“Tidak,” kata ayah Nisa tegas saat aku utarakan niatku untuk menyatukan Rendi dan Nisa kembali. “Bagi kalian pernikahan adalah permainan,” lanjut ayah Nisa.
“Kami tidak pernah menganggap pernikahan adalah permainan. Kami tahu betul bahwa pernikahan adalah ibadah. Karena itu kami memutuskan untuk menjalani pernikahan seperti ini,” kataku.
“Istri mana yang bersedia berbagi suami dengan perempuan lain?” gumam ibu Nisa.
“Tanpa sepengetahuan tante dan om. Diluar sana banyak perempuan yang bersedia berbagi suami dengan perempuan lain karena mengharapkan pahala dari-Nya,” kataku.
“Apakah kau sudah seikhlas itu?’ tanya ibu Nisa. Aku tertunduk. Aku sadar bahwa tahap ikhlas belum mampu aku capai.
“Pelan-pelan. Aku akan menjalaninya,” gumamku.
“Kami tidak ingin malu untuk kedua kalinya,” kata ayah Nisa tegas.
“Insya Allah kali ini tidak akan pernah mengecewakan,” kataku yakin. Ayah Nisa tertawa melecehkan.
“Kalian selalu yakin diawal tetapi ragu pada akhirnya. Panas-panas t*i ayam,” kata Ayah Nisa.
“Berilah restu pada mereka om,” bujukku.
“Kali ini apalagi?” tanya ibu Nisa. Aku tersentak mendengarnya. “Apalagi alasan untuk membatalkan pernikahan mereka,” lanjut ibu Nisa.
“Tante-“ kalimatku langsung dipotong oleh ayah Nisa.
“Kau pingsan lagi. Dilarikan ke rumah sakit lagi. Dan akhirnya pembatalan pernikahan lagi,” kata ayah Nisa.
“Bagaimana jika diadakan pernikahan sebelum resepsi. Mareka melaksanakan ijab qabul setelah itu barulah diadakan resepsi. Dan om tidak akan malu,” kataku dengan wajah berbinar. Ayah dan ibu Nisa diam. Mereka saling tatap ragu.
“Tidak perlu tergesa-gesa menjawabnya. Silahkan om dan tante pikirkan itu dulu, berikan kesempatan Nisa bahagia dengan lelaki yang sejak dulu disukainya,” kataku.
“Kenapa kalian mesti menjalani kehidupan dengan cara rumit seperti ini?” desah ibu Nisa. “Kalian bisa membuatnya dengan sederhana, kau pisah dengan Rendi kemudian Nisa menikah dengan Rendi. atau Nisa menikah dengan laki-laki lain,” lanjut ibu Nisa.
“Mungkin cerita kami berbeda tante, setiap orang datang ke muka bumi ini dengan ceritanya masing-masing. Mungkin berbeda namun kami yakin bahwa kami bisa bahagia dengan cara seperti ini,” kataku tegas.
“Pelakor,” kata ayah Nisa membuatku tersentak. “Perebut laki orang,” lanjut ayah Nisa dengan berat. Mata ayah Nisa berkaca-kaca namun aku tahu bahwa dia lelaki kuat yang tidak akan pernah menangis.
“Orang-orang menyebut Nisa seperti itu. Bahkan banyak bersorak senang saat pembatalan pernikahan. Mereka yakin itu adalah karma yang harus Nisa terima,” kata ibu Nisa kemudian menangis tergugu. Aku hanya bisa menangis kemudian tertunduk.
“Kami tidak ingin putri semata wayang kami menderita,” kata ayah Nisa.
“Dia bukan pelakor. Dia tidak pernah merebut Rendi dariku. Kami hanya berbagi,” gumamku.
“Apa peduli orang tentang itu? Orang-orang hanya tahu bahwa Nisa menikahi lelaki beristri,” kata ayah Nisa.
“Akan aku beritahu orang-orang bahwa aku yang memilihkan istri untuk suamiku,” ujarku.
“Hentikan omong kosong itu!!” bentak ayah Nisa. “Keluar kau dari rumahku,” ayah Nisa berdiri kemudian menunjukkan arah keluar dari rumahnya. Aku menatap sedih kemudian pamit dan meninggalkan kediaman orang tua Nisa.***&&&&***
“Tidak ada yang mudah dalam pernikahan,” ujar Rendi saat aku menemuinya di kantor dan menceritakan apa yang terjadi. “Bahkan dengan pernikahan kita,” lanjut Rendi bijak. “Ada saja masalah yang akan timbul. Hanya saja dengan porsi yang berbeda. Ada yang masalah kecil entah karena gedung, pakaian pengantin dan lainnya, atau dengan masalah besar seperti yang kita alami saat ini,” Rendi menatapku lekat-lekat.
“Apa yang mesti kita lakukan?” gumamku.
“Apakah pernikahan ini begitu penting bagimu?” tanya Rendi kemudian duduk di sofa tepat di sampingku. Dia meraih jemariku dan mengenggamnya dengan erat.
“Kenapa mesti membahas masalah yang sama? Berputar-putar?!” kataku jengkel.
“Jika aku mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak dulu? Jatuh cinta padamu sebelum menikah. Apakah kau akan berhenti beranggapan bahwa kebahagiaanku adalah menikah dengan Nisa? Tanya Rendi. aku menatap lekat-lekat mata Rendi. tidak ada kebohongan ataupun candaan disana. Namun fakta itu begitu mengejutkan. Tidak mungkin seorang Rendi bisa jatuh cinta dengan perempuan biasa sepertiku.
“Aku mencintaimu karena Allah. Karena itu aku hanya bisa memintamu pada Allah. Aku tahu semua pintu tertutup untukku. Siapalah aku.. hanya lelaki biasa yang jatuh cinta pada bunga desa. Kau sempurna. Kau pasti tahu semua orang saat itu menganggapmu sempurna termasuk diriku,” kata Rendi kemudian menatap mataku lekat-lekat seakan menyelami dasar hatiku. Aku berusaha menarik bibirku untuk bisa tersenyum, meski sangat berat.
“Aku hanya anak seorang petani. Bahkan lelaki hebat dari kota, tampan dan kaya raya kau tolah. Apalagi itu diriku,” kata Rendi.
“Aku tidak pernah tahu tentang itu,” gumamku.
“Saat semua orang berkata tidak. Saat semua orang menutup pintu untukku. Aku punya satu pintu yang akan selalu terbuka untukku. Pintu yang Allah ciptakan untuk menjadi tempat mengadu bagi semua hambanya. Aku mengadu. Meminta dan memohon agar Allah membuka jalan untuk jodohku dan aku berharap itu kau,” kata Rendi. aku hanya diam.
“berdoalah kamu kepadaku,niscaya kuperkenankan permintaan kamu itu, dan Allah mewujudkan doa itu dengan caranya. Meski mungkin kau kecewa dengan apa yang terjadi. Tetapi jika hal tersebut tidak terjadi, apakah orang tuamu bisa menerima lamaranku? Jawabannya tentu tidak sebab masih banyak lelaki hebat yang datang melamarmu. Dan kau sendiri tidak pernah mencintaiku. Sejak awal kau hanya ingin mempersatukan aku dengan Nisa,” kata Rendi yang membuatku tersentak. Memang benar sebelum menikah itulah yang aku harapkan sebab cinta Nisa pada Rendi begitu besar.
Rendi memang hanyalah lelaki biasa. Anak seorang petani sebelum dia resmi menjadi suamiku. Setelah itu orang tuaku ingin Rendi setara dengan kami. memberikan segalanya pada Rendi dan juga pada Bu Silva meski sejak awal Bu Silva tidak pernah menerimaku. Bu Silva selalu berkata tidak akan menjual kebahagiaan anaknya, sebab Bu Silva sama sepertiku, tidak pernah tahu kisah di balik cerita hidup kami.
“Dan...-“ kata-kata Rendi tergantung karena dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia menangis tergugu. Aku menghapus air matanya. Sabar menunggu kelanjutan dari cerita yang belum pernah aku dengan selama ini.
“Kau ku nikahi dalam keadaan masih perawan. Jadi berhenti mengatakan bahwa kau perempuan kotor,” kata Rendi. aku terkejut mendengarnya. Aku tidak menyangka apa yang dikatakan Rendi.
“Kau bohong,” gumamku. Kemudian menangis terguncang. Tidak mungkin ingatanku salah.
“Itulah kebenarannya,” bentak Rendi.
“Bagaimana bisa?” gumamku dalam isak tangisku. Rendi meraih tubuhku dan membenamkannya di d**a bidangnya.
“Kau trauma. Kau hanya percaya pada apa yang ingin kau percaya. Bagaimanapun aku menjelaskannya kau tidak akan pernah mau mempercayainya,” kata Rendi.
“Tetapi kenapa sekarang kau baru cerita?” tanyaku heran.
“Baru sekarang?” Rendi melerai pelukan kami dan menatapku lekat-lekat. “Dalam ingatakanmu. Aku menceritakannya baru sekarang. Tetapi sejak awal. Sejak mimpi itu menganggumu tetapi kau selalu menyangkalnya,” jelas Rendi.
“Benarkah?” gumamku.
“Percayalah padaku kali ini. Aku tidak berbohong. Aku tidak ingin menghiburmu. Aku hanya menceritakan kebenarannya,” jelas Rendi.
“Selama ini mimpi itu memang hanya berbentuk potongan. Tidak pernah utuh. Dan aku selalu percaya bahwa aku perempuan kotor yang kamu selamatkan,” gumamku.
“Inilah kebenarannya,” kata Rendi kemudian bangkit dari duduknya. “Sekarang keputusan ada di tanganmu. Apakah tetap memintaku untuk menikah atau menghentikan semuanya sampai disini,” lanjut Rendi kemudian melangkah keluar ruangannya. Aku hanya bisa menangis tergugu. Entah ini cara Rendi menghentikan pernikahannya atau memang sebuah kebenaran yang harus aku yakini.***&&&&***