak ibu Silva. “Kami tidak bermaksud menyembunyikannya. Tetapi setidaknya saat keadaan Salma sudah membaik,” bela ibuku. “Apa yang sebenarnya terjadi?’ tanyaku dengan bibir bergetar. “karena keguguran ini. Rahimmu rusak parah dan harus diangkat,” kata ibu Nisa dengan wajah tertunduk. Aku menangis histeris. Aku manusia biasa yang baru hijrah wajar jika aku tidak siap untuk menghadapi kenyataan pahit ini. Rendi memelukku erat. Berusaha untuk tenangkanku. Bu Silva meninggalkanku dengan wajah kecewa sedangkan yang lain menatapku kasihan. Dari Abu Hasan dia berkata; ‘Aku berkata kepada Abu Hurairah; Kedua putraku telah meninggal, Apakah kamu mendengar dari Rasulullah ﷺ sebuah hadits yang dapat engkau bacakan untuk kami, dengannya kami dapat menenangkan hati kami dari kesedihan atas sepeninggalnya anak-anak kami?” Abu Hurairah berkata; Ya; “Anak-anak kecil mereka berlarian di surga dengan bebas, salah seorang dari mereka berjumpa dengan bapaknya atau kedua orang tuanya, lalu dia meraih ujung bajunya, atau beliau mengatakan; ‘Dengan tangannya sebagaimana aku memegang ujung bajumu ini, dia tidak akan berpisah dengan bapaknya sehingga Allah memasukkan dia dan bapaknya ke dalam surga.***&&&&*** Aku harus rawat inap beberapa hari di rumah sakit untuk memulihkan kesehatanku. Orang tua Nisa menemuiku saat aku sendirian di rumah sakit. “Tante minta maaf nak,” kata ibu Nisa dengan wajah tertunduk merasa bersalah. “Tante tidak salah. Aku yang tidak bisa menjaga bayi dalam kandunganku,” kataku. “Tante membatalkan laporan mengenai Rendi,” kaata ibu Nisa. “Semoga pengorbananku sepadang dengan ini semua,” ujarku pahit. “Salma...” “Biarkan mereka bersama tante. Jangan menganggunya. Entah mereka memilih untuk bersama sebagai sahabat, kekasih ataupu istri,” kataku membuat ibu Nisa tersentak dan menatapku tidak percaya. “Aku tidak ingin memaksakan kehendak pada mereka lagi. Dan aku harap om dan tante bisa memaafkan mereka. Jangan sampai semuanya berlarut-larut dan menimbulkan banyak masalah,” kataku lagi. “Kenapa kalian selalu bersikap kekanak-kanakan?” tanya ayah Nisa. “Entahlah. Kami ingin bersikap tegas namun kadang kenyataan tidak mau bekerja sama dengan kami,” kataku ngelantur. “Salma-“ tegur ayah Nisa. “Keadaanku sudah seperti ini. Jangan memusuhi mereka. Karena tidak menutup kemungkinan mereka akan bersatu kembali dalam ikatan suci pernikahan,” jelasku. “Enteng sekali kau bicara!!!” bentak ibu Nisa. “Aku akan berusaha untuk mempersatukan mereka kembali. Kesalahanku dulu membuat mereka berpisah. Dan kali ini aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku butuh restu om dan tante,” kataku. “Sudah cukup mempermalukan kami!!!” teriak ibu Nisa. Ayah Nisa memegang bahu ibu Nisa untuk menenangkannya. Tatapan tajam mereka berdua seakan memaksaku untuk menghentikan apa yang kini telah aku pikirkan. “Maafkan kami atas perbuatan kami sebelumnya. Kali ini kami tidak akan mengecewakan om dan tante,” yakinku. “Bagimu kami tidak punya perasaan? Kau harusnya paham. Jika hanya mereka berdua yang bertengkar, berpisah lalu rujuk kembali, itu tidak menjadi masalah. Itu urusan mereka berdua. Tetapi jika langkah mereka sudah sejauh ini. Mengecewakan keluarga besar kami. maka sulit untuk menyakinkan semua keluarga kami untuk menerima mereka kembali,” jelas ayah Nisa. “Yang aku butuhkan adalah restu tante dan om,” tegasku. “Tidak sesederhana itu!!!” bentak ibu Nisa. “Jika tidak sesederhana itu. Lalu mengapa om dan Tante memberiku syarat untuk menyatukan mereka disaat aku memohon om dan tante untuk tidak melaporkan Rendi ke pihak berwajib?” belaku. Ibu dan Ayah Nisa tertunduk aku merasa bersalah tetapi aku tidak bisa berhenti hanya disini. Aku harus menuntaskan masalah ini. Mendapatkan persetujuan orang tua Nisa apapun yang terjadi. “Karena menurut om dan Tante itu mustahil terjadi. Iyakan?” tanyaku berusaha menyudutkan mereka berdua. Ibu Nisa terduduk lesu di kursi samping tempat tidurku. Ayah Nisa memijit lembut pundak Ibu Nisa. “Aku ingin Nisa hidup bahagia. Aku ingin dia berumah tangga seperti yang lain. Agar kami bisa mati dengan tenang,” kata ibu Nisa kemudian menatapku dengan tatapan sedih. “Tetapi aku berharap lelaki itu bukanlah Rendi. lelaki itu adalah lelaki yang masih lajang, seperti dirinya,” lanjut ibu Nisa. “Rendi lelaki terbaik yang bisa mendampingi Nisa,” kataku tulus. Ibu Nisa terus menatapku sedih. Aku ikut sedih melihatnya. “Tidak bisakah kau membujuk Nisa untuk menikah dengan lelaki lain?!” tanya ayah Nisa. “Aku takut salah memilih lelaki untuk Nisa om. Aku takut Nisa malah kecewa dan trauma pada pernikahan. Tetapi dengan Rendi aku bisa menjaminnya om, dia lelaki hebat yang akan membahagiakan Nisa dunia akhirat, Insya Allah,” kataku. Ayah dan ibu Nisa saling tatap, mereka menarik nafas berat. “Terserah kalian saka,” kata ayah Nisa pasrah. “Yang akan menjalani adalah kami bertiga. Kami tahu baik buruknya pernikahan ini. Orang luar hanya bisa menilai tanpa tahu apa yang sedang kami alami,” kataku tegas. Ayah dan ibu Nisa hanya mengangguk lemah. Kali ini bukan karea penyesalan, bukan pula karena keegoisan tetapi karena lillahi taala. Kami akan menjalankan sunnah Rasulullah. Aku sudah mendapatkan restu kedua orang tua Nisa. Sekarang saatnya untuk membenahi hatiku sendiri. Berusaha yakinkan hatiku untuk melangkah dan berbuat dengan niat karena ibadah. Dengan niat karena Allah dan biar Allah yang membalas semuanya. Sesungguhnya Allah Subha nahu Wata'ala tidak menerima suatu amal kecuali jika dikerjakan murni ka rena-Nya dan mengharapkan wajah-Nya. Katakanlah sesungguhnya sha latku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam.***&&&***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN