Hari berlalu, minggu ke minggu pun beranjak cepat setelah acara pertunangan Satria dan Tania. Hubungan di antara mereka kian dekat, kiat erat dan kian terikat. Satria yang sangat mencintai calon istrinya itu tak pernah membiarkan Tania berangkat mau pun pulang dengan berjalan kaki. Ia menjemputnya saat pagi dan siang hari.
Dan saat ia tak bisa datang menjemput, maka Anggi lah yang menjadi kaki tangannya untuk mengantar Tania dengan selamat. Meski, ia harus menyisihkan sedikit uang untuk upah adiknya itu.
Tak jarang, kedua belah pihak pun mengadakan acara makan bersama sebagai upaya mempererat ikatan mereka. Kadang di rumah Tania, kadang pula di rumah Satria. Namun, mereka pun sesekali pergi ke luar untuk mencicip masakan resto.
Seperti saat ini, Tania yang baru saja pulang pun mendapati Satria sidah ada di seberang jalan. Ia menggeleng tanpa mengalihkan tatapannya dari Satria yang duduk di jok motor, dengan menaikkan sebelah dari kakinya di sana.
Namun, Satria yang tengah asyik memperhatikan lalu lalang di bawah terik matahari pun tak menyadari kedatangan Tania. Ia sibuk melihat laju motor dan angkutan umum saat mereka melewatinya begitu saja. Terlebih, ia tengah dilanda perasaan gelisah tanpa tahu alasannya.
Tania melihat langit di atas kepalanya barang sejenak. Namun, matanya tiba-tiba terpejam seiring ia mengatur napas. Barulah setelah itu ia kembali menatap Satria sambil berjalan.
Lalu-lalang kendaraan perlahan mulai berkurang. Membuat Satria seketika sadar akan kehadiran Tania yang sedang berusaha menyeberang jalan. Satria lantas turun dari jok motornya. Hendak menyusul, tapi Tania sudah berhasil menyeberang tanpa bantuan siapa pun.
"Hei!" seru Satria sambil melambaikan tangan. Ia menyunggingkan bibirnya lebar, sehingga mencipta senyuman paling menawan.
Siswi yang saat itu melihat Satria bahkan langsung merasa salah tingkah. Ia sangat mengagumi ketampanan Satria. Namun, karena ia tahu kalau Satria adalah calon suami Tania, ia pun merasa harus sadar dari lamunan. Sementara itu, Tania sendiri justru tidak terlalu fokus pada senyuman Satria.Ia tidak berpikir buruk apa pun, tentang siapa pun.
Karena gempa yang tadi sempat menggemparkan seluruh penghuni sekolah, sebagian dari para siswa pun buru-buru beranjak pulang sejak tadi. Tinggal mereka yang entah kenapa tidak merasa takut sama sekali.
Buru-buru Tania pun menyeberang saat jalanan mulai lengang dari kendaraan roda dua dan empat. Ia membalas lambayan tangan Satria sambil tersenyum. Langkah kakinya semakin cepat beranjak sampai akhirnya ia sampai di dekat Satria.
“Tumben pulang agak cepat, Dek.” Satria memulai percakapan begitu Tania tiba di hadapannya. Ia menurunkan sebelah kaki dari jok, kemudian turun dari duduknya.
"Nggak tau. Kepala sekolah nyuruh anak-anak dan guru pulang cepat. Mungkin, karena takut ada gempa susulan,"
"Iya juga, ya. Tapi, ya sudah. Kita let's go saja sekarang.” Satria lantas menaiki motornya lagi, kemudian menghidupkan motornya itu dengan tatapan lurus ke depan. “Pegangan, Dek. Jangan sampai aku melaju, tapi kamunya malah jatuh,” lanjutnya sambil tergelak.
“Ish! Ya, pelan-pelan, dong.” Dua kali cubitan pelan pun mendarat di pinggang Satria. Membuat pria yang memakai jaket, serta topi hitam itu menggeliat sedikit. “Kalau ngebut, aku mau jalan kaki aja!”
“Iya-iya, Sayangku. Kapan, sih aku ngebut bawa motornya? Nggak pernah, deh perasaan?”
“Ya, emang nggak pernah. Barusan cuma ngingetin kamu aja. Kali lupa gitu lho," balas Tania sambil tertawa-tawa kecil. Ia pun naik dan duduk di belakang Satria.
“Nggaklah. Aku nggak mungkin lupa dengan apa yang kamu suka dan tidak.” Satria pun benar-benar melajukan motornya dengan kecepatan sedang. “Tapi, aku yakin kalau kamu akan terbiasa nantinya. Apalagi kalau nanti sudah jadi istriku. Jangankan pergi ke sekolah, ke warung pun kalau perlu aku bonceng.”
“Hm,” timpal Tania, hanya dengan berdeham sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Satria. Padahal, dalam hatinya dia tergelak. Merasa lucu sendiri mendengar penuturan kekasihnya itu.
Hening.
Keduanya berhenti bicara, memikirkan hal-hal sama seputar masa depan yang sudah terancang dengan baik di kepala. Tentang pernikahan, tentang anak-anak, juga tentang kebahagiaan lainnya setelah itu, seperti mengasuh dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama.
Namun, begitu Satria masuk ke belokan pertama, polisi tidur membuat Tania terperanjat dari lamunan. Ia berdeham lagi, seraya meninggalkan apa yang dibayangkannya barusan. Lantas fokus melihat ke depan, di mana hanya tinggal beberapa menit lagi mereka akan sampai.
“Ah, iya.” Satria yang juga baru tersadar dari lamunan langsung melihat kaca spion yang memantulkan wajah Tania. “Tadi kamu nggak apa-apa, kan, pas ada gempa? Aku cemas. Makanya, setelah beres dari bengkel, aku langsung ke sini.”
“Aku nggak apa-apa, Kak. Cuma terkejut saja pas lagi mengajar. Anak-anak dan semua guru juga langsung berhamburan keluar.” Tania pun menjelaskan dengan tenang, walau jelas wajahnya itu menunjukkan ketakutan. "Eh, tapi ... Kakak di sini dari tadi dong?" tanyanya, kemudian.
Bagaimana tidak, gempa yang menggetarkan sebagian belahan bumi itu cukuplah besar, sampai mampu mengayunkan papan tulis dan foto-foto yang menggantung di setiap penjuru kelas, termasuk menjatuhkan pas bunga.
“Huum. Aku di sini dari tadi, Yang." Satria mengangguk-angguk tanpa mengurangi fokusnya berkendara. Jarak dari sekolah ke rumah Tania tidak begitu jauh, sehingga akhirnya ia tiba di depan gerbang rumah Tania.
"Ya, ampun. Tapi, Kakak ngapain di bengkel?" tanya Tania, sebelum kemudian ia menurunkan kedua kakinya dari motor.
“Tadi si merah ngadat, Dek. Nggak mau nyala. Habis di servis, eh cakep lagi dia,” jelas Satria, sambil tertawa kecil, tepat ketika Tania sudah turun dari motornya. “Untungnya, tadi ada si Rifki. Jadi, karena motornya diderek sama dia, aku nggak perlu repot-repot dorong si merah.”
“Rifki?" Kening Tania langsung mengernyit. Ia merasa tidak asing dengan nama yang baru saja disebutkan Satria barusan.
“Huum. Anaknya Pak Lurah itu, loh. Tadi, katanya dia mau ke kota. Jadi sekalian bantuin aku.”
“Oh. Bagus, deh. Dia baik memang.” Tania pun menarik kedua sudut bibirnya tipis, karena akhirnya mengingat siapa Rifki. “Eh, Kakak mau masuk dulu?” tanyanya kemudian, untuk mengalihkan topik pembicaraan. Dia memang tak sedang ingin membicarakan orang lain, apalagi Rifki yang dulu pernah menembaknya. Bahkan, dia tak mau kalau Satria sampai tahu hal itu.
“Mau, sih. Tapi aku masih ada urusan.” Satria menoleh sambil mengulum senyum. “Kalau nanti malam, boleh nggak? Sekalian main catur sama ayahmu,” lanjutnya.
Tania pun mengangguk, sebelum menggaruk pundak yang sama sekali tidak terasa gatal. Berharap kalau Satria mau masuk terlebih dulu untuk bercengkerama lebih banyak lagi di rumahnya.
“Ya, dah. Kamu hati-hati, Kak. Jangan lupa mikirin aku, ya.” Sesungging senyum pun mengembang, dengan semburat merah di kedua pipinya yang tirus. Itu adalah kalimat tercentilnya, setelah beberapa hari menyandang status sebagai tunangan Satria.
Satria balas tersenyum, merasa aneh tetapi senang karena Tania tak lagi sekaku waktu kemarin. Namun, karena adanya urusan penting, pria itu pun langsung melakukan motornya usai mengucap salam.
Tak mendapati punggung Satria lagi, Tania akhirnya membuka dan menutup pintu pagar kembali setelah masuk. Langkahnya bahkan ia percepat, karena tak tahan dengan cuaca panas yang disuguhkan matahari di atas sana. Seperti tanpa awan, sinarnya terasa langsung menusuk, tembus melewati baju dan kulitnya yang putih bersih.
Satu menit, dua menit, ratusan kilo meter dari tempat di mana Tania berdiri tegak, persis ketika langkah kakinya naik ke teras rumah, lantai lautan retak seperti siang tadi. Dasar bumi kembali terban, merekah, sebelum getarannya merambat dan membuat bumi bergetar begitu dahsyat.
“Astagfirullah, Ya Allah!” Tania langsung bergeming, terkejut beberapa saat sebelum getaran itu kembali menyadarkannya. Membuat tubuhnya seketika bergetar karena takut. “Besar sekali guncangannya, Ya Rabb.”
Setelah gempa dirasa tak lagi ada, buru-buru Tania berlari masuk ke rumah, karena menemui ibunya adalah hal pertama yang ingin ia lakukan.
“Bu!” serunya begitu membuka pintu. “Ibu di mana?”
Namun, tak ada sahutan dari dalam. Membuat ia seketika berlari dan langsung masuk ke kamar Rahma. Di dalam, ibunya sedang tertidur lelap. Bahkan, tak sadar kalau gempa baru saja mengguncang bumi.
Perlahan, Tania pun duduk di tepi ranjang. Dipeluknya wanita bertubuh tambun itu dengan kedua tangan masih bergetar. Membuat Rahma akhirnya bangun, lalu sadar kalau anaknya itu tengah terisak pelan.
“Kamu dah pulang, Tan?” Rahma mengerjap-ngerjap, sebelum tangannya mengusap wajah. “Kenapa pula kamu nangis gitu?”
“Aku takut, Bu. Barusan ada gempa susulan,” ujar Tania, di tengah isak tangisnya. Sambil menyapu cairan bening di pipinya, ia pun menarik diri dari tubuh Rahma. “Aku pikir Ibu kenapa-kenapa. Tahunya malah tidur.”
“Serius? Gede nggak? Kok, ibu nggak ngerasa, ya? Ah, mungkin ibu terlalu nyenyak, ya?” Serentetan pertanyaan keluar dari mulut tipis ibunya. Membuat Tania seketika mengangguk. “Tapi kamu nggak apa-apa juga, kan?”
“Alhamdulillah nggak apa-apa, Bu. Orang pas gempa aku di luar, kok.” Wajah Tania seketika menunduk, melihat ke arah tas yang ada di pangkuannya sebelum kembali menatap Rahma. “Ayah, Bu. Telepon Ayah!”
“Oh, iya.” Rahma yang bahkan tak terpikir untuk menghubungi Budi pun langsung meraih ponsel di bawah bantal. Lantas segera menelepon suaminya yang masih bekerja di bengkel, miliknya mereka sendiri.
Pun dengan Tania, ingatan yang seketika tertuju pada Satria membuatnya langsung menelepon kekasihnya itu. Namun, baru saja nada sambung telepon terdengar, lantai yang dipijaknya bergetar lagi. Kali ini lebih besar dari yang tadi, sampai benar-benar menggoyangkan rajang.
“Allahuakbar!” Tania mengerjap, begitu bingkai foto yang menggantung di dinding jatuh dan pecah di lantai, dengan menjatuhkan tangan yang semula menempelkan ponsel di telinga. “Kita harus keluar, Bu!”
“Ayo, Tan!” Rahma pun melonjak turun dari ranjang, bersiap lari dengan putri semata wayangnya itu.
Namun, suara gedebuk yang disebabkan oleh jatuhnya plafon menimpa kompor di dapur, membuat keduanya berteriak histeris tanpa menghentikan langkah kaki. Sebab getar yang terasa tak kunjung hilang, zikir pun terlantun dari mulut keduanya. Sampai lupa terhadap ponsel keduanya yang menyambungkan telepon pada Budi dan Satria.
Budi yang sudah menghamburkan diri dari bengkelnya pun memanggil-manggil Rahma dalam telepon. Begitu juga dengan Satria yang bahkan hendak menelepon Tania begitu sampai dan menepi di parkiran sebuah toko bunga.
“Halo, Dek.”
Tak mendapat jawaban, raut wajah Satria berubah panik. Apalagi setelah melihat banyaknya warga yang berhamburan dari rumah-rumah mereka, kian takut dirinya kalau sampai terjadi apa-apa pada Tania.
“Dek, jawab aku!” serunya lagi, dengan tatapan berkeliling. “Kamu masih di situ, ‘kan? Kamu sama ibu nggak apa-apa, 'kan?”
Namun, yang terdengar hanya suara gemuruh, krasak-krusuk, dan jeritan pelan.
“Astagfirullah. Tolong selamatkan keluargaku, Ya Rabb,” katanya kemudian seraya mematikan telepon. Lalu, tak sampai dua detik, Satria kembali menghubungi Tania.
Telepon terangkat. “Kak!” seru Tania, dengan suara bergetar.
“Alhamdulillah, Dek. Pikiranku sudah ke mana-mana pas kamu telepon barusan, tapi nggak jawab-jawab sapaku.”
“Aku di luar sama Ibu. Tapi Masya Allah, Kak. Di luar rame banget sama warga.” Tania yang berdiri di samping Rahma terengah, saat menjelaskan posisinya. “Kakak di mana itu? Kakak nggak kenapa-kenapa, 'kan?”
“Aku di jalan, di depan toko bunga. Alhamdulillah nggak apa-apa, Dek. Di sini juga rame, karena hampir dari setengah warga berkumpul di jalanan.”
“Aku takut,” kata Tania pada akhirnya.
“Bismillah, Dek. Semoga Allah tak mengguncang kota kita.” Satria meyakinkan Tania, meski dirinya pun merasa takut akan terjadinya hal-hal buruk.
Rahma yang seketika kembali ingat pada panggilan teleponnya kembali mengangkat ponsel. Dilihatnya panggilan barusan, tiga menit lamanya panggilan telepon tadi tersambung. Namun, begitu ia hendak menelepon lagi, Budi mendahuluinya.
Getaran yang disebabkan terbannya dasar bumi memang sudah berhenti. Namun, itu tak lantas membuat Tania terhindar dari rasa takut dan gugup. Dia tetap gemetar, walau sebelah dari tangannya saling menggenggam dengan Rahma. Pun dengan orang-orang yang ada di sepanjang jalan, mereka benar-benar takut kalau sampai ada gempa susulan.
Dalam lubuk hati Tania, meski dia tak menginginkannya terjadi, ia yakin kalau gempa barusan mampu menggoyangkan lautan. Dan goyangannya itu mampu mengayun air di lautan.