Farida tak bisa menahan buncahan rasa bahagia di d**a. Perjalanan bersama Iman menuju kampung halamannya sangat menyenangkan. Lelaki itu tak berhenti membuat wajahnya bersemu merah. Bukan gombalan receh, tetapi tatapan si lelaki yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sorot dari mata setajam elang itu, sangat hangat. Padu dengan tutur kata lemah lembut. Belum lagi candaan-candaan ringan yang dilontarkan, rasa-rasanya bila keliling dunia menggunakan mobil, Farida tak berkeberatan. "Hayoo, lagi ngelamunin apa?" Iman menggoda Farida yang dia perhatikan senyum-senyum sendiri sejak tadi. Farida tergagap, dia melirik Iman sekilas, lalu kemudian membuang pandangan ke jalanan melalui jendela mobil. "Bukan melamun, Uda dokter. Tapi ...." Farida menggigit bibirnya. Salah satu kebiasaan si perem

