BAG 3

2274 Kata
Aku sungguh kecewa dengan wanita yang melahirkanku itu, bagaimana tidak dia berubah menjadi seperti ini. Memang, semenjak Ayah sakit, ibu sering uring-uringan. Mungkin karena kehidupan kami berbalik 180°. Dulu, ibu termasuk orang yang galmour. Kehidupan Ibu hanya diisi dengan arisan dengan gengnya. Sekarang, Ibu tak bisa melakukan aktifitas itu lagi, karena keuangan keluargaku sangat pas-pasan bahkan kurang. Pengobatan ayah memakan biaya yang lumayan banyak, apalagi harus melakukan kemoterapi. Otomatis semua tabungan dan beberapa aset yang dimiliki harus rela kami jual. ◇◇◇◇◇◇ Ku lihat Ibu menghampiriku yang duduk terkulai di lantai. Tapi, tak ku lihat lagi wajah terkejutan di wajah Ibu. Ku lihat dia sudah biasa lagi, aneh Ibu ini apakah tak merasa salah sedikit pun terhadapku dan juga Ayah?. "Kenapa kau belum tidur Nara?" tanya Ibu padaku "Bu, apa yang Ibu lakukan ini? Kenapa Ibu pakai pakaian yang seperti ini? Ini dosa bu" jawabku sambil berusaha berdiri "Heh anak bau kencur, tau apa kau soal dosa? Dari pada kau ikut campur masalahku. Lebih baik kau diam saja, urus saja ayahmu yang penyakitan itu" ucap Ibu sinis "Tapi Bu, dalam agama kita, kita tidak boleh memperlihatkan aurat kita kepada yang bukan muhrim. Lagian, harusnya ibu mengurus ayah, bagaimana pun ayah itu suami ibu" "Sudah kau ceramahnya Nara? Kau tak perlu mengajariku. Aku lebih tau segalanya darimu" ucap Ibu sambil duduk di salah satu kursi di ruang tamu "Bu, Nara mau tanya sama Ibu. Tolong sekarang jawab dengan jujur pertanyaan Nara. Jangan ibu berkelit lagi" ucapku "Apa pekerjaan ibu sebenarnya sih?" lanjutku lagi "Sudah ku bilang, kau tak perlu tau anak bau kencur. Kau tak perlu tahu pekerjaanku apa, yang terpenting kau masih bisa sekolah dan makan" "Tapi bu, banyak tetangga yang bilang kalau ibu bekerja sebagai wanita malam. Aku hanya ingin tahu bu, aku hanya ingin apa yang dikatakan para tetangga itu salah bu" ucapku dengan nada yang sedikit meninggi. Braaaak! "Kau memang kurang ajar anak setan! Ya, benar aku bekerja sebagai p*l*c*r. Aku tak tahan hidup miskin seperti ini, aku ingin kembali mengikuti berbagai arisan dengan geng sosialitaku, aku ingin barang mewah, aku ingin kekayaan. Lihatlah sekarang ayahmu itu, dia bagaikan mayat hidup. Sudah tak berguna sama sekali. Hanya bisa menyusahkan ku saja, kau itu dan ayahmu sama saja, sama-sama tidak berguna! Lebih baik laki-laki itu mati agar tak terus-terusan menjadi bebanku!" Ucap Ibu sambil meninggalkanku sendiri. Luruh sudah diriku di atas kursi, perkataan ibu barusan sungguh seperti pisau belati tajam Yang menghujam dadaku berkali-kali lipat. Tak ku sangka wanita Yang begitu aku hormati tega beebicata seperti itu. Bagaimana jika ayah mendengarnya, pasti hatinya akan berkali lipat sakitnya dariku. ◇◇◇◇◇◇ Hari Demi hari kelakuan Ibu semakin menjadi, dia sudah tak malu lagi membawa para lelaki hidung belang itu ke rumah kami. Dengan santainya ibu akan melakukan dosa itu di sini, memang di rumah ini ada kamar tamu di belakang Yang jaraknya lumayan jauh dari kamar utama, sehingga ibu bisa dengan leluasa melakukan pekerjaan nista itu. Keadaan ayah pun masih belum ada perkembangan, terkadang sepulang sekolah aku akan ikut bekerja di sebuah rumah makan Padang sebagai tukang cuci piring, sehari aku bisa mengantongi uang sebesar 30rb. Dan selalu diberikan nasi sebanyak 2 bungkus untukku, alhamdulillah setidaknya untuk makan aku tak harus mengeluarkan uang lagi. Uang Yang ku dapat bisa ku simpan untuk membeli obat ayah walaupun hanya obat warung biasa. Bagaimana lagi, jika untuk berobat uangku tentu saja tidak akan cukup. Sehingga jika ayah sudah mulai merasa kesakitan aku hanya bisa membelikannya obat pereda nyeri biasa. Ibu? Jangan tanya, dia lebih memilih abai pada kehidupan kami. Uang yang ia dapat hanya ia gunakan untuk diri sendiri, berbelanja, arisan, nongkrong dengan temannya dan hak yang tak berguna lainnya. ◇◇◇◇◇ Hingga sekarang aku sudah duduk di kelas 2 SMA, kelakuan ibu masih sama saja. Keadaan ayah makin hari makin memburuk saja, sekarang pekerjaanku lebih baik dari sebelumnya, sekarang aku bekerja secara paruh waktu di Salah satu cafe dekat sekolahku. Dan hasilnya lumayan, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hariku dengan Ayah. Hari ini adalah hari pembagian rapor di sekolahku. Ketika anak-anak lain di temani oleh orang tua, apalah dayaku Yang hanya bisa mengambil seorang diri. Untungnya Guru di sekolahku sudah tahu bagaiman kondisi orang tuaku saat ini. Seperti biasa, aku akan mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Memang, aku termasuk Salah satu anak yang berprestasi. Hingga biaya sekolahpun aku tak pushing memikirkannya, karena aku Salah satu siswa penerima beasiswa. ◇◇◇◇◇◇ Dengan hati gembira, aku pulang menuju ke rumah. Ingin memberitahukan pada ayah dan ibu bahwa aku menjadi juara kelas lagi. Saat sampai di rumah, ku lihat ibu sedang bersantai di ruang tamu. Pakaiannya sungguh tidak mencerminkan seorang wanita baik-baik. Memang harus ku akui, di umur ibu Yang sudah tak muda lagi tapi kecantikkan dan kemolekan tubuhnya masih terpancar. Sehingga setiap lelaki Yang memandang ibu pasti memiliki keinginan untuk bisa menjamah tubuhnya. "Assalamualaikum" ucapku saat memasuki rumah. Tak lupa ku cium takzim tangan ibu, bagaimana pun ibu adalah ibuku Yang harus aku hormati. "Kumsalam" jawab ibu ketus. Aku langsung melongos ke dalam, malas berdebat dengan Ibu. Ku langkahkan kaki menuju kamar Ayah, semenjak ayah sakit pun ibu sudah tak mau lagi sekamar dengan Ayah, Ibu lebih suka tidur di kamar jahanamnya. "Assalamualaikum Ayah" ucapku sambil membuka pintu kamar ayah "Waalaikumsalam anak ayah, sudah pulang nak?" "Sudah ayah, ayah lihatlah aku mendapat nilai tertinggi lagi. Aku menjadi juara kelas yah" ucapku sambil memperlihatkan nilai rapor ku. "Halah percuma saja nilai Bagus kalau gak ngehasilin duit. Percuma, sia-sia aja" tiba-tiba ibu sudah berada di ambang pintu. Mendengar perkataan ibu, membuat hatiku mencelos seketika. Bukannya dukungan dan pujian yang aku dapat, malah ejekan yang aku terima. "Heh anak tak berguna, segera bikinkan minum untuk tamuku di depan. Dan bawakan juga kue yang berada di kulkas. Tapi ingat, jangan kau makan kue itu. Jangan lama, segera buatkan dan antar ke depan". Ucap ibu padaku masih dengan nada ketusnya. "Sabar ya nak" hanya itu yang keluar dari mulut ayah. Aku pun hanya mengangguk saja. Gegas aku pergi ke dapur untuk melakukan perintah ibu. Segelas air teh manis hangat dan sepiring kue-kue basah sudah ku letakkan di atas nampan. Segera ku antar ke depan agar ibu tak marah-marah lagi padaku. ◇◇◇◇◇ Di sana, ku lihat seorang laki-laki yang ku taksir umurnya sama dengan ayah. Tatapannya padaku sungguh membuat aku risih sekali. "Silahkan pak di minum" ucapku sambil meletakkan secangkir teh dan sepiring kue "Terima kasih manis" jawab bapak itu sambil mengelus tanganku. Refleks ku tepis tangan itu secara kasar, jijik rasanya disentuh oleh dia. "Heh anak s****n, yang sopan sama orang tua" ucap ibuku. Tak ku jawab ucapan ibu, lebih memilih diam dari pada kata-kata cacian harus ku dengar lagi. "No problem beb, jangan marahin dia. Aku it's oke" ucap bapak itu lagi "Sudah sana pergi" usir ibu dengan sedikit mendorongku. Perih sekali hatiku diperlakukan seperti itu oleh ibuku sendiri. Rasanya ingin ku cakar-cakar saja wajah ibukilu itu. Astagrifullah, aku hanya bisa mengucapkan istighfar dalam hati. Samar ku dengar pembicaraan Ibu dengan lelaki itu, entahlah rasa penasaran mendorongku untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan. Ku sembunyikan diriku di balik tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Di sini dapat terdengar jelas obrolan ibu dengan lelaki itu. "Yang tadi itu anakmu?" ucap si lelaki itu "Ya, anak tidak berguna" jawab ibu dengan nada ketus "Yakin tak berguna? Haduh-haduh kau itu Marni tidak bisa melihat peluang Bagus ya" "Maksudmu?" tanya ibu pada si lelaki itu "Kau itu, lihatlah anakmu itu cantik Marni, hanya kurang perawatan saja. Dia punya tubuh yang Indah, ditambah dua gundukan depan dan belakang dia itu sungguh menggoda. Jika kau pekerjakan dia di rumah mami selly, sudah ku pastikan akan banyak pria yang akan memakai jasanya. Termasuk diriku, jika kau berniat aku ingin menjadi yang pertama mencicipi tubuhnya" ucap si lelaki itu dengan nada dibuat mendesah. Deg! Seketika jantungku seperti berhenti berdetak. Sungguh kurang ajar sekali mulut lelaki itu. Inginku hajar saja dia habis-habisan! Jika ibu menyetujui itu, sungguh dia adalah ibu yang kejam. "Benar juga katamu, tapi nantilah aku fikirkan lagi. Aku belum sampai memikirkan ke sana" jawab ibu "Baiklah, kai fikirkan dulu saja baik-baik. Sekarang layani dan puaskan aku seperti biasa honey" ucap lelaki itu. Gegas aku berlari kecil masuk ke kamarku, aku tak ingin mereka tahu bahwa dari tadi aku menguping pembicaraan mereka di sana. ◇◇◇◇◇◇ Ku jatuhkan bobot di ranjang kecik milikku, sungguh biadab sekali jika ibu menyetujui hal itu. Ya Allah, ingin rasanya aku mempunyai banyak uang, membawa ayah berobat dengan layak, setelah itu pergi menjauh dari sini. Hidup berdua dengan ayah. Puas menangis sendiri, aku kembali ke kamar Ayah. Sesampainya di kamar ayah, lututku merasa lemas. Ayah sudah terkulai lemas di lantai, segera aku berlari menghampiri ayah. Ku guncang tubuh ayah namun ayah tak merespon sama sekali. "Ayah, ayah. Bangun ayah" ucapku sambil terus mengguncang bahu ayah, tapi nihil tak ada respon sama sekali dari ayah "Tolong, tolong, ibu ibu" teriakku memanggil ibu. Tak berselang lama, ibu datang dengan lelaki itu. Melihat tubuh ibu hanya berbalut selimut saja dan lelaki itu bertelanjang d**a membuat emosiku naik, namun di situasi seperti ini aku tak bisa meluapkan amarahku kepada mereka. "Kenapa ayahmu itu Nara?" tanya ibu kepadaku "Aku tak tau bu, saat aku masuk ke kamar ayah, ayah sudah seperti ini" jawabku sambil tak berhenti menangis "Dasar laki-laki penyakitan. Bisanya hanya menyusahkanku saja. Sudah kau tunggu dulu sebentar, aku akan memakai baju dulu. Setelah itu kita bawa ayahmu yang tak berguna itu ke rumah sakit. Ayo mas" ucap ibu sambil mengajak lelaki itu pergi. "Aku akan mengantarkan kalian ke rumah sakit" ucap lelaki itu sambil mengekor di belakang Ibu. Tak berapa lama mereka kembali lagi ke kamar ayah, laki-laki yang tak ku ketahui namanya itu langsung menggotong tubuh ayah untuk di bawa ke dalam mobilnya. Sedangkan aku dan ibu hanya mengikuti dari belakang. ◇◇◇◇◇◇ Mobil melaju ke rumah sakit terdekat, sampai di sana gegas ku minta perawat untuk membawa brankar untuk Ayah. Setelah tubuh ayah di baringkan di brankar, ayah di bawa ke dalam ruang ICU. Aku, ibu dan lelaki itu hanya bisa menunggu di luar, air mata tak henti menetes dari mataku. Aku takut sekali terjadi hal buruk terhadap ayah, di sela tangis, ku rapalkan dan ku panjatkan do'a kepada Allah agar ayahku baik-baik saja. Pintu ruang ICU terbuka, terlihat seorang dokter menghampiri kami. "Dengan keluarga Bapak Suseno?" tanya dokter itu "Iya pak" jawabku cepat "Begini, kondisi Pak Suseno sekarang kritis. Kanker hati yang di deritanya sudah menjalar ke seluruh tubuh. Untuk sekarang Pak Suseno masih belum sadarkan diri. Untuk itu, Pak Suseno harus rawat inap ya, kita akan pantau dan observasi ke depannya. Agar tahu langkah apa yang bisa kita ambil. Nanti beliau akan kami pindahkan ke ruang perawatan, nanti di sana kalian bisa melihat Pak Suseno. Nah sekarang silahkan diurus dulu administrasinya ya" ucap dokter tersebut. "Jika tidak ada yang ditanyakan, saya permisi ya. Mari" lanjut dokter itu sambil pergi meninggalkan kami. Aku kembali duduk dibangku tunggu, pasti ini akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kemana aku harus mencari uang untuk pengobatan ayah, sedangkan gajiki bekerja saja hanya cukup untuk makan sehari-hari. "Lihatlah Nara, betapa ayahmu itu sangat menyusahkan bukan. Sudahlah tak usah terus menangisi ayahmu yang tak berguna itu. Karena aku sedang berbaik hati sekarang, aku akan membantumu membayar biaya pengobatan ayahmu itu. Kau tunggulah di sini, nanti aku akan kembali ke sini" ucap Ibuku. "Te-terima kasih bu" ucapku masih terisak. Ibu pun hanya mengibaskan tangannya sambil pergi meninggalkanku. ◇◇◇◇◇◇ Ku lihat pintu ruang ICU terbuka kembali, brankar yang diisi ayahku pun di dorong keluar. Ku ikuti saja para perawat itu, sepertinya mereka akan membawa ayah ke ruang perawatan. Setelah sampai di lantai 3, ayah pun di masukkan ke dalam salah satu ruang perawatan. "Kami permisi ya Mbak, nanti kalau ada perlu apa-apa pencet saja tombol nurse call bel ini ya mbak" ucap seorang perawat padaku dengan ramah. "Iya sus, terima kasih banyak ya" "Sama-sama mbak" ucap suster itu sambil meninggalkanku. ◇◇◇◇◇ Ku tatap lamat-lamat ayah yang terbaring tak sadarkan diri. Sungguh, ini berat sekali untukku. Rasanya jika bisa rasa sakit itu berpindah padaku, biarlah aku yang merasakan sakitnya. Karena tubuh yang lelah akhirnya tak terasa aku tidur di samping ayah dengan tangan yang menompang kepalaku. "Heh, bangun Nara bangun" guncangan ditubuhku membangunkan tidurku. Ku lihat ibu sudah ada di sampingku. "Eh i-ibu" ucapku sambil mengucek mata. "Makanlah, setelah itu pulang bawa baju untuk ayahmu" ucap ibu sambil memberikan satu kotak nasi kepadaku . "Terima kasih ibu, setelah makan aku akan pulang membawa baju-baju ayah" "Heeemmm" ibu hanya berdehem saja. Ku makan dengan lahap nasi yang dibawakan oleh ibu, karena memang perutku sudah benar-benar melilit minta untuk diisi. Selesai makan, aku pun pamit kepada ibu untuk mengambil beberapa baju ayah ke rumah. Ku minta pada ibu agar menjaga ayah sebentar saja. ◇◇◇◇◇◇ Sampai di rumah, ku masukkan dahulu baju dan perlengkapan ayah yang lainnya. Setelah ini, aku akan mandi terlebih dahulu agar tubuhku kembali segar. Usai mandi, gegas aku ke kamar untuk memakai baju dan membawa beberapa potong pakaianku juga. Saat sedang memilih baju yang akan ku gunakan, tiba-tiba saja pintu kamarku dibuka. Betapa terkejutnya diriku, saat melihat disana lelaki yang bersama ibu tadi masuk ke dalam kamarku. Dia tersenyum kepadaku dengan penuh gairah, apalagi saat ini aku masih menggunakan handuk saja. Tubuhku bergetar hebat, rasa takut itu semakin menjadi tatkala lelaki itu terus saja berjalan mendekatiku, air mata sudah membasahi pipiku ini. Sungguh aku sangat takut sekarang, berharap ada yang bisa menyelamatkan ku dari laki-laki laknat ini. Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN