BAG 2

2118 Kata
Sebelumnya author ingin minta maaf ya, karena di bab sebelumnya ada kesalahan menulis nama tokoh utama. Yang seharusnya Nara, malah author nulisnya Naya, sekali lagi author minta maaf yaaa.... Happy reading ♡ EPS. 2 Ku langkahkan kaki menuju ranjangku, ku dudukan diri ini di bibir ranjang. Sebuah foto lama menghiasi mejaku, tanganku terjulur mengambil foto usang itu. Terlihat di sana sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Kembali, tak dapat ku bendung lagi air mata ini, kilas balik masa lalu kini bagai sebuah film yang berputar di mataku. ~Flashbak on~ "Assalamualaikum Ibu, Ayah" ucapku sambil masuk ke dalam rumah Hening, tak ada jawaban dari keduanya. Kemana perginya Ibu dan Ayah ya? Padahalkan Ayah sedang sakit. Ku lepas sepatu sekolahku dan meletakkannya di dalam rak sepatu. Ku langkahkan kaki ke dalam kamar Ayah dan Ibu, ingin melihat apakah mereka ada di sana. Ceklek, ku buka pintu kamar Ayah dan Ibu. Terlihat Ayah sedang terbaring di atas ranjang. Badannya begitu kurus, mata cekung dan rambut yang sudah botak. Kadang, aku sangat tak tega melihat kondisi Ayah yang seperi sekarang ini. Penyakit kanker hati yang di deritanya semenjak 2 tahun lalu itu telah membuat tubuh yang dulu begitu gagah kini hanya menyisakan tulang berbalut kulit saja. Ku pegang tangan Ayah yang terasa dingin, ku elus perlahan tangan yang dulu sering mendekap penuh rasa Cinta dan sayang ini terhadapku. Tangan ini, yang dulu dengan susah payah mencari nafkah untukku dan juga Ibu. "Nara, anak Ayah. Sudah pulang nak" ucap Ayah lirih berucap padaku "Eh Ayah bangun, maaf kan Nara ya Yah kalau mengganggu tidur Ayah" ucapku lembut "Nggak kok, Nara gak ganggu Ayah. Ayah memang ingin bangun, ingin ke kamar mandi" "Ya sudah, Nara bantu ya Yah" ucapku sambil membantu Ayah beranjak dari tempat tidur. Ku tunggu Ayah di depan kamar mandi, agar nanti memudahkan ku kembali membantu Ayah ke dalam kamar. Setelah selesai, ku baringkan kembali tubuh Ayah di atas tempat tidur. Tak lupa, ku selimuti juga kaki Ayah agar tetap hangat. Kruuuuk Terdengar suara dari perut Ayah, sepertinya Ayah lapar. Memang ini sudah waktunya makan siang, tapi sampai sekarang aku sama sekali belum melihat Ibuku, kemana sebenarnya Ibu ini, bukannya mengurus Ayah yang sakit malah pergi entah kemana. Memang, semenjak Ayah jatuh sakit Ibu sering bepergian entah kemana. Sering ku tanyakan kemana Ibu pergi, tapi ia akan menjawab pergi untuk bekerja karena Ayah sudah tak bisa diandalkan. Ketika ku tanya Ibu bekerja apa, bukan jawaban yang ku dapat, malah makian yang akan ku terima. "Ayah lapar ya?" tanyaku pada Ayah "Emmm, i-iya nak" ucap Ayah gugup "Ya sudah, Ayah tunggu di sini ya. Nara lihat dulu ke dapur. Barangkali Ibu sudah menyiapkan makanan untuk Ayah dan juga untukku" Ayah pun hanya mengangguk saja. ????? Ku langkahkan kakiku menuju dapur, ingin melihat apakah Ibu sudah menyiapkan makan untuk Ayah atau belum. Saat membuka tudung saji, hanya kecewa yang aku dapatkan, tak ku temui makanan di sana. Hanya ada nasi, itupun nasi sisa kemarin yang sudah basi. Ku tutup kembali tudung saji itu, mengarahkan kaki ke arah kulkas, berharap ada sesuatu yang bisa ku masak untuk makan Ayah. Namun, kecewa lagi yang aku dapat. Di kulkas pun tak ada apa-apa, bahkan telur satu biji pun tak ada. Ku lihat tempat penyimpanan beras, di sana pun tak ku temui beras barang sebiji pun. Aku menghirup nafas dalam-dalam, bagaimana ini tak ada yang bisa ku masak sama sekali, sedangkan Ayah pasti sudah sangat kelaparan. Ku rogoh rok sekolahku, alhamdulillah di sana ku temukan uang pecahan 10 ribu satu lembar. Aku bisa memakai uang ini untuk membeli satu bungkus nasi rames di warteg depan. Tak apa aku tak makan, yang penting Ayah bisa makan agar bisa meminum obatnya. Ku langkahkan kaki menuju kamar Ayah lagi, pamit sebentar untuk keluar mencari makanan. Dan Ayah pun hanya mengangguk saja. ????? Sesampainya di warteg, ku pesan satu bungkus nasi rames dengan porsi 10ribu. Alhamdulillah, dengan uang 10rb itu aku bisa mendapatkan nasi berlaukkan satu butir telur balado, satu buah tahu, satu buah tempe dan bihun goreng. Setelah membayar, aku bergegas kembali ke rumah, takut Ayah lama menunggu dan perutnya akan sakit bila lama tak di isi makanan. Di jalan, aku bertemu dengan Ibu-ibu yang sedang nongkrong di warung Mpok Minah. Tatapan mereka padaku seolah jijik. Aku tak mengerti, apa salahku terhadap mereka sehingga mereka menatapku seperti itu. Lama-lama ditatap seperti itu pun aku merasa risih. Ku bungkukan badan sedikit saat melewati sekumpulan Ibu-Ibu itu, karena aku harus sopan terhadap yang lebih tua. Itulah yang selalu Ayah ajarkan kepadaku. "Permisi Ibu-Ibu" ucapku santun "Eh lihat, anak lacur lewat" ucap seseibu yang tak ku ketahui siapa namanya Deg! Hatiku mencelos seketika saat aku di panggil anak lacur. Apakah Ibuku sekarang berprofesi seperti itu? Ku balikkan badan menatap sekumpulan ibu-ibu itu. "Maksud ibu apa ya? Siapa ya yang anak lacur?" tanyaku pada seseibu itu "Lah, siapa lagi kalau bukan kamu to. Kamu ini anaknya si Marni itu kan? Masa kamu gak tahu kalau ibu kamu itu sekarang jadi PSK. Sudah bukan rahasia umum lagi loh ibumu itu jadi PSK. Benar gak ibu-ibu?" jawab seseibu itu "Iya itu bener tuh bener Bu Lisa" kompak ibu-ibu itu menjawab pertanyaan ibu tadi Yang ku ketahui bernama Lisa "Kalau bukan PSK apa dong namanya, tiap hari jalan dengan laki-laki Yang berbeda. Pakaiannya minim lagi, lah kalau gak kerja kayak gitu apa lagi dong" ucap Bu Lisa lagi seperri mencemooh. Tak kuat lagi rasanya aku mendengar ucapan ibu-ibu itu. Aku pun pergi meninggalkan mereka dengan setengah berlalri, kresek Yang ada di genggamanku pun ku remas dengan kuat. Tak percaya saja jika Ibuku melakukan pekerjaan seperti itu. Karena setahuku Ibu selalu berada di rumah saat aku akan berangkat sekolah, pakaiannya pun sopan. Tak pernah aku melihat Ibu memakai pakaian minim, memang setiap aku pulang sekolah Ibu tak pernah ada di rumah. Dan akan pulang saat aku sudah terlelap tidur. ????? Karena aku setengah berlari, perjalanan pulang ku pun menjadi cepat. Gegas ku hapus air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipiku, aku tak ingin Ayah melihatku menangis dan menjadi khawatir tentang kondisiku. Setelah memindahkan nasi ke dalam piring, gegas aku menuju ke dalam kamar Ayah, sudah terlalu Lama Ayah menunggu makanan ini, takut nanti perutnya sakit lagi. "Ayah, ini Nara belikan Ayah nasi rames. Ayah makan ya biar Nara suapin" ucapku sambil berjalan menuju ranjang Ayah. "Iya Nara. Kamu sudah makan belum nak?" Ucap Ayah padaku "Kalau belum makan, makan berdua sama Ayah ya" lanjut Ayah lagi "Nara sudah makan kok Yah, tadi di sekolah kebetulan dikasih nasi kotak karena teman Nara ada yang ulang tahun. Ayah makan aja ya, harus habis pokoknya" ucapku sambil memberikan suapan ke Ayah. Terpaksa aku harus berbohong pada Ayah, padahal jika dirasa perutku pun sudah melilit menahan lapar, tapi bagiku Ayah lebih penting. Ntahlah, ada yang berdenyut nyeri melihat kondisi Ayah yang sekarang. Jika apa yang dikatakan Bu Lisa itu benar, sungguh sangat keterlaluan sekali ibu. Dulu sebelum sakit, Ayah bekerja di salah satu perusahaan yang cukup terkenal. Ayah menjabat sebagai staff keuangan, kehidupan kami dulu bisa dibilang berada, tabungan, mobil dan motor kami mempunyai itu semua. Namun, semenjak ayah divonis mengidap kanker hati stadium 3 dan kini sudah meningkat ke stadium 4. Uang tabungan dan beberapa aset yang dimiliki pun terpaksa kami jual demi pengobatan Ayah. Semenjak Ayah sakit jugalah Ibu selalu pergi entah kemana, bilangnya bekerja tapi setelah ditanya bekerja apa pasto hanya makian yang ku dapat. Anak tak tahu dirilah, beban keluarga lah, suami penyakitanlah, dan ada beberapa lagi makian yang selalu keluar dari mulut ibu jika ku tanya bekerja apa. ????? "Sudah habis nak" ucap Ayah Kulihat, piring yang tadinya penuh dengan nasi kini sudah kosong tak bersisa. Sepertinya ayah memang sangat kelaparan. "Alhamdulillah, sekarang minum obat ya Yah" ucapku lagi "Obat Ayah sudah habis nak, sudah tak apa. Lagian percuma juga ayah minum obat. Ayah sudah tak ada harapan lagi untuk sembuh" "Ayah gak boleh ngomong gitu, kita gak pernah tau kan ke depannya seperti apa. Ya sudah sebaiknya sekarang Ayah istirahat saja ya. Nara mau ke kamar ganti baju. Terus beres-beres rumah" ucapku sambil membantu Ayah berbaring di tempat tidur. Setelah memastikan Ayah terlelap, aku pun keluar dari kamar Ayah. Mengganti bajuku dan akan diteruskan membereskan rumah. ????? Namaku Nara Prameswari, sekarang umurku menginjak 15 tahun. Aku masih bersekolah dan duduk dibangku kelas 1 SMA, aku anak tunggal dikeluargaku. Sehingga, saat dilanda masalah seperti ini tak ada tempat aku untuk mengeluhkan segala keluh kesahku. Aku hanya bisa menahan dan memendam semua masalahku seorang diri. Usai berganti pakaian, aku pun bergegas membersihkan rumah ini. Untungnya rumah Yang ku tinggali ini tak terlalu besar, jadi tak butuh tenaga banyak untuk membersihkannya. Adzan ashar berkumandang, berbarengan dengan pekerjaan rumahku selesai. Gegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat ashar. Ku tumpahkan segala keluh kesahku kepada sang pemilik hidup, mohon diberikan kekuatan dan kesembuham untuk Ayah. Semoga Allah memberikan mukjizatnya agar Ayah bisa sembuh seperti sedia kala. Usai sholat, aku kembali ke kamar Ayah untuk membersihkan tubuh Ayah. Ku bawa sebaskom air hangat beserta kain waslaf ke dalam kamar Ayah. Ku lihat Ayah sedang duduk sembari menonton televisi. Untungnya di kamar ini ada sebuah TV ukuran 14 inch Yang bisa menemani Ayah dari rasa bosan. "Ayah di seka dulu ya, sudah sore" ucapku "Iya nak" Aku mulai membersihkan tubuh Ayah secara perlahan, ya Allah aku ingin menangis melihat tubuh ayah ini. Kurus kering, hingga tulang-tulangnya dapat ku rasakan. Aku berusaha tidak menangis di hadapan Ayah, takut menambah beban fikirannya. Selesai membersihkan tubuh Ayah, ku rapihkan kembali baskom berisi air dan kainnya. Tak lupa baju kotor ayah ku rapihkan sekalian untuk ku cuci nantinnya. "Ayah mau sholat" ucap Ayah "Boleh, ayah mau wudhu di kamar mandi atau bertayammum?" Ucapku lagi "Sepertinya Ayah tayammum saja nak. Soalnya kaki ayah kebas tak kuat untuk berjalan" Ku jawab dengan anggukan. Ku bantu tubuh Ayah menghadap dinding untuk bertayammum. Setelah selesai bertayammum, ayah memulai sholatnya. Ku tinggalkan ayah untuk ke kamar mandi menyimpan bekas membersihkan tubuh ayah. ????? Aku senang sekali, walaupun dalam keadaan sakit, tapi sebisa mungkin Ayah tak pernah meninggalkan kewajiban sebagai seorang Muslim. Walau kadang dengan tertatih ayah melakukan sholat, tapi tak jadi penghalang bagi ayah untuk terus beribadah kepada sang pencipta. Ayah selalu menanamkan nilai agama yang kuat terhadapku, tak boleh meninggalkan sholat karena itu tiang agama kita. Dan juga Ayah selalu mengingatkan jika di akhirat kelak, pertanggung jawaban pertama yang diminta adalah sholat. Sungguh, ayah adalah Cinta pertama bagiku. Ayah adalah orang terhebat yang aku miliki di dunia ini. Segalanya akan ku lakukan demi Ayah, demi kesembuhan Ayah. ????? Malam ini, aku berniat tidak akan tidur cepat. Aku ingin membuktikan bahwa omongan Bu Lisa terhadap ibuku itu tidak benar. Semenjak isya tadi, ayah sudah tidur dengan lelap. Sengaja aku tak menutup pintu kamarku agar nanti memudahkan jika ibu pulang. Ibu selalu membawa kunci cadangan, jadi jika pintu rumah sudah ku kunci, kuncinya aku akan taruh di meja atau buffet dekat pintu. Sembari menunggu ibu pulang, ku kerjakan beberapa tugas sekolah untuk di kumpulkan besok. Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, tak terasa juga waktu berjalan, tugas sekolah yang masih lama waktu pengumpulannya pun sudah selesai ku kerjakan, namun belum ada tanda-tanda ibu akan pulang. Hatiku sudah mulai was-was memikirkan ibu, kemana sebenarnya ibu ini. Pekerjaan apa yang mengharuskan ia pulang hingga larut malam begini. Ingin menghubungi ibu, tapi lupa jika ponselku sudah kujual untuk menambah biaya pengobatan Ayah 5 bulan silam. Untuk mengurangi rasa gundah di dalam hati, aku memutuskan untuk membaca novel saja yang aku pinjam di perpustakaan sekolah. Tepat pukul setengah dua belas malam, ku dengar pintu di depan dibuka. Gegas ku simpan novel yang sedang aku baca ke atas meja belajar. Itu pasti Ibu, siapa lagi, karena yang mempunyai kunci cadangan hanya Ibu. Ku langkahkan kaki menuju ruang tamu, ku lihat ibu berdiri di dekat buffet sambil melepas sepatunya. Deg! Deg! Jantungku rasanya ingin melompat dari tempatnya, air mataku luruh. Melihat penampilan Ibuku malam ini, baju yang sangat minim, mencetak jelas lekuk tubuh ibuku. Bahkan dua gundukkan depan belakang milik ibu tak bisa menutupi semuanya. Dengam suara bergetar, aku mencoba memanggil ibu. "I-i-ibu" ucapku sambil menahan air mata Melihat diriku yang sudah terpaku di tempat, wajah ibu seketika menegang dan terlihat begitu terkejut. "Na-Nara" ucap ibu terbata. Luruh sudah air mataku melihat Ibuku sendiri, benar-benar mirip dengan seorang lacur yang selalu menjajakan tubuhnya pada lelaki hidung belang. Kakiku sudah tak kuat menompang tubuhku, seketika tubuh ini ambruk dilantai. Ku pegangi d**a ini yang begitu sesak, sakit sekali hati ini melihat ibuku sendiri seperti ini. Ingin aku berteriak sekencang mungkin dihadapan wajah wanita yang sudah melahirkanku dan membesarkanku itu. Ingin ku maki saja dirinya, ingin aku berteriak kencang di hadapannya. Mengatakan bahwa "IBU AKU SANGAT KECEWA PADAMU! " bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN