bc

Bambang Tamvan & Kuda Hijau

book_age18+
452
IKUTI
1K
BACA
badboy
drama
comedy
humorous
male lead
city
office/work place
small town
naive
shy
like
intro-logo
Uraian

Aku adalah seorang introvert. Hanya si Kuda Hijau yang ku-pilih sebagai temanku. Dia pembelian dari ayahku, hadiah ketika ulang tahunku yang ke-17, karena aku berhasil lulus dari ujian sekolah walau dengan nilaiku yang tidak begitu memuaskan. Sejak dulu aku selalu mengurung diri di dalam kamar—tepatnya di loteng. Aku tidak suka bergaul. Sampai suatu ketika, keadaan memaksaku untuk tumbuh dewasa, dan aku tidak pernah siap untuk mengerti seperti apa arti menjadi orang dewasa yang harus berpasangan, apalagi menikah. Karena aku tidak ingin tumbuh dewasa. Tapi, seluruh anggota keluargaku memaksaku untuk melakukan hal itu.

Namun semua berubah saat aku pertama kali melihat dia. Aku merasakan debaran lain yang mulai bergejolak di dalam hatiku. Ketika pertama kali aku melihatnya, seorang wanita yang benar-benar telah merubah duniaku, wanita—menurutku tercantik yang pernah aku temui dalam kehidupanku. Namanya Lala. Dia adalah cinta pertamaku, dan aku berharap bahwa hanya dialah wanita yang akan mendampingi hidupku. Aku harus bisa menarik hatinya, walau bertemu dengannya saja aku sudah gemetar. Semua itu tidak mudah untuk dilakukan, tapi itu harus.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Hari Senin adalah hari yang terasa berat bagi Bambang, karenanya setelah satu pekan penuh dia harus melalui shift malam dan berganti ke shift paginya. Seperti biasanya, Bambang selalu menggerutu di karenakan kelalaiannya sendiri yang bangun kesiangan dan tidak disiplin dengan waktu. "Hah, kesiangan kan gue, pake acara sakit perut pula," gumam Bambang dalam hati ketika terbangun dari tidurnya sembari menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan tepat. Bambang dengan tergesa-gesa turun dari loteng yang merupakan tempat dia beristirahat dan hendak segera menuju ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke tempat kerjanya. "Aduuuh!!" jerit Bambang tersentak merasa sakit karena kakinya tersandung sudut lemari yang berada di dapur dan setibanya di depan pintu kamar mandi, Bambang pun mulai menggerutu, "Antri lagi, antri lagi." 'Jlek...Duk...' bunyi pintu yang tiba-tiba terbuka dan sehingga membentur kepala Bambang, kemudian seseorang keluar dari kamar mandi yang ternyata adalah ayah Bambang. "Eh, Bambang ternyata!" ucap Ayah Bambang yang terkejut ketika melihat anaknya yang sedang berada di depan pintu,. Kemudian Ayah Bambang berjalan melangkah keluar dari kamar mandi, "Mbang, Kamu hari ini nggak kerja?" tanyanya. "Kerja kok," sahut Bambang sembari menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal karena kepalanya terbentur pintu kamar mandi. "Bukannya Kamu masuk jam setengah sembilan, Mbang?" tanya Ayah Bambang sembari melangkah menuju meja dapur. "Iya, tau kok," sahut Bambang sembari tergesa-gesa melangkah masuk ke dalam kamar mandi. "Kamu kebiasaan sih, bagun telat mulu," ucap ayah Bambang sembari mengambil air panas di dalam termos yang berada di atas meja dapur berdekatan dengan kamar mandi. "Kebiasaan...kebiasaan, terserah gue," gerutu Bambang berbisik pelan ketika berada di dalam kamar mandi. Setelah selesai mencuci mukanya, Bambang segera kembali menuju ke loteng untuk mengambil seragam khas pekerja di Losmen tempat dia bekerja. Setelah mengenakan seragamnya, Bambang pun kemudian dengan segera turun dari loteng dan berangkat menuju ke tempat kerjanya menggunakan motor matik kesayangannya yang berwarna hijau. Namun, ketika Bambang hendak menghidupkan mesin motor matiknya, betapa bingungnya Bambang karena motor matiknya yang tidak kunjung menyala. "Yaelah, kenapa lagi sih ni kuda hijau." Kemudian Bambang membuka penutup tangki bahan bakar pada motor matiknya, "Pantesan gak bisa nyala, bensinnya habis!!" gerutu Bambang. Bambang pun mendorong motor matiknya yang berwarna hijau, dari depan rumah dan menelusuri gang kecil. "Kenapa motornya, Mbang?" tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah belakang yang ternyata adalah sepupu Bambang yang bernama Owel. "Hah, iya nih kuda hijau kehausan lagi," sahut Bambang cengengesan saat menoleh ke belakang ke arah sepupunya. "Ooh habis bensin, mau gua bantuin dorong sampai ke depan?" tanya Owel menawarkan pertolongan kepada Bambang. "Nggak usah deh," jawab Bambang cengengesan tak menghiraukan dan tetap mendorong motor matiknya. "Ooh yaudah, gua duluan ya Mbang," ucap Owel kemudian dengan segera mendahului Bambang yang sedang mendorong motor matiknya lalu melesat pergi. "Hedeh nanya doang, kirain apaan, ngenolong aja tanggung, ngedorong sampe depan doang mending gak usah," gerutu Bambang dengan wajah kesalnya sembari melihat Owel yang sudah jauh pergi mendahuluinya. Setelah lumayan jauh Bambang mendorong motornya, tampak sebuah warung yang menjual bahan bakar eceran. "Mang, isi bensin Mang," ucap Bambang dengan nada terengah-engah berhenti tepat di depan warung. "Ya sebentar." Terdengar pelan suara perempuan dari dalam warung, "Berapa liter, Kak?" tanya penjual itu sembari menuju ke depan warungnya yang ternyata penjualnya ialah seorang perempuan. "Eh kirain yang jual cowok, ternyata cewek," gumam Bambang tersenyum sembari gemetar menatap ke arah perempuan yang cantik tersebut. "Sa-sa-satu aja, Neng," ucap Bambang terbata-bata sembari gemetar mengambil uang yang berada di dalam kantong celana belakangnya. "Satu ya, bentar," ucap penjual cantik tersebut sembari mengambilkan sebuah botol berisi bensin. "I-iya," sahut Bambang sembari menatap perempuan yang di hadapannya. Setelah selesai mengisi bahan bakar pada motor Bambang, perempuan cantik itu pun merasa aneh ketika melihat Bambang yang menatapnya gemetar. "Ini sudah, Kak," ucap perempuan cantik itu sembari mengerutkan keningnya. "I-iya, be-berapa?" tanya Bambang. "Delapan ribu, Kak," jawab penjual cantik itu. "I-ini, a-a-ambil aja ke-ke-kembaliannya, Neng," ucap Bambang menyerahkan uang yang ada di tangannya. "Makasih ya Kak," ucap perempuan cantik itu tersenyum menerima uang dari Bambang. "I-i-iya, sa-sa-sama-sama, Neng," sahut Bambang mengangguk sembari mencoba menghidupkan mesin motornya, lalu pergi. Melihat Bambang yang sudah jauh pergi, perempuan cantik itu pun menghitung uang yang baru saja di berikan Bambang dan alangkah terkejutnya perempuan cantik itu karena ternyata jumlah uang yang di berikan Bambang adalah uang pas delapan ribu, kemudian ketus berkata "Kurang asem, katanya 'Ambil aja kembaliannya,' eeh ternyata yang uangnya pas, dasar orang aneh!!" Setelah sekitar lima belas menit dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya, Bambang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam Losmen setelah meninggalkan motor matiknya di tempat parkir khusus untuk karyawan. "Astaga, aku lupa buang air, ini gara-gara di rumah, kamar mandi cuman satu doang, gua jadi telat masuk kerja!!" gerutu Bambang kesal menyalahkan rumah ayahnya sembari berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang karyawan Losmen. "Telat lagi, Mbang?" tanya salah satu rekan kerja Bambang bernama Ifan yang sedang duduk dan melihat Bambang yang baru saja tiba. "Hmm, iya kesiangan..." sahut Bambang dengan wajah cemberut sembari meletakkan tasnya di atas kursi yang berada dalam ruangan khusus karyawan, kemudian segera melangkah menuju kamar kecil untuk buang air yang sejak dari rumah sudah menahannya sembari menggerutu, "Udah tau telat, pake nanya...." "Fan, nggak usah ngomong ama Bambang, dia orangnya aneh," bisik Joni kepada Ifan ketika itu juga berada di dalam ruangan tersebut yang duduk bersebelahan dengan Ifan. "Iya aneh, di tanya baik-baik kok nyahutnya malah gitu, mungkin lagi nahan sakit perut kali ya?" sahut Ifan balas berbisik kepada temannya yang duduk berada di sebelahnya sembari tertawa pelan. "Udah kelakuannya aneh, badannya juga bau, nggak mandi kali ya?" ucap Joni berbisik kepada Ifan. 'Ting...Ting...Ting,' terdengar bunyi lonceng yang terletak di atas meja resepsionis. "Fan, samperin noh," ucap Joni yang duduk di samping Ifan. "Iya, sebentar!" teriak Ifan sembari berjalan menuju ke arah meja resepsionis. Setibanya Ifan di meja resepsionis, terlihat seorang wanita cantik berdiri di depan meja. "Iya Mbak, bisa saya bantu?" tanya Ifan tersenyum ramah. "Mas, pesan satu kamar," jawab wanita cantik tersebut. "Baik Mbak, silahkan isi buku tamunya Mbak," ucap Ifan sembari menggeser buku tamu yang berada di atas meja dan menyerahkan sebuah pulpen dengan sopan. "Ini Mas," ucap wanita cantik itu setelah selesai mengisi buku tamu. "Silahkan, ini kuncinya, dan nomer kamar ada di gantungan kuncinya Mbak," ucap Ifan dengan sopan sembari menyerahkan kunci kepada wanita cantik tersebut, lalu Ifan memanggil Bambang yang berada dalam ruang tunggu karyawan, "Mbang, Mbang, tolong antarkan Mbak ini ke kamarnya." "Iya,iya," gerutu Bambang sembari keluar ruangan dan menuju ke arah meja resepsionis dan betapa terkejutnya Bambang ketika melihat wanita cantik yang berada di depan meja resepsionis tersebut. "Tolong bawakan koper saya ya, Mas," ucap wanita cantik itu tersenyum menatap Bambang yang sembari berjalan menuju ke arahnya. "I-i-iya Mbak, ma-ma-mari Mbak," ucap Bambang terbata-bata karena gugup sembari mengambil koper yang tepat berada di samping wanita cantik tersebut. Setibanya di depan kamar, Bambang membukakan pintu kamar tersebut. "Si-si-silahkan, Mbak," ucap Bambang yang masih gemetar sembari mempersilahkan wanita cantik itu masuk lalu meletakkan kopernya di samping kasur. "Iya, makasih ya Mas," sahut wanita cantik itu sembari masuk ke dalam kamar. Bambang pun dengan kakinya yang gemetar kemudian mulai melangkah menuju keluar dari kamar. "Sebentar Mas," ucap wanita cantik itu seketika menghentikan langkah Bambang. "I-iya Mbak," sahut Bambang seketika memalingkan badannya saat mendengar panggilan dari wanita cantik itu dan wajah Bambang pun memucat. "Namanya siapa, Mas?" tanya wanita cantik itu. "Ha-hah? Na-nama?" sahut Bambang yang masih terbata-bata. "Iya, nama Mas siapa?" ulang wanita cantik itu. "Ba-ba-ba..." ucap Bambang yang semakin bertambah gemetar saat wanita cantik itu menanyakan namanya. "Bambang?" pungkas wanita cantik itu memotong ucapan Bambang yang terbata-bata. "I-i-ya, ko-kok ta-tau Mbak?" tanya Bambang. "Iya tadi, kan denger temennya manggil kamu, 'Mbang' katanya, berarti Bambang, kan?" jelas wanita cantik itu. "O-o-oh i-i-iya," sahut Bambang yang wajahnya mulai memucat. "Sebentar, ini buat Mas Bambang, makasih ya," ucap wanita cantik itu sembari menyerahkan sesuatu dari dalam tangannya kepada Bambang. "Ng-ng-nggak u-usah Mbak," sahut Bambang menolak. "Ini ambil aja," ucap wanita cantik itu sembari memaksa tangan Bambang untuk menerima pemberiannya. "I-i-ya ma-makasih, Mbak," ucap Bambang yang semakin gemetar ketika menerima pemberian serta tangannya di sentuh oleh wanita cantik itu, kemudian memasukkannya ke dalam kantong belakang celananya, lalu berjalan pergi menjauh dari kamar tersebut. Ketika Bambang tiba di dalam ruang tunggu karyawan, dia terkejut saat mengambil pemberian wanita cantik tadi dari kantong belakang celananya yang ternyata hanya segumpal tisu bekas, kemudian dengan kesal Bambang melemparkan tisu tersebut ke dalam bak sampah sembari menggerutu, "Sial! Ternyata tisu, ada bekas ingus pula!" Ifan pun tertawa saat melihat Bambang tampak kesal ketika melemparkan tisu tersebut sembari berkata, "Enak nih, dapet tip dari cewe cantik." "Apaan sih!" sahut Bambang merangut kepada Ifan kemudian melangkah menjauh menyembunyikan wajah kesalnya. Jam yang menempel di dinding tepat berada dalam ruang tunggu karyawan sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, tiba seorang rekan kerja Bambang yang sedang dalam giliran shift malam bernama Anton. Melihat Anton yang saat itu sudah datang, Bambang pun dengan segera mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang. Saat bersiap untuk pulang, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Bambang dari dalam ruangan menejer yang bersebelahan dengan ruang karyawan dan tidak lain suara tersebut adalah dari pemilik Losmen tempat Bambang bekerja. "Mbang... Bambang!" teriak Pemilik Losmen tersebut yang terdengar dari dalam ruangannya. Bambang yang ketika itu sudah bersiap untuk pulang, kemudian dengan segera menuju ke ruangan menejer, "I-iya Bos," kata Bambang gugup setelah membuka pintu dan masuk ke ruangan menejer. "Mbang, hari ini Kamu lembur ya!" perintah Pemilik Losmen. "Ke-kenapa saya lembur, Bos?" tanya Bambang. "Iya... Solihin, katanya dia nggak masuk malam ini karena sakit, jadi Kamu tolong gantikan dia malam ini!" sahut Pemilik Losmen. "Ke-kenapa saya yang harus gantiin Solihin, Pak?" tanya Bambang lagi. "Kamu tadi pagi telat, kan? Jadi kamu yang gantikan Solihin malam ini, atau... gajih Kamu saya potong!" sahut Pemilik Losmen dengan santai. "Ba-baik Bos..." kata Bambang dengan nada lesu. "Ya sudah, sana kembali kerja!" perintah Pemilik Losmen. "Iya Bos," kata Bambang sembari berjalan menuju keluar ruangan Bos nya tersebut. "Kenapa Mbang?" tanya Ifan yang melihat Bambang terlihat lesu. "Lembur!" jawab Bambang singkat dengan wajahnya yang merangut. "Ooh gitu, ya sudah, gua pulang duluan ya," ucap Ifan sembari berjalan bersama Joni menuju keluar dari Losmen. "Nanya mulu!" gerutu Bambang sembari duduk lesu saat melihat dua rekan kerjanya pulang, lalu Bambang pun termenung. "Ooy Mbang, lembur lagi?" tanya Anton yang hendak duduk di samping Bambang sembari menepuk bahu Bambang. "Hah," sentak Bambang terkejut yang saat itu sedang melamun. "Iya lembur!" sahut Bambang dengan wajahnya yang mulai kesal, lalu berjalan menuju kamar kecil sembari menggerutu, "Lembur, lembur, sialan gara-gara Solihin nih, aku jadi di suruh lembur!" Anton pun merasa aneh ketika melihat tingkah Bambang yang sering menggerutu, kemudian Anton pergi keluar Losmen menuju sebuah warung yang tepat berada di depan Losmen tempatnya bekerja. "Pakde! Kopi satu Pakde!" ucap Anton ketika tiba di warung tersebut, kemudian duduk sembari mengeluarkan smartphonenya dari dalam tasnya. "Eh Anton, panas atau dingin, Nton?" tanya Pakde yang adalah pemilik warung tersebut. "Yang hangat dong, Pakde," jawab Anton sembari asik memainkan smartphonenya. "Shift malam lagi, Nton?" tanya Pakde sembari meletakkan cangkir berisi kopi hangat tepat di hadapan Anton. "Iya Pakde, shift malam lagi," jawab Anton. "Oh iya, saya denger dari Ifan, katanya Bambang lembur ya?" tanya Pakde. "Iya, Bambang lembur, Pakde," jawab Anton kemudian menyeruput kopi hangat yang ada di hadapannya. "Nggak capek apa, Bambang lembur terus?" tanya Pakde kepada Anton. "Nggak tau juga Pakde, katanya sih di suruh ama Bos, soalnya Solihin sakit," jawab Anton. "Ooh... pantesan," ucap Pakde sembari menggaruk kepalanya. Bambang keluar dari kamar kecil setelah mencuci mukanya yang terlihat lesu dan mengantuk, kemudian dia mengambil sapu dan pel, serta sebuah keranjang yang berada tepat di samping pintu kamar kecil, lalu berjalan menuju beberapa kamar kosong yang sudah di tinggalkan oleh beberapa tamu yang cek out. "Nyapu lagi! Ngepel lagi!" gerutu Bambang mendengus kesal sembari membuka pintu salah satu kamar yang telah kosong. "Hedeh... berantakan!" gerutunya lagi ketika menarik spray yang terlihat kotor dan memasukkannya ke dalam keranjang yang di bawanya, kemudian memasangkan kembali spray yang bersih ke atas kasur. Kemudian Bambang memeriksa kamar mandi yang berada dalam kamar tersebut dan bermaksud membersihkannya. Setelah memasuki kamar mandi, Bambang pun melihat sebuah sabun pencuci muka yang ternyata entah tidak sengaja tertinggal atau memang sengaja di tinggal yaitu milik dari seseorang yang sebelumnya menginap di kamar tersebut. Bambang pun seketika mengambil dan menggunakannya untuk mencuci mukanya. Ketika Bambang mencuci muka dengan sabun yang di dapatnya tersebut, imajinasi Bambang muncul. Bambang mengkhayal layaknya bintang iklan sabun wajah yang sering di lihatnya di televisi. Setelah sadar dari khayalannya, kemudian Bambang memasukkan sabun tersebut ke dalam saku bajunya dan segera pergi menuju ke ruang tunggu karyawan bermaksud menyimpan sabun pencuci muka yang di dapatnya itu ke dalam tasnya. Bambang melirik ke kiri dan kanan, "Asiiik, dapet sabun muka gratisan..." gumamnya sembari tersenyum, kemudian kembali berjalan lagi menuju beberapa kamar kosong berikutnya yang masih belum dia bersihkan. Di kamar berikutnya pun, saat Bambang bermaksud membersihkanya. Bambang kembali menemukan barang yang tertinggal, yaitu sebuah deodorant. Kembali Bambang pun mengusapkan deodorant tersebut ke ketiaknya sembari berkhayal layaknya bintang iklan yang ada di televisi. Setelah puas dengan khayalannya, Bambang kembali lagi menuju ruang karyawan dan memasukkan deodorant tersebut ke dalam tasnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook