Insya Allah Amanah

1024 Kata
Mentari pagi baru saja meninggi. Hadirnya seketika memberi lebih banyak kehangatan pada rumput-rumput berembun di bawah sana, juga pada hewan-hewan kecil yang semalaman berselimutkan desau angin. Andai Tania dapat melihatnya, pastilah senang saat ia mendapati makhluk hidup lain yang selalu bersorak ria, tiap kali menyambut pergantian siang dan malam. Tak ayal dengan mereka, seluruh manusia di muka bumi. Mereka begitu menikmati datangnya pagi dan malam setiap hari, dengan diiringi rasa syukur pada Sang Pencipta. Tanpa tahu, sesuatu yang besar sudah tercatat sebagai takdir untuk masing-masing dari mereka. Gadis manis bertubuh tinggi sedang itu pun berlenggak-lenggok di depan cermin. Ia memposisikan dirinya sebagai model, saat mengecek pakaian serta kerudung warna senada yang baru saja dipakainya itu. Merah muda. Penampilannya sederhana. Tapi berkali-kali lipat lebih cantik dari mereka yang selalu memakai riasan berlebih. Kecantikannya tampak alami dengan hanya memakai alas bedak dan lipstik merah muda, tipis-tipis. Tanpa adanya pensil alis, pewarna mata, apalagi pewarna pipi serupa semu saat merasa malu. “Tan ... Tania!” Tiba-tiba, suara Rahma terdengar nyaring di luar kamar. Membuat Tania seketika berlonjak kaget, bahkan hampir terjatuh karena tergelincir saat berjinjit untuk meraih tas gendong hitam dalam lemari paling atas. “Ya, Bu. Bentar.” Tania mendengkus kasar sambil memegang d**a. Lantas membuka pintu terlebih dulu, dengan membiarkan lemari bajunya terbuka lebar. “Ada apa, Bu?” tanyanya, begitu mendapati Rahma di balik pintu. “Nak Satria sudah datang. Tuh ...,” katanya, seraya menunjukkan telunjuk ke ruang tamu. Padahal, karena kamar Tania ada di ruang tengah, ia tak dapat melihatnya. “Duh!” seru Vanesa, makin terkejut. Rupa-rupanya, sekarang memang sudah menginjak pukul tujuh. “Tepat waktu sekali dia.” “Makanya cepat ke luar. Temani dia di ruang tamu. Ibu mau bikin minum.” Rahma hendak melengos, kalau saja Tania tak menghentikannya. “Bentar dulu, Bu. Aku mau nanya sedikit.” “Nanya apa, sih?” Rahma terheran-heran, melihat raut wajah Tania yang seketika cengengesan. “Ini ... aku jelek nggak, Bu?” bisiknya. “Astagfirullah, kirain mau nanya apa kamu.” Rahma menggelengkan. “Dah cantik pun. Sana!” Namun, alih-alih pergi ke depan, Tania justru mengekor di belakang Rahma. “Kamu itu mau ke mana? Nak Satria di depan. Bukan di dapur!” Rahma pun menoleh, merasa heran, sampai menciptakan lipatan-lipatan kecil di keningnya. “Ah, iya!” Tania pun langsung berbalik, memutar haluan setelah langkah membawanya sampai ke ruang tengah. Dia lantas berjalan cepat ke ruang tamu. Akan tetapi, nyatanya, meski lebih dari seminggu ini dia dan Satria kerap mengobrol via telepon, bertemu secara langsung membuat Tania berdebar-debar. Apalagi saat langkahnya mencapai ruang tamu, bahkan langsung menangkap sosok Satria, Tania langsung bergeming. Baru se per sekian detik, tetapi pesona yang terpancar dari wajah Satria membuatnya semakin jatuh hati. “Nah, itu dia orangnya!” Budu, pria separuh baya itu berseru menyambut anaknya yang seketika cengengesan, karena salah tingkah. “Sini, duduk. Lama banget kamu.” “Iya, iya.” Tania pun duduk di samping Budi, seraya menyembunyikan rasa gugup, dengan menautkan kedua tangan. “Kak Satria kapan datang?” Sebagai seorang lelaki yang tentunya sudah memiliki banyak pengalaman, terlebih masalah asmara, Budi dan Satria tahu kalau gadis yang duduk dan kemudian memainkan ujung kerudung itu tengah merasa gugup. Satria tersenyum tipis sambil menjawab, “Baru saja, kok, Dek.” “Nah, baru saja juga!” Tania menimpalinya buru-buru, seraya menatap penuh percaya diri pada ayahnya. “Apanya yang lama coba, Yah?” “Lama mengintipnyalah,” kata Budi. “Dih! Siapa yang mengintip?” sangkal Tania. Namun, semu merah di pipinya adalah bukti, kalau dia tengah berbohong. Lagi pula, Budi dan Satria tahu betul kalau tadi, dia bergeming cukup lama di ambang pintu. “Dah, dah. Malah pada debat ayah dan anak ini,” sela Rahma yang baru saja datang membawa nampan, berisi empat gelas teh manis panas. “Mending minum ini,” katanya sambil tersenyum dan menyimpan apa yang dibawanya itu di meja. “Tapi awas ... masih panas!” “Tahu, tuh, Ayah.” Tania menggerutu, walau segaris senyum tak dapat disembunyikan dari bibirnya. “Makasih, Bu.” Satria membalas seutas senyum, yang disuguhkan Rahma bersama teh buatannya. “Kebetulan, tadi Satria nggak sempat minum.” “Loh ... pasti karena ingin cepat-cepat datang ke sini, 'kan?” goda Rahma, yang kemudian duduk di samping kiri Tania. Membuat bujang tampan berbaju kaos biru dan celana jeans setumit itu tersipu malu. “Memangnya, kalian ini mau pada pergi ke mana, sih?” tanyanya pura-pura. Sebab Tania, sudah memberitahu Rahma sejak subuh tadi. “Pantai, Bu. Nggak apa-apa, kan, aku pinjam Tanianya dulu?” “Ya, nggak apa-apa. Asalkan bisa bawa pulang Tania dalam keadaan sama utuh.” Rahma tergelak pelan. Pun dengan Budi dan Satria, yang merasa lucu sendiri begitu mendengarnya. “Udah kayak barang perasaan,” sela Tania, di tengah-tengah obrolan Ibu dan kekasihnya. “Dah ... diminum dulu itu tehnya. Mumpung masih hangat.” Rahma meraih gelas berisi teh yang dibuatnya untuk diri sendiri. “Silakan, silakan,” lanjutnya, sebelum menyeruput teh sedikit demi sedikit. Satria mengikutinya. Pun dengan Budi dan Tania. Rahma benar, teh yang dibuatnya itu ternyata sudah terasa hangat. Sehangat obrolan mereka, yang kemudian diakhiri dengan ucapan salam. Sekali lagi Satria meminta izin. Lantas berjanji, bahwa dia akan memulangkan Tania dalam keadaan yang sama. “Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut-ngebut!” seru Rahma, begitu Satria menyalakan mesin motornya. “Jangan lupa dimakan juga bekalnya!” Satria yang sudah memakai helm menoleh seraya mengangguk-angguk pada ibu dari kekasihnya itu. Lagi pula, dia memang tak pernah mengebut saat menjalankan motor. “Dah, Dek?” tanyanya, pada Tania yang baru saja duduk di jok belakang. Gadisnya itu mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. “Let’s go, kalau begitu. Pegangan, ya.” Tepat saat Tania mengangguk lagi, Satria melajukan motornya pelan, keluar dari halaman yang dihiasi banyak sekali jenis bunga. Sementara di teras, orang tua Tania masih berdiri seraya mengamati dua remaja itu sampai benar-benar tak terlihat. “Nak Satria itu baik, ‘kan?” Rahma bertanya pelan, masih dengan menatap lurus ke depan. “Insya Allah amanah, Bu.” Budi menoleh, dengan bibir menyungging tipis. “Ayah tahu, meski hanya sesekali bertemu dengannya di mesjid.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN