Matahari mulai menurun, sehingga cahaya senja kembali menyelubung dan membaur dengan awan-awan yang warnanya perlahan ikut berubah menjadi kuning keemasan. Sementara itu, Lala bersama Bambang pun hampir selesai membereskan baju-baju yang berantakan di dalam toko.
"Lala nanti mau aku antar nggak?" tanya Bambang tersenyum dengan nada polosnya sambil menumpuk baju-baju yang sudah tersusun dan terikat di depannya.
"Eemmm...." Lala berpikir sejenak, 'Mayan nih dapet tumpangan, dari pada jalan kaki, kan capek' gumam Lala dalam hati kemudian menerima tawaran Bambang, "Iya deh," ucap Lala sembari tersenyum menatap Bambang.
Sontak raut wajah Bambang langsung berseri dan merasa sangat senang. Bambang semakin bersemangat membantu Lala membereskan baju-baju yang masih tersisa sedikit berantakan itu.
Tak lama, baju-baju yang berantakan itupun akhirnya tersusun rapi.
"Mbang, bantu aku bawa baju-baju ini ke dalam sana ya..." pinta Lala sembari menunjuk ke sebuah ruangan yang ada di dalam toko, dan ruangan itu merupakan ruangan penyimpanan. Dengan wajah berseri, Bambang pun mengiyakan permintaan Lala.
Bambang tampak tergopoh-gopoh mengangkat tumpukan baju berat yang sudah terikat dan membawanya menuju ke dalam ruang penyimpanan, 'Duuh.. berat banget,' gumam Bambang, "Tapi aku tidak boleh kelihatan lemah di depan Lala. Aku harus kelihatan kuat!" Karena mengingat tujuannya untuk mendekati Lala, semangat membara Bambang kembali tumbuh.
Setelah semua baju-baju tadi sudah dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan. Lala kembali masuk ke dalam ruang penyimpanan untuk memastikan bahwa data-data yang dicatatnya sudah benar dan akurat. Sedangkan Bambang hanya berdiri diam menunggu Lala.
"Mbang, kamu tunggu diluar aja ya!" seru Lala seketika menengok dari pintu ruang penyimpanan ke arah Bambang.
Bambang pun mengangguk dan langsung berjalan keluar toko, kemudian kembali duduk pada sebuah kursi yang ada di depan toko.
Sandi melangkah dengan senyum di wajahnya sambil berjalan kembali ke toko. Namun, raut wajahnya drastis berubah seratus delapan puluh derajat ketika melihat Bambang yang duduk di depan toko.
"Mbang..." sapa Sandi dengan senyum yang dipaksakan menatap ke arah Bambang saat tiba di depan toko.
"Hhm." Bambang hanya mengangguk kemudian memerhatikan dua kantong plastik yang dijinjing Sandi berlalu didepannya masuk ke dalam toko, 'Apaan ya, yang dibawanya itu?' gumam Bambang menyeret matanya mengikuti dua kantong plastik yang dijinjing Sandi masuk ke dalam toko.
Tiba-tiba aroma sedap melibas hingga ke penciuman Bambang, dan aroma itu diyakininya berasal dari dua kantong plastik yang dibawa Sandi tadi, "Enak banget aromanya, kayanya dia bawa makanan deh..." ucap Bambang lirih sambil menoleh ke dalam toko tepat menatap dua katong plastik yang dibawa Sandi itu, "Samperin ah." Bambang beranjak dari kursi kemudian ikut masuk ke dalam toko.
Sandi melihat Lala yang keluar dar ruang penyimpanan karena sudah membereskan baju-baju yang berserakan, yaitu baju model terbaru yang dibawa Sandi.
"La, kamu udah makan atau belum? Ini aku ada bawa gorengan buat kamu." Sandi menghampiri Lala seraya dengan senyum penuh arti menatap dan menyerahkan dua kantong plastik berisi gorengan kepada Lala.
Lala pun meraih dua kantong plastik itu hingga tangannya menyentuh tangan Sandi.
Lala dan Sandi terdiam dan kedua tangan mereka saling menyentuh lama. Kedua bola mata mereka saling beradu, saling menatap dengan penuh arti.
"Iya, makasih ya, San," sahut Lala seketika membalas senyum Sandi.
Sementara itu ketika Bambang yang mengikuti Sandi masuk ke dalam toko pun langsung merasa kesal karena melihat Lala bersama Sandi, "Itu ngapain sih pada pegang-pegangan tangan!" Bambang menggerutu kesal dan langsung berjalan dengan langkah cepat menghampiri mereka.
"Bukan muhrim!" Bambang menyimbah tangan Lala dan Sandi sehingga membuat mereka tersentak.
"Eh!" sentak Lala dan Sandi terkejut sambil saling tersenyum malu kemudian sama-sama menoleh ke arah Bambang yang berdiri di dekat mereka.
"Enggak boleh pegang-pegang!" ucap Bambang meninggikan suaranya, dan Sandi seketika merapatkan bibirnya.
Sedangkan Lala tampak kesal menunjukkan sudut bibirnya, 'Huh! Ganggu aja nih!' gumam Lala lirih.
"Kita jadi pulang nggak, La?" tanya Bambang.
Lala mengerutkan keningnya menatap Bambang, kemudian menoleh ke arah Sandi.
Sandi mengangguk dengan sedikit menyunggingkan senyumnya ke arah Lala.
"Ya udah, aku pulang dulu ya, San..." ucap Lala pelan, 'Huh! Padahal aku pengen Sandi yang nganterin aku, tapi kok Sandi nggak peka sih!' gumam Lala kesal seketika memalingkan wajahnya dari Sandi.
"Iya, hati-hati ya..." Sandi tersenyum menatap Lala kemudian menoleh ke arah Bambang, "Jangan ngebut ya, Mbang..." ucap Sandi.
"Hm.!" sahut Bambang tanpa menatap wajah Sandi.
"Yuk, Mbang!" Lala dengan rasa kesal melangkah keluar dari toko dan diiringi Bambang di bekakangnya.
Raut wajah Bambang tampak semringah sembari berjalan beriringan bersama Lala menelusuri jalan pasar.
Sedangkan Lala tampak jengkel ketika mengingat tingkah Bambang yang tadi mengganggunya.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di tempat parkir dimana Bambang meletakkan kuda hijaunya.
Lala berjalan lebih dahulu dan menunggu Bambang di tepi jalan depan pasar, sedangkan Bambang menghampiri motor matiknya yang berwarna hijau di parkiran.
"Oyy Kuda Hijau...." Bambang berbisik sembari memusut-musut bagian stang motor matiknya, "Kali ini kamu jangan cemburu lagi ya." Bisik Bambang lagi kemudian menepuk-nepuk jok lalu menaiki motor matiknya.
Bambang menekan tombol starter yang ada di sebelah kiri stang motor matiknya, tapi mesin 'si Kuda Hijau' tak kunjung menyala, "Nah kan, kamu ngambek!" gumam Bambang kemudian turun dari motornya.
"Mbang! Cepetan!" panggil Lala berteriak dari tepi jalan ke arah tempat parkir dimana Bambang berada, dan Bambang tampak tersenyum cengengesan ke arah Lala karena merasa malu sebab mesin 'Si Kuda Hijau-nya' belum juga menyala.
"I-iya...!" seru Bambang dengan gugup, "Duh... gimana nih?" gumam Bambang dalam hati merasa bingung 'Si Kuda Hijau' harus dia apakan, "Oh iya!" sentak Bambang lirih ketika teringat 'Jika motor matiknya tidak bisa dihidupkan dengan tombol starter, maka bisa dihidupkan dengan cara lain, yaitu menginjak pedal starter.'
Dengan pasti Bambang kemudian menaikkan standar dua kaki pada motor matiknya dan langsung menginjak pedal kick starter. Sampai beberapa puluh kali Bambang menginjak pedal kick starter pada motor matiknya, tapi mesinnya tak juga kunjung menyala.
"Duuh... Kok masih enggak bisa, ya?" gumam Bambang semakin bingung dengan keadaan 'Si Kuda Hijau-nya' itu.
"Mbang....! Masih lama nggak!" teriak Lala lagi sehingga Bambang kembali menoleh ke arah Lala tepat di tepi jalan.
"Iya bentar lagi, La!" Seolah-olah berteriak, Bambang menggerakkan mulutnya, namun tak mengeluarkan suara tepat ke arah Lala.
"Hah?! Apa?!" teriak Lala lagi karena tidak mendengar dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bambang, 'Huh! Lama banget sih!' gumam Lala mendengus kesal seketika bertolak pinggang ke arah Bambang.
Sontak Bambang menjadi semakin gugup dan bingung karena melihat raut wajah Lala yang tampak kesal, "Duuuh!" Bambang menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan merasa semakin cemas karena mesin motor matiknya yang tak kunjung menyala, "Gimana nih!" gumam Bambang.
"Kenapa, Mbang?" Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri dan berdiri di belakang Bambang.
Bambang langsung menoleh kebelakang sembari berkata, "Ini, nggak tahu...." Namun, perkataan Bambang terhenti setelah mengetahui bahwa laki-laki yang dibelakangnya tadi adalah Rudi, yaitu salah seorang yang juga merupakan sepupu Bambang. "Eh, Rudi."
"Motor lu kenapa, Mbang?" tanya Rudi.
"Hee, nggak tau juga nih, dari tadi dinyalain nggak bisa bisa," sahut Bambang cengengesan.
"Coba lu starter lagi deh, Mbang," pinta Rudi, kemudian Bambang pun menuruti perintah Rudi untuk langsung menekan tombol starter pada stang motor matiknya. Namun, mesin motor matik Bambang tak juga menyala dan motornya hanya mengeluarkan suara seperti orang yang kumat asma.
"Loh! Kok bisa gini ya suaranya?" Rudi tampak lucu mendengar suara yang dikeluarkan oleh motor matik milik Bambang.
"Kalau gitu, coba lu pake pedal starter deh!" pinta Rudi lagi, dan Bambang pun menuruti apa yang diperintah Rudi.
"Terus injak, Mbang!"
Bambang terus-terusan menginjak pedal kick starter motor matiknya, namun mesin motornya tak juga kunjung menyala.
Sedangkan Rudi merasa aneh dengan suara yang dikeluarkan oleh motor matik Bambang.
"Kayaknya ada yang salah nih di motor lu, Mbang!" ucap Rudi tampak penasaran, "Bentar, gua liat..." Rudi berjalan bagian belakang motor matik Bambang dan seketika melihat sebuah potongan sendal jepit berbentuk bundar yang ternyata mengganjal lubang knalpot motor matik Bambang, "Naah! Ini nih penyebabnya, Mbang...." Rudi langsung mencabut potongan sendal jepit yang mengganjal lubang knalpot, "Coba lu starter lagi, Mbang!" pinta Rudi, dan Bambang pun kembali menurutinya.
"Nah, bisa kan?!" ucap Rudi seketika mendengar bunyi motor matik Bambang yang sudah menyala.
Bambang mengangguk pasti, "Makasih ya, Rud..."
Sementara itu di tepi jalan, Lala penasaran dengan laki-laki yang menghampiri Bambang di tempat parkir.
"Cowo yang nyamperin Bambang itu siapa ya?" Lala menyipitkan matanya ke arah tempat parkir, "Cakep juga, beda banget sama Bambang, hihi," gumam Lala sambil tertawa kecil, "Samperin ah!" Lala berjalan ke tempat parkir menghampiri Bambang yang sedang bersama Rudi.
"Gimana, Mbang? Udah bisa nyala?" tanya Lala seketika.
"Udah, La," jawab Bambang sembari tersenyum malu ke arah Lala.
"Ini cewe lu, Mbang?!" sergah Rudi seketika.
"Eeeh, bukan, bukan..." Lala mendadahkan tangannya seketika. Sedangkan Bambang tampak tersenyum senang karena mendengar pertanyaan tiba-tiba dari mulut Rudi.
"Loh? Terus siapa? Ah! Jangan bo'ong deh lu bedua." Rudi memaksa pendapatnya.
"Yee, emang bukan!" sahut Lala seketika berpaling.
"Ya elah, enggak usah malu.." ucap Rudi, "Lu beruntung bisa dapetin Bambang loh, dia ini orangnya baik," tambah Rudi dengan nadanya yang sedikit mengejek.
"Iiiih!" Tubuh Lala bergidik jijik mendengar ucapan yang dilontarkan Rudi, "Mbang! Entar kalau motor kamu udah bisa nyala, samperin aku disana ya..." ucap Lala dengan kesal sembari menunjuk ke seberang jalan tepat ke arah kursi panjang tepat berada di depan warung yang sudah tutup dan langsung berjalan kesana.
"Rud... Rud..." bisik Bambang mendekat ke arah Rudi, "Aku itu belum pacaran sama Lala, tapi aku itu maunya langsung nikah aja..." bisik Bambang lagi.
"Hah!" sontak Rudi terkaget-kaget mendengar pernyataan dari Bambang yang ingin menikah dengan Lala. "Lu beneran mau nikah, Mbang?!" tanya Rudi seketika dan Bambang pun mengangguk dengan pasti sembari tersenyum.
"Wah! Hebat lu, Mbang..." ucap Rudi, "Oh iya gua kelupaan, hari minggu ini lu datang ke acara resepsi gua kan, Mbang?" lanjut Rudi yang seketika memberitahukan bahwa dia juga akan menikah, tepat di hari minggu.
"Iya." Bambang mengangguk dengan pasti.
"Bambang! Kalau masih lama, aku jalan kaki aja!" teriak Lala dari seberang jalan tepat di depan warung yang tutup kemudian beranjak dari kursi dan berjalan lebih dahulu meninggalkan Bambang di tempat parkir.
"Wah!" Bambang segera menaiki motor matiknya yang mesinnya sudah menyala dan langsung memacunya untuk mengejar Lala.
"Lah, kok gua ditinggal sendirian disini?!" Rudi bingung kemudian menaiki motornya dan pergi menjauh dari tempat parkir di depan pasar.
Bambang memelankan laju motornya mengiringi di belakang Lala yang berjalan kaki, "Lala... Yuk naik..." ajak Bambang pelan.
Sedangkan Lala masih tampak kesal sambil memunculkan sebelah sudut bibirnya.
"Lala...." panggil Bambang lagi membujuk.
Lala menyeret matanya ke arah Bambang, 'Kalau aku jalan kaki, kayaknya bakalan lama nyampe rumah,' pikir Lala kemudian seketika menghentikan langkah kakinya.
Sontak Bambang pun tiba-tiba menggenggam tuas rem di stang sebelah kanan dan menghentikan jalan motor matiknya.
Lala menoleh ke arah Bambang dengan mendengus kesal, "Ya udah deh!" ucap Lala seketika, kemudian dengan rasa terpaksa menaiki motor dan duduk di belakang Bambang.
"Yes!" bisik Bambang lirih setelah Lala menaiki motor dan duduk di belakangnya.
Bambang pun dengan hati-hati memacu 'Kuda Hijau-nya' sambil membonceng Lala untuk mengantarkannya pulang ke rumah kediamannya.
Bambang dengan hati-hati menjalankan motornya, bahkan dengan sangat hati-hati ketika motor matiknya itu melintas di atas polisi tidur yang membentang di jalan agar Lala merasa nyaman ketika ikut dengan Bambang. "Duuh... Mimpi apa aku semalam, sampai bisa ngebonceng Lala," gumam Bambang dalam hati dengan senyum lebarnya.
Wajah Bambang tampak semringah sambil sesekali setengah menoleh ke belakang dan melirikkan matanya ke arah Lala.
Sedangkan Lala mulai kesal karena Bambang sangat lambat menjalankan laju motornya, "Duuh, pelan banget sih jalannya ini... Serasa kayak naik becak aja!" gumam Lala kesal.
Tak lama kemudian setelah menelusuri jalan tepat ke arah rumah kediaman Lala, Bambang pun melihat sebuah gang di mana rumah kediaman Lala berada.
"Yah, sebentar lagi sampai..." Raut wajah Bambang tampak kecewa karena akan berpisah dengan Lala.
Sedangkan Lala mulai merasa lega karena sebentar lagi akan tiba di rumah kediamannya, "Syukur deh, bentar lagi aku nyampe rumah..." gumam Lala dalam hati dan mulai menampakkan senyum di bibirnya.
Namun, tiba-tiba Bambang berhenti tepat di depan gang dimana rumah kediaman Lala berada.
"Loh! Kok berhenti disini, Mbang?!" tanya Lala seketika dengan raut wajahnya yang mulai heran.
"Aaaa.... Anu... Anu..." Bambang tampak bingung mencari alasan agar bisa lebih lama bersama Lala.
"Ya udah deh, aku jalan kaki aja. Udah deket juga." Lala berniat turun dari motor.
"Eh! Jangan, jangan, La!" Bambang menahan Lala untuk turun dari motor.
"Lah, kenapa lagi, Mbang?" tanya Lala heran, "Udah, sampe sini aja, Mbang. Nggak apa-apa kok," tambah Lala kemudian kembali berniat untuk turun dari motor.
Namun ketika Lala ingin menurunkan kaki sebelah kirinya, tiba-tiba Bambang kembali menjalankan motornya.
"Bambang!" teriak Lala terkejut, "Kalau aku jatuh gimana?!" bentak Lala berteriak seketika kesal karena Bambang yang tiba-tiba kembali menjalankan motornya dan memasuki gang yang tepat mengarah ke rumah kediaman Lala.
"Eeh... Anu... Tadi aku lupa gang rumah kamu, La," sahut Bambang dengan cengengesan seketika memperlambat laju 'Kuda Hijau-nya' dengan membonceng Lala masuk ke dalam gang.
Seketika Lala kembali memperlihatkan sudut bibirnya karena merasa kesal dengan tingkah laku Bambang yang tidak jelas.