Dion tersenyum menatap anak - anak bermain sepak bola. Ia tak pernah tahu, jika ternyata saat sore hari banyak anak-anak yang bermain di lapangan sekolah. Karena selama ini ia tak pernah pulang sore. Dion belum pulang karena harus menunggu Kian yang belum selesai mengurus masalahnya. Jika dulu Lintang adalah orang yang dijadikan walinya, maka tidak dengan sekarang. Semuanya sudah berubah. Kian selalu datang ke kantor guru untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena Dion tidak mau ikut campur. Bukannya tidak mau. Ia hanya takut. Ia bukan tipe orang yang pintar bicara seperti Lintang atau pun Kian. Ia hanya seorang pendiam yang penakut. Dion berlari ketika melihat salah seorang dari anak - anak itu terjatuh. Ia segera menolongnya. “Kamu nggak apa - apa?” Anak itu ter

