Aku tidak menyangka Bu Silva akan berbuat sejauh ini, meminta kami semua berkumpul hanya untuk membahas masalah poligami. Rendi, Nisa, aku dan Bu Silva berkumpul di ruang keluarga rumah Bu Silva. Padahal aku sudah memberitahu Bu silva untuk tidak terburu-buru.
“Bagaimana keputusan kalian?!” bentak Bu Silva. Aku hanya diam. Rendi dan Nisa menatapku dengan tatapan aneh. Seakan bertanya apalagi yang aku lakukan kali ini.
“Bu, tidak semudah itu,” rengek Rendi.
“Apanya yang sulit? Bukankah banyak diluaran sana yang melakukannya?!” lagi-lagi Bu Silva berteriak hingga urat lehernya terlihat jelas. Aku hanya menarik nafas berat, tidak bisa berkata apa-apa.
“Mereka sahabat,” kata Rendi.
“Kau selalu menyerah sebelum berperang. Tidak pernah mau mencoba dan selalu mengatakan tidak bisa sehingga menjadi sugesti yang kamu yakini,” kataku. Entah dari maka keberanian itu hadir hingga aku mampu menuturkan kalimat tersebut.
“Ini bukan coba-cobaan!!” kata Nisa tajam. “Ini pernikahan. Ini ibadah,” lanjut Nisa.
“Kalau kau tidak bersedia untuk menikah dengan Rendi. masih banyak yang bersedia menikah dengannya,” kataku tegas. Semua tersentak. Untuk beberapa waktu mereka diam.
“Siapa?” tanya Bu Silva.
“Adelia,” jawabku tanpa ragu. Semua orang menatapku heran.
“Tidak mungkin anakku menikahi pembantu,” gumam Bu Silva.
“Apa masalahnya? Dia juga manusia, dan bisa menghasilkan manusia pula,” kataku. “Atau kita mencari janda yang punya anak. Toh sudah ada buktinya dia bisa hamil. Tidak sepertiku,” lanjutku.
“Apalagi alasanmu kali ini?!” tanya Rendi penuh penekanan.
“Aku tidak akan memaksamu. Tidak akan mempersulitmu. Aku hanya memberikan pilihan. Beda dengan Ibu yang sangat inginkan pernikahan ini,” kataku kemudian beranjak pergi. Aku bisa mengerti perasaan Rendi. baru saja kami kehilangan bayi kami. tentu saja sulit bagi Rendi untuk membuka hati saat hatinya sedang dirundung duka. Aku sendiri ingin Rendi menikah lagi tetapi bukan sekarang. Bukan saat kami sedang menangis.***&&&***
Aku memilih pulang sendiri. Entah apa yang mereka bicarakan hingga Rendi dan Nisa menyusulku setelah tiga jam lamanya. Rendi dan Nisa menghempaskan tubuhnya kasar di atas sofa ruang tamu rumahku. Aku menghela nafas berat kemudian meletakkan makanan dan minuman diatas meja.
“Kenapa?” tanyaku heran. Mereka hanya menatapku sekilas lalu mengalihkan pandangannya, seakan sangat lelah jika harus menceritakan kembali apa yang terjadi selama tiga jam di rumah Bu Silva.
“Yang terpenting saat ini adalah keputusan kalian,” kataku pada Rendi dan Nisa.
“Berat,” gumam Rendi.
“Itu sugesti yang buruk. Kau tahu bahwa kami bersahabat. Selama ini kami akur-akur saja. Dan selalu satu pemahaman, mengapa kau seragu itu?” tanyaku pada Rendi.
“Berbagi suami dengan sahabat sendiri. Apa kau tidak merasa aneh?!” kata Nisa penuh penekanan.
“Nisa.. kau sahabatku. Rendi adalah lelaki yang selama ini hidup bersamaku. Aku tahu seberapa sempurnanya Rendi dalam urusan rumah tangga. Aku bahagia bersamanya. Apakah salah untuk berbagi kebahagiaan dengan perempuan lain? Dan berharap ridho Allah,” kataku.
“Jangan bertopeng,” kata Nisa kesal.
“Kau yang paling tahu kapan aku bertopeng dan kapan aku melepaskan topengku,” kataku dengan d**a sesak. Baru kali ini Nisa tidak percaya pada kata-kataku. Dia hanya menari nafas berat. Aku diam menatap mereka silih berganti.
“Jika terlalu sulit bagi kalian. Maka hentikanlah,” kataku. “Aku ulangi. Aku tidak akan memaksa kalian lagi,” lanjutku.
“Setelah apa yang terjadi, sulit bagiku untuk yakinkan keluargaku,” gumam Nisa.
“Aku butuh sebuah keputusan,” kataku tegas. Nisa tertunduk.
“Jika kau benar-benar setuju maka kita akan berusaha untuk mencari jalan keluar,” kataku. Nisa menatapku lekat-lekat. Aku tahu kali ini Nisa ingin mengeluarkan segala keluhan yang hadir dibenaknya.
“Kau yakin sanggup menjalaninya?” tanya Nisa.
“Kita pasti bisa,” kataku kemudian tangan kananku menggengam jelari Rendi sedangkan tangan kiriku mengenggam jemari Nisa.
“Tidak bisakah rumah tangga kita berjalan normal saja? Kenapa harus memperdebatkan masalah ini terus?” gumam Rendi.
“Kita pasti bisa,” kataku seakan merapalkan matra yang bisa menyakinkan Rendi dan Nisa.
“Aku bersedia,” kata Nisa tegas. Rendi terbelalak dan menatap Nisa aneh.
“Baiklah. Serahkan padaku untuk urusan menyakinkan orang tuamu,” kataku. Nisa menatapku ragu.
“Aku sudah berubah. Aku bukan lagi Salma yang manja dan terus tergantung pada kalian berdua. Akupun mampu menyelesaikan masalah tanpa harus menghadirkan masalah yang lain,” jelasku.
“terakhir kali kau menyelesaikan masalah. Kau malah mengorbankan hal yang paling berharga dalam hidup kita,” ujar Rendi.
“Itu disebut pengorbanan,” kataku.
“Kau yakin?” desak Rendi.
“Itu sudah menjadi ketetapan takdirku, bukankah itu yang selalu berusaha untuk kau yakinkan padaku?” kataku, Rendi terlihat salah tingkah. “Semua itu sudah tertulis di buku lauful mahfudz, dengan pergi menemui orang tua Nisa ataupun tetap bertahan dan sesuatu yang buruk mungkin terjadi. Maka tetap saja hari itu aku akan kehilangan bayi kita,” lanjutku.
“iada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Kata Rendi.
“Itu kamu tahu,” gumamku.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” Kata Rendi lagi.
“Bagaimana menurut kalian?” tanyaku.
“Sekarang kita yakinkan keluargaku dulu,”kata Nisa. Rendi menatap heran ke arah Nisa. “Aku sahabatnya. Selama ini yang bisa bergaul dan paham betul tentang Salma hanya kita berdua,” kata Nisa pada Rendi. “Jika kau terpaksa menikahi Adelia. Bukankah itu akan mempersulit keadaan?” tanya Nisa. Rendi menatapku aneh. “Salma akan berbuat seenaknya dan mengubah pahala pernikahan menjadi dosa besar,” lanjut Nisa.
“Kalian tidak sadar bahwa kalian sedang mempermainkanku? Ini hatiku, milikku,” kata Rendi dengan nada sedih dan kecewa.
“Kau pasti bisa mencintai Nisa. Seperti dulu kau mampu untuk mencintaiku,” kataku. Rendi bangkit dan meninggalkan kami berdua.
“Dia pasti bisa menerima semuanya sebagai sebuah takdir yang mesti dia jalani,” kataku.
“Aku tahu itu,” kata Nisa.
“Dia bahkan mencintaiku dan menjaga perasaanku padahal aku menikah dengannya karena keterpaksaan. Sebuah jebakan yang aku berikan. Dan dia tidak bisa mengelak,” kataku dengan cucuran air mata. Nisa hanya menarik nafas berat. Kemudian menghapus air mataku dan memelukku. Aku semakin yakin bahwa rumah tangga kami akan berbeda jika Rendi bersedia poligami dan perempuan itu harus Nisa.&&&****