“Memalukan! Ah, itu pasti sangat memalukan!” umpatnya pada diri sendiri, sambil menggeleng. Gadis berwajah ayu itu berjalan cepat menuju ranjang. “Bisa diketawain Satria habis-habisan, kalau sampai dia tahu model tidurku ini.”
Dibereskannya seprei merah tanpa motif itu sambil tersenyum-senyum. Tania mengkhayal jauh, sampai memikirkan bagaimana nanti jika dirinya sudah menikah dengan Satria. Itu akan sangat memalukan. Ia pun bergidik sambil memelak pinggang. Otaknya benar-benar tak beres.
“Bagaimana kalau nanti, suamiku malah ketendang tanpa sadar?” tanyanya pada diri sendiri. “Ah ... nggak mau.” Tania menggeleng, kali ini dengan gerakan cepat saking ilfil pada kemungkinan-kemungkinan yang dipikirkannya.
“Itu artinya, mulai sekarang aku harus belajar tidur dengan anggun. Biar suamiku nanti nggak ketendang, atau bahkan ketindihan!” serunya sambil tertawa-tawa sendiri. Sampai tak terasa, pekerjaannya pun selesai.
“Ah ... tapi, dahlah. Ngapain juga aku mikirin nanti. Hari esok aja masih misteri,” katanya sambil berdiri tegak. Lantas merenggangkan otot-ototnya, dengan menggilir tubuh ke sisi kiri dan kanan bergantian. Ia sudah berpikir terlalu jauh mengenai hari esok. Meski, menikah dengan Satria adalah Keinginannya. Dan, itu yang selalu ia panjatkan usai salatnya.
“Beres!” serunya sambil menepuk-nepukkan tangan. “Sekarang, tinggal ke dapur. Ibu pasti sudah ada di sana.”
***
“Pagi, Bu.” Semeringah wajah Tania yang baru sampai berdiri di ambang pintu, ia bergelayut pada kusen bercat putih itu sambil menyapa Rahma. Ibunya itu tengah sibuk dengan pekerjaan sehari-harinya yang selalu tampak tak berbekas. Ada saja yang harus dibereskan. Padahal, ia tak memiliki anak kecil, sehingga tidak ada yang memberantakkan isi rumahnya.
Rahma menoleh sekejap. Ibu dari satu anak gadis itu tersenyum tipis tanpa mengalihkan fokusnya. “Eh ... sini, sini. Bantuin ibu kupas bawang, Nak,” katanya, sambil mengambil bawang merah di dalam wadah. Ia sudah biasa melakukannya sendiri. Tapi, akan senang jika dilakukan bersama orang tercinta.
Tania pun lantas melangkah cepat, penuh semangat sampai tiba di samping Rahma. “Sini, biar aku aja, Bu,” katanya, seraya mengambil alih tempat bahkan pisau yang sedang dipegang Rahma.
Ibu dari satu anak itu tersenyum tipis, begitu melihat antusias yang selalu sama dari Tania. Lantas, tangan lincahnya itu beralih pada bahan-bahan sayuran yang harus dikupas dan dibersihkan. Hanya saja, tak biasanya Tania keluar kamar pukul lima begini. Rahma sampai heran.
“Tumben,” kata Rahma, tanpa menghentikan gerak tangannya yang sedang mengupas wortel. “Biasa juga setengah enam bantu ibunya.”
“Sesekali, bolehlah aku bangun dan bantu Ibu pagi-pagi begini.” Tania menimpali, tak lupa dengan sesungging senyum dari bibirnya yang kemerahan.
“Tiap hari juga boleh,” sindir Rahma, yang seketika membuat Tania tertawa kecil. Namun, itu bukan semata-mata karena ia ingin dibantu. Melainkan karena agar Tania bisa belajar sebelum ada seseorang yang akan menikahinya.
“Insya Allah, Bu.”
Tania kembali fokus pada bawang-bawang yang harus dia kupas. Mulai dari bawang merah dan bawang putih, sekarang giliran daun bawang yang harus dia iris. Apa yang dikatakan ibunya membuat ia berpikir, bahwa seharusnya, ia memang mulai mempelajari apa saja pekerjaan seorang istri.
“Bikin sayur sup, Bu?” tanyanya, begitu selesai, dan menyisihkan bawang-bawang tersebut pada wadah kecil yang sudah tersedia di sampingnya. "Sambalnya udah bikin?"
“Huum. Sup buntut kesukaanmu. Gimana?” Rahma menyunggingkan bibirnya lagi tanpa melihat anaknya itu. Ia sibuk mencuci sayuran yang baru saja ia selesaikan. "Sambal belum bikin. Masih pagi juga."
“Hehe. Kan, kalau nggak ada yang pedas selalu berasa kurang, Bu.” Tania pun menyeringai seraya mendekati Rahma yang berpindah-pindah posisi, karena harus memotong dan membersihkan dagingnya di tempat berbeda.
“Pasti, dong. Siapa dulu yang masak?” Rahma tergelak, usai memuji diri sendiri. Akan tetapi memang benar, sup buntut buatnya itu tak kalah lezat jika dibanding dengan masakan restoran.
Tania sendiri pernah membuktikannya, saat pergi makan ke luar dengan teman-teman sekampus dulu. Bahkan, sup buntut buatan Rahma, jauh lebih nikmat dan lezat.
“Tapi, kemungkinan aku nggak bisa sarapan di rumah, Bu.” Tania menyengir lebar, usai memberanikan diri bicara seperti itu. Membuat Rahma seketika berhenti dan berbalik badan ke arahnya.
“Loh, kenapa?” Kedua alis berbulu lebat Rahma hampir bertaut, saat mengernyit. Tak biasanya Tania makan di luar. Lebih-lebih karena ia akan memasak makanan kesukaan anaknya itu.
“Aku mau keluar sama teman. Jadi, mungkin aku akan sarapan di luar,” jawabnya canggung, sekaligus takut kalau sampai Rahma akan tersinggung. Pasalnya, ibunya itu sudah susah payah menyiapkan makanan.
“Mau ke mana emang? Sama siapa?” selidik Rahma, masih dengan seringai penuh tanya.
Namun, itu semua, semata-mata hanya untuk mengetahui aktivitas Tania di luar sana. Dia tak ingin kecolongan, walau ujung-ujungnya terap percaya penuh terhadap apa yang kerap dijadikan alasan oleh Tania, tiap kali meminta izin untuk keluar.
“Ke pantai, Bu. Sama Kak Satria. Boleh, kan?”
“Satria, anak Pak RT yang baru pulang dari kota itu?” Rahma terkesiap, terkejut karena anak semata wayangnya itu tiba-tiba sudah mengetahui kepulangan Satria, yang kerap dibicarakan ibu-ibu pengajian.
Tania mengangguk, kikuk. Sebab ini, adalah kali pertama ia menyebut seorang pria dengan diawali panggilan 'Kak' pada ibunya. Kali pertama pula dia menyinggung soal lelaki yang diterimanya, lebih dari seminggu lalu.
“Lah, kapan kenalnya kamu? Kok nggak pernah cerita sama ibu?”
"Lha, dari dulu juga udah kenal, Bu. Dia kan kakak kelasku dulu, Bu. Cuma karena dia melanjutkan pendidikan di luar kota aja, aku tak pernah melihatnya lagi."
“Iya juga, sih. Ibu lupa. Tapi ya, sudah kalau begitu.” Rahma kembali berbalik badan, membelakangi Tania, untuk melanjutkan aktivitasnya. “Tapi, soal masakan ibu ini, kamu kan bisa bawa buat makan sama Satria di pantai.”
“Wah, ide bagus itu, Bu.” Tania menimpali ucapan Rahma dengan begitu antusias. Karena selain hemat, dia ingin memperkenalkan masakan lezat ibunya itu pada Satria.
“Tentu. Dan suasananya, sudah pasti jauh lebih berbeda dengan hanya makan di rumah. Iya, 'kan?” Rahma menoleh, barang sekejap.
“Huum,” timpal Tania, seraya bernapas lega. “Ibu baik, deh. Makasih, ya,” lanjutnya sambil menegang kedua pundak Rahma dari belakang. Sedikit bergelayut, dengan mencium pipi kiri dan kanan ibunya itu, bergantian.
“Sudah, sudah. Kalau memang mau pergi, mandi dulu sana. Terus siap-siap.” Rahma bergumam, yang seketika tertangkap jelas di telinga Tania. “Kan nggak lucu, kalau Nak Satria datang, kamunya masih bau bawang,” katanya lagi, seraya mengelus pipi Tania tanpa menoleh.
Rahma tetap membelakangi Tania seraya menggoyang-goyangkan spatula dalam wajan, karena bumbu yang baru saja dimasukkannya itu harus diaduk agar tak cepat gosong. Dalam sekejap, aroma lezat pun tercium.
“Wangi, Bu.” Tania menghidu aroma yang seakan memenuhi seisi dapur. Apalagi begitu potongan daging masuk ke dalam wajan, ada sensasi tersendiri yang membuatnya berulang kali menelan ludah.
“Dah, buruan sana mandi. Bau jigong juga!" Rahma pun mendorong anaknya itu agar segera pergi dari dapur. Kecantikan dan keindahan dalam penampilan perlu diutamakan jika hendak berkencan, pikirnya.
“Ya, sudah kalau begitu. Selamat masak, Bu.”
Usai mendapati anggukan dari ibunya, Tania pun berlalu riang meninggalkan dapur seraya tertawa-tawa pelan. Sebab ibunya sampai mengusir begitu tahu kalau ia akan pergi berkencan. Namun, saat langkah kaki jenjangnya itu baru saja menapaki ruang keluarga, Budi muncul. “Pagi, Ayah,” sapanya, riang.
“Pagi juga, Sayang. Tumben dah keliaran di luar kamar? Kayak lagi senang juga, nih?” Dengan mimik wajah menggoda, Budi memicing, menyelidik anaknya itu. “Ada apakah gerangan?” tanyanya lagi, seiring dengan sebelah alis terangkat.
“Rahasia, dong!” timpal Tania, seraya mengambil jurus langkah seribu. Dia memang harus segera bersiap-siap, seperti apa yang dikatakan Rahma.
“Ah, dasar!” seru ayahnya sambil tertawa pelan menuju dapur. “Tan ... Tan!”
Namun, begitu Budi sampai di ambang pintu, Tania sudah kembali dengan handuk dalam genggam tangannya. “Misi, Ayah.”
“E, eh. Ini anak kenapa, sih?” Budi menggeleng sambil merutuk. Membuat Rahma yang sedari tadi asyik sendiri dengan masakannya pun tiba-tiba menoleh.
“Apanya yang kenapa, Yah?”
“Itu, tuh. Anak kesayanganmu aneh banget pagi ini. Dia terlihat sedang bahagia, Bu. Tapi, giliran ayah tanya malah dikata rahasia.”
“Kirain apa,” timpal Rahma sambil tertawa pelan. “Dahlah nggak usah kepo. Urusan anak muda itu.”
“Ya, tapi, kan—“
“Nggak ada tapi-tapian, Yah. Mending sekarang ngopi. Sini,” selanya, seraya meraih gelas dalam rak. “Biasa, kan ... kopi s**u?”
"Susunya kamu ada, Bu?" goda Budi.
"Hilih!"