Lorong UGD malam itu terasa sangat panjang, dingin, dan menyesakkan. Wira mondar-mandir seperti orang kehilangan arah. Pikirannya berputar, ia harus menghubungi seseorang, tapi siapa? Daren masih di pesawat. Beberapa menit lalu ponselnya masih berdering, tapi sekarang *nonaktif.* Orang tua Arnie? Tidak ada satu pun kontak yang Wira punya. Wira menunduk, menarik rambutnya frustasi. "Ya Tuhan… siapa yang harus kuberitahu? Kalau terjadi sesuatu pada Arnie… kuatlah Arnie jangan terjadi apa-apa dulu, tolong." Pintu UGD terbuka sedikit. Seorang perawat keluar sebentar, membawa berkas. "Mas, ini keluarga pasien?" "Bukan. Maksud saya… iya, eh bukan. Saya cuma temannya," jawab Wira gelagapan. "Dokter butuh persetujuan keluarga untuk tindakan. Ini lumayan berisiko." Wira menatap berkas itu s

