Rendi membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dengan hati-hati. Aku masih terlalu lemah. Bahkan Rendi bilang wajahku masih sangat pucat. Tetapi aku tidak tahan dengan suasana rumah sakit karena itu aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Benar kata orang. rumahku adalah surgaku, Baiti Jannati. Tempat kembali paling nyaman.
Prak
Aku dan Rendi tersentak dengan suara pintu yang ditutup dengan sangat kasar. Kami lalu saling tatap.
“Adelia?” Tanya Rendi ragu.
“Adelia tidak akan melakukan hal seperti itu,” kataku membelanya.
“Kalau begitu mungkin angin yang menghempaskan pintu rumah,” kata Rendi kemudian duduk di sampingku.
“Kau tidak kerja mas?” tanyaku.
“Tidak. Hari ini akan aku habiskan bersamamu,” katanya manja. Aku tersenyum bahagia. Sejenak aku melupakan kekuranganku sebagai perempuan.
“Rendi!!!” bentak Bu Silva yang tiba-tiba muncul di hadapan kami berdua. Aku dan Rendi terkejut melihatnya.
“Bu.. Salma masih lemah,” kata Rendi lembut.
“Sampai kapan menunggu dia sehat? Sampai kapan menunggu dia baik-baik saja? Ibu sudah tua. Sudah waktunya menimang cucu. Harus ada generasi penerus keluarga ini. Ibu tidak mau generasi ibu terputus di kamu. Dan dia,” Bu Silva menunjukku dan menatapku dengan tatapan tajam. “Tidak mampu memberikanmu keturunan,” lanjut bu Silva dengan penuh penekanan.
“Jangan sekarang bu,” rengek Rendi.
“Lalu kapan? Jangan buang-buang waktu. Sudah cukup waktu yang kau habiskan dengannya!!” teriak Bu Silva. Adelia berlari ke kamar dan menatap dengan tatapan takut. Bu Silva menatap Adeli. Adelia tertunduk merasa bersalah dan dengan teratur meninggalkan kamarku.
“Bu-“ kalimat Rendi terpotong.
“Kau terlalu lemah di hadapan Salma,”kata bu silva lalu meninggalkan kami. Rendi menatap kasihan ke arahku. Aku hanya tersenyum membalasnya.
“Jangan dimasukkan ke hati kata-kata ibu. bukankah selama ini kau tahu karakternya. Meski begitu, kau tahu jelas bahwa ibu menyayangi kita dengan caranya,” kata Rendi.
“Kita menikah bukan sehari dua hari. Aku tahu karakter ibu. tenang saja,” kataku. Rendi memaksakan dirinya untuk tersenyum. dia meraih jemariku kemudian mengecup lembut punggung tanganku. Aku bahagia. Dia memperlakukanku dengan lembut. Dan saat ini aku bisa merasakan betapa dalam Rendi mencintaiku. Sayangnya aku tidak bisa memberikan kebahagiaan pada lelaki yang begitu tulus menerima kekuranganku. Bukannya aku membenahi kekuranganku namun yang ada sedikit demi sedikit bertambahnya kekuranganku di hadapan Rendi.
“Mas,” tegurku.
“Hmmm” jawab Rendi.
“Nikahilah wanita yang pengasih dan punya banyak keturunan karena aku sangat berbangga karena sebab kalian dengan banyaknya pengikutku.” Kataku. Rendi hanya diam. “Apa yang ibu katakan itu benar mas,” lanjutku.
“Haruskah hal seperti itu dibahas kembali?” tanya Rendi dengan tatapan kecewa. Aku hanya tersenyum membalasnya. Untuk saat ini Rendi masih sensitif. Belum saatnya untuk membicarakan hal tersebut.
“Kalau begitu kita bahas tentang kita berdua saja saat ini,” godaku.
“Boleh,” kata Rendi semangat.
“Aku bahagia menjadi istrimu mas,” kataku.
“Aku juga bahagia menjadi suamimu,” kata Rendi kemudian menggeser tubuhnya lebih mendekat. Dia merangkul bahuku. Aku merasa nyaman dalam pelukannya.***&&&&***
Sebenarnya Rendi memintaku untuk istirahat total. Tetapi saat Rendi berangkat kerja, aku memanfaatkan waktu tersebut untuk menemui Bu Silva.
“Jangan pergi nyonya,” cegah Adelia saat melihat aku sudah rapi dan siap untuk berangkat.
“Aku harus melakukannya,” kataku.
“Kalau begitu aku ikut nyonya. Aku cemas,” kata Adelia.
“Terima kasih Adelia. Tetapi kami harus membahas masalah keluarga kami. dan aku tidak ingin kau terlibat di dalamnya,” kataku. Adelia terlihat kecewa namun berusaha untuk tersenyum.
“Kalau begitu, hati-hati nyonya,” kata Adelia. Aku hanya tersenyum lalu meninggalkan Adelia.
“Jangan tergesa-gesa bu,” kataku membuka percakapan saat tiba di rumah Bu Silva dan dia menyambutku dengan wajah masam.
“Kenapa memangnya?!!” bentak Bu Silva.
“Ibu tahu sendiri seperti apa karakter Rendi, Tidak tergesa-gesa/ketenangan datangnya dari Allâh, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan. Ibu tahu bahwa itu prinsip Rendikan? Jadi jangan mendesaknya bu. Berikan waktu untuknya berfikir,” kataku berusaha untuk mengingatkan ibu Silva bagaimana putra semata wayangnya itu berpegang teguh pada agama islam.
“Kau lupa bahwa salah satu yang harus disegerakan adalah pernikahan? Dan itu juga merupakan prinsip Rendi,” tantang Bu silva.
“Pernikahan akan mendesak jika Rendi belum menikah padahal sudah siap menjalani biduk rumah tangga. Bahkan hal itu menjadi wajib baginya. Tetapi sekarang ini,” kataku terpotong untuk memberikan kesempatan pada Bu Silva memikirkan kata-kataku.
“Dia butuh keturunan,” kata Bu silva. Aku hanya terdiam mendengarnya. Aku tahu Bu silva akan terus memojokkanku jika aku bertahan. Aku harus mundur selangkah demi maju beberapa langkah.
Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepada kalian tanda-tanda (azab-Ku), Oleh karena itu, janganlah kalian minta kepada-Ku untuk mendatangkannya dengan segera! Manusiawi jika Bu silva tergesa-gesa, aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
“Aku akan membujuknya untuk menikah. Berikan aku sedikit waktu. Karena saat ini Rendi sedang sensitif,” kataku akhirnya.
“Sampai kapan? Sampai aku mati atau sampai kamu meninggal duluan?!” kata Bu silva. Hatiku sakit mendengarnya, mataku panas karena air mata yang memaksa untuk keluar tetapi aku berusaha untuk tegar sebab Bu Silva akan merasa menang ketika melihatku menangis. Bu Silva akan semakin menginjak-injakku jika melihatku lemah.
“Ibu sendiri selama ini berusaha untuk membujuknya menikah tetapi pada akhirnya dia menolaknya, jadi jangan tergesa-gesa bu jika tidak ingin berakhir seperti beberapa waktu lalu,” kataku tegas. Bu Silva mengendus nafas berat.
“Sebulan dari sekarang. Kalau kau tidak bisa membujuknya untuk menikah lagi. Maka akan aku seret dia ke kantor KUA, untuk menikah perempuan yang aku pilihkan,” kata Bu Silva lalu bangkit dari duduknya. Dia melangkah ke kamar sebagai bentuk pengusiran secara halus darinya. Dan aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Aku menarik nafas berat kemudian berlalu meninggalkan rumah Bu Silva.
Barang siapa yang tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka dia akan dihukum dengan keharamannya (tidak mendapatkannya).
Kali ini benar-benar harus dilaksanakan dengan tenang, ikut arus sehingga dapat hanyut. Hanya dengan cara sepertilah bisa berhasil untuk mempengaruhi Rendi. meski mungkin berat bagi kami semua tetapi aku yakin, Allah tidak akan meninggalkan hambanya sendirian.
Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapatkan dengan melatihnya. Barangsiapa yang berusaha untuk mendapatkan kebaikan, maka Allâh akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.
Dalam perjalanan pulang aku memikirkan siapa kandidat berikutnya jika Rendi dan Nisa menolak untuk menikah.
ADELIA
Terbayang olehku gadis desa tersebut. mungkin Adelia akan setuju. Dan Rendi akan menurut jika Bu silva memberikannya ultimatu. Aku menarik nafas lega. Dan berdoa semoga saja kali ini aku benar-benar bisa membuat Rendi menikah dengan perempuan lain. Menjalankan sunnah Rasulullah, dan berharap ridho Allah.