Hari semakin merangkak siang, ku paksakan diri untuk pulang ke rumah. Sebenarnya hati ini enggan untuk meninggalkan Ayah, namun bagaimana pun aku harus mengikhlaskan kepergian ayah, bukankah semua makhluk yang bernyawa pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini? Hanya kapan dan bagaimana saja kita meninggal yang tidak akan pernah kita tau.
Sampai di rumah, kulihat ada Pak RT dan beberapa tetangga sekitar. Mereka sepertinya memang sengaja menungguku pulang.
"Nara si nak, ada yang ingin kami sampaikan" ucap Pak RT sambil memintaku untuk duduk di dekatnya.
Ku dudukan tubuh ini di dekat Pak RT.
"Begini nak Nara, sebelumnya Bapak dan Yang lainnya turut berduka cita atas meninggalnya Ayahmu. Insha Allah, ayahmu husnul khotimah, ia adalah orang Yang baik" ucap Pak RT yang dibenarkan oleh Bapak-bapak yang lain.
"Ini ada uang santunan, memang tidak banyak tapi mungkin bisa meringankan bebanmu. Kami tau, selama ini kai berjuang sendiri menghidupi ayahmu dan juga dirimu. Maaf sebelumnya, kami juga tau ibumu tak pernah peduli sama sekali pada kehidupan kalian. Maka dari itu, untuk acara tahlilan sampai hari ke-7 nanti, izinkan kami di sini ikut membantumu. Insha Allah, untuk masalah biaya kami sepakat untuk bergotong royong" lanjut Pak RT lagi.
Air mata yang sudah berhenti ini, lagi-lagi berlomba-lomba membasahi pipi. Tak ku sangka aku masih di kelilingi tetangga yang baik dan peduli padaku.
"Te-terima ka-kasih semuanya. Hug hug hug, sa-saya hanya bisa mendo'akan kebaikan untuk bapak-bapak semua. Semoga Allah membalas berkali lipat kebaikan semuanya" ucapku sambil menangis tersedu.
"Sudah Nara jangan menangis lagi, kasian ayahmu jika kau terus berlarut dalam kesedihan. Lebih baik sekarang kita bersiap untuk melakukan acara do'a bersama untuk almarhum ayahmu. Mari bapak-bapak kita bersiap, untuk urusan makanan sudah di handle oleh istri saya" ucap pak rt lagi sambil mengajak yang lain untuk membenahi rumahku agar nanti cukup untuk bapak-bapak yang datang.
Aku meminta acara dilaksanakan ba'da maghrib saja, agar waktunya tak terlalu tergesa-gesa. Kasian juga Bu Rt, takutnya nanti tak akan keteteran. Pak RT pun setuju, sampai hari ke 7, tahlilan untuk ayah akan dilaksanakan ba'da maghrib.
?????
Usai melaksanakan sholat maghrib, Bapak-bapak berbondong-bondong datang ke rumahku untuk mengikuti acara tahlilan.
Aku bersyukur melihat banyak orang yang ikut mendo'akan ayah. Ini menandakan jika memang ayah semasa hidupnya orang yang baik.
Setelah dirasa semua sudah datang, Pak Ustadz mulai memimpin acara ini. Aku duduk di dekat kamar ayah ditemani oleh Bu RT dan beberapa ibu-ibu lainnya. Ku ikuti acara ini dengan khidmat, ku lafalkan do'a-do'a untuk almarhum ayah.
Semoga ayah diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya dan diterima iman islamnya. Amin.
?????
Saat sedang melantunkan do'a-do'a. Tiba-tiba saja ibu masuk ke dalam rumah dengan membuat kegaduhan.
"Nara, Nara. Sini kau" ucap Ibu dengan berteriak.
Melihat itu, semua yang ada di sana hanya bisa beristighfar melihat kelakuan ibuku itu
"Heh Nara, aya cepat sekarang ikut denganku. Kau harus bekerja sekarang" ucap ibu lagi sambil menarik tanganku.
"Ya Allah Bu, jangan seperti itu. Kasian Nara, apalagi ini sedang ada acara doa bersama untuk mendiang suami ibu" ucap Bu RT
"Heh, jangan ikut campur ya kalian. Si Nara ini anakku, terserah aku mau ku apakan dia. Jika kalian ingin melakukan acara ini, lakukan saja. Aku tak peduli!" ucap ibu lagi sambil menarikku keluar.
Tak ada yang berani menghentikan aksi ibu, di sini memang ibu terkenal sebagai orang yang tempramental. Selain sikap, bahasa yang akan dikeluarkan ibu pun tak segan-segan akan kasar.
"Bagaimana ini Pak Ustadz?" tanya Bu RT
"Kita lanjutkan saja".
?????
"Bu, aku mau di bawa ke mana? Lepas bu sakit" ucapku
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, perih seketika aku rasakan.
"Diam anak tak berguna! Jangan banyak tanya dan ikuti saja perintahku t*l*l" maki ibu padaku sambil terus menyeretku.
Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya aku dan ibu sampai di sebuah rumah yang isinya perempuan semua. Ku lihat, pakaian yang digunakan rata-rata pakaiannya sexy semua. Badanku kembali bergetar, sungguh aku takut. Sepertinya ibu akan mempekerjakanku di sini.
Aku masih di dorong masuk oleh Ibu, ingin rasanya aku berlari keluar dari sini. Tapi tanganku di cengkram kuat oleh Ibu.
Sesampainya di dalam rumah, ku lihat di sana wanita dengan pakaian yang sangat minim di temani oleh dua orang laki-laki bertubuh kekar menatap ke arahku dan juga ibu.
"Mami, ini yang aku ceritakan" ucap Ibu sambil mendorongku ke hadapan wanita itu.
"Wah oke ini, seperti yang kau ceritakan Marni. Ini sepertinya akan menjadi primadona di sini" ucap wanita itu sambil melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Tentu dong Mam, jangan lupa, bayarannya harus tinggi ya Mami Selly"
"Ha ha ha, kau memang benar-benar Ibu yang tak punya hati Marni. Demi uang kau rela menjual putrimu sendiri. Tapi, aku menyukai itu"
"Ya Allah, sungguh aku tak ingin menjadi seorang wanita penghibur dan pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Sudah cukup aku merasa hina dengan terenggutnya kehormatanku secara paksa. Tolong hamba ya Allah" ucapku dalam hati.
Namun, sepertinya doaku tak kan pernah dikabulkan oleh sang pencipta.
Semenjak aku di perkenalkan pada Mami Selly, hidupku bagaikan seonggok s****h. Malam-malam aku habiskan untuk melayani nafsu para bedah itu, tubuhku mejadi pelampiampiasan para pemburu nafsu.
Semenjak itu pula lah, kebencian terhadap ibuku sendiri sudah mendarah daging dalam diriku. Bagiku, aku sudah menjadi anak yatim piatu, bagiku ibuku sudah mati semenjak ia menjualku pada Mami Selly.
~flashback off~
Setelah lelah menangis, aku akhirnya merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Rasa lelah menyelimuti diriku, hingga akhirnya mata ini semakin berat dan aku pun tidur dengan terlelap.
?????
Suara ketukan pintu membangunkan ku dari tidur, pasti ini wanita s****n itu yang menganggu tidurku.
Tok
Tok
Tok
"Nara bangun ini sudah sore nak. Ayo makan dulu" ucap wanita itu
"Berisik bang*at" jawabku berteriak.
Ku ayunkan kaki menuju pintu kamarku, ku lihat di sana wanita yang paling ku benci di dunia ini sedang berdiri.
"Nak, ayo makan dulu" ucapnya lembut.
Tak ku hiraukau kan dia, aku lebih memilih melenggang ke arah dapur untuk makan. Perutku juga rasanya sudah keroncongan, karena terakhir aku makan tadi pagi.
Ku lihat di atas meja sudah tersedia sayur sop ayam, kerupuk udang dan sambal. Lumayan juga wanita s****n itu masak. Tanpa menunggu lama, ku ambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Ah, nikmat juga ternyata masakan wanita itu.
"Makan yang banyak ya nak" ucapnya lembut.
"Cih" aku hanya mendesis saja menanggapi omongannya.
Lihatlah, dulu tubuh yang selalu ia bangga-bangga kan kini hanya tersisa kulit saja. Muka yang dulu terlihat cantik kini separuhnya sudah rusak akibat kecelakaan kebarakan yang ia alamai saat sedang melakukan dosa j*****m bersama laki-laki hidung belang.
Ya, dua bulan setelah ia menjual tubuhku kepada Mami Selly, ia mengalami kecelakaan bersam laki-laki yang memakai jasanya. Menurut keterangan polisi, sepertinya mereka melakukan perbuatan terlarang itu saat berada di dalam mobil. Karena mungkin saking nikmatnya melakukan foreplay di dalam mobil, si laki-laki kehilangan kendali, sehingga mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatasan jalan, dan sialnya lagi salah satu kabel ada yang terputus, sehingga menyebabkan mobil itu terbakar.
Apakah hatiku sedih saat mendengar kejadian itu? Tentu saja tidak! Aku malah berharap wanita itu mati saja, tapi tuhan berkehendak lain, ia malah selamat dan laki-laki yang harus meregang nyawa.
Tetapi akibat kejadian itu, tubuhnya menjadi hancur. Tubuh dan wajah yang dulu ia bangga-banggakan, kini hilang sudah.
?????
"Emm, Nara. Ibu ingin bicara"
"Bicara saja, aku masih mempunyai kuping untuk mendengarkan" jawabku ketus
"Nara, ibu mohon, berhentilah dari pekerjaanmu itu. Kembalilah menjadi Nara yang dahulu nak. Kita buka lembaran baru lagi bersama-sama, ibu ingin kamu menjadi Nara yang dulu" ucapnya sendu.
Prang!
Ku lempar piring yang berada di depanku kuat-kuat, seketika serpihan kaca berserakan di mana-mana. Melihat piring itu, sama seperti hatiku, hatiku sudah hancur berkeping-keping.
"Ha ha ha, kau lucu sekali wanita tua. Bukankah dulu kau yang menginginkan ku seperti?" ucapku penuh penekanan.
"Bukankah dulu kau yang inginkan aku menjadi p*****r murahan hah? Sekarang kau dengan mudahnya ingin aku menjadi diriku Yang dahulu? Jangan mimpi kau wanita s****n! Dulu, saat aku bersimpuh di kakimu, memohon agar kau tak menjualku pada g***o biadab itu, apa kau mendengarkan ku? Tidak bukan, malah tamparan, pukulan dan caci makian yang ku dapat dari mulut sampahmu itu! Dan sekarang, sekarang! Kau memintaku untuk kembali menjadi diriku sebelumnya. Jangan harap kau wanita iblis! Sampai kapan pun aku tak akan kembali menjadi diriku yang dahulu, masa depanku sudah hancur sejak 12 tahun yang lalu. Hidupku sudah tak berguna semenjak kau menjualku pada g***o terkutuk itu, wanita j*****m! Teriakku menggema di rumah ini.
Ku lempar gelas yang sedari tadi ku genggam. Menyalurkan rasa kecewa dan sakit hati ini. Tak ku peduliakan isak tangis yang keluar dari mulut wanita tua s****n itu.
Bagiku, dia sekarang bukan siapa-siapa lagi.
Dia hanya sekedar benalu yang menumpang dalam hidupku.
Ku tinggalkan dirinya sendiri di dapur, dari pada aku mendengarkan omongan wanita s****n itu. Lebih baik aku bersiap dan mempercantik diri, untuk kembali ke kehidupan nistaku. Menjajakan tubuhku kepada lelaki yang haus akan nafsu.
Bersambung....