BAG 4

1670 Kata
Badanku makin bergetar hebat tatkala jarak antara aku dan lelaki itu hanya tinggal sedikit lagi. "Hai sayang, akhirnya aku bisa mencicipi tubuhmu" ucap lelaki itu sambil mengelus pipiku Ku palingkan muka ke arah lain, jijik rasanya disentuh oleh dia. "Tolong om, keluar dari rumahku. Aku mohon om, jangan berbuat kurang ajar padaku. Atau aku akan berteriak" ucapku sambil bergetar "Ha ha ha, berteriak saja. Tak ada yang akan mendengarmu. Secara, rumah ini berada paling belakang dan lumayan jauh dari tetangga" ucap lelaki itu lagi sambil mengelus rambutku. Sial, memang benar rumahku berada paling belakang dan jauh dari tetangga. Sekarang rasa takut itu semakin menjadi. Tak henti aku merapalkan do'a kepada sang pencipta agar aku bisa di selamatkan dari lelaki b***t ini. "Dari pada kau menangis seperti ini. Mending bersenang-senang saja denganku. Om akan memuaskanmu" ucap lelaki itu sambil mendorong tubuhku ke atas kasur. Aku berusaha memberontak sekuat tenagaku, namun tenagaku kalah jauh dengan lelaki itu. Dengan ganasnya ia membuka handuk yang ku kenakan. Kini, mata itu di penuhi dengan nafsu bi*a*I. Dan hari inilah, menjadi hari paling nahan untukku, kehormatanku direnggut secara paksa oleh lelaki Yang umurnya hampir sama dengan Ayahku. Air mata ini tak hentinya terus mengalir, rasa sakit dipangkal pahaku tak seberapa dibanding rasa sakit hatiku. Setelah puas menjamah dan m*****i tubuhku, laki-laki itu pun pergi meninggalkanku sendiri. Kututupi tubuhku Yang polos tanpa sehelai benang pun. Ku rutuki kejadian hari ini, ingin rasannya aku mati saja! Sekarang aku adalah perempuan hina, perempuan Yang kotor, aku sudah tak suci lagi. Kehormatanku yang selama ini ku jaga harus direnggut dengan paksa. Air mata ini tak bisa ku hentikan, sakit sekali rasanya ya Allah. Aku sekarang wanita tanpa harga diri. ????? Entahlah berapa lama aku menangisi takdirku ini, ku paksakan diri melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh kotorku ini. Saat berjalan, dapat ku rasakan perih dan sakit dibagian area sensitif ku ini, dengan perlahan ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ku gosok dengan sekuat tenaga tubuh yang sudah dijamah oleh lelaki laknat itu. Jijik rasanya melihat tubuhku yang sekarang, air mata ini kembali berduyun-duyun untuk ditumpahkan. Setelah di rasa cukup bersih tubuh ini. Aku kembali ke dalam kamarku. Bergegas memakai bajuku, tak ingin lelaki biadab itu kembali ke sini. Ku tatap diri ini di depan cermin, hancur, hancur sudah masa depanku. Aku telah mengecewakan Ayah bagaimana jika ayah tau apa yang telah menimpa putrinya ini. Kembali, badanku luruh di lantai karena tak sanggup menopang tubuhku sendiri. "Heh, rupanya kau masih di sini Nara" suara Ibu mengalihkan lamunanku "I-ibu" aku memanggil ibu sembari menangis "I-ibu, teman lelaki ibu memperkosaku bu" ucapku pada Ibu "Siapa yang kau maksud? Oh, Mas Randi maksudmu? Ha ha ha Nara, Nara. Kau itu bukan diperkosa, namun Mas Randi itu sudah membayar tubuhmu padaku. Kau fikir biaya pengobatan ayahmu yang penyakitan itu gratis hah? Dengar Nara, di dunia ini tak ada yang gratis, kau ingin buang air saja kau harus membayar. Apalagi biaya pengobatan ayahmu yang tan sedikit itu. Sudahlah Nara, tak perlu kau tangisi lagi, anggap saja kau sedang berbakti dan membalas budi kepada ayahmu. Kau harusnya bisa memanfaatkan kelebihan tubuhmu yang Indah itu" ucap Ibu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Deg! Bagai dipalu berkali-kali, ucapan Ibu membuat hatiku terasa beribu kali lipat sakitnya. Sungguh, tega sekali seorang Ibu menjual anaknya, tak pernah terfikirkah oleh dia bagaimana masa depanku yang hancur? Sungguh rasanya saat ini aku ingin mati saja. "Sudahlah berhenti menangis, sekarang lebih baik kau kembali ke rumah sakit untuk menjaga Ayahmu. Dan ini, peganglah sedikit uang untuk berjaga-jaga. Kau tahu Nara, Mas Randi berani membayar mahal tubuhmu itu. Apalagi kau masih perawan" lanjut Ibu sambil melempar amplop ke tubuhku. Setelah itu ia pergi meninggalkanku di kamar sendiri. ????? Ya Allah, sudah seperti p*****r saja diriku ini, kenapa kau begitu tega memberikan ujian berat ini kepadaku. Dengan gontai, ku ambil amplop yang dilemparkan Ibu tadi. Ku jinjing tas yang sudah dari tadi ku siapakan, dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit di mana tempat ayah di rawat. Angkutan umum yang ku tumpangi pun berhenti di depan rumah sakit, tak lupa aku memberikan ongkos terlebih dahulu kepada supir. Ku langkahkan kaki ini menuju ruang tempat ayah di rawat. Sampai di depan pintu ruangan ayah, kembali air mataku menetes menatap tubuh yang sedang terbaring itu. Rasa menghimpit hatiku, aku sangat merasa bersalah terhadap ayah. Ku hapus air mata yang sudah membasahi pipi ini, untuk saat ini aku tak boleh lemah. Aku harus kuat, ayah membutuhkanku. Ku buka ruang rawat Ayah, berjalan menghampirinya dan menyimpan beberapa baju ke dalam lemari yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit. Usai menyimpan baju ke dalam ke lemari, ku putuskan untuk ikut beristirahat di samping Ayah. ????? Sinar matahari membangunkan tidurku, mungkin karena efek kelelahan, aku tidur begitu pulas hingga tak sempat melaksanakan sholat subuh. Astagfirullah, maafkan hamba ya allah. Ku tatap Ayah, keadaannya masih sama. Ayah masih belum mau membuka matanya. Seorang perawat masuk ke dalam ruangan ayah dan memeriksa ayah sebentar, dan memberitahukan jika nanti sekitar jam 10 dokter akan datang untuk memeriksa kondisi ayah kembali. Hari ini aku tak berangkat sekolah, mungkin dua hafi ke depan aku akan absen dari sekolah. Tapi, aku sudah menitipkan pesan kepada salah satu temanku saat kemarin menuju ke rumah sakit. Sambil menunggu dokter datang, aku membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu aku akan membersihkan tubuh Ayah dengan air yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit. Semalam aku hanya seorang diri menjaga Ayah, Ibu? Entahlah, dia ada di mana. Mungkin bersenang-senang dengan dunia nistanya. Setelah membersihkan tubuh Ayah, aku pergi ke kantin sebentar untuk membeli makan. Masih ada waktu sampai dokter tiba nanti untuk memeriksa Ayah. Ku beli semangkuk bubur dan segelas air teh hangat sebagai menu sarapanku kali ini. Makan dengan sedikit cepat takut nanti ayah membutuhkanku dan dokter sudah datang. Usai membayar aku kembali menuju ruangan Ayah. ????? Saat kembali ke ruangan Ayah, ku lihat di sana sudah ada Ibu yang duduk di kursi. Malas sebenarnya bertemu dengan dia, tapi mau bagaimana lagi, dia masih ibuku. "Assalamualaikum" ucapku "Dari mana saja kau?" tanya ibu "Dari kantin Bu, habis sarapan" "Oh, Aku ke sini hanya ingin memberitahukan ini" ucap ibu sambil memberikanku selembar kertas "Itu adalah surat yang menyatakan bahwa kah keluar dari sekolah. Mulai hari ini kau tak perlu bersekolah lagi" ucap ibu dengan santainya Deg! "Apa maksud Ibu?" "Kau tuli atau apa hah? Sudah ku bilang, kau tak perlu bersekolah lagi. Itu hanya akan buang-buang waktumu dan sia-sia saja. Lebih baik kau bekerja saja pada mami selly, aku yakin tubuhmu itu akan sangat laku" jawab ibu tanpa merasa bersalah sedikit pun Saat akan menjawab pertanyaan ibu, tiba-tiba saja tubuh ayah mengejang hebat, melihat itu aku segera menekan tombol nurse call. Air mata tak bisa lagi ku tahan nafas ayah tersengggal-senggal. Sungguh sekarang aku merasa takut, takut terjadi hal yang tak diingakan menimpa Ayah. Ku lihat, dua orang perawat dan satu orang dokter tergesa menghampiri kami. "Tolong ke luar dulu ya Bu, Mbak" ucap dokter itu kepadaku dan Ibu. Rasanya enggan meniggalkan Ayah sendiri, tapi aku harus mengikuti intruksi dokter itu. Akhirnya dengan berat hati, aku pun meninggalkan ayah. ????? Aku menunggu dengan harap-harap cemas, ku lirik ibu di sana malah sibuk dengan ponselnya. Tak ada raut panik atau sedih sedikitpun dari wajah ibu. Sungguh biadab bukan ibuku itu. Sudah dengan tega menjual anaknya, sekarang suaminya sedang sekarat pun ia tak peduli. Ceklek. Pintu ruang rawat ayah terbuka, ku lihat wajah lesu dan sedih dari sang dokter. Ku hampiri ia dan menanyakan bagaimana keadaan ayah sekarang. "Maafkan kami mbak, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi qodarullah, Allah berkehendak lain. Bapak Mbak tak bisa kami selamatkan" ucap dokter itu dengan nada sedih. Mendengar ucapan dokter, tubuhku berasa tak memiliki tulang. Lemas sudah tubuh ini mendengar orang yang ku sayangi dan cintai harus meninggalkan ku untuk selamanya. "Yang sabar ya Mbak, saya turut berbela sungkawa. Silahkan jika Mbak ingin melihat Ayah Mbak. Nanti akan kami urus semuanya, Mbak tinggal membereskan saja nanti administrasinya" ucap dokter lagi sambil menepuk pelan bahuku. Dengan langkah terseok, ku dekati tubuh yang sudah teebujur kaku itu. Menatap untuk terakhir kalinya Cinta pertamaku. Ku genggam dengan erat tangan ayahku, rasanya tak ingin melepaskannya. "A-ayah, bangun ayah. Jangan tinggalkan Nara sendirian Ayah. Hug hug hug" ucapku terisak. "Mati juga orang tak berguna ini. Syukurlah, sudah tak menjadi beban" ucap ibu dengan santainya. Ku tatap tajam wajah Ibu, ingin sekali aku menggambarnya. Tega sekali dia berbicara seperti itu. "Puas ibu hah puas? Dasar ibu tak memiliki hati sama sekali" ucapku geram pada Ibu. "Ah, sudahlah. Malas aku berada di sini, kau urus sendirilah Ayahmu itu." ucap Ibu sambil berlalu pergi. ????? Setelah semua urusan administrasi ayah selesai ku urus, jenazah ayah sekarang sudah berada di dalam mobil ambulance. Sirine ambulance membelah jalan menuju rumahku, tak henti-hentinya aku menangisi kepergian Ayah. Sampai di depan rumah, sudah banyak tetangga yang berada di rumahku. Memang tadi aku sempat menghubungi Pak RT menggunakan telfon rumah sakit. Untung saja, aku hafal nomor handphone Pak Rt. Para Bapak-bapak membantu mengangkat jenazah ayah untuk disimpan di ruang tamu. Para pentakziah datang silih berganti. Pak ustadz meminta agar jenazah segera di makamkan, karena mengurus jenazah merupak fardu kifayah yang harus di segerakan. Karena jenazah ayah sudah di mandikan oleh pihak rumah sakit, sekarang tinggal menyolatkan dan menguburkan ayah saja. Hingga jenazah ayah akan di sholatkan, aku masih belum melihat keberadaan ibu. Sudah ku tebalkan telinga mendengar bisik-bisik dari para tetangga. Aku hanya ingin fokus dulu kepada Ayah. ?????? Rangkaian pemakaman ayah pun sudah selesai, tapi hingga akhir pun ibu tak ada di sini. Entah wanita itu sedang ada di mana, aku tidak tahu. Para pelayat sudah meninggalkan pemakaman ini. Kini tinggal aku sendiri di sini. Menatap gundukkan tanah yang masih basah, ku elus nisan ayah dengan lembut, seolah aku sedang mengelus rambut Ayah. Air mata ini terus saja berlomba keluar dari mataku. Penguat hidupku kini sudah tenang di alam sana. Sekarang, ke mana lagi akan ku tumpahkan rasa gundah dan semua sedihku, jika sekarang tempat bertumpu ku sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN