Bab 15

1391 Kata
Pagi tepat jam delapan Bambang pulang ke rumah dengan seluruh badannya yang terasa lelah. Seperti biasa Bambang memarkir motor matiknya di depan rumah kemudian berdiri di depan pintu untuk melepaskan sepasang sepatu yang di pakainya dan meletakkannya di atas rak sepatu yang ada di pelataran rumah mereka. Setelah itu Bambang pun mengangkat kaki sebelah kanannya untuk masuk ke dalam rumah. Namun, belum sempat masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Neneknya memanggi dari seberang rumah. "Mbang!" seru Nek Mirah yang ketika itu duduk di bangku depan pelataran rumahnya. Bambang pun menoleh seketika, " Iya Nek," sahut Bambang. "Baru pulang kerja ya kamu?" tanya Nek Mirah yang lalu menghela napas panjang melihat cucunya itu. "Iya Nek, kemaren lembur," jawab Bambang pelan. "Ke rumah Nenek dulu Mbang, makan... sekalian ada yang mau Nenek omongin sama kamu," kata Neneknya lagi. "Baik Nek, aku mandi dulu ya," sahut Bambang yang kemudian berbalik lagi masuk ke dalam rumahnya. Ketika di jalan menuju dapur untuk mandi, Bambang membawa serta sabun pemutih yang di temukannya di kamar losmen tadi malam. Bambang mandi dengan cepat lalu mengganti bajunya dengan baju santai di rumah. Setelah siap dan sudah lengkap mengenakan atribut di sertai alat tempurnya, Bambang pun turun dari loteng dan langsung menyeberang tepat menuju ke rumah Neneknya. Di rumah Neneknya Bambang langsung duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu untuk menunggu Neneknya yang belum keluar dari kamar. "Nih Mbang makan dulu gih," ucap Bik Mumun seraya menaruh sepiring nasi dan sepiring lagi ikan serta semangkuk sayur di atas meja ruang tamu kemudian menaruh lagi wadah air dan juga gelas di atas meja yang ada di hadapan Bambang. Bambang mengangguk senang, "Baik Bik, terima kasih ya," kata Bambang senang dan tersenyum lebar selebar daun kelor. Bik Mumun pun kembali ke dapur setelah meletakkan nasi dan minuman di atas meja untuk di makan oleh Bambang, kemudian Bik Mumun pun melanjutkan pekerjaan rumahnya. Owel yang baru saja bangun tidur perlahan melangkah keluar dari kamarnya sambil membawa handuk dan peralatan mandi di tangannya menuju dapur. Sebelum ke dapur, Owel menyapa Bambang yang sedang asik menyantap sarapannya di ruang tamu sambil menonton televisi. "Woi Mbang!" seru Owel sambil berjalan menuju dapur. "Hmm," sahut Bambang singkat dan mengangguk sambil menyantap makanan yang di hidangkan di atas meja. Owel tertawa cekikikan melihat Bambang yang dengan mulutnya yang lebar menyantap cepat nasi dan lauk-pauk yang ada di atas piringnya, lalu ia pun meneguk air dengan cepat pula seolah-olah takut kalau-kalau Owel akan minta makanannya. "Bambang, Bambang," kata Owel menggeleng sambil terkekeh. Bik Mumun ikut tertawa kecil melihat anaknya yang sedang menertawakan tingkah laku keponakannya itu, yaitu Bambang. "Kamu mau sarapan juga Wel?" tanya Bik Mumun kemudian. "Nanti aja Bu, aku mau mandi dulu," jawab Owel kemudian masuk ke dalam kamar mandi. "Oh, mandi dulu gih sana yang bersih ya!" Seru Bik Mumun kepada anak laki-lakinya itu yaitu, Owel. "Iya Bu!" teriak Owel terdengar samar dari dalam kamar mandi. Setelah Bambang selesai makan, Bik Mumun segera mengambil piring dan gelas yang ada di atas meja kemudian membawanya ke dapur. Nenek Mirah keluar dari dalam kamarnya dan duduk berseberangan dengan Bambang. Tidak lama kemudian Nenek Mirah pun membuka suaranya. "Mbang, umur kamu itu kan udah kepala tiga," kata Nek Mirah pelan. Bambang pun memperhatikannya dengan seksama. "Apa kamu nggak kepikir buat nikah gitu?" tanya Nek Mirah hati-hati. Bambang hanya terdiam melongo memandangi wajah Neneknya yang sedang berbicara kepadanya. "Nenek tuh kasihan kalau lihat kamu nggak ada yang ngurus," sambungnya Nek Mirah, "Ada nggak perempuan yang kamu suka?" tanya Nek Mirah kemudian dengan rasa penuh penasaran. "Ada," jawab Bambang cepat dan yakin. Nenek Mirah langsung tersenyum lebar melihat bahwa salah satu cucunya itu ternyata sudah punya kekasih. "Siapa?" tanya Nenek Mirah lagi. Namun, Bambang hanya tersenyum malu-malu dan tidak menjawab pertanyaan dari Neneknya itu. "Boleh tidak, perempuan itu kamu bawa ke rumah, Nenek penasaran mau bertemu sama perempuan yang kamu sukai itu," ucap Nenek Mirah dengan penuh rasa semangat. "Hmmm....." Bambang tersenyum dan kelihatan malu-malu, "Aku suka sama Lala Nek," kata Bambang seketika. "Hah! Lala?" sentak Nek Mirah dan seketika terkejut mendengar pernyataan Bambang, "Lala anaknya Pak Didin?!" tanya Nek Mirah lagi memastikan. "Hehe... iya Nek," jawab Bambang pelan sambil tersipu malu. "Oh, pantesan kamu ngajakin kesana kemarin," ucap Nenek Mirah dengan rasa senang. Bambang tersenyum lebar dan penuh dengan semangat serta percaya diri yang berlebihan setelah melihat raut muka senang di wajah Neneknya yaitu Nek Mirah yang sepertinya terlihat menyetujui hubungan di antara dia dan Lala. "Jadi gimana, kamu mau Nenek pergi ke rumahnya Pak Didin untuk melamarkan Lala buat kamu?" tanya Nenek Mirah kemudian dengan tersenyum. "Iya Nek," jawab Bambang semangat. "Kalau gitu nanti sore pas Ayah kamu datang ke rumah, Nenek minta ijin dulu ya sama Ayah kamu jadi nggak ngebelakangin, nanti kalau Nenek nggak bilang, Ayah kamu bisa-bisa marah sama Nenek," ucap Neneknya Bambang yaitu Nenek Mirah meyakinkan cucunya itu. Bambang mengangguk senang dan tidak sadar bahwa pembicaraannya dengan Neneknya juga di dengar oleh Owel dan juga Ibunya yaitu Bik Mumun yang sejak tadi menguping dan bersembunyi di balik tirai yang ada di dapur. "Iya sudah, kalau begitu kamu pulang dulu gih sana, tidur dulu mata kamu sudah mengantuk banget itu kayaknya Mbang, nanti sore kan kamu masuknya malam lagi," suruh Nenek Mirah. "Baik Nek," sahut Bambang yang kemudian berlalu dari hadapan Neneknya itu dan dengan semangat menyeberang pulang ke rumahnya untuk segera tidur di atas loteng tempat dia biasa tidur. Sementara di tempat lain Nek Mirah pun pergi ke dapur untuk mengambil air. Ketika hendak memasuki dapur, beliau melihat ada dua pasang kaki yang sedang bersembunyi di balik tirai yang ada di balik pintu dapur yang terbuka. Nek Mirah pun mengerti bahwa ada dua orang yang sedang mengintip dan mendengarkan pembicaraannya dengan Bambang dari tadi. Kemudian Nek Mirah dengan mengendap-endap berjalan ke dapur, berusaha agar pergerakannya menuju dapur tidak di ketahui oleh dua orang yang tidak lain adalah Owel dan juga Bik Mumun yang tidak menyadari bahwa pembicaraan antara Nek Mirah dan juga Bambang sudah selesai. Ketika Nenek Mirah sampai di pintu dapur, beliau dengan cepat membuka tirainya. Seketika, Owel dan juga Ibunya yaitu Bik Mumun pun langsung terkejut karena aksinya mengintip itu di ketahui oleh Nek Mirah yang adalah mertuanya itu. "Kalau mau dengar ya duduk aja di sebelah Ibu, ngapain kamu ngintip-ngintip nggak jelas kayak gini," kata Nek Mirah geram melihat kelakuan Menantu dan cucu laki-lakinya itu, "Mumun, Mumun," katanya lagi sambil ke dapur mengambil air untuk dia minum. Owel dan Ibunya pun tertawa cengengesan lalu bersama-sama pergi ke ruang tamu. Owel pun mengganti bajunya di dalam kamar kemudian ke dapur untuk sarapan. Sedangkan Bambang yang dari tadi tidak bisa tertidur karena sibuk memikirkan Lala dan ia pun kemudian berkhayal bersama Lala sambil menatap layar smartphone-nya. Bambang mengkhayal bahwa dirinya sedang melakukan panggilan video bersama dengan Lala. Bambang senang sekali karena saat itu tidak ada orang lain di rumahnya sehingga dia dengan leluasa bisa mengkhayal dan berbicara sendiri sepuasnya. Bambang mengambil barang temuannya tadi malam sewaktu di losmen kemudian berpikir sejenak. "Ini mau aku kasih sama siapa ya?" tanya Bambang lirih kepada dirinya sendiri, "Ah, aku kasih Mawar aja," pikirnya lagi. " Mawar kapan pulang kesini ya, jadi kangen," kata Bambang lagi sambil tersenyum geli. Mawar adalah kakak dari Owel dan juga anak dari Bik Mumun. Mawar berusia dua puluh lima tahun, dan ia sekarang sedang melanjutkan kuliahnya di luar kota. Bambang membayangkan wajah Mawar ketika nanti dia membawakan perlatan yang dia dapat dari losmen tempat dia bekerja. Wajah cantik Mawar yang tersenyum senang setelah menerima benda pemberian dari Bambang, yaitu benda yang di dapatnya dari dalam losmen di tempat dia bekerja. "Hmm, bagaimana perasaan Mawar ya saat nanti dia tahu kalau aku mau menikah sama Lala?" tanya Bambang lirih kepada dirinya sendiri sambil meraut wajah serius karena memikirkan Mawar, "Mawar pasti sedih karena tidak punya teman main lagi kalau aku udah nikah sama Lala," kata Bambang prihatin dengan keadaan Mawar, "Ah, ya sudah lah aku ngantuk, aku mau tidur dulu, dadah Lala sayang yang cantik," kata Bambang sembari melambaikan tangannya ke arah layar smartphonenya kemudian menutup dan mengunci layar smartphone-nya lalu menaruhnya di atas meja yang ada di dalam loteng tempat dia biasa tidur. Bambang tertidur pulas setelah membayangkan wajah sang pujaan hatinya itu yaitu Lala, dia sudah tidak sabar lagi menunggu waktu sore ketika Ayahnya pulang dan Neknya akan meminta ijin kepada Ayahnya untuk melamarkan pujaan hatinya yang bernama Lala untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN