Bab 2

2737 Kata
Tidak terasa, waktu pada jam dinding telah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Bambang yang matanya kembali mengatuk pun mencoba berdiri dari duduknya, kemudian melangkah keluar dari Losmen menuju warung Pakde yang tepat berada di depan Losmen tempat Bambang bekerja. "Kopi satu Pak de, pake es" ucap Bambang sembari duduk di warung tersebut. "Ya..., Ooh, Bambang," sahut Pakde menengok ke belakang yang kemudian menyiapkan pesanan dari Bambang. "Lembur lagi Mbang?" sambung Pakde bertanya sembari meletakkan kopi es ke hadapan Bambang. "Iya Pakde, gara-gara Solihin yang kata Bos lagi sakit," sahut Bambang sembari mendengus letih. "Apa nggak dingin, Mbang? Kok jam segini masih tahan minum pake es?" tanya Pakde yang heran melihat tingkah Bambang. "Nggak kok, Pakde," sahut Bambang yang setelah menyeruput kopinya yang terlarut dengan bongkahan es yang dingin. "Kalo saya sih, pasti bakalan sakit perut kalo minum es jam segini," ucap Pakde yang masih merasa aneh melihat Bambang dengan nikmatnya meminum kopi dingin yang di buatnya. "Ya udah Pakde, catet dulu ya," ucap Bambang setelah menyeruput habis kopi dinginnya sembari berdiri, kemudian kembali lagi menuju tempat kerjanya. "Ya elah, catet mulu, kapan lunasnya sih..." gumam Pakde dalam hati karena Bambang yang kerap berhutang di warungnya. Sesampainya Bambang di dalam ruang karyawan, dia melihat rekannya yaitu Anton yang duduk di kursi sedang asik melakukan panggilan video bersama kekasihnya. Melihat itu, Bambang mendengus kesal sebab dia tidak pernah sama sekali melakukan hal seperti itu kemudian menggerutu, "Main hp saat kerja, hedeh!" Anton yang mendengar Bambang menggerutu ketika melihat dirinya melakukan panggilan video menggunakan smartphone canggihnya, akhirnya Anton pun semakin mengencangkan suara pada smartphonenya dan membuat Bambang semakin iri karena melihat tingkah Anton tersebut. "Siapa itu, Sayang?" tanya kekasih Anton yang wajahnya jelas terlihat pada layar smartphone milik Anton. "Ooh... itu Bambang," sahut Anton menjawab pertanyaan dari kekasihnya sembari menoleh ke arah Bambang. "Mbang, mana cewek lo?" ucap Anton bertanya kepada Bambang. "Hus Sayang, Kamu nggak boleh kayak gitu ama temen sendiri," ucap kekasih Anton yang suaranya terdengar jelas keluar dari smartphone Anton. "Eeeeh, Kamu jangan salah! Bambang ini ceweknya banyak loh," sahut Anton menjelaskan kepada pacarnya. "Ayo Mbang, buktiin coba ama cewek gua, kalo lo punya banyak cewek," sambung Anton berucap kepada Bambang. Mendengar perkataan dari Anton, wajah Bambang seketika memerah karena malu dan kesal, lalu ketus berkata, "Iya, cewek aku banyak, tapi aku nggak mau ngebuktiin, soalnya semua cewek aku udah pada tidur!" "Nah bener, kan Sayang," ucap Anton kepada kekasihnya yang terlihat dan terdengar jelas sedang tertawa dari smartphone Anton. Bambang yang sudah tidak tahan lagi untuk membendung rasa kesalnya kepada Anton, kemudian melangkah pergi menuju kamar kecil tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Di dalam kamar kecil, Bambang pun menatap wajahnya di sebuah cermin. "Punya cewe aja sombong, apalagi kalo udah punya bini, sialan si Anton!" gerutu Bambang kesal ketika berada dalam kamar kecil. Ketika melihat wajahnya yang memantul dari cermin, Bambang pun kembali berkhayal seakan-akan melakukan panggilan video bersama kekasihnya. Anton yang sejak tadi menguping Bambang yang sedang asik mengkhayal, sesekali dia tertawa pelan karena melihat tingkah aneh Bambang yang sedang berkhayal. Kemudian terlintas dalam pikiran Anton untuk menakut-nakuti Bambang yang berada dalam kamar kecil yang saat itu sedang asik berkhayal. 'Tok, Tok, Tok...' terdengar bunyi pintu kamar kecil yang di ketuk Anton kemudian bersembunyi, namun Bambang tidak menyadari bahwa pintu kamar kecil itu telah di ketuk oleh Anton, karena Bambang yang masih asik dengan imajinasinya. Melihat Bambang yang sedang berada di dalam kamar kecil tidak merespon, Anton pun menggedor pintu kamar kecil itu. 'Duk, Duk, Duk...' terdengar keras bunyi pintu kamar kecil yang di gedor sehingga sentak membuat Bambang seketika terkejut dan tersadar dari khayalannya, kemudian Anton dengan segera berlari keluar menuju warung Pakde yang tepat berada di depan Losmen. "Kenapa, Nton?" tanya Pakde yang melihat Anton sedang duduk tersenyum sembari terengah-engah. "Hehehe, Bambang, Pakde," jawab Anton sembari tertawa tidak bisa menahan aksi jahilnya. "Kenapa sama Bambang, Nton?" tanya Pakde lagi yang masih bingung dengan Anton yang masih tertawa. "Bambang loh Pakde, dia ngekhayal sedang video call sama pacarnya di dalam kamar kecil," jawab Anton setelah meredakan tawanya sembari pelan-pelan mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. "Hahahaha... Oooaalaaah... Kok bisa sih?" ucap Pakde yang juga tidak dapat menahan tawa ketika Anton memberitahu tingkah aneh Bambang, "Trus, Kamu apain dia, Nton?" sambung Pakde bertanya. "Iya Pakde." Anton kembali tertawa ketika mengingat kembali tingkah laku Bambang yang mengkhayal ketika berada dalam kamar kecil, "Trus, aku gedor pintunya, trus aku lari," jelas Anton yang kemudian kembali tertawa, di iringi Pakde yang juga ikut tertawa setelah mendengar cerita dari Anton. Bambang yang terkejut ketika mendengar pintu kamar kecil di gedor, seketika membuka pintu kamar kecil dan betapa terherannya Bambang, ketika melihat keluar kamar kecil yang ternyata tidak ada seseorang pun di sana. Bambang yang merasa takut, kemudian dia berjalan cepat keluar menuju ke warung Pakde. Anton yang melihat dan menyadari bahwa Bambang hendak menuju ke warung Pakde berusaha menahan tawanya agar tidak ketahuan oleh Bambang. Kemudian Bambang pun segera duduk dengan wajahnya yang terlihat pucat karena ketakutan atas kejadian yang dia alami. "Lo kenapa, Mbang?" tanya Anton yang sedari tadi masih menahan tawanya. "Iya, kamu kenapa Mbang? Kok mukanya pucat gitu?" sambung Pakde ikut bertanya kepada Bambang yang juga sembari menahan tawanya. "Ng-ng-nggak ada apa-apa," jawab Bambang yang gemetar dan wajahnya yang masih terlihat pucat. "Ini, ini, minum air dulu," ucap Pakde sembari menyuguhkan segelas air putih. "I-i-iya Pa-Pakde, ma-ma-maka-ma-makasih..." sahut Bambang terbata-bata dan kemudian dengan tangannya yang gemetar mengambil gelas yang di berikan oleh Pakde dan meminumnya dengan tergesa-gesa sehingga membuatnya tersedak. "Oh iya Pakde, kayaknya bentar lagi waktunya ganti shift, aku siap-siap mau pulang dulu," ucap Anton pamit kepada Pakde setelah melihat tingkah Bambang yang ketakutan, kemudian berjalan menuju kembali ke dalam Losmen sembari melanjutkan gelak tawanya dengan pelan. "Iya Nton, hati-hati," sahut Pakde, "Lah, kamu Mbang? Nggak siap-siap pulang?" tanya Pakde kepada Bambang. "I-i-iya Pakde," sahut Bambang yang masih gemetar serta wajahnya pun masih terlihat pucat, kemudian mencoba memaksa berdiri dengan lutut kakinya yang gemetar lalu kembali menuju ke dalam Losmen dan bersiap-siap untuk pulang menyusul Anton. "Macem-macem aja kelakuan Bambang," ucap Pakde ketika melihat Bambang yang sudah melangkah menjauh dari warungnya sembari tertawa karena teringat cerita dari Anton. Setibanya di dalam Losmen, setelah melihat jam yang menempel pada dinding ruang tunggu karyawan yang sudah menunjukkan pukul setengah empat dini hari, Bambang dengan segera mengambil tasnya yang berada di dalam ruang karyawan, kemudian dengan tergesa-gesa pergi keluar dari Losmen yang di kiranya angker. Dengan kaki gemetar, Bambang melangkah menuju ke parkiran tempat dia meletakkan motor matik hijaunya. Ketika Bambang hendak menyalakan mesin motor matiknya, betapa bingungnya Bambang mencari-cari kunci motornya yang tidak kunjung dia dapatkan. Sehingga dengan akalnya yang pendek, Bambang pun mendorong motor matiknya dengan tergesa-gesa menuju keluar dari parkiran Losmen. Tepat pukul delapan pagi, Bambang baru saja tiba di depan rumah. Tidak terasa, selama tiga jam setengah Bambang mendorong motor matiknya. Ketika tiba di depan pintu rumah, Bambang mencoba membuka pintu rumah. Betapa sialnya nasib Bambang yang karena ketika itu pintu rumahnya masih terkunci. 'Tok, Tok, Tok...' Bambang mengetuk pintu, tapi pintu tidak kunjung terbuka. Tidak menyerah sampai di situ, Bambang pun mengambil smartphonenya yang berada di dalam tas lalu mencoba menelpon ayahnya. Namun, begitu sialnya nasib Bambang, karena saat itu ponsel ayahnya sedang tidak di hidupkan. Bambang kembali mengetuk-ngetuk pintu yang telah terkunci itu sembari memanggil ayahnya, namun tidak terdengar sahutan apapun dari dalam rumahnya. Setengah jam berlalu setelah Bambang kerap mengetuk pintu, dia pun menyerah dan duduk tersandar di depan pintu kemudian tertidur. 'Kreeeek....' Tepat pukul setengah sepuluh pagi, terdengar suara pintu yang terbuka, kemudian Ayah Bambang terkejut melihat anaknya yaitu Bambang sedang tertidur di depan pintu rumahnya. "Mbang, Mbang, Mbang, Bambang!" ucap Ayah Bambang sembari mencoba membangunkan Bambang yang tertidur di teras rumahnya. Setelah beberapa kali Ayah Bambang mencoba membangunkan Bambang, tidak lama kemudian Bambang pun terbangun dari tidurnya. "Heh, Yah!" sentak Bambang terkejut dan kemudian berdiri. "Kamu kenapa, Mbang?" tanya Ayahnya. "Nggak apa-apa, Yah," sahut Bambang sembari mengucak-ucak matanya, "Ketiduran aja," sambungnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah kemudian langsung menuju ke loteng tempat dia beristirahat. "Kamu lembur kok nggak ngasih kabar, Mbang?" tanya Ayahnya duduk di sofa yang tepat berada di bawah loteng Bambang sehingga suara Ayahnya pun masih bisa terdengar sampai ke atas loteng. "Hp nya mati, Yah," jawab Bambang, "Jadi, nggak bisa ngabarin," sambungnya, kemudian bergumam kesal dalam hati, "Hp Ayah aja nggak nyala, gimana mau ngasih kabar!" "Jadi, hari ini Kamu masuk kerjanya jam berapa?" tanya Ayahnya memberikan perhatian kepada anaknya itu. "Besok, besok!" sahut Bambang ketus dan kemudian meninggalkan tidur. Mendengar perkataan anaknya yang tidak sopan terhadapnya, Ayah Bambang menggeleng dan mengelus-elus dadanya sembari bergumam lirih, "Pulang kerja, mending mandi, eh nyelonong doang kaya kucing, sabar-sabar...." Setelah menghabiskan kopi hangat yang berada di tangannya, Ayah Bambang pun kemudian pergi dan membanting pintu dengan keras, sehingga sentak membuat Bambang terbangun dari tidurnya. Sesaat kemudian, Bambang kembali mencoba untuk mengistirahatkan matanya yang masih terasa berat, Bambang kembali tersentak karena mendengar suara knalpot motor yang begitu memekakkan telinganya yang ternyata suara tersebut berasal dari seberang rumahnya, tepatnya rumah neneknya Bambang. Mendengar suara knalpot motor yang begitu berisik, Bambang pun bangun dan dengan segera turun berniat mencari tahu motor milik siapakah yang berisik tersebut. Bambang yang dengan tergesa-gesa turun dari lotengnya melalui tangga, karena Bambang yang matanya masih mengantuk sehingga dia salah menginjakkan kaki, dan kemudian membuatnya terjatuh dengan keadaan tengkurap. Bambang berusaha bangun, kesalnya pun bertambah ketika wajahnya yang jatuh tepat di atas kotoran kucing. "Aduuuuuhh," jerit Bambang, "E'e kucing ini!" Bambang mengusap wajahnya. Dengan segera, Bambang menuju kamar mandi bermaksud membersihkan wajahnya. Namun, betapa sialnya nasib Bambang yang ternyata air krannya tidak kunjung mengalir. Tidak menyerah, Bambang mengambil handuk yang berada dalam kamar mandi, kemudian mengusapkannya ke wajahnya. Setelah selesai membersihkan wajahnya, Bambang melangkah menuju pintu depan berniat hendak pergi ke rumah neneknya yang tepat berseberangan dengan rumah ayahnya. 'Jlek...' Bambang membuka pintu, dan melihat ke seberang rumahnya, betapa terpesonanya Bambang yang saat itu melihat seorang perempuan duduk tepat di kursi di depan rumah neneknya. Bambang merasa telah menemukan permaisurinya. Imajinasi Bambang pun seketika muncul, Bambang berkhayal layaknya seorang pangeran yang ingin menghampiri seorang permaisuri. Setibanya di depan rumah neneknya, Bambang yang masih dengan khayalannya segera menghampiri perempuan tersebut, namun di cegat oleh Owel yang sedang memperbaiki motor dan seketika itu menghentikan langkah Bambang, sehingga membuat Bambang terkejut dan tersadar dari khayalannya. "Oooy, Mbang!" ucap Owel sembari menepuk bahu Bambang, "Lu nggak kerja?" sambungnya yang kemudian menyadari bahwa mencium sesuatu bau yang tidak sedap sembari menutup hidungnya. "Hah, kenapa?" sentak Bambang terkejut. "Lu nggak kerja, Mbang?" tanya Owel kembali. "Hah... nggak..." jawab Bambang sesekali mencuri pandangan ke arah perempuan yang duduk di depan rumah neneknya itu, "Wel, itu siapa?" sambungnya mengisyaratkan bibirnya menunjuk ke arah perempuan itu ketika bertanya kepada Owel sepupunya. "Ooh, itu anak dari sahabat Nenek, Mbang," jawab Owel, "Emangnya kenapa?" sambungnya bertanya. "Ng-ng-nggak apa-apa, kok," jawab Bambang kembali terbata-bata sembari senyum menatap ke arah perempuan yang sedang duduk di depan rumah neneknya tersebut. "Samperin noh, Mbang," ucap Owel melangkah pergi sembari heran melihat tingkah Bambang yang aneh. "I-i-ya, bentar ya," sahut Bambang sembari melangkah ke arah perempuan itu. Bambang tak berhenti menatap ke arah perempuan yang duduk di depan rumah neneknya itu. Ketika Bambang tiba di depan rumah neneknya dan bermaksud hendak masuk ke dalam rumah neneknya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari perempuan tersebut, sehingga membuat kepala Bambang terbentur tebing pintu. 'Jeduk...' bunyi kepala Bambang yang terbentur tebing pintu, seketika membuat nenek Bambang dan beberapa orang yang berada di dalam rumah pun terkejut. Melihat Bambang yang dahinya terbentur, seketika membuat tersenyum perempuan yang sedari tadi duduk di depan rumah nenek Bambang. "Aduuuh," jerit Bambang sembari mengusap-usap dahinya yang terbentur. "Aaih, suara apa itu," sentak Neneknya Bambang yang terkejut sembari menengok ke arah pintu depan rumahnya, "Eeh, Bambang rupanya." "He, Nek," ucap Bambang mengangguk sembari mengusap-usap dahinya dan cengengesan ke arah neneknya. "Masuk, Mbang," ucap Neneknya Bambang menyuruh cucunya itu untuk masuk, "Kenapa, Mbang?" sambung neneknya bertanya. "Iya Nek, mau pinjem kamar mandinya sebentar," jawab Bambang cengengesan. "Iya, pake aja, Mbang," sahut Neneknya Bambang. "Iya Nek." Bambang mengangguk sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah neneknya, dan betapa terkejutnya lagi ketika Bambang sudah di dalam rumah neneknya, dia melihat satu lagi perempuan yang duduk di ruang tamu dalam rumah neneknya. Bambang seakan telah menemukan dua orang permaisuri, dan rasa kesalnya akibat tadi malam dia mendapatkan kesialan beruntun pun seketika hilang. Bambang sembari tersenyum dan tak berhenti menatap perempuan yang duduk bersebelahan dengan neneknya. "Mbang? Mbang? Mbang?" panggil Neneknya namun Bambang tidak bergeming menatap perempuan yang duduk di sebelah neneknya itu, "Bambang!" teriak Neneknya yang sentak membuat Bambang pun terkejut. "I-iya Nek?" sahut Bambang sembari menatap neneknya dan bertanya karena telah lupa dengan niatnya, "Kenapa Nek?" "Lah ni anak kenapa!" ucap neneknya, "Jadi nggak, mau ke kamar mandinya, Mbang?" tanya neneknya. "Ooh iya, kelupaan Nek," jawab Bambang sembari mengusap-usap dahinya yang kembali terasa nyeri dan melangkah menuju kamar mandi di rumah neneknya. Perempuan yang ketika itu duduk di sebelah neneknya Bambang pun tersenyum karena melihat tingkah laku aneh dari Bambang. "Dia juga cucu Nenek?" tanya perempuan yang duduk di sebelah Nenek Bambang sembari melihat Bambang yang ketika itu sudah melangkah menuju kamar mandi. "Iya, dia juga cucuku, La," jawab nenek Bambang kepada perempuan di sebelahnya yang bernama Lala, "Tapi ya begitu, kelakuanya agak aneh," sambung beliau. "Hmmm," sahut Lala sembari tersenyum heran, "Udah sore, Nek, kami pulang dulu ya Nek," ucap Lala kemudian beranjak dari duduknya. "Iya, terima kasih ya, La, udah jenguk Nenek," sahut Nenek Bambang. "Iya, Nek," sahut Lala, "Sindi, kita pulang yuk!" teriak Lala ke arah luar mengajak adiknya yang bernama Sindi pulang. Setelah Lala dan Sindi pulang, Neneknya Bambang mulai teringat akan cucunya yang sedari tadi belum keluar dari kamar mandinya dan bergumam, "Lama banget si Bambang, emangnya Dia ngapain sih?" Kemudian Neneknya Bambang pun mendatangi Bambang yang ketika itu masih berada dalam kamar mandi. "Mbang? Mbang? Kamu ngapain, Mbang?" tanya Nenek Bambang sembari mengetuk pintu kamar mandi, namun tak terdengar sahutan apapun dari dalam kamar mandi. Merasa khawatir dengan cucunya yang berada dalam kamar mandi itu pun kemudian memanggil Owel yang ketika itu sedang memperbaiki motornya di depan rumah neneknya Bambang. "Wel! Wel! Kemari sebentar!" teriak Nenek Bambang memanggil. "Ya Nek!" sahut Owel berlari menuju neneknya, "Kenapa Nek?" tanya Owel. "Ini, si Bambang, kok dari tadi belum keluar dari kamar mandi," sahut neneknya, "Coba kamu panggil, Wel." "Sebentar, Nek," "Mbang? Mbang?" ucap Owel mengetuk pintu. Karena tidak kunjung terdengar jawaban dari Bambang, Owel pun seketika dengan sekuat tenaga berusaha mendobrak pintu kamar mandi tersebut. 'Bruuuk...' pintu kamar mandi yang di dobrak seketika terbuka. "Astaga, Bambang!" ucap Nenek Bambang terkejut melihat cucunya yang ternyata sedang tertidur dalam kamar mandinya. Owel hanya bisa tersenyum dan menahan bibirnya untuk tertawa ketika melihat sepupunya tersebut tertidur di dalam kamar mandi. "Saya ke depan lagi ya, Nek," ucap Owel sembari kembali melanjutkan pekerjaanya yaitu seorang montir. "Iya, makasih ya, Wel," sahut Neneknya. 'Byuuuur' Nenek Bambang mengguyur Bambang dengan air sehingga membuat Bambang sentak terbangun dari tidurnya. "Ahhh!" teriak Bambang terkejut. "Astaga, Bambang! Kamu ngapain tidur di kamar mandi!" ucap Nenek Bambang. "He, maaf Nek," sahut Bambang, "Tadi malam Aku lembur, Nek," sambungnya sembari menggaruk kepalanya. "Oalah, kenapa Kamu nggak tidur di rumah aja, Mbang?" tanya Neneknya. "Iya tadi, sebelum tidur Aku mau cuci muka, tapi air krannya mati, Nek, makanya Aku kesini," jawab Bambang kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kamar mandi. Nenek Bambang hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah keterlaluan dari cucunya itu. "Oh iya, yang barusan itu siapa, Nek?" tanya Bambang. "Yang mana?" tanya kembali Neneknya, "Owel?" jawab Neneknya. "Bukan Owel, tapi dua orang cewek barusan, Nek," jelas Bambang. "Ooh, yang tadi itu, Lala sama Sindi," jawab Neneknya. "Mereka udah punya pacar, Nek?" tanya Bambang cengengesan. "Kalau Sindi sih sudah lama nikah, tapi kalau Lala kakaknya Sindi belum," jawab Neneknya, "Emangnya kenapa, Mbang?" sambung Neneknya bertanya. Mendengar penjelasan dari Neneknya, Bambang dengan percaya diri bergumam dalam hati sembari tersenyum, "Wah, kesempatan nih, gak apa-apa deh dapet satu, dari pada nggak ada...." Kemudian Bambang mengkhayalkan dirinya duduk di pelaminan bersanding dengan Lala. "Mbang! Mbang!" panggil Neneknya yang merasa aneh ketika melihat cucunya yang sedang tersenyum sendiri. "I-iya, Nek?" tanya Bambang tersentak seketika tersadar dari khayalannya. "Kamu ini kenapa, dari tadi kelakuanmu nggak jelas? tanya Neneknya. "He, nggak apa-apa, Nek," jawab Bambang menggaruk kepala, "Ya udah, aku pulang dulu, Nek," sambungnya seketika melangkah pergi meninggalkan Neneknya. "Kenapa coba, cucuku yang satu ini..." gumam Nenek Bambang dalam hati menggelengkan kepalanya melihat kelakuan aneh cucunya tersebut yaitu Bambang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN