Selepas menelepon dengan Satria yang mengajakmu pergi ke pantai, Tania benar-benar tak dapat menutup mata. Ia terus saja terjaga dengan perasaan berbunga-bunga. Sebentar sebentar tersenyum. Sebentar-sebentar menahan jerit bahagia. Bahkan, tubuhnya itu terus berguling ke kiri dan ke kanan di tempat tidur.
Ia baru merasakan apa yang disebut dengan kasmaran. Padahal, susah berulang kali ia menerima tembakan dari seorang pria. Namun, baru Satria uang yang membuatnya terpesona.
Tania bahkan masih ingat saat ia tiba-tiba kerap bertemu dengan Satria. Pertemuan yang ia rasa seperti sudah terencana. Entah di jalan atau di masjid, pasti Satria ada menemui dan menyapanya.
"Ish! Kamu nggak ada kerjaan lain apa selain buntuti aku? Udah berapa kali juga aku bilang, aku nggak suka sama kamu. Maaf," sungutnya waktu itu, saat tiba-tiba saja ia bersihadap dengan Satria. Ia sama sekali belum merasakan apa-apa. "Ngapain coba? Nggak di jalan, di masjid, sekarang di pasar. Aku bosan ketemu kamu terus," sambungnya.
"Ya, ampun." Satria pun mendesis sambil tersenyum tipis. "Udah ngomelnya?" Ia lantas bertanya sambil menahan tawa. "Kalau sudah, sini aku kasih tau sesuatu," sambungnya.
"Apaan? Nggak mau, ah. Aku mau pulang." Tania lantas bergegas mencari jalan lain. Namun, Satria menghentikannya.
"Ish! Denger dulu biar kamu nggak salah paham."
“Sudah ngomelnya?” tanya Satria yang seketika membuat Tania seketika mengernyit heran. “Kalau sudah, sini biar aku jelasin.” Satria pun langsung tersenyum tipis, seraya mundur barang sedikit, agar tak menghalangi pejalan kaki yang lain di gang menuju rumahnya itu. Pun dengan Tania yang seketika melangkah maju, mengikuti Satria sampai ke tepi tembok.
"Apa, sih?" Tania mengernyitkan keningnya.
“Gini, memang benar kalau aku menaruh rasa padamu, Tan. Tapi, itu tak membuatku gila sampai harus mengikutimu. Cintaku tulus dan suci, Insya Allah. Itu kenapa, tak kulakukan cara lain selain melangitkan doa pada-Nya.
Kalau kita bertemu di jalan, ingat ... kita sedang ada di jalan umum. Sudah sepantasnya kita bertemu, kalau tujuan kita sama, atau berlawanan dalam waktu yang sama. Begitu juga di masjid, orang-orang jelas pergi ke sana untuk beribadah bukan? Pun saat kita bertemu di pasar, selain karena kebetulan, mungkin kita memang jodoh. Eh!”
Satria tersenyum lebar usai berkata panjang kali lebar. Ia benar-benar merasa lucu sendiri mengingat sikap Tania yang tampak kekanak-kanakan. Namun, itu yang membuatnya justru sangat menyukai Tania. Bahkan, sebenarnya, Satria sudah menyukai sedari wanita itu sedari masih duduk di bangku SMP.
Tania hampir saja tersenyum kalau saja tak buru-buru ia tahan. Entah kenapa, dia merasa tergelitik oleh cerocosnya Satria yang memang benar adanya. Mungkin ia hanya merasa terlalu percaya diri sehingga mengira Satria mengikutinya.
“Paham?” tanya Satria lagi, dengan suara lebih dikecilkan. Ia bahkan sedikit mencondongkan wajahnya itu ke arah Tania agar ada sedikit tekanan dengan kata-katanya. Ia menyeringai usai menutup ucapannya.
Namun, alih-alih menjawab, Tania justru berlalu meninggalkan Satria yang menggeleng-geleng heran. Ia malu karena sudah salah menanggapi lelaki yang menyukainya itu. Tania menangkup wajah sembari terus berjalan. Ia juga menggeleng sambil berdecak karena merasa panas di kedua pipinya yang merah itu.
Mengingat kenangan beberapa bulan lalu begitu bangun dari tidur semalam, Tania tersenyum-senyum sendiri di pembaringan. Ia bahkan memeluk guling sembari bergelinding ke kiri dan ke kanan saking senang dan malu. Betapa sombong dan juteknya dia kemarin, tapi ujung-ujungnya, dia juga yang kelabakan karena kebaikan dan kesalehan Satria.
Apalagi, saat tahu kalau Satria sudah sebegitu dekat dengan ayahnya. Membuat ia kerap mendapat pepatah, bahwa lelaki macam Satria lah yang pantas jadi suami. Ayahnya itu setuju seandainya Tania ada jodoh dengan Satria.
“Selain baik, dia juga rajin ibadah,” kata Budi di suatu waktu. Ayahnya itu tampak sangat bahagia.
Tania menggeliat sembari membuka mata perlahan. Ia juga merentangkan kedua tangan dalam posisi telentang. Ia begitu merasa pegal. Mulutnya kemudian menguap lebar, karena rasa kantuk masih menguasai mata indahnya itu. Ingin rasanya dia kembali tidur, bergelut dengan selimut tebal di tengah-tengah cuaca sedingin malam tadi, untuk kemudian bermimpi indah. Namun, sebagai seorang muslim, tentu saja dia harus segera beranjak bangun.
Pelan dia beringsut, lalu duduk di tepi ranjang yang sepreinya sudah tak beraturan. Begitu juga dengan selimut yang menggulung di antara guling dan bantal. Berantakan sekali kamarnya itu. Tania mengucek-ngucek mata, tak peduli dengan apa yang baru saja dilihatnya. Lantas beranjak bangun dan berjalan gontai ke kamar mandi.
Sepi. Belum ada aktivitas apa pun di rumah yang tak begitu besar itu. Namun, sudah ada bekas orang di kamar mandi. Mungkin ibu atau ayahnya yang baru saja selesai dari sana. Tania mengangkat bahu. Lagi-lagi tak peduli dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya ingin segera mengambil wudu, agar tak sampai kesiangan. Sebab, akan repot urusan kalau saja sang ibu mendapati dia masih tertidur, atau justru bermain ponsel. Kereta api saja kalah panjang, jika dibanding dengan omelannya.
Memang, begitulah bukti nyata kasih sayang seorang ibu. Mengomel.
Sekembalinya dari kamar mandi, Tania tak menunda-nunda waktunya lagi. Dia bergegas mengambil sejadah, lalu menggelarnya di samping ranjang sebelah kiri dekat jendela. Ia pun mulai melakukan salat setelah memakai mukena dengan baik dan benar. Membuat rasa kantuk yang semula menguasai matanya perlahan hilang.
Tak lama kemudian, setelah dua rakaat selesai dilakukan dengan khusuk, juga melangitkan doa-doa dengan harapan terlaksana, gadis yang masih memakai mukena putih berenda bunga-bunga itu mengucapkan hamdalah, sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Amin, Ya Rabb,” desisnya.
Lama gadis itu tergugu. Betapa besar harapan yang dia tanam, agar Satria senantiasa menjadi jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya. Namun, meski begitu, dia cukup tahu kalau semua tidak selalu terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan.
Perihal jodoh, perihal takdir, hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Perlahan Tania bangkit berdiri, lalu melepas dan menyimpan mukenanya itu kembali ke dalam lemari kecil yang terletak di samping kiri ranjang. Ia menghela napas panjang, merasa lega usai melaksanakan salah satu kewajibannya, sambil berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden beserta jendelanya.
Dihirupnya udara pagi sambil terpejam, membuat selengkung tanpa pewarna itu menyungging tipis, merasakan kesegaran pagi yang masih alami. Lantas, mulutnya memoncong tipis saat mengembuskan napas perlahan.
“Ya, Allah. Nikmat mana lagi yang harus aku dustakan?”
Seketika, udara pagi yang diembuskan angin menyergap wajah tirusnya. Mentransfer hawa dingin yang seolah menyusup melewati kerongkongan, lalu menjalar sampai ke seluruh tubuh yang hanya dibungkus piama tipis berlengan tiga perempat. Membuat kedua tangan berjemari lentik yang semula memegang kusen itu beralih, berpindah pegangan menjadi memeluk sebagian d**a dan perut.
“Terima kasih, ya Allah. Karena Engkau masih mempercayai aku untuk tetap hidup dan menikmati kesejukan di setiap malam dan pagi hari,” gumamnya lagi sambil berbalik badan.
Namun, kenikmatan yang dirasakannya barusan seolah lenyap, begitu ia mendapati ranjang dan segala perlengkapannya yang masih berantakan.
Huft! Tania mendengkus kasar. “Kapan coba, aku bisa tidur dengan baik dan benar? Kan, malu kalau nanti sudah punya suami. Masa, anak gadis tidurnya macam roda?”
Ia tergelak pelan mendengar omelannya sendiri. Terlebih saat ingatan memutarkan hal-hal yang lucu, seperti jatuh saat terlelap di atas ranjang.