bc

Tasbih Air Mata Kesedihan

book_age18+
598
IKUTI
2.5K
BACA
drama
tragedy
sweet
like
intro-logo
Uraian

Adalah Tania, wanita yang harus kehilangan keluarga juga kekasihnya saat Tsunami datang menerjang kota. Ia bahkan harus rela hidup dengan langkah kaki terpincang-pincang karena cedera parah di bagian kaki.

Namun, berkat seseorang yang datang dalam hidupnya, keikhlasan Tania pun bertambah banyak. Ia tak lagi mempermasalahkan kakinya.

Hanya saja, cobaan hidup seolah belum puas akan kesabarannya. Sehingga lagi-lagi Tania mendapati apa yang sangat menusuk hati.

Lantas, akankah dia sanggup menjalani kehidupan selanjutnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Di Bawah Gerimis
Gerimis datang. Tania yang baru saja pulang dari mengajar langsung menghentikan langkah kakinya di tepi jalan. Ia menengadahkan kedua tangan sambil mendongak, melihat langit yang memang sudah sejak tadi menghitam. Awan-awan yang menggantung di atas sana seakan siap memuntahkan isinya. Kedua sudut bibirnya menyungging tipis sebab rindu berat akan hujan yang sudah sejak lama ditunggunya. Air sudah sedikit menggenang di kedua telapak tangan, ia membiarkannya. Pun dengan wajah yang seketika semakin basah, ia membiarkannya. Di perempatan jalan, orang-orang tampak berlalu-lalang menggunakan sepeda motor. Mereka melajukan kendaraannya dengan cepat, seolah takut akan tubuhnya yang sudah pasti basah kalau berlama-lama di jalan. Namun, tidak dengan Tania yang justru senang saat pakaiannya sudah sempurna basah. Ia bergeming. Lama berselang, setelah hujan berhasil membasahi tanah yang mulai tandus sejak musim kemarau menghalau kota selama beberapa minggu, Tania pun berlari kecil di jalanan becek. Ia menerobos ratusan juta bulir yang jatuh menghujan bumi sambil tertawa-tawa riang. Namun, gadis berparas cantik itu justru terantuk sesuatu. Cepat, ia menyeimbangkan diri karena hampir saja tubuhnya itu terjatuh. Matanya melihat ke bawah, menyadari sesuatu yang membuatnya hampir jatuh terjerembap di sana. Sebuah batu kecil ternyata bersembunyi di balik rumput liar. Menarik napas dalam seraya kembali melangkahkan kaki, Tania pun melewati jalanan sepi. Orang-orang di perkampungan tersebut mungkin sedang menikmati secangkir kopi sambil menonton acara televisi. Sinetron terutama, pikirnya. Gadis berbulu mata lentik itu berhenti, ia berpegang tangan pada tiang listrik di pinggir jalan sambil membuang napas lelah usai berlari kecil. Kakinya pegal sekali. Ia pun lantas melepas sepatu hak tingginya itu untuk ditenteng saja. Dengan kaki telanjang, Tania pun kembali melangkahkan kaki dengan riang. Jarang sekali dirinya bisa berada di bawah curah hujan, sehingga ingin benar-benar menikmatinya. Sebenarnya, kalau Tania mau, ia bisa memakai motor untuk menempuh perjalanan panjangnya setiap hari. Namun, dia memilih memotong jalan, melewati gang ke gang bersama puluhan murid setiap kali berangkat dan pulang mengajar. Tapi kali ini ia hanya Sendiri. Sebab tadi ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu di sekolah. "Nggak apa-apa lha, Yah. Sengaja olah raga kan malas," katanya di suatu pagi. Ia begitu semeringah. Dan memang selalu seperti itu, tiap kali pulang atau pun hendak berangkat. Hari-harinya jarang sekali bermuram durja. "Ya, tapi kan capek lho. Belum lagi kalau cuaca lagi panas banget. Atau hujan lebat. Kamu itu bisa sakit," timpal ibunya, ikut khawatir. Wanita itu sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas, tanpa memperhatikan Tania yang telah selesai dengan sarapannya. "Kapan coba, aku sakit karena jalan kaki? Yang ada, tubuhku ini terasa makin bugar." Tania tetap tak mau kalah. Kalau sudah begitu, ayah atau pun ibunya tidak bisa lagi berucap. Mereka hanya menggelengkan kepala sambil menerima uluran tangan Tania saat anaknya itu meminta salam. Tania pun akhirnya sampai di ujung gang.Ia yang sedang dalam keadaan basah kuyup itu pun menghela napas lega seraya mengedarkan pandangan. Ia memerhatikan laju motor atau pun mobil, agar bisa menyeberang dengan selamat. Barulah saat jalanan tampak lengang, ia berlari menyeberang jalan. Ia telah sampai di seberang jalan. Lantas ia kembali melanjutkan perjalanannya yang masih butuh waktu kurang lebih sepuluh menit. Namun, ia justru sengaja berjalan pelan agar lebih lama lagi berada di bawah curah hujan. Itu karena kali ini tidak ada petir atau pun kilat. Hujan yang turun hanya dibarengi angin yang sesekali berembus kencang. Membuat Tania seketika melipat kedua tangan di d**a karena gigil. "Ya, ampun anak ini," teriak seorang wanita bertubuh tambun begitu melihat Tania dari kejauhan. "Kenapa hujan-hujanan, sih?" teriaknya lagi begitu Tania sampai di hadapannya. Namanya Rahma, wanita usia empat puluh dua tahun itu bergidik kesal dengan Tania yang selalu saja pulang dalam keadaan basah, tiap kali hujan datang basahi bumi. Sementara Tania sendiri justru menyengir sambil melangkahkan kaki kotornya ke lantai teras. "Habisnya seru, Bu." Tania pun berbisik saat melewati Rahma yang berdiri melipat kedua tangan di d**a. "Ya, ampun. Udah gede juga, masih aja kek bocah SD. Orang mah kalau hujan tuh ya buru-buru nyari tempat buat neduh. Lha ini?" cerocos Rahma sambil mengekor di belakang Tania. Ia tak lupa mengambil lap untuk melap bekas kaki Tania yang basah. “Kalau sudah sakit, siapa yang repot coba? Pasti ibu!” sambungnya. “Enggak bakalan, Bu. Hujan itu kan teman baik banget ya aku.” Tania yang baru saja masuk ke kamar pun balas berteriak sembari cengengesan. Ia memang sudah sejak lama menganggap hujan sebagai teman. “Dibilangin, kok, ngeyel.” Rahma yang baru saja tiba di dapur pun mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berjinjit untuk mengambil panci dalam lemari gantung. Ia hendak memasak air. Tania tak menjawab lagi, karena akan panjang urusan jika ia terus saja melawan. Ibunya itu baik. Dan karena kelewat baik, jadilah Ibu Super Bawel. Tania pun bergegas ke kamar mandi, setelah mengambil pakaian hangat dalam lemari. Melirik ibunya sekejap di dapur, ia pun masuk. "Aku tuh, ya, nanti, kalau punya anak, nggak bakal deh bawel kayak Ibu. Anaknya mau mandi ujan ya nggak apa-apa selagi sehat," batinnya sembari menggosokkan kedua tangan di depan cermin. Rasa dingin membuat kedua tangannya itu menggigil sehingga ia mengembuskan napasnya berulang kali. Namun, tiba-tiba saja Tania ingat akan satu hal. Sebegitu menyenangkannya ia bermain air, sampai lupa kalau tadi, ponselnya berdering nyaring di sepanjang jalan. Kekasihnya menelepon berulang kali, dan ia belum sempat mengangkatnya karena hujan. Buru-buru Tania pun membasuh tubuh gigilnya. Lantas segera ia memakai pakaian yang ia bawa setelah mandinya usai. Ia juga segera pergi, keluar dari kamar mandi. Ia tak melihat Rahma di dapur. Tapi sejurus kemudian, ibunya itu datang dari arah ruang tamu. "Susunya udah ibu taro di dalam. jangan lupa diminum!" katanya, seperti pada tahanan. Nyengir, Tania pun mengangguk-angguk. Dan, segera Tania pun masuk ke kamar untuk menenggak sedikit dari susunya dulu sebelum menelepon balik kekasihnya. Ponselnya masih ada dalam tas. Ia merogoh dan mengambilnya setelah menghabiskan s**u dalam gelas di meja samping ranjang. "Kak," katanya begitu sambungan telepon yang ia lakukan dijawab oleh kekasihnya. "Maaf, karena nggak bisa angkat teleponmu. Tadi aku lagi di jalan soalnya.” “Di jalan? Hujan-hujanan?” Suara jantan itu terdengar cemas, tetapi lebih ke mengomel karena ia memang tahu, kalau Tania adalah gadis pecinta hujan. Tentu saja, itu karena dia tak mau kalau sampai gadisnya terserang flu setelah bermain hujan. “Dikit aja, Kak ....” Tania terkekeh pelan sambil menghirup aroma s**u dalam gelas yang dipegangnya. Aroma harum pun menyeruak ke dalam indra penciumannya, karena Rahma kerap menambahkan irisan daun pandan saat memasak air untuk menyeduh s**u dan atau teh. Kekasihnya pun berdecak sambil menggeleng. Ia yang sedang duduk-duduk sendiri pun berdiri seraya mengomeli Tania. Segala jenis ocehan khas emak-emak keluar dari mulutnya. “Tan ... Tania!” seru Rahma yang seketika membuat Tania mengerjap kaget. Anaknya itu lantas menyimpan gelas di meja sembari meminta waktu pada kekasihnya untuk menunggu barang sebentar. Rahma mengetuk pintu saat Tania baru saja tiba di depan pintu tersebut. “Kita makan dulu, Nak. Ibu tunggu di dapur, ya?” lanjutnya sambil melengos. Padahal, Tania sama sekali belum menjawab. Anaknya itu bahkan baru saja hendak membuka pintu. “Iya, Bu. Sebentar!” Tania pun menjauhkan ponsel dari mulutnya. Lalu kembali bicara dengan Satria. “Kak, aku diajak makan dulu, nih ternyata. Aku tutup dulu teleponnya nggak apa-apa, ya?" tanyanya lagi. "Ya, sudah nggak apa-apa. Kamu kan emang harus maem. Tapi, Nanti aku telepon lagi, boleh, ya?” “Boleh dong, Kak!” timpal Tania. Telepon pun seketika terputus, setelah Tania menekan tombol merah pada layar ponselnya. Saking buru-burunya, ia sampai lupa mengucap salam. Dia lantas bergegas, menyusul sang ibu yang telah lebih dulu pergi ke dapur. Sesampainya di sana, Tania duduk di kursi sambil memandangi masakan yang masih begitu panas di meja. Bahkan, asap beraroma sedap itu masih mengepul di atasnya. Rahma memang pandai memasak, jauh sebelum ia menikah. Membuat wanita itu sering kali berhasil meningkatkan porsi makan Tania dan suaminya sendiri. “Ayah belum pulang emangnya, Bu?” tanya Tania kemudian, tanpa mengalihkan tatapan dari makanan-makanan di meja bundar yang seketika menggiurkan lidahnya. Tergoda, ia menelan ludah berulang kali. Makanan yang dibuat ibunya selalu lezat. “Sudah, lha. Ayahmu baru selesai mandi, tuh.” Rahma menjawab sekadarnya, karena ia masih sibuk dengan masakan yang lain dalam wajan. Posisinya membelakangi Tania yang duduk di meja makan. “Kehujanan juga dong? Di luar masih deras gitu.” Tania pun mendongak. Khawatir, mengingat ayahnya itu punya riwayat penyakit kanker paru-paru yang tak boleh kedinginan. “Enggaklah! Ayahmu pulang pakai jas hujan lengkap. Memangnya kamu?" sindir Rahma sambil mendelik. Ia bahkan menyunggingkan bibirnya tipis pada Tania. “Ah, ibu.” Tania kembali nyengir. “Jangan beri tahu ayah, ya, Bu," sambungnya, memohon. Karena kalau ayahnya tau, ia pasti kena omel. “Beri tahu apa?” Tiba-tiba, Budi—ayahnya—sudah ada di belakang, berdiri tegak sambil memegangi sandaran kursi yang diduduki Tania. "Eh, Ayah?" Tania langsung terkejut, sehingga berdebar jantungnya sampai terasa hendak copot. "Mau tau aja, deh!" sambungnya seraya sibuk dengan garpu dan sendok di tangannya. Ia ingin segera makan. “Iyalah!” Laki-laki bertubuh gendut itu pun duduk di kursi samping Tania. “Ayah harus tahu tentang apa saja yang berhubungan denganmu, Nak.” “Mulai, deh!” Tania pun mendelik manja, siap-siap mendengar ceramah yang menjadi makanan setiap harinya, setiap kali Budi pulang dari bekerja. Namun, meski begitu, dia selalu senang dan tak pernah merasa bosan. Membuat Budi akhirnya kian semangat dalam memberikan nasihat-nasihat yang menurutnya akan selalu bermanfaat. “Jadi, walau usiamu sudah begitu matang, jangan harap kalau ayah akan melepaskanmu begitu saja.” “Iya, Ayah. Aku juga tahu. Kan, setiap hari Ayah ngomong begitu,” kata Tania, seraya membalik satu per satu piring yang disimpan dalam posisi tengkurap oleh ibunya. “Sekarang, mending kita makan. Kan, enak ... lagi dingin-dingin gini makan yang anget-anget.” “Hm. Emang dasar kamu, ya. Selalu saja mengalihkan topik pembicaraan.” Budi terkekeh pelan, sambil meraih gelas yang sudah berisi air teh tawar panas di meja. “Tapi nggak apa-apa. Karena ayah tahu, kamu tak pernah mengabaikan nasihat ayah.” “Sudah-sudah.” Rahma yang sedari tadi memasak sambil mencuri dengar pun berbalik badan, menghadap meja. “Ngobrol terus. Kapan makannya coba?” “Nunggu Ibu selesai, dong!” timpal Tania, sampai akhirnya mencipta tawa dari ketiganya. Namun, sebelum Tania mulai makan, ia bergeming barang sejenak seraya memperhatikan ayah juga ibunya. Ia pikir, merekalah sumber kebahagiaan dalam hidupnya selama ini. Tidak akan ada yang lain, selain suaminya kelak. Omong-omong soal suami, Tania langsung teringat akan Satria. Membuat ia seketika buru-buru melahap apa yang dimasak Rahma, untuk bisa kembali ke dalam kamar. Tentu saja, agar dia bisa segera menelepon lelakinya itu lagi. *** Sesuai dengan apa yang dikatakan Satria beberapa menit lalu, lelaki usia dua puluh delapan tahun itu kembali menelepon, tepat ketika Tania hendak menekan tombol panggil. Betapa senang dirinya, sampai langsung mengucap salam seraya menjatuhkan diri ke ranjang. Padahal, hampir setiap hari, yang dibahas keduanya hanya itu-itu saja. Kalau bukan tentang sedih dan bahagianya Tania saat mengajar di sekolah, pastilah tentang serunya anak-anak yang diajari Satria di tempat sekolah agama. Mulai dari anak-anak yang susah diatur, sampai yang paling gampang diatur. “Ya, namanya juga anak-anak, Kak. Apalagi aku coba? Anak didikku sudah pada dewasa, tapi bandelnya kebangetan. Kudu ekstra sabar menghadapi anak remaja yang super bandel, tuh.” Tania bicara pelan, tidur telentang sambil memeluk guling. Namun, sebelah jemarinya tak mau diam. Terus saja memilin ujung kain yang membungkus guling. “Tapi seru, ‘kan?” Seraya memainkan bola pingpong, Satria menikmati udara malam yang dingin di teras depan rumahnya, seorang diri. “Lebih sering jengkelnya, Kak.” Tania tergelak pelan, takut kalau sampai Rahma ataupun Budi mendengar obrolannya dengan Satria. “Ya, iya, sih. Tapi, menurutku, justru itu yang akan kamu rindukan kelak, saat tak lagi bersama mereka.” “Aku tahu. Makanya, sekarang aku mulai menikmatinya.” “Bagus. Tapi, lebih bagus lagi kalau kita jalan-jalan. Besok, kamu libur, ‘kan?” “Huum.” “Kalau gitu, mau nggak jalan-jalan sama aku?” “Aku mau, sih. Tapi ke mana? Kalau ke tempat-tempat yang jauh dari rumah aku nggak mau. Nggak bakal dapat izin juga dari ayah.” Nada suara Tania terdengar malas. Kesal, karena Budi masih saja membatasi aktivitasnya. Padahal, menurutnya yang sudah merasa cukup dewasa, dia tak lagi membutuhkan penjagaan. “Kalau ke pantai, kejauhan nggak?” Satria pun bangkit berdiri, masih dengan menempelkan ponselnya di telinga. Lantas dia berjalan mondar-mandir di bawah lampu neon yang dihinggapi beberapa kupu-kupu kecil. “Mumpung cuaca lagi enak juga buat mantai.” “Wah ... mau, mau. Kan, pantai mah dekat. Tapi, mau berangkat jam berapa emang?” Tania langsung berlonjak duduk, dengan begitu antusias. Senang, karena akhirnya ada yang mampu meluluhkan hatinya sendiri. “Jam tujuh pagi aku jemput, gimana?” tanyanya, terdengar semakin antusias. “Ok, Kak. Kalau begitu, sekarang aku mau istirahat dulu. Badan rasanya remuk. Ngantuk pula aku,” cerocos Tania. “Ya sudah. Aku juga mau makan ini. Dah lapar banget soalnya.” Tania mangut-mangut, masih dalam posisi yang sama. “Jangan lupa inget aku pas lagi makan. Biar aku ikutan kenyang.” “Lah. Emang iya gitu bisa bikin kenyang? Ngaco kamu, Dek.” Satria terkekeh pelan di seberang telepon, begitu membalas kekonyolan Tania. “Kalau gitu, suapin.” “Kalau itu pasti, tapi nanti kalau kita sudah menikah,” goda Satria, yang seketika membuat Vanesa tersipu malu. “Dih, Kakak!” Ada semu merah yang kemudian muncul di kedua pipi Tania. Ia benar-benar merasa tersipu, sekaligus bahagia mendengar kata-kata Satria yang terdengar seperti sebuah lamaran barusan. “Ya, dah. Kalau gitu, aku tutup dulu teleponnya. Night, Kak!” “Night juga, Sayangku. Mimpi indah, ya,” kata Satria, yang setelahnya ditutup dengan ucapan salam. Begitu telepon terputus, Tania langsung menyimpan bantal yang dipegangnya itu ke ranjang. Lantas menutup mata sejenak sambil membaca doa. Berharap, malam ini akan terlewat dengan cepat untuk menyambut esok yang kan lebih ceria. Seingatnya, tahun ini dia memang tak sempat pergi liburan. Meski jarak dari rumah menuju pantai tidak begitu jauh, kesibukan membuatnya lupa akan hal penting yang akan membuatnya merasa rileks. Malam pun berlalu cepat meninggalkan hari yang telah usai. Bersiap-siap untuk menyambut hari esok, di mana seorang pun tak tahu tentang apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya. Sebab semua masih menjadi rahasia. Rahasia Sang Maha Pencipta. Namun, usai membaca doa, mata Tania justru enggan terpejam. Ia memang belum terlalu ngantuk, sampai akhirnya lebih memilih untuk melanjutkan membaca novel berjudul Hujan, karya seorang penulis favoritnya, Tere Liye. Sebenarnya, entah sudah berapa kali Tania membaca novel itu. Namun, karena seru, membacanya berulang-ulang tak membuat ia merasa bosan. Malah, dari bab ke bab selalu membuatnya penasaran. “Rencana Allah memang selalu menjadi rahasia,” gumamnya, begitu sampai di bagian gempa yang lantas merenggut seorang ibu dari anaknya. Bahkan, lagi-lagi ia dibuat cengeng sebelum akhirnya kantuk menguasai seluruh tubuh. Buku yang dipegangnya sambil telentang jatuh menimpa d**a. Pun dengan kedua tangan yang seketika bertumpu, memeluk buku. Tania pun terlelap, setelah kurang dari setengah jam membaca novel.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook