BAG 6

1415 Kata
Setelah selesai membersihkan badanku, ku pilih pakaian terbaikku, tak lupa alat make-up ikut ku keluarkan. Aku tak pernah berdandan menor, hanya sekedar make-up natural saja. Karena wajahku memang sudah cantik sih. Ting Gawaiku berbunyi, ku lihat Mami Rinta mengirimkan pesan padaku. Oh ya, aku sekarang bekerja pada Mami Rinta, Mami Selly, sang mucikari pertamaku dua tahun lalu sudah meninggal akibat penyakit TBC yang di deritanya. Aku ingat, sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat menanyakan padaku apakah aku akan berhenti menjadi kupu-kupa malam atau akan tetap melanjutkan pekerjaan nista ini. Ku jawab saja, aku masih akan menekuni pekerjaan ini. Karena bagiku, aku sudah tak akan dapat pekerjaan apapun lagi. Setelah kejadian yang merenggeut harga diriku kala itu, aku sudah memikirkan bahwa memang ini jalan yang harus ku tempuh dan jalani. Persetan dengan dosa, aku sudah tak peduli akan hal itu. Aku menggap memang bahwa tuhan itu tak pernah ada. [Hotel Flores, kamar no. 105. Pukul 20.00 wib. Jangan sampai terlambat sayang Mami]. Begitulah isi dari pesan Mami Rinta. Melalui tangan Mami Selly jugalah aku mengenal Mami Rinta. Mereka ini masih teman, dan sama-sama berkecimpung di dunia nista ini. Tak lama setelah Mami Selly meninggal, Mami Rinta pun merekrut diriku untuk bekerja padanya. ???? Usai berdandan di rasa sempurna, ku lihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 18.00 wib, masih ada dua jam lagi untuk bertemu dengan penyewa jasaku. Ku putuskan saja untuk bertemu dengan temanku yang bernama Sherly. [Sher, lu udah balik kerja belum?] send. Ku kirim pesan pada Sherly Tak butuh waktu lama, Sherly pun membalas pesanku. [Baru bubar nih gue, biasa akhir bulan kerjaan gua numpuk. Biasaln mau tutup buku] balas Sherly. [Ketemuan yuk ah, BT gue di rumah. Sambil nunggu job nih gue] [Oke lah, tapi lu yang traktir ye cin] [Sip lah. Ketemu di cafe flamboyan aja ya. Biar nanti gue deket pas berangkat kerja] [Deal] balas Sherly lagi. Tak ku balas pesan Sherly lagi, segera ku pesan taxi online untuk mengantarkan ku ke tempat di mana aku akan bertemu dengan Sherly. ????? Setelah melihat taxi yang ku pesan hampir sampai di titik jemput, gegas aku memakai sepatu terbaikku. Tak lupa menyemprotkan beberapa kali parfum ke tengkuku leher, tangan dan juga baju. Perfect! Satu kata yang keluar dari mulutku ketika melihat diriku sendiri dari pantulan cermin. Memang tak salah jika banyak menyukaiku, sudah cantik, sexy, bohai dan tentu saja, mahir dalam urusan ranjang. Ku langkahkan kakiku menuju pintu rumah, namun saat aku akan keluar rumah, wanita tua s****n itu lagi-lagi mengacaukan moodku. "Nara mau kemana nak? Ini maghrib, dari pada keluar rumah mending kita sholat saja ya nak" ucap wanita s****n itu padaku. Cuih. Aku meludah tepat di depannya. "Ha ha ha, kau lucu wanita tua! Sekarang kau menyuruhku untuk melakukan sholat. Hei tua bangka, dulu kau kemana saja? Jangan sok suci kau itu, dulu kau paling anti kan untuk beribadah? Jangankan beribadah, di otakmu itu hanya ada soal s**********n dan uang saja! Jangan kau memintaku untuk melakukan perintahmu itu. Bagiku kau dan tuhan itu sama-sama gilanya" ucapku sambil menunjuk muka wanita tua itu. "Tapi nak.. " Sebelum mendengarkan kembali ocehan wanita tua itu, ku langkahkan kaki dengan tergesa meninggalkan rumah laknat ini. Braaaak! Ku tutup pintu keras sekali. Para tetangga yang melintas pun semua mengarahkan pandangannya kepadaku. Bisik-bisik dan tatapan mencemooh mereka layangkan padaku. Persetan dengan mereka semua. Aku terus melangkahkan kaki meninggalkan rumah terkutuk itu. "Liat si Nara, makin hari kelakuannya makin menjadi. Kasian sekali dia, dulu dia anak yang baik, sekarang menjadi anak yang naudzubillah himindzalik ya" ucap seorang Ibu saat aku melintas dihadapannya. Tak ku hiraukan omongan tersebut, bagiku Nara yang dahulu sudah lama mati. Nara yang lemah, Nara yang tak bisa apa-apa ketika harga diri dan kehormatannya di renggut secara paksa. Yang ada, kini hanya Nara yang tegas, Nara yang bodo amat dan Nara yang hidupnya penuh dengan kebencian. ????? Ku masuki taxi online pesananku, melaju menuju cafe flamboyan tempat aku akan bertemu dengan Sheryl. Ku hembuskan nafas berkali-kali, mencoba menenangkan gejolak di dalam hati. Entahlah, di lubuk hatiku yang paling, aku selalu menyesal jika sudah membentak ibuku seperti itu, tapi di sisi lain juga, kebencian selalu lebih mendominasi dari pada rasa kasihan ku kepada Ibu. Kadana aku selalu berfikir, seandainya, seamdainya saja dulu Ibu tak memperlakukan ku seperti itu, mungkin hatiku tak akan sesakit ini, kebencian ini juga mungkin tak akam tumbuh subur di dalam hatiku. Jika saja Ibu lebih mengasihiku dahulu saat aku memohon jangan menjualku kepada Mami Selly, mungkin aku akan tetap bisa menyayanginya. "Sudah sampai Mbak" ucapan pak supir sedikit mengagetkanku "Eh, i-iya pak" ucapku tergagap. Setelah mengambil uang di dalam dompet, ku serahkan uang itu kepada sang supir. Tak lupa ku lebihkan sebagai tip untuk sang supir. Masuk ke dalam cafe, ku lihat Sheryl sudah menungguku di salah satu meja. Gegas ku hampiri Sheryl. "Sorry, lu nunggu lama ya?" tanyaku sambil menghempaskan tubuh di salah satu kursi. "Ngga ko, gue juga baru nyampe. Gue baru pesenin minum nih. Kalau makanan gue belum pesen" jawab Sheryl sambil menyodorkan segelas jus strawberry kesukaanku. "Thank you Cinta, dahlah kita pesen dulu aja ya" ucapku sambil melihat beberapa menu di dalam buku menu. Setelah memesan beberapa makanan, aku melanjutkan berbincang bersama Sheryl. Sheryl adalah teman ku saat masih duduk di bangku SMA, rumah Sheryl dan rumahku dulu tak terlalu jauh. Namun keluarga Sheryl memutuskan untuk pindah ke dekat sekolah kami dulu. Jadi, Sheryl lumayan banyak tahu tentang diriku, termasuk diriku yang sekarang menjadi seorang wanita malam. "Kusut amat tuh muka. Belum di setrika bu?" ucap Sheryl "Ah, s****n lo. Biasalah, masalah di rumah. Muak gue lama-lama sama si wanita tua bangka itu" jawabku dengan sedikit malas. Huuufftt. Ku lihat Sheryl menghembuskan nafas berat. "Lu mau sampe kapan kek gitu Ra?" "Entahlah" ucapku sambil mengaduk-aduk jus di depanku "Ra, kalau boleh jujur, gue kangeeeeennn banget sama Nara yang dulu. Nara yang ceria, Nara yang pandai Nara yang humble. Lu sekarang, bukan Nara yang gue kenal" "Taulah Sher, bagi gue, Nara yang dulu udah mati" "Gue tau Ra, gue tau betapa berat hidup yang lu jalanin dari dulu. Gue belum tentu mampu kalau posisinya gue kek lu gitu. Tapi apa lu gak mau kembali lagi kaya dulu?" "Lu tau Sher, hidup gue hancur semenjak kejadian 12 tahun lalu. Dari situ gue berfikir buat apa lagi gue hidup baik-baik. Sedangkan gue udah jadi wanita kotor, gue ngerasa tuhan bener-bener gak adil sama gue. Banyak harapan dan impian yang gue ingin wujudkan, tapi tuhan dengan enaknya ngehancurin itu semua" "Lu salah Ra, lu tau, tuhan ngasih ujian sama lu karena tuhan yakin kalau lu mampu melewati itu semua. Terus, mau sampai kapan juga lu memupuk rasa benci lu sama nyokap lu sendiri? Baik buruk pun itu masih nyokap lu loh Ra" ucap Sheryl "Coba deh lu fikir-fikir lagi semuanya, gue yakin tuhan bukan gak adil sama lu, tapi dia yakin lu wanita kuat, mangkannya dia ngasih cobaan dan ujian buat lu. Satu lagi, cobalah hilangin rasa benci dan dendam lu sama tante Marni. Mumpung masih ada, seengaknya lu bersikap baiklah sama dia, jangan sampai lu nyesel kalau dia udah gak ada. Seburuk apapun dan sebesar apapun kesalahannya sama lu, dia tetep wanita yang rela berjuang mempertaruhkan nyawanya demi lahirin lo ke dunia ini" lanjut Sheryl lagi menasehatiku. "Ntahlah, nanti gue fikir dulu" jawabku. Sheryl memang memiliki pemikiran yang dewasa, ditambah berwawasan luas. Maklum, dia bisa kuliah sampe menyandang gelar master. Sedangkan aku? SMA pun aku tak tamat, itu semua karena wanita laknat itu. Impianku untuk bisa sekolah setinggi mungkin dan mengejar cita-citaku sebagai dokter harus ku kubur dengan kenangan pahit yang di ciptakan oleh Ibuku sendiri. ????? Saat sudah mendekati pukul 20.00 wib, aku pamit pada Sheryl. Sheryl yang mengetahui pekerjaanku pun hanya bisa mengizinkan untuk aku pergi, awalnya ku lihat sepertinya ia keberatan, tapi mau bagaimana lagi, sekarang inilah mata pencaharianku. Menjadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Sampai di hotel, aku langsung menuju kamar sesuai pesan Mami Rinta. Setelah sampai di depan pintu kamar hotel, ku ketuk pintu tersebut, karena ternyata pintu terkunci dari dalam. Tok Tok Saat akan mengetuk untuk ketiga kalinya, pintu kulihat terbuka. Ku lihat, laki-laki yang sudah berumur berdiri di hadapanku. Lihatlah, laki-laki sudah tua juga jika imannya tak kuat, masih akan mencari kesenangan di luar sana. Kalau saja bukan karena uang, sebenarnya aku malas melayani pelanggan macam seperti ini. Kalau saja pelanggannya masih berumur sekitaran 45 tahun masih mendinglah, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa menolak. Tubuhku ini sudah di bayar olehnya, mau tak mau aku pun harus memuaskan nafsunya. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN